kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Percakapan dengan Seseorang dari Masa Depan

Author : Ziyad Ahfi

Saat ini. Hujan sedang mengguyur lebat rumahku. Juga ingatanku. Kenanganku. Serta semua cerita fiktif yang pernah dan akan kubuang pelan-pelan suatu saat yang entah kapan.
.
Dugaanku, setengah jam kemudian hujan lebat berhenti. Gerimis sejuk kan datang menyentuh lembut kulitku. Juga perasaanku.
Seperti macet Jakarta yang kian malam makin berkurang. Juga dengan orang-orang yang pernah sakit karena perjalanan sebuah usaha untuk melupakan, walau tak kunjung lupa.
.
Dalam keinginanku, tidak banyak yang perlu diperdebatkan. Sebab kebutuhanku tidak sebanyak sosialita dan orang-orang yang mengejar sensasi di perkotaan sana.
Cukup dengan tidak merasa cemas, aku sudah menemukan makna kedamaian.
Tidak serumit tali-tali pikiran orang stres yang melilit saat diserang gengsi. Tergantung bagaimana kemampuanku mengupayakan imaji menjadi sedemikian nyata. Serupa film-film roman atau novel-novel yang ketika kita menonton atau membacanya mengajak kita seperti berada di dalam sana. Mengubur masuk ke kedalaman kisah, sehingga menemukan bentuk dan isi yang tak terterjemahkan oleh siapapun kecuali kita sendiri. Dan benar-benar hanya kita.
.
Di sore yang dingin itu, aku membayangkan sedang bercakap-cakap dengan seorang teman yang sebelumnya belum pernah kutemui. Semacam teman baru dari masa depan. Hingga aku ajukan satu pertanyaan penting jika ia mampu menjawab dengan serius. Jika tidak, sila beranjak. Agar kita tidak terlibat dalam percakapan yang agak serius. Tapi kiranya teman baru masih ambisius dan idealis dalam pertemuan pertama. Sebelum realita meneror. Setidaknya kuucapkan saja biar kita saling mengerti makna pertemanan.
Jika aku diukur dari apa yang aku miliki, dan seandainya yang aku miliki hilang, maka jadinya siapa aku?
Jawaban dari pertanyaan ini cukup di simpan dalam-dalam. Taruh di lemari. Kunci. Lalu buang sejauh mata memandang. Sebab ia akan keluar secara otomatis tanpa aba-aba. Bahkan tanpa kata-kata.
.
Tiba-tiba sekarang berubah. Melintas di atas kepalaku tanpa izin. Tentang dosa.
Di mana anak-anak belum hidup seumur jagung sudah ditakut-takuti oleh dongeng-dongeng “nasi yang menangis” jika sebutir dua butir masih tersisa atau “ada hantu” jika anak belum baligh itu dipaksa patuh.
Nahasnya, “nanti masuk neraka!” adalah ungkapan klasik buat meneror anak-anak bandel bin nakal bin badung bin jahat dan segenap seru sekalian alam.
Menurutku, “apakah dengan memberitahu sesuatu yang baik harus dengan ancaman-ancaman keji yang tidak perlu?
Sejak kecil diajari. Menjelang dewasa dipercayai. Ketika dewasa mewarisi. Sehingga menjadi mitos yang diulang-ulang.
.
Bahagia menular. Sedih menular. Takut menular. “apakah agama juga menular?.”
Sekarang hal ini yang terlintas di benakku.
Mudah sekali gelar “ustad” disematkan atas dasar penampilan. Lulusan SMA Islam. Lulusan pesantren. Lulusan youtube, google, blogspot dan semacamnya. Walau baru kemaren sore. Ketika kembali ke masyarakatnya berperilaku seperti nabi.
Padahal menjawab omong kosong saja belum mampu. Sudah mengkafirkan sesamanya.
Kudengar pertanyaan “bagaimana agar agama kita dapat diterima dengan baik?”.
Sebelum mengajukan “bagaimana” seharusnya kita ajukan “Kenapa” terlebih dahulu.
“Kenapa kita mesti beragama?.”
Menjawab ini saja kita belum becus. Masih berlindung di bawah ketiak orang tua. Serupa bocah kecil yang merengek menagih upah jajan es krim.
.
Magrib mulai berkumandang.
Burung-burung kembali pulang.
Lampu-lampu menyala terang.
Akupun pamit sejenak
Mengistirahatkan benak
Dan bayang-bayang
Hayalan yang kian terbang.

Dugaanku, setengah jam kemudian hujan lebat berhenti. Gerimis sejuk kan datang menyentuh lembut kulitku. Juga perasaanku.
Seperti macet Jakarta yang kian malam makin berkurang. Juga dengan orang-orang yang pernah sakit karena perjalanan sebuah usaha untuk melupakan, walau tak kunjung lupa.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai