kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Alih Bahasa] Bagaimana Stoikisme Menjadikanmu Tahan Banting

Author : Zat Rana

Zeno dari Citium (Zeno of Citium) adalah filsuf yang paling berpengaruh di Athena sekitar abad ke 300 SM, namun sayangnya tidak ditemukan lagi tulisan-tulisanya yang masih terdokumentasikan pada zaman modern ini. Zeno dikenal sebagai salah seorang pendiri filsafat Stoikisme, sebuah kajian filsafat yang lebih memfokuskan pada bagaimana seharusnya kita menjalani hidup.

Pengetahuan tentang pendekatan-pendekatan yang ia bangun dalam Stoikisme diperoleh dari rujukan sumber-sumber sekunder, di antara yang paling populer adalah interpretasi yang disusun oleh para filsuf Romawi di antaranya Seneca dan Marcus Aurelius.

Ia membagi pokok pikirannya ke dalam tiga kategori: logika, berkaitan dengan studi pengetahuan, persepsi dan pemikiran; fisika, dengan memfokuskan pendekatan terhadap alam dan sain; dan etika, yang menitikberatkan kepada aktifitas sehari-hari manusia.

Dari ketiga kategori itu, etika menjadi fokus kajian utamanya, sementara dua kategori lainnya dijadikan sebagai kerangka untuk mendukung dan membawanya sampai kepada kesimpulan-kesimpulan.

Gagasan Zeno pada awalnya dibangun dari metodologi Kaum Sinis dan pemikiran Socrates, akan tetapi ia tidak menyandarkan gagasannya itu kepada salah satu dari dua hal tersebut, ia malah cendrung menggabungkan dan mencocokkan hal-hal yang menurutnya lebih sesuai.

Wajar saja sekiranya ada beberapa ketidaksetujuan dalam penyusunan Sistem Ide Zeno ini dan juga pada detil dari pendekatan yang dilakukannya, tetapi secara global, kita bisa membuat sebuah gambaran besar yang cukup akurat tentang apa sesungguhnya gagasan filsafat Zeno itu.

Mudah bagi kita untuk mencari jawaban dari pertanyaan hidup ini, dan dalam proses itu, kita kadang lupa untuk memperhatikan apa sesungguhnya makna dari hidup yang kita jalani. Kaum Stoa, seperti Zeno, menunjukkan bagaimana kita mendekatkan jarak pemahaman ini.

Hidup yang Selaras dengan Alam

Dewasa ini, ilmu pengetahuan telah dapat mengkaji dan menjelaskan alam semesta dengan akurat yang digunakan untuk memantau dan memprediksi lingkungan sekitar, atau juga untuk menemukan nilai yang berharga bagi kehidupan.

Dalam pandangan hidup kaum Stoa, alasan-alasan di atas dijadikan sebagai dasar untuk menyusun kerangka berpikir yang lebih luas, dan mereka kemudian menyimpulkan bahwa alasan utama dalam studi tentang alam semesta dan fenomenanya itu adalah untuk mendapatkan pemahaman diri yang lebih baik, serta bagaimana menyesuaikan tindakan pribadi kita dengan gerak kosmik (alam semesta).

Sebagai makhluk yang berevolusi, ada hal-hal yang sudah tertanam dalam diri kita, yakni kecendrungan untuk berubah dan hidup yang harmonis, berkompetisi dan bekerjasama, berjuang dan mencari kenyamanan.

Tentu saja ada tarik menarik yang pada setiap orang bisa berbeda, manakah di antara dua kecendrungan itu yang lebih kuat. Saat masih muda, kecendrungan itu lebih banyak didorong oleh spontanitas, tetapi sesuai pertambahan usia dan pengalaman, kita akan lebih bisa menggunakan akal pemikiran yang membuat kita lebih memahami bagaimana menyelaraskan diri dengan alam.

Jika kita menjadikan argumen tersebut sebagai sebuah jalan hidup (way of life), maka hal itu lah yang menjadi motivasi utama yang mendorong kita dalam perjuangan hidup ini, motivasi utama yang menggerakkan kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, dan motivasi utama di dalam menyelesaikan tantangan-tantangan hidup.

Penting untuk dicatat bahwa kaum Stoa sangat menentang paham romantisme buta, di mana rasa dan kesenangan lah yang menuntun tindakan kita. Tentu tidak. Zeno mengajarkan bahwa pengalaman dan menyaring pengalaman itu dalam rangka menyelaraskannya (harmonisasi) dengan alam adalah yang seharusnya menjadi penuntun kita dalam menjalani kehidupan ini.

Ketika proses penyaringan pengalaman tadi berhasil dilakukan, itu lah yang akan mendorong dan menjadi semacam kompas bagi tindakan kita. Kita tak seharusnya bersikeras di satu jalan yang membuat kita terbentur dan sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa, jika dari pengalaman itu justru didapatkan serta diharuskan untuk mencari jalan yang lain.

Dalam hidup ini, ada sebuah gelombang besar di sekitar kita yang membentuk karakter atau watak kita, dan dengan itu pula ada dua kemungkinan yang akan kita lakukan, yakni berpacu dengan gelombang tersebut atau membiarkannya berlalu.

Melihat Kebajikan sebagai Mata Air Kebaikan

Kita telah memperoleh sebuah pemahaman yang jelas tentang bagaimana hubungan diri kita dengan lingkungan dan alam semesta yang luas ini. Kita, tentunya, telah terbebaskan dari ketidakmenentuan hidup yang mungkin akan dan sedang kita alami.

Hal ini membawa kita kepada inti dari pandangan hidup kaum Stoa, yakni etika. Dengan beberapa pengecualian, dalam berbagai cara dan metode, kita dapat merubah tindakan, prilaku dan cara kita berproses melalui etika.

Tapi kita tidak boleh berhenti hanya dengan upaya menyelaraskan pengalaman dan diri kita. Masih ada kemungkinan konflik yang akan dihadapi berupa tekanan yang lahir justru dari pengalaman pribadi itu sendiri.

Contoh, ketika hati kita terluka, atau ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan, atau ketika kita kehilangan orang-orang yang peduli dengan kita. Hal ini tentu menimbulkan sebuah konflik dan bagaimana mengharmonisasikannya bukan lah perkara yang mudah.

Zeno mengatakan bahwa setiap tindakan itu benar jika dilakukan dalam kerangka kebaikan. Apa yang dimaksud dengan kebaikan? Kebaikan itu adalah kebajikan, yakni alasan yang digunakan untuk merubah apa yang berada dalam kendali (berupa reaksi) dan membiarkan yang tidak berada dalam kendali kita.

Meletakkan kebajikan sebagai pusat, sebagai sesuatu yang sangat bernilai untuk diperjuangkan, berarti mengambil tanggung jawab penuh atas pengalaman diri karena kebajikan itu lahir dari dalam diri, bukan dari luar. Jika ada hal yang keliru, itu terjadi karena ketidaksesuaian antara diri dengan tanggung jawab.

Bisa jadi, orang-orang memperlakukanmu dengan tidak adil, atau ada kesalahan yang bukan karena kamu, atau betapa hidup ini sangat berat, tetapi semua itu telah terjadi dan tidak mungkin dibatalkan, maka kamu bisa melakukan salah satu dari dua hal ini, yakni dengan melawan kondisi itu atau mengharmonisasikannya.

Semakin baik reaksimu, maka semakin tinggi nilai kebajikan hidupmu, dan kamu akan menciptakan hidup yang lebih baik.

Miliki Penilaian yang Netral

Kita bisa mengukur pentingnya kebajikan sebagai nilai utama dalam mengelola kenyataan diri, adalah dengan cara melihat hal-hal baik dan benar yang ditemukan dalam pencarian-pencarian diri itu. Lantas, bagaimana dengan dunia yang berada di luar diri?

Jika sumber kebaikan itu adalah diri kita, yang bertangunggjawab dalam mengelola reaksi atas kejadian di luar diri, lalu bagaimana sejatinya kita melihat sesuatu yang berada di luar diri kita?

Pertanyaan ini lah yang menjadi titik pembeda Zeno dan pengikutnya dari Kaum Sinis, hingga mereka (Zeno dan pengikutnya) kemudian mendirikan sebuah cabang filsafat baru. Kaum Sinis mengatakan bahwa dunia di luar diri kita bukan lah perkara yang penting. Selama kita menjaga dunia internal dengan baik, kita akan baik-baik saja.

Sebaliknya kaum Stoa berpendapat bahwa dunia di luar diri kita adalah sesuatu yang berpengaruh. Obyek dari pengalaman dan kehidupan memang tidak membawa nilai positif atau pun negatif, akan tetapi memiliki peran yang penting.

Segala sesuatu yang berada di luar diri kita sifatnya netral, tidak baik dan juga tidak buruk. Bermakna bahwa cara kita menemukan kebajikan dalam diri dan interaksi dari kebaikan-kebaikan dengan dunia ini didapatkan melalui hasil dari konsekwensi. Contoh sederhana dapat kita lihat dalam ungkapan lebih baik mencegah penyakit daripada mengobatinya. (Konsekwensi dari pola hidup yang tidak mengindahkan penyakit adalah datangnya penyakit).

Hidup sehat, sejahtera dan berbuat baik untuk masyarakat, atau hal-hal yang membantu kita untuk bertahan hidup, adalah prilaku yang wajar dan baik sepanjang kita memahami dengan baik di mana letak sumber kebajikan dan kebaikan kita.

Sekedar menggunakan alasan pribadi atau dari dalam diri saja, dan sekedar mengupayakan sesuatu berdasarkan motivasi utama yang ada di dalam jiwa, dengan tidak berinteraksi dengan objek dari luar diri, hanya akan menjadikan tindakan kita itu bertentangan dengan harmoni. Ini akan menciptakan konflik di mana terjadi pertentangan antara kenyataan dalam diri dan dunia luar.

Banyak para pengikut Stoa yang hidup setelah Zeno memiliki pola hubungan yang berbeda antara realitas eksternal mereka dan tuntutan hidupnya, seperti bagaimana merumuskan pola tanggung jawab, akan tetapi semua sepakat bahwa hal tersebut tetap memainkan peran yang penting.

Apa yang Perlu Diketahui

Kendalikan apa yang kamu bisa kendalikan dan biarkan apa yang di luar kendalimu.

Kalimat ini tidak hanya sekedar retorika, tapi bagaimana kita bisa mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Zeno dari Citium, Bapak Kaum Stoa, barangkali tidak meninggalkan sebuah sistem ide yang lengkap dan jelas buat kita pelajari, akan tetapi ada cukup banyak petunjuk buat kita sebagai kerangka acuan untuk merumuskan ide ini sesuai dengan variasi pemikiran dan pengalaman kita.

Kita mungkin saja memiliki terminologi tersendiri untuk ini, namun nilai-nilai kebajikan pasti melekat di dalam semua konsepsi dan model realitas kita. Tugas kita adalah untuk mengingat apa saja yang kita ketahui sembari menggunakan hal tersebut untuk membangun mental dan pribadi yang kokoh, yang tahan banting.

Menjadi seorang Stoa sejatinya menjadi seorang pribadi yang ulet dan kuat. Ya, dan hal ini merupakan sebuah cara bagaimana menjalani hidup.


Diterjemahkan oleh Herman Attaqi dari esai berjudul How Stoicism Can Make You Mentally Tough. Sumber asli bisa dibaca di sini

*) Penerjemahan ini murni untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk tujuan komersil.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai