kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Pak Jokowi, Kami Butuh Anda untuk Disalahkan

Author : Herman Attaqi
Kalau orang-orang banyak yang menyerang Presiden Jokowi terkait bencana kabut asap, terutama di pulau Sumatera dan Kalimantan, yang berkepanjangan ini, maka saya pikir itu hal yang wajar. Atau barangkali sudah seharusnya begitu. Jabatan itu kan tempatnya segala tanggung jawab terhadap hal yang dijabatnya. Jadi wajar orang minta pertanggungjawaban.

Yang namanya orang kan beda-beda cara mengekspresikan tuntutannya. Ada yang marah sambil memaki, ada yang marah sambil ngelawak, dan ada juga yang sedih sambil berdoa plus di tambah kata motivasi ala Mario Teguh. Bebas aja. Tapi sebaiknya jangan menyinggung masalah SARA (Suku, Agama, Ras dan Anatomi) dan jangan hate speech. Namanya saja demokrasi (tentang apa itu demokrasi, jangan tanya saya, saya ndak ngerti).

Tapi, maksud dari tulisan saya ini bukan bagaimana orang mengekspresikan tuntutannya, tapi lebih pada tuntutan itu memang harus diekspresikan. Jika kemudian banyak orang yang mengarahkan mulutnya kepada Presiden, ya, menurut saya wajar-wajar saja. Tugas Presiden, ingat ya Presiden bukan Jokowi, adalah menerima segala tuntutan. Kalo tidak semua tuntutan ditanggapi, itu urusan Presiden.

Hidup itu kan pilihan. Menjadi seorang Presiden, toh, juga pilihan. Bahkan memilih untuk tidak memilih saja juga sebuah pilihan. Dan tidak memilih untuk tidak memilih sebagai sebuah pilihan juga pilihan. Artinya hidup ini memang sudah ditakdirkan untuk pilih memilih.

Harus diingat juga, bahwa setiap pilihan pasti menanggung konsekwensi. Ada hukum sebab akibat. Bahkan dalam ilmu ekonomi ada istilah high risk-high return, semakin tinggi tingkat resiko gagal, semakin besar peluang dapat untung. Atau pepatah bijak orang tua kita dulu, siapa yang menanam dia yang menuai. Meskipun harus kita sadari bahwa kehidupan itu tidak diciptakan hanya untuk permainan dua dimensi itu saja. Tentuk banyak dimensi yang saling terkait atau pun tidak ingin terkait. Yang perlu kita pelajari terus adalah bagaimana hidup yang multidimensi ini selalu membutuhkan banyak alasan, baik argumentatif atau pun tidak untuk menyandarkan pernyataannya atas satu hal. “Menyandarkan pernyataan” atas satu hal itulah yang dimaksud dengan orang butuh sesuatu untuk disalahkan.

Inilah alasan kenapa banyak orang menyalahkan Jokowi terkait bencana asap berkepanjangan ini. Karena Jokowi adalah K̶i̶t̶a̶ Presiden. Kalo Jokowi menanggapi atau mengabaikan, itu urusan beliau. Tapi bahwa ini hukum sebab akibat karena ia memilih untuk menjadi seorang Presiden tak bisa dihindari juga. Lalu kenapa orang kok hobinya menyalahkan Presiden? Ya, terserah orang-orang, dong.

Memang yang paling menarik untuk membahas gejala sosial atau apa pun adalah jika disorot dari perspektif politik kekuasaan. Lihat saja di warung kopi kita, yang secara kultural tempat semua isu sosial di godok. Pembicaraan politik adalah topik pembicaraan yang mainstream dibanding pembicaraan filsafat kebudayaan, umpamanya. Maka hal yang paling sederhana dan menggairahkan untuk dibincangkan, sekaligus dicacimaki dalam tema asap adalah kelemahan presiden Jokowi dalam menanganinya. Itu aja.

Oya, Pak Jokowi, anda santai aja.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai