kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Seni Menanam Pikiran

Author : Ziyad Ahfi

Mungkin kita pernah mempunyai ide-ide brilian. Ide-ide besar. Hasil dari pikiran kita sendiri. Yang kita dapat dari kesendirian atau setelah mendapat doktrin dari film, buku-buku, dan orang-orang yang kita kagumi. Bahkan sampai kepada pertanyaan, “bagaimana aku bisa mengubah dunia?” “Apakah aku mampu?”

Pertanyaan itu akan bisa terjawab ketika kita benar-benar sanggup mengungkapkannya dengan efektif. Jika tidak, ide-ide tersebut hanyalah sampah. Bahkan sampah yang tidak lagi bisa didaur ulang, tidak berdaya, terkubur bersama harapan-harapan lama yang sudah menjadi ilusi.

Berbicara mengenai dunia, barangkali jangkauannya terlalu luas dan abstrak. Sebuah mimpi besar dari perjalanan kecil. Hendaknya kita mulai saja dari metode bagaimana caranya agar orang mau menerima hasil pikiran dari kepala kecil kita, yaitu dengan melawan dan masuk ke dalam pikiran orang lain.

Dulu, ketika saya pertama kali belajar berorganisasi, guru saya menjelaskan definisi kepemimpinan. Katanya kepemimpinan itu adalah sebuah seni untuk mengubah perilaku orang lain. Keterampilan tersebut mesti kita miliki. Konsepsi yang kita punya, hasil dari pikiran dan imajinasi yang pernah dan akan kita teruskan di dalam gerak nyata.

Sutradara Hollywood terkenal, Alfred Hitchcock, mengungkapkan “untuk memberi pelajaran, untuk benar-benar mengubah perilaku orang, anda harus mengubah pengalaman mereka, membidik emosi mereka, menyuntikkan gambar yang tak terlupakan ke dalam pikiran mereka, mengguncang mereka”. Hitchcock adalah seorang sutradara yang pendiam. Rata-rata film yang disutradarainya bergenre thriller. Ia cenderung memberikan keleluasaan kepada para aktor untuk berlaku “senyamannya”. Ia jarang “mengintervensi”. Sikapnya pun dingin. Apabila melihat sesuatu yang menarik, ia membisu. Tanpa tepuk tangan. Tetapi, apabila melihat ada kesalahan, ia kerap kali meludah, sebagai bentuk ketidaksukaannya.

Dari sikap yang demikian, sebenarnya bukan murni dari sifat alami dirinya. Itu juga adalah bagian dari akting yang tidak disadari lingkungan sekitar. Agar para aktor mengalami kondisi kejiwaan yang mendalam. Menumbuhkan kekesalan. Bahkan dendam. Sehingga, ketika nanti melakoni akting tersebut mereka sudah benar-benar menjiwai. Menunjukkan performa alami. Bukan sekadar akting belaka.

Komunikasi adalah Sebuah Bentuk Peperangan

Dalam bukunya 33 Strategi Perang, Robert Grenee menjelaskan bagaimana caranya agar kita mampu menembus pikiran lawan. “Komunikasi adalah semacam perang, medan tempurnya adalah pikiran yang melawan dan membela diri dari orang-orang yang ingin anda pengaruhi. Sasarannya adalah maju, menembus pertahanan mereka, dan menduduki pikiran mereka.” Tulisnya.

Awalnya, musuh masih dalam posisi bertahan. Mereka ingin dibiarkan dengan prasangka serta keyakinan mereka yang sudah ada. Di situlah momentum kita mulai memainkan seni perang. Semakin mendalam kita sanggup menembus pertahanan mereka, maka semakin dalam juga kita menduduki kuasa mental mereka, semakin efektif jua kita mengkomunikasikan keinginan kita.

Di abad pertengahan, komunikasi cenderung menggunakan perkataan atau secara lisan. Sebaliknya, di zaman bebal seperti sekarang ini kita harus belajar bertempur secara tidak langsung. Dengan cara-cara yang non-konvensional. Yaitu, dengan perilaku.
Seperti yang dikatakan Hitchcock sejak awal tadi “mengubah pengalaman, membidik emosi, menyuntikkan gambar yang tak terlupakan ke dalam pikiran mereka, mengguncang mereka”.

Begitu mengundurkan diri dari percaturan politik, Machiavelli, seorang filosof politik asal Florence, Itali dan pemikir era Renaisans ini mempunyai waktu dan jarak yang lebih longgar untuk berpikir tentang urusan yang diminatinya itu.

Machiavelli mendambakan kekuasaan untuk menyebarkan ide-ide dan ajarannya. Kerena tidak mendapat kekuasaan tersebut melalui politik, Machiavelli bertekad meraihnya melalui buku. Ia berkeinginan untuk mengubah para pembacanya sehingga meyakini perjuangannya.

Machiavelli tahu bahwa yang berkuasa seringkali enggan menerima nasehat. Khususnya dari seorang yang tampaknya berada di bawah mereka.

Untuk mendapatkan pembaca yang menentang dan mendua, tentu karyanya harus strategis, tidak langsung, cerdik, dan licik. Maka Machiavelli merancang taktik retorika non-konvensional untuk menembus dalam-dalam ke balik pertahanan pembacanya.

Pertama, ia mengisi taktik dengan menulis sebuah nasihat yang tak tergantikan. Yaitu ide-ide praktis tentang bagaimana caranya mendapatkan kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan melindungi kekuasaan. Sebab pada waktu itu ide tentang kekuasaan sangat menarik bagi segala tipe pembaca. Pembahasan yang seksi. Memainkan sistem keyakinan orang lain. Seberapa pun jauh pembaca menentangnya, mereka akan menyadari bahwa mengabaikan buku ini dan ide-idenya mungkin akan sangat berbahaya!

Kedua, Machiavelli memasukkan anekdot-anekdot sejarah dalam tulisan-tulisannya untuk mengilustrasikan ide-idenya. Pembaca dibawa masuk ke dalam sebuah ilusi atau membayangkan diri sebagai Caesar atau Medocini modern. Secara tidak langsung, tanpa sadar mereka sudah tertawan dan menyerap ide-ide Machiavelli.

Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer di dalam Tetralogi Pulau Buru, ia sungguh-sungguh menjadikan Minke sebagai superhero yang benar-benar ada di tengah-tengah kita. Ia menawan pembaca masuk ke dalam ide-idenya. Tanpa disadari, pembaca sudah seolah-olah ingin menjadi Minke. Sampai-sampai menjadi Minke betulan.

Inilah taktik komunikasi yang mengguncang. Sesuatu yang sulit untuk dilawan. Sebab ia tidak terlihat. Karena diam-diam sudah masuk ke kedalaman diri kita. Diam-diam tertanam dalam kepala kita. Menjadi pikiran.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai