kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Biola dan Hidup yang Dirayakan

Author : Herman Attaqi

Sewaktu Taqiya menyampaikan empat bulan yang lalu, bahwa ia minta dibelikan biola sebagai hadiah ulang tahunnya, saya spontan meng-iya-kan keinginannya itu. Ada banyak hal di dunia ini yang tak mungkin ditolak, salah satunya adalah permintaan Anak Perempuan kepada Ayahnya. Seorang Ayah yang “sometimes be scary and silent”, tulis Taqiya dalam sebuah latihan menulis Bahasa Inggris di sekolahnya. “But,” lanjutnya kemudian, “i still love my father.”

Meski agak jengkel dideskripsikan sebagai menyeramkan (scary) dan pendiam (silent), tetap saja menyenangkan mendapati kalimat but i still love my father, atau juga karena informasi lanjutan dari Taqiya, “aku tadi dapat excellent karena mendeskripsikan tentang Ayah.” Mantap, Nak. Dari Ayah yang menyeramkan dan pendiam. Tentu saja kalimat terakhir hanya saya ucapkan dalam hati.

Saya lalu teringat dengan esai terbaik Dea Anugrah sejauh ini, ketika dia menuliskan tentang Puji Kuswati yang meledakkan diri di dekat Gereja di Surabaya bersama suami, dua putranya dan dua putri yang masih belia, yakni Fadhila Sari (12) dan Famela Rizqita (9). Dea menulis, “Kalau tak putus asa, dia bisa mengingat perasaan-perasaannya ketika mendengar kata pertama yang diucapkan putrinya; ketika tahu bahwa dirinya mengandung; ketika jatuh cinta buat pertama kali; dan ketika dia, dengan muka berlumuran bedak, bermain lompat tali dengan kawan-kawannya di teras rumah, sementara Ibunya berseru-seru dari dalam: “Hati-hati, Nak, hati-hati, jangan sampai jatuh!” dan bersandar pada semua itu, menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang dia punya.”

Saya sampai detik ini selalu takjub dengan kehadiran Taqiya dan tiga adiknya. Betapa tidak, atau barangkali ini hanya semacam retorika kesadaran a la Feurbach, yang mengatakan bahwa manusia berusaha memproyeksi semua kehendak dan keinginannya pada sosok di luar dirinya. Saban kali saya mendapati kegetiran, saban kali pula saya temukan hal-hal yang (teramat) manis pada senyum anak-anak. Saya selalu memproyeksikan ada-nya Taqiya, pada saat saya merasa dalam ke-tiada-an.

Jika hal-hal ini bukan lah sesuatu yang tidak menakjubkan, saya tak tahu lagi apa nama yang tepat untuk kehadiran mereka dalam hidup saya. Mungkin saja kehidupan dunia mistis agak berjarak dengan saya, tapi jika ada waktu, dan nasib baik berkumpul bersama anak-anak, saya selalu merayakan kehadiran seorang anak, dua orang anak, tiga orang anak dan empat orang anak serta bagaimana mereka tumbuh dan memiliki kepandaian yang baru, seperti orang-orang saleh yang merayakan sebuah peristiwa ghaib. Dan bagaimana mungkin saya menolak membelikan Taqiya sebuah biola untuk merayakan hari ulang tahunnya, bahkan untuk merayakan hari pertama saya disebut sebagai Ayah.

Fenomena proyeksi kesadaran dalam pemikiran Ludwid Feurbach, di mana saya memproyeksi setiap kesadaran akan sesuatu yang “menenangkan”, “menyemarakkan” dan “menggembirakan” pada sosok Taqiya, mendapat kritikan teoritiknya pada pemikiran Karl Marx khususnya tentang alienasi. Feurbach, kata Marx, memang telah berpikir progresif dengan menghubungkan antara kesadaran dan pengalaman manusia, sesuatu yang bahkan tak disinggung oleh filsuf sebelumnya seperti Hegel yang hanya fokus kepada Ide Absolut, akan tetapi manusia tidak boleh hanya dipahami setentang tegak dengan taraf kesadarannya semata. Kesadaran manusia itu harus pula dipahami sampai kepada taraf historisnya, yakni pengalaman yang nyata, yang konkrit.

Proyeksi saya terhadap Taqiya yang “ada” untuk mengisi “ketiadaan” saya, bagi Marx, adalah tanda bagi ketiadaan itu sendiri sekaligus bentuk protes atas situasi ketiadaan itu. Proyeksi dalam hal ini telah membuat saya masuk ke dalam ruang alienasi. Perasaan terasing. Dan ketika saya sepi dan dikungkung oleh perasaan sepi itu, lalu saya kembali menemukan ketenangan dari “Proyeksi Taqiya”, maka akhirnya kesadaran itu menjelma menjadi candu.

Saya memahami pikiran Feurbach, saya pun mahfum kritik Marx atas pikiran Feurbach, yang saya tidak tahu apakah kecanduan saya akan “Proyeksi Taqiya” itu sesuatu yang buruk, seperti kecanduan opium, untuk jangka waktu yang panjang? Mungkin juga tidak. Karena saya percaya bahwa manusia beserta pikirannya bisa saja berubah, sebagaimana sistem nilai yang diyakini manusia bukan lah suatu harga mati, ia bisa diutak atik dan dibongkar pasang seperti permainan Lego temuan Democritus.

Solomon Northup, seorang Negro merdeka yang juga pemain biola dalam film yang diambil dari kisah nyata bertema perbudakan di Amerika Serikat pada tahun 1841, yang berjudul “12 Years A Slave”, pada awal penculikannya dan kemudian dijual sebagai seorang budak, masih berpikir ideal tentang arti sebuah kemerdekaan yang harus direbutnya kembali. Dalam sebuah dialog bersama dua orang kawan sesama budak Negro, ia disarankan untuk tidak mengungkapkan identitas yang sebenarnya jika ingin tetap hidup. Tapi Solomon menolak bertahan, ia hanya ingin melawan. Kawannya berkata, “Bertahan hidup bukan berarti mati. Tapi menjaga nyawamu.” Solomon menjawab, “Beberapa hari lalu aku bersama keluargaku. Di rumahku. Sekarang kau bilang bahwa aku kehilangan segalanya. “Jangan bilang jati diriku.” Itukah caramu bertahan? Aku tak ingin bertahan. Aku ingin hidup.”

Dari pengalaman hidup didera derita yang tak terpermanai sebagai seorang budak, kelak, kesadaran Solomon mulai tersusun ulang. Apa yang dia jalani bukan lagi melawan takdir, tapi berusaha hidup sesuai kenyataan sebagai subjek yang tidak merdeka. Bahkan tak ada senyum ceria lagi seperti masih sebagai Solomon Northup yang merdeka, ketika dipaksa oleh majikan kulit putihnya Edwin Epps memainkan biola dalam pesta dadakan yang dibuat sebagai hiburan Tuannya itu.

Arthur Schopenhauer, seorang filsuf dari Jerman, mengatakan bahwa segala sesuatu memiliki kehendak untuk hidup dan konsekwensinya adalah adanya penderitaan. “Hidup adalah menderita” menjadi ungkapan terkenal dari Schopenhauer. Sumber dari segala penderitaan itu ialah bahwa manusia tidak pernah merasa tenang, tidak pernah merasa puas. Dalam diri manusia penuh berjejalan dengan kerinduan, hasrat, harapan, sekaligus kekhawatiran. Begitu tujuan tercapai, manusia merasa kosong. Begitu tujuan gagal tercapai, manusia berada dalam kekecewaan. Tidak ada tujuan hidup yang akan memuaskan kita, sebab itu lah kita hidup di antara penderitaan dan rasa bosan. Ini lah inti ajaran Pesimisme Schopenhauer. Pesimisme di sini adalah sebuah paham atau pandangan filsafat yang tentunya berbeda dengan kata “pesimis” yang hari-hari kita ucapkan.

Lalu apa yang ditawarkan Schopenhauer atas hidup yang penuh derita ini? Yang pertama adalah seni. Seni memberi ruang untuk membangun imajinasi dan melakukan kontemplasi estetik. Yang dengannya manusia bisa sampai kepada idea-idea abadi, persis sama dengan pandangan Plato tentang cita-cita paling luhur filsafat, yakni theoria, pemandangan idea-idea dan realitas abadi sebagai tindakan paling luhur manusia. Schopenhauer sampai pada kesimpulan bahwa puncak pengalaman estetik manusia adalah musik.

Tawaran kedua, adalah dengan meminimalisir adanya kehendak, sebab kehendaklah asal muasal penderitaan.

Saya tak tahu apakah Taqiya akan mengerti keseluruhan pembicaraan ini, meski ia adalah Taqiya yang cerdas. Anak yang sejak SMP sudah tergila-gila dengan novel-novel karangan Pramoedya Ananta Toer, yang bahkan saya baru membacanya ketika berada di semester akhir kuliah. Betapa panjangnya rentang jarak usia dari asupan informasi yang berhasil kami kunyah. Maka, sejatinya, saya yang harus meremehkan daya jelajah nalar saya terhadap diri saya sendiri, ketimbang merendahkan daya tangkap Taqiya atas teori dan praktik filosofis hidupnya. Sesederhana atau serumit apa pun itu.

Saya tak ingin ia terlambat memahami, bahwa sumber dari segala penderitaan hidup ini adalah ketika kita selalu berharap “semua berjalan sebagaimana seharusnya”. Padahal dunia yang kita singgahi ini adalah “dunia yang tidak sebagaimana seharusnya”.

Suatu hari nanti, barangkali saya dan Taqiya akan menikmati hari yang menyenangkan. Saya membayangkan di suatu sore, saya menikmati secangkir kopi sembari mendengarkan gesekan biola yang menenangkan oleh Taqiya. Itu bisa saja terjadi. Itu juga bisa saja tak terjadi. Saya tak ingin menderita dengan harapan indah itu. Biarkan waktu berputar ke tempat di mana ia akan berputar.

31 Agustus 2019, beberapa hari yang lalu, Taqiya berulang tahun yang ke-15, pun saya turut berulang tahun yang ke-15 sebagai seorang Ayah. Pada hari itu saya berikan dua buah hadiah. Pertama, adalah sebuah biola. Yang kedua, jika Taqiya suka dengan biolanya, belajarlah menjadikannya musik. Saya tak pernah menuntut, ia akan menjadi seorang yang bisa bermain biola atau tidak. Cukuplah ia bahagia dengan biolanya itu, maka saya cukupkan kebahagiaan saya dengan itu saja.

Tentu saya masih mengakui bahwa ada banyak hal ideal di dunia ini. Dan, seperti dulu, saya pun masih mempercayainya. Bedanya, sekarang saya lebih bisa menerima kenyataan.

“So, Taqiya, am I still scary and silent, huh?”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai