Halaman Tengah Hari
aku membacamu pada halaman tengah hari. sebuah plot yang rumit dan genit. seperti pukul dua belas siang yang pemberang dan telanjang
terserah saja. frasa yang terus kau ulang. tapi tak pernah pasrah saat bibirku hendak menelisik huruf-huruf serupa bulan sabit di bibirmu
engkau lembut bagai angin. melambat kesadaranku bergerak dari angan. hingga kesejukan yang kau embuskan menjadi gigil yang menggigit jantungku. saat mengetahui kau tak bisa kugenggam
aku bisa saja menyobek halaman itu. tapi tak bisa menyembunyikan akar pohon muasal kertas buku prosa itu yang masih menancap di kepalaku
Bukan Aku, Pun Kau: Kita
bukan aku yang mengail danau ingatanmu hingga muara dadamu tersengat duri ikan yang bermunculan dari lubuk silam
nyinyirmu perihal ciuman pertama dan malam-malam yang kita buai dengan mimpi-mimpi terlarang terasa anyir di bibirku
bukan kau yang membuka katup bendungan angan dari penanggalan yang sudah bertanggalan hingga keinginanku meluap untuk menghanyutkanmu sekali lagi
seperti dulu aku mengajarimu mengarungi lautan tanpa perahu dan penunjuk waktu, berenang melawan gulungan ombak yang akhirnya tak bisa kita taklukkan
bukan aku, pun kau: kita, yang saling sanggup meninggalkan tapi, tak bisa saling menanggalkan kenangan
Halaman Depan
Kau, halaman depan
rumahku. sebuah bengkel
enggan kudatangi. dibatasi
jalan raya tak pernah
mati. aku tahu dalam rindu
tak lagi menyala, bersih-bersih
pada busi dan karbu dadaku
berkarat, Cinta dapat
menderu dan kembali
melaju. namun, tubuhku
lama terperangkap ragu, deru
jalanan bagai perburuan
menggilas dan tergilas
Mataair Tafakur
Jika kau senggang, singgahlah ke ladang
mak-bapak menyiang ilalang penghalang
pohonmu yang sekarang telah rindang
mereka menyiram akar
kanakmu dengan tetesan mataair tafakur
mendamba kau senantiasa
merendah sebagai Hamba
Percakapan Hati dan Pikiran Pada Sebuah Siang
kita pernah bertemu
dalam satu percakapan
penuh hasrat, seperti cengkerama
sepasang kekasih sedang menunggu giliran
di studio foto untuk buku nikah,
hati saling mencengkeram
dan seperti kebanyakan pasangan setelah menikah, kita pun saling menikam curiga — menjawab telepon diam-diam
merahasiakan kata sandi sosial media
tak mau ditemani berbelanja
menolak gandengan di keramaian
lelaki berpikir sebagai payung
perempuan tak mau dianggap patung
mengangguk tak seiya
sejalan tak selenggang
namun, perkawinan bukan api dan kayu
saling meniadakan
terkadang seperti minyak dan air
tak jarang pula serupa tali berpilin
seperti benang pada pakaian
seperti panas dan cerah siang
seperti cinta dan airmata
*) Iben Nuriska, lahir dan besar di Desa Batu Belah. Founder ihwal.co dan penyuka sastra.
