kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Dunia Anak dan Kesederhanaan yang Perlu

“Mereka selalu bertanya mengenai hal-hal yang bukan hanya mereka tidak tahu jawabannya, melainkan membutuhkan jawaban-jawaban yang masuk akal.”


Oleh Ziyad Ahfi

Akhir-akhir ini, saya seringkali mengkhayal. Bukan tentang masa depan, juga bukan tentang percintaan. Apalagi menyadari saya ini adalah seorang pecandu romantik yang kerap kali gagal dalam urusan percintaan. Kalau saya ceritakan pengalaman romantik ini, butuh dua botol air untuk menampung tetesan air mata kalian. Saya sarankan, lebih baik jangan. Kalian akan menyesal. Benar-benar menyesal. Sungguh.

Mungkin, bagi sebagian orang dewasa, membaca cerita ini suatu hal yang menyebalkan. Bahkan tidak berguna. Kenapa saya berujar demikian? Sebab saya ingin bercerita mengenai dunia anak-anak. Sebuah dunia yang luas tak bertepi. Dunia yang membentang tanpa berujung. Di mana dunia bukan hanya di dalam genggaman. Melainkan juga semesta yang sulit dipahami orang-orang dewasa. Bahkan seringkali tak terduga dan mengagetkan.

Beberapa bulan silam, saya membaca buku Dunia Kali karya Puthut EA. Buku yang ia tulis tentang dunia Kali, anaknya. Kisah yang mengaduk perasaan. Banyak pembelajaran yang dapat kita ambil dari seorang anak kecil yang sering kita beri label “ingusan” bila mereka bertingkah aneh-aneh bin ceroboh.

Puthut EA dan Ziyad Ahfi

Dari buku itu kita tahu, bahwa dalam relasi orang dewasa-anak kecil, bukan hanya anak-anak yang belajar pada orang dewasa, pun sebaliknya.

Misalnya, salah satu kisah dari sekian banyak kisah di buku itu, yang kalau tidak salah di halaman 133. Judulnya “Meninggal Dunia”. Seingat saya begini, ketika itu, Mas Puthut menjemput Kali ke sekolah. Tetapi, arah jalan pulang yang biasanya mereka lalui ditutup untuk sementara waktu. Karena ada bendera putih, pertanda ada orang meninggal. Kemudian Kali bertanya, “Bapak, kenapa tidak lewat jalan biasanya?”

“Ada orang meninggal dunia, Nak.”

“Apa itu meninggal dunia?”

“Orang yang pindah dari sini ke alam yang lain.”

“O, pindah… pindah saja, kok jalannya ditutup, sih?

Kemudian Mas Puthut tidak menjawab. Ia malah menghentikan laju kendaraan. Berniat hendak menjelaskan secara baik-baik, lalu ia tengok ke arah belakang, diam-diam bocah itu sudah tertidur pulas tanpa sedikitpun bicara. Hahaha.. Dugaan saya, Mas Puthut kesel-kesel gemes. Mau marah tapi sayang. Hehehe..

Ada lagi, kisah lainnya. Namun saya sedang berpikir keras mengenai ini. Kalau salah, bisa-bisa nanti cerita ini dianggap fiktif dan saya dianggap halu belaka. Tapi halu atau mengkhayal, adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, eh kelewat(an). Maap. Sengaja. Hehehe.

Tadi saya sebenarnya cuma mau bilang, kalau khayalan itu bisa fiktif, bisa juga pengalaman pribadi yang ditangkap oleh mata, telinga, serta perasaan kita.

Baik, saya sudah mengingatnya kembali. Yaitu kisah yang berjudul “Khawatir”. Maafkan bila halaman tidak disebutkan. Saya lupa. Semoga pembaca dapat memaklumi ini. Sekarang jarak antara tangan dan rak buku saya kira-kira dua meter lebih sedikit. Begitu jauh bukan? Ya, jauh bagi pemalas seperti saya. Mungkin dekat bagi pembaca rajin seperti kalian.

Mari kita mulai. Saya akan menceritakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya..

Mas Puthut sangat khawatir sekali ketika nanti Kali sudah masuk Sekolah Dasar. Apalagi mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia. Ia membayangkan Kali akan bertanya kepada gurunya, “Kenapa orang yang berpengalaman sering dibilang sudah banyak makan asam garam? Kenapa tidak banyak makan cokelat? Atau kerupuk?” Pikiran seperti itu muncul karena beliau sudah memperkirakan, mengingat kejadian ketika Kali berumur 4 tahun, ia sudah bertanya, “Kenapa setelah 7 harus 8?”

Nampaknya, Kali alias Sunan Kalijaga ini suatu hari kelak akan tumbuh sebagai filosof kontemporer. Kalau Negara api tidak menyerang, ya. Ingat. Sekali lagi saya ingatkan, kalau Kim Jong Un tidak merubah gaya rambutnya yang unch unch itu.

Begitulah dunia anak. Kalau Kata Roem Topatimasang, “Dunia Anak adalah dunia manusia juga. Dan, dunia manusia adalah semesta yang terlalu sederhana untuk dirumit-rumitkan, tetapi juga terlalu pelik untuk disederhanakan.”

Bayangkan, ketika kalian ada di posisi Mas Puthut. Jawaban apa yang akan kalian berikan? Setahu saya, setelah banyak bergaul dengan anak-anak, saya berkesimpulan bahwa dunia mereka adalah dunia rasional. Mereka selalu bertanya mengenai hal-hal yang bukan hanya mereka tidak tahu jawabannya, melainkan membutuhkan jawaban-jawaban yang masuk akal. Jika tidak, bersiap-siaplah menanti pertanyaan-pertanyaan kejam berikutnya.

Intinya adalah membincangkan perihal anak, sama degan membincangkan perihal manusia. Walau tetesan ingus mereka mengandung bakteri-bakteri tak sedap, tapi pertanyaan mereka mengandung vitamin bagi orang-orang dewasa yang suka meremehkan mereka. Seperti obat, pahit, tapi mesti ditelan. Obat, ya, bukan ingus.

kebanyakan orang-orang dewasa menganggap dunia selalu sebagaimana adanya. “Ikuti sajalah, memang begitu seharusnya, ikuti aja alurnya, yaudah, takdirnya sudah begini.” Demikian pernyataan orang-orang dewasa pada umumnya, yang pernah dan sering saya dengar. Kata Jostein Gaarder, “Mereka seperti membiarkan diri terbuai dalam tidur yang memabukkan dari eksistensi mereka yang membosankan.”

Menjadikan setiap peristiwa dan pilihan-pilihan itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Sebab memang begitu adanya. Mereka begitu terbiasa dengan dunia sehingga tak ada lagi yang perlu diherankan, atau diragukan.

Saya teringat petuah dari seorang Pelawan yang tidak mau disebutkan namanya, “Bung, kita harus curiga terhadap segala hal yang mutlak,” bisiknya tepat di telinga kiri saya. Saat itu saya tidak menjawab dan hanya terdiam. Akan tetapi, jika suatu saat kami kembali bertemu, saya akan bisiki di kuping sebelah kanannya, “Bung, anak-anak lebih tahu itu.”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai