Author : Taqiya Herman
Hujan turun perlahan mengguyur kota Jakarta. Membungkus bumi yang gelap dengan aura dingin. Agak kontras dengan suara musik yang mendengung kencang membuat malam ini sedikit berisik. Sebuah perpaduan yang seolah-olah memberi efek yang aneh antara kesedihan dan juga kegembiraan. Bukankah hidup memang begitu?
Aku duduk sendirian di hadapan sepotong kue ulang tahun. Tersenyum sambil menatap lilin redup bertuliskan angka “22”. Berharap siluet yang ditunggu segera datang membuka pintu.
“Sedang apa di situ?” Aku menoleh ke sumber suara. Tampaklah seorang laki-laki berdiri dengan senyum dikulum. menggenggam raket Badminton hitam kesayangannya. Rambut dan sekujur tubuhnya basah oleh keringat dan air hujan.
Aku tersenyum prihatin. Lihatlah betapa kerasnya ia berlatih. Berusaha menutupi kekalahannya di Indonesia Master, World Championship, dan Malaysia Open satu tahun yang lalu.
Setiap orang akan terharu jika mengingat betapa kerasnya ia berjuang, bahkan di waktu yang seharusnya ia duduk dan merayakan ulang tahunnya bersamaku. Oh, Tuhan, aku sungguh berharap agar dia bahagia. Tapi, pikirku dalam hati, kita memang harus berjuang keras dulu untuk meraih impian. Sebuah kesuksesan, harus terlebih dulu melewati berjuta kegagalan.
Baca juga : A Halu Story (Part 6) : Taqiya Meet Jonatan Christie
“Hey, siapa yang ulang tahun?” Lanjutnya. Senyum di wajahku pudar, rasa prihatin berganti dengan dengusan kecil. Menahan diri agar tak merutuki kelakuan Jojo yang begitu menyebalkan.
“Tidakkah kau mau berdamai denganku sebentar saja?” Ucapku pendek. “Ah, maaf. Aku hanya senang melihatmu marah” Ucap Jojo sambil menahan tawanya. Aku, walau kesal, tentu saja tetap menyerahkan kue itu padanya.
“Selamat Ulang Tahun, Jonatan Christie. Berbahagialah.” Seruku mencoba riang. Dia tersenyum sayu kemudian mendekap bahuku perlahan.
“Kau tau? Menjelang pertandingan Final Asian Games yang lalu, Papa berpesan kepadaku jika ia ingin mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Dan betapa bahagianya aku, akhirnya bisa mempersembahkan lagu Indonesia Raya itu buat Papa.”
“Kau tau?” Ia bertanya dengan cara yang sama untuk kedua kali. Sembari menyorongkan mukanya ke arah kue ulang tahun itu,” Tentu saja aku bahagia. Selalu berbahagia. Terlebih saat kau datang untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun dengan sepotong kue. Adakah yang lebih membahagiakan dari itu? Kurasa tidak. Jadi, tetaplah seperti ini. Aku berbahagia dengan kau yang seperti ini” Bisiknya pelan.
Baca juga : A Halu Story (Part 5) : Jagbyeol Insa Do Kyung-soo
Pipiku memanas, lalu kubenamkan seluruh wajahku di telapak tangan. Ah, Jonatan mulai lagi!

