Author : Herman Attaqi
Salam Perlawanan,
Karena ini adalah sebuah panduan taktik, maka saya akan menuliskan hal-hal taktis tentang apa saja yang harus dan bisa dilakukan oleh mahasiswa dalam menyikapi kebijakan rektorat kampusnya yang anti demokrasi, anti intelektualisme serta, tentu saja, a historis dan sepatutnya dilawan oleh mahasiswa dan siapapun yang masih ingin mempertahankan kewarasannya.
Ketahuilah, dunia di luar kampus sudah semakin gila, masak kampus juga ikut-ikutan gila?
Tulisan ini lahir, karena saya kaget dan terheran-heran setelah membaca berita tentang kebijakan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Pekanbaru yang mengancam akan men-drop-out mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi terkait bencana kabut asap di Riau.
Saya kira tak butuh alasan, baik akademik maupun etik, untuk menyatakan jika “ini adalah kebijakan yang goblok seampun-ampunnya.”
Baca juga : KPAI Tolong Hentikan Audisi Asap yang Mengeksploitasi Anak-Anak Kami, Pliz
Berikut adalah sebuah panduan taktik buat mahasiswa yang ingin melawan rektor otoriter itu:
- Pastikan kalian mengetahui posisi strategis mahasiswa di dalam penyelenggaraan kegiatan kampus. Sederhananya, kampus itu mutlak memiliki tiga komponen, yakni: rektorat dan jajarannya, dosen dan tenaga kependidikan, serta mahasiswa dan alumni. Kalian bayangkan jika satu komponen saja, katakanlah mahasiswa melakukan mogok secara massif, tentu kampus itu menjadi tidak layak lagi untuk disebut sebagai sebuah kampus. Kebayangkan posisi strategis kalian sebagai mahasiswa?
- Masih berkaitan dengan poin pertama, sebaiknya kalian membaca statuta kampus untuk lebih menguatkan kepercayaan diri kalian untuk berhadapan dengan rektor. Jika susah mengakses naskah statuta kampus gimana? Gampang. Kalian tinggal lakukan komunikasi dengan dosen atau siapa saja yang punya akses mendapatkan itu yang mendukung perjuangan kalian. Dari sekian banyak dosen di kampus, ga mungkin dong semuanya gila? Pastilah ada yang masih menjaga kewarasannya. Lagi pula naskah statuta kampus itu bukanlah dokumen rahasia, karena pihak tertentu bisa jadi sengaja tidak menyebarkannya agar kalian jangan terlalu banyak tahu mengenai hak-hak kalian sebagai mahasiswa.
- Lakukan konsolidasi dengan semua simpul mahasiswa, baik lembaga formal kemahasiswaan maupun senior atau alumni yang berpengaruh. Dan pastikan mereka mendukung rencana aksi kalian yang ingin menggugat rektor.
- Lakukan juga konsolidasi dengan lembaga bantuan hukum dan atau personal contact yang sekiranya akan mem-back-up kalian jika nantinya akan berimbas kepada persoalan hukum.
- Tapi jangan takut, sepanjang kalian tidak melakukan tindakan anarkis dan atau menyerang hal-hal pribadi seseorang yang tidak terkait dengan tuntutan aksi, maka percayalah bahwa kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat dilindungi oleh Undang-Undang serta prinsip-prinsip demokrasi.
- Buatlah rencana aksi yang jelas dan terukur, menyangkut siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana. Dan pastikan semua simpul mahasiswa telah memahami dan menyetujuinya.
- Ajaklah mahasiswa untuk ikut serta dalam aksi itu dengan cara yang persuasif. Bisa gunakan teknik agitasi dengan bahasa milenial yang santuy. Ke mahasiswa bahasanya jangan garang, cukupkan bahasa itu kepada pihak yang otoriter dan kepala batu saja.
- Gunakan semua jaringan media sosial yang ada untuk melakukan dua hal; Pertama: melakukan himbauan dan ajakan kepada mahasiswa untuk terlibat dan mendukung penuh aksi kalian. Kedua: melakukan fungsi kehumasan. Karena untuk mendapatkan pengaruh yang lebih kuat agar tuntutan kalian bisa berhasil, penting sekali diperlukan dukungan dari khalayak ramai, sehingga mereka juga bersuara dan menjadi bahan liputan media. Aksi yang berhasil, salah satunya adalah jika ia mampu membangun sebuah opini yang kuat di masyarakat yang kemudian menjadi arus dukungan buat aksi-aksi kalian.
- Gunakanlah gaya bahasa dan metode agitasi yang kreatif dan menarik, baik sebelum, pada saat, ataupun setelah aksi.
- Jadikan semua ini sebagai sebuah proses pembelajaran tentang demokrasi, hak warga negara dan yang paling penting adalah, sebagaimana yang dikatakan oleh Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda.”
Baca juga : Biola dan Hidup yang Dirayakan
Demikian panduan taktik ini untuk bisa menjadi salah satu acuan buat kita bersama, karena dimanapun kita belajar dan menimba ilmu pengetahuan, kita akan selalu berhadapan dengan dua hal, yakni teori dan praktek. Teori tanpa praktek hanya akan menjadi onani intelektual. Praktek tanpa teori itu buta dan sesat menyesatkan. Tapi, diantara teori dan praktek, praktek harus diletakkan di atas teori, sebab manusia dan hewan akan belajar dari tindakan dan pengalamannya sambil terus mengasah insting. Dan mahasiswa memiliki kemewahannya sendiri, yakni selain insting, mahasiswa adalah pelopor intelektual organik. “Panjang umur perlawanan!”
