Author : Iben Nuriska
Bakar pulang tengah malam. Tidur sebentar. Bangun lagi pukul empat. Di keremangan rumah tanpa bilik dan berlantai tanah, sambil bersijingkat di sela-sela pembaringan kesembilan anaknya di atas tikar rotan tua – dipandangnya satu persatu wajah-wajah yang tengah lelap memimpikan masa depan itu.
Istrinya tengah menjerang air. Berjongkok di tanah dapur menghadap kayu yang mengeretek – temaram api di tengah tungku menampak kerut dan kisut wajahnya yang melampaui usia. Ia tidak terkejut saat Bakar menyentuh pundaknya. Seakan mengerti, perempuan itu berdiri dan mengikuti langkah suaminya ke belakang rumah.
Dini hari itu kokok ayam putus sambung. Tikus-tikus mencericit. Dan entah suara hewan apalagi terdengar gaduh di semak-semak. Sedang dari kejauhan, kucing-kucing dan anjing-anjing menyalak.
Selepas bermadu kasih di semak belakang rumah, Bakar mengambil dayung dan pukat yang tersampir di dinding papan yang sebagiannya telah lapuk dimakan rayap, sementara istrinya menyeduh kopi ke dalam termos kecil. Berbekal senter terikat di kepala, Bakar menyusuri jalan setapak di tanah basah sisa hujan semalam. Melewati rumah-rumah yang lelap, di kampung yang tak berlampu sejak semalam listrik PLN padam – menuju tepian sungai.
Hujan semalam menambah debit air sungai. Patok kayu penambat tali sampan yang menancap ke tanah tebing hampir tercabut bergelut dengan arus. Bakar membuka simpulnya dan mengebat sampan ke batang petai cina. Nyalinya menciut mendengar arus menumbuk bibir tebing dan memaksa sampan-sampan di tepian saling bertubrukan.
“Sepertinya air baru naik,” pikir Bakar menimbang-nimbang apakah ia akan mengayuh sampan dan merentang pukat ke hilir di tengah sungai yang begitu pekat dan deras.
Kilat berkelebat di barat. Dini hari itu teramat ribut oleh gemuruh selain petir yang tidak jelas sumbernya. Dada Bakar diserang kalut yang tak dapat ia sudahi.
Tidak biasanya ia merasa begitu takut. Sedang di banyak malam yang lewat, dalam badai petir yang paling dahsyat pun ia enggan menyerah demi memukat ikan-ikan yang akan dijajakan istrinya berkeliling kampung. Ia tidak punya pekerjaan lain selain menjadi nelayan di sungai Kampar untuk menghidupi istri dan sembilan anaknya yang akan memulai tahun ajaran baru sekolah; anak pertama akan kuliah; anak keempat akan masuk SMA dan anak ketujuh masuk SMP; anak-anaknya yang lain naik ke kelas setingkat di atasnya; sedang anak bungsunya baru kelas empat SD.
Bakar menyesali kealpaannya membawa jala yang biasanya terikat pada ujung dayung. Dengan gelisah yang kian buncah, ia urung mandi meski azan subuh sebentar lagi dan memutuskan pulang sembari menyandang dayung dan pukat yang tidak jadi basah. Hujan rintik.
Di tengah perjalanan hujan menderas. Bakar berlari. Beberapakali ia hampir jatuh terpeleset namun selalu berhasil menjaga keseimbangan. Jalan yang licin tidak memperlambat kecepatan larinya. Ia merasa tengah berpacu dengan gemuruh yang terdengar melaju entah ke mana menuju.
Tinggal beberapa pelangkahan ke pintu rumah tubuh Bakar dihempas gelombang hitam. Gelombang yang pada beberapa detik sebelumnya telah menelan rumah dan isinya. Gelombang yang membawa serta lumpur dan gelondongan kayu hutan dan menyeret benda apa saja yang dilaluinya. Gelombang yang membuat kecakapan Bakar berenang tak lagi berguna.
Bakar berupaya menggapai apa saja yang bisa diraih. Kakinya mengepak melawan pusaran air yang memelintir tubuhnya. Maut hampir sampai sehingga ia tak sempat memikirkan istri dan kesembilan anaknya.
Bakar sudah banyak terminum air lumpur. Perutnya mengeras dan membesar. Gelombang hitam terus melahap sisa tenaga yang ia punya.
Hingga pada satu kali hentakan kuat, Bakar berhasil mengambang dan kepalanya beradu dengan udara bebas. Air lumpur menyembur dari mulut dan hidungnya. Ia berpegangan pada pelepah dari sebatang pohon kelapa sawit yang mengambang di sampingnya. Dengan sisa tenaga dipeluknya pelepah itu lengkap dengan perih tusukan duri-durinya yang hitam dan berbisa. Bakar menerima rasa sakit itu agar terus mengambang dan bisa bernapas.
Matahari pagi itu terlihat bersinar sedikit saja. Mega mendung menyelimuti angkasa. Bakar melemah dan tangannya mulai tak berdaya memeluk sakit dan pelepah sawit. Dengan sisa tenaga ia mengedar pandang. Ke mana memandang yang dilihatnya air menggenang dan sedikit bergelombang. Ia tidak tahu keberadaanya kini. Ia tidak mampu lagi mengenali perkampungan yang telah menyerupai keluasan lautan. Tidak ada daratan yang tampak. Di bawah mega mendung pagi itu, mengapung kayu-kayu hutan dan atap-atap rumah dan entah apa lagi bercampur dengan mayat-mayat dan jerit minta tolong dan suara-suara menyebut nama Tuhan.
Entah di mana dan bagaimana nasib istri dan kesembilan anaknya kini beserta tetangga dan orang-orang kampungnya. Bakar sudah tidak mampu berpikir banyak ketika pelukannya ke pelepah sawit mulai melemah. Tubuhnya beringsut tenggelam.
Piadan* di kakinya merayap ke sekujur tubuh hingga ke ujung jari-jari tangannya yang masih bergelantungan. Sesaat kemudian pegangannya terlepas. Air banyak terminum dan tubuhnya semakin masuk ke kedalaman. Dada dan perutnya penuh sesak air dan lumpur. Gelembung-gelembung kecil yang keluar dari hidung dan mulutnya sirna bersama kepunahannya.
— Umamotu, 220719 —
* Piadan (Bahasa Kampar) = mati rasa karena terlalu lama berada di dalam air.
Iben Nuriska, founder ihwal.co
Baca juga : Puisi-Puisi Iben Nuriska
