kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Cerpen] Desas-Desus Gadis Y

Author : Herman Attaqi

Sudah seminggu ini desas-desus bergema di Kota B, tentang Gadis Y yang mengaku anak dari Uwo Syarifah. Namun Gadis Y tidak tahu siapa Ayahnya. Dari pembicaraan yang merebak di status facebook warganet, sebagian besar mengarahkan tudingan bahwa Ayah dari Gadis Y adalah UQ (baca : uki) yang tak lain merupakan tetangga depan rumah Uwo Syarifah. Warganet yang lain mencurigai Boim Lembong, karena ia setiap hari ngopi di Kedai Kopi “Patah Hati” tak jauh dari rumah Uwo Syarifah. Apalagi sebagai penjual kopi dengan merek sendiri, yakni Kopi “Murni”, Uwo Syarifah membeli biji kopi dari Boim Lembong sebagai sopir mobil kanvas sekaligus agen pengecer biji kopi asli dari Pulau Biawak yang terkenal hingga diekspor sampai ke mancanegara.

Hari sudah pukul 9 pagi saat UQ bangun dari tempat tidurnya. Seperti biasa Ia membuka gorden dan jendela kamar. Wajahnya tirus, matanya tajam serta keseluruhan tubuhnya memperlihatkan seperti terbuat dari rangkaian kabel listrik dan adonan aluminium bahan pembuat robot. Meski Ia mengakui sebagai seorang penyair dan penulis, tapi gerak tubuhnya bagaikan robot buatan anak STM jurusan Mesin.

UQ mencabut colokan cerek listrik pemanas air. Tangan kiri menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi dan tangan kanan dengan gerakan mekanis mengaduk kopi searah jarum jam dengan sebuah sendok mungil. Ia mengaduk sambil membayangkan tarian sufi nan syahdu ciptaan tokoh yang paling dipujanya, Jalaluddin Maulana Rumi. Konon katanya tarian sufi adalah penanda kesyukuran seorang hamba kepada Tuhan Sang Pencipta. Dan UQ sadar betul bahwa tidak ada hal yang patut disyukurinya setiap hari selain dari sendok mungil pengaduk kopinya tidak hilang.

Berbeda dari rutinitas pagi yang selalu monoton, pagi ini raut wajah UQ sang penyair terlihat agak kecut. Kulit keningnya sedikit mengkerut bagai jangat baru diparut. Ada sesuatu yang dipikirkannya. Tapi bukan tentang seekor semut hitam yang tiba-tiba entah datang darimana berenang-renang di dalam cangkir kopinya. Ia hanya melihat, namun pikirannya jelas bukan kepada semut itu. Sudah seribu ekor lebih semut yang terperangkap di genangan kopi ini. Ada yang mati. Banyak juga yang selamat sampai ke bibir cangkir. Semut hitam ini berusaha keras ingin hidup. Ia menggelepar merenangi lautan kopi yang masih panas. Jika semua kita tak boleh berharap kepada siapa-siapa, maka apapun kesulitan hidup harus ditanggung sendirian. Tak ada yang perlu dibantu, tak ada juga yang berharap ditolong.

Ternyata desas-desus Gadis Y membuatnya berpikir keras. Benarkah Gadis Y adalah anak Uwo Syarifah? Dan yang membuatnya tidak berhenti bertanya-tanya benarkah Gadis Y adalah anak kandungnya seperti yang digunjingkan orang? Dalam kekalutan pikirannya itu, Ia berdiri sambil menggenggam cangkir kopi. Berjalan ke jendela kamar yang menghadap ke rumah Uwo Syarifah. Pandangannya tertumpu pada tubuh Uwo Syarifah yang keluar dari pekarangan rumahnya dengan sepeda motor Mio warna merah maron. Di antara bunyi glek di kerongkongannya, UQ terperanjat sejenak, bukan karena melihat Uwo Syarifah, tapi menyadari nasib semut hitam yang mengapung di dalam cangkir itu telah berpindah ke dalam perutnya. Reflek bibirnya membacakan doa Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan paus.

Jika nasib baik, semut hitam itu bisa menunggu sebentar lagi UQ akan berak pagi. Jangan berharap lebih, karena jika ternyata semut harus melewati proses pencernaan, tentu berak yang akan keluar pagi ini adalah giliran ampas makanan semalam. Meskipun semua proses alami selalu saja memunculkan sedikit kejutan di luar hitungan teori manusia, tapi tak ada salahnya juga bila masing-masing mengikuti saja sebuah pepatah Spanyol, que sera sera, apa yang terjadi terjadilah.

Baca juga : [Cerpen] Di Bawah Mega Mendung

Boim Lembong berdiri di belakang mobil suzuki pick upnya. Mobil pribadi yang dicicil per bulan sebesar 1,8 juta rupiah, tentu diluar denda jika ia terlambat menyicil. Ia sangat bersyukur cicilan mobil tinggal 7 bulan dan ditambah lagi sejak setahun terakhir sebuah koperasi kelompok tani di Pulau Biawak mengajaknya bekerjasama dengan menyewa mobil dan Ia sekaligus sebagai sopir untuk mendistribusikan biji kopi hasil pertanian mereka.

Mulutnya komat-kamit menghitung karung biji kopi seberat 50 kilogram untuk biji yang belum diroasting atau direndang dan biji kopi dalam kemasan sekilo khusus untuk biji kopi yang sudah diroasting. Tangannya menggenggam sebuah pulpen dan kertas faktur sebagai catatan jumlah barang yang akan Ia turunkan. Kedai ini selalu jadi penghentian terakhir menurunkan biji kopi. Ia senang berlama-lama di sini karena selain sebagai kedai pengepul biji kopi untuk Kota B, Kedai Kopi “Patah Hati” juga layaknya warung kopi yang nyaman disinggahi sebagai tempat berleha-leha.

Sembari barang diturunkan oleh anak buah Bang Ipul, si pemilik kedai kopi, Boim Lembong berjalan menuju kasir menyerahkan faktur catatan jumlah barang yang diturunkan.

“Halo, Bang Boim. Kenalkan saya Y kasir yang baru,” seorang gadis baru selesai remaja menyapa dengan ramah. Suaranya renyah bagai Dian Sastro, kecuali bagian hidung tentu tak ada yang mampu mengalahkan keabadian hidung Dian Sastro.

Boim Lembong, residivis kasus pencemaran nama baik karena aktifitasnya sebagai seorang aktifis LSM khusus memantau kinerja pemerintah dalam membagikan proyek pembangunan, menyodorkan mukanya ke arah Gadis Y, “Siapa namamu?”

“Y, Bang.”

“Gadis Y? Cilako Sodo! Jadi kamu yang mengaku anak Uwo Syarifah itu?” Tanya Boim Lembong lagi.

Gadis Y tak menjawab.

Boim Lembong tak lagi bertanya.

Ia berlalu mencari tempat duduk. Mencoba untuk tak memikirkan desas-desus yang mengaitkan namanya. Orang butuh cerita untuk memantapkan keyakinan. Ada cerita tentang negeri yang dibalikkan bagai telapak tangan, lalu dihempaskan begitu saja, agar orang percaya bahwa jangan melanggar perintah Tuhan. Setelah itu makhluk hidup kembali berkembang biak. Mereka kembali menjalankan perintah Tuhan. Ada juga yang memerintah seperti Tuhan. Tapi yang pasti kehidupan tak benar-benar punah selagi masih ada banyak bahan cerita untuk dibagi-bagikan. Seekor tuntung masih bisa bertelur di musim kemarau dan ukuran telurnya tetap tak bisa dikalahkan oleh telur itik.

Boim Lembong menyeruput kopi. Sewaktu dalam penjara dulu Ia pernah mengimpikan untuk hidup bahagia membangun rumah tangga. Punya istri dan anak. Sementara itu terdengar sebuah lagu dari speaker kedai kopi, sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Jason Ranti, penyanyi yang lagunya mirip lagu-lagu Iwan Fals sebelum jualan kopi. Barangkali hidup adalah doa yang panjang. Tapi oh sayang doanya musti seragam. Karena tak dapat kuungkapkan kata yang paling cinta. Kupasrahkan saja di dalam Dia. Aku tak ingin menangis. Menerka gerimis. Di sepanjang lorong itu aku tak ada nyali.

Uwo Syarifah sejenak bisa tersenyum menonton lenggak lenggok nan gemulai penyanyi dangdut Nassar di acara yang mirip nama kampus D3 karena ada kata akademi, tapi ini ditambah kata dangdut. Suara merdu Nassar ketika menyanyi selalu mengingatkan Uwo Syarifah pada almarhum suaminya yang seorang tentara. Barangkali dalam soal menyanyi ini, suaminya yang berpangkat Prajurit Satu bisa setara dengan legenda tentara Jendral Wiranto yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di samping rumah Uwo Syarifah. Tapi di lain waktu, ketika kebiasaan melambai Nassar ini kumat, ia melihat Nassar seperti pantat itik yang bergoyang sehabis mengeluarkan taik.

Telah lama Uwo Syarifah tinggal sendiri, tepatnya ditinggal mati oleh suami yang hampir saja jadi pahlawan republik karena sehari setelah hari kematian itu harusnya Ia berangkat menumpas pemberontak Timor Timur. Tukang becak lebih mencintainya dibanding Ibu Pertiwi, mereka – Mantan Suami Uwo Syarifah dan Tukang Becak – pun beradu kambing. RX-King patah dua, Mantan Suami Uwo Syarifah pendarahan di kepala dan mati di tempat, becak remuk berpilin tiga dan tukang becak lecet-lecet serta bibir pecah-pecah.

Uwo Syarifah tak meratap. Ia percaya semua yang hidup, toh, akhirnya mati jua. Kalau tak di medan tempur, ya, bisa juga di jalan raya. Di mana pun tempat, mati tetap mati. Yang jelas Ia harus melanjutkan hidup dengan berdagang Kopi “Murni” yang digilingnya di pasar. Lalu malam hari dibungkus dengan ukuran sekilo, setengah kilo dan seperempat kilo. Uwo Syarifah tak bisa berlama-lama menyaksikan Nassar, yang kadang mirip dengan mantan suaminya, kadang mirip itik berak itu.

Perihal desas-desus Gadis Y yang sempat dikonfirmasi Etek penggiling lado di pasar tadi pagi, Uwo Syarifah hanya tersenyum, “ndak sempat saya memikirkan itu, Tek. Lagian biji kopi nanti siang harus ditumbuk dan malam harus dibungkus.”

Malam ini sambil membaringkan tubuh untuk bersiap tidur, Uwo Syarifah tak bisa menghindari pikirannya dari mengingat tentang desas-desus Gadis Y. Tapi memori adalah keajaiban milik manusia. Ia tidak hanya bisa membuat manusia percaya bahwa hidup bukan tentang hari ini saja. Memori membawa manusia kepada hari kemarin dan masa yang lampau. Hebatnya lagi, dengan memori, manusia bisa memilah mana ingatan yang patut dikenang, mana yang tidak.

Seperti malam ini Uwo Syarifah mengingat masa gadisnya dulu. Saat sekolah MTs dan Aliyah, Ia dikenal karena suara emasnya dalam melantunkan ayat suci. Setamat sekolah Ia meniti karir sebagai biduan sebuah orkes gambus, hingga saat tampil di Markas Kodim Kota B itulah Ia mengenal mantan suaminya yang seorang tentara. Ah, sekarang Uwo Syarifah memilih untuk tak mengingat kematian mantan suaminya. Ia lebih memilih berkhayal seandainya mantan suaminya berangkat ke Timor Timur, lalu pulang dengan selamat. Tapi tunggu dulu. Jika cerita itu yang terjadi, Ia tak akan bisa memilih ingatan tentang Tukang Becak? Uwo Syarifah tersenyum. Ada yang dibawanya bersama senyuman itu ke alam mimpi. Entah Tukang Becak. Entah Gadis Y. Tapi tentu Ia hanya ingin memikirkan peristiwa yang membuatnya bisa tersenyum ketika bangun tidur keesokan hari.

Bagi Uwo Syarifah, teknik memilah memori inilah rahasianya bisa tetap tenang meski didera kehidupan yang tak tentu-tentu.

Boim Lembong berdiri di reruntuhan rumah yang hangus terbakar. Di antara kepulan asap sisa kebakaran itu, hidungnya menciumi aroma kopi khas Pulau Biawak yang selalu bisa memberi sensasi ketenangan. Bagi Boim Lembong, tak ada sumber inspirasi sehebat aroma kopi. Untuk itulah Ia sengaja datang kemari, menikmati pagi dengan semerbak aroma kopi dari puing-puing rumah yang terbakar.

Sementara di sisi belakang rumah tempat Boim Lembong berdiri, Uwo Syarifah sibuk memilah barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Untung saja rumahnya tak jauh dari Komplek Kodim, sehingga banyak tentara yang membantu memadamkan api yang membakar rumahnya dini hari tadi, serta menyelamatkan Uwo Syarifah dan barang-barang dari kobaran api. Sementara Uwo Syarifah sendiri masih sibuk memilah memori, apakah kebakaran ini cuma mimpi? Sisi lain memori berujar, “berhentilah memilah mimpi! Yang nyata adalah hidup. Apapun bentuknya, tetap harus dijalankan.”

Baca juga : Tersenyum Bukan Karena Bahagia, Tapi Karena Sudah Tak Ada Lagi Air Mata yang Hendak Ditumpahkan

UQ sang penyair telah berada di dalam kamar. Baru saja Ia sempatkan melihat kondisi rumah Uwo Syarifah yang hangus terbakar. Lebih tepatnya mengambil gambar dan video untuk postingan status facebook. Ia, sebagai penyair, juga menyiapkan puisi yang syahdu sebagai caption bagi foto dan video kebakaran sebuah rumah dari seorang perempuan penjual kopi.

Telah seminggu lebih sehari UQ tak membuka facebook. Dengan secangkir kopi dan layar laptop yang telah terbentang, Ia masuk ke dalam akun facebooknya, yakni Pecinta Maulana Rumi. Sekilas terbaca status facebook terakhir 8 hari yang lalu. Di sana tertulis begini : Sudah seminggu ini desas-desus bergema di Kota B, tentang Gadis Y yang mengaku anak dari Uwo Syarifah. Namun Gadis Y tidak tahu siapa Ayahnya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai