kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Dirgahayu Kabupaten Pelalawan

Author : Puan Seruni

Indai donai
Aaii
Buah lakom di dalam somak
Pada seumpun ditimpo bonto
Salamualaikum kepado sanak
Kami bepantun membukak ceito

Indang donai
Aaii
Untuk apo mumasang pelito
Untuk penoang uang di balai
Untuk apo mungonang ceito
Untuk pogangan uang nan amai

Pantun pembuka atau biasa disebut pantun bebalam biasa didendangkan sebelum masuk ke dalam nyanyi panjang Bujang Tan Domang, yakni Tombo yang berkembang di masyarakat Petalangan, sebagai salah satu puak asli di Riau yang bermukim di beberapa tempat di Kabupaten Pelalawan.

Hari ini tanggal 12 Oktober 2019, Kabupaten Pelalawan berhari jadi ke 20 tahun dengan mengusung tema Peningkatan SDM dan Kondusifitas Daerah menuju Pelalawan Emas.

Sepanjang dua dekade, sudah banyak pembangunan dan kebijakan pemerintah kabupaten yang dibuat dan diterapkan. Ada yang menilai sangat bermanfaat, ada pula yang menilai belum sepenuhnya menyentuh masyarakat. Begitu pula dengan prestasi yang didapat. Ada yang bangga, ada pula yang merasa belum layak. Berbagai opini, komentar dan harapan pun mengiringi di hari jadi Kabupaten Pelalawan yang ke-20 ini.

Bersempena dengan hal tersebut, saya berkesempatan bersilaturahmi dengan beberapa warga di antaranya sesepuh, tokoh pemuda dan warga masyarakat dari berbagai latar profesi yang mau memberikan harapan dari perspektif mereka kepada kabupaten tercinta ini.

Baca juga : Wawancara Bersama David Hendra

H. T. Zuhelmi, M.Si, seorang tokoh yang aktif di pemerintahan sebelum memasuki masa purna, dan dikenal memiliki kinerja yang baik dan memiliki pemikiran yang kritis pula, beliau mengatakan sebelum pemekaran, Kabupaten Pelalawan, merupakan daerah yang sangat tertinggal sekali. Kalau dilihat rasanya saat itu sangat tidak mungkin dijadikan kabupaten baru, tapi berkat kerjasama dan perjuangan tokoh-tokoh masyarakat, maka terbentuklah Kabupaten Pelalawan ini.

Banyak jasa tokoh masyarakat pendiri kabupaten yang menurut beliau tidak terhitung, baik dari sumbangsih pemikiran, tenaga maupun materi, sehingga dalam kondisi yang serba terbatas waktu itu, mereka mampu mengerahkan segala upaya sampai undang-undang pembentukan Kabupaten Pelalawan disahkan.

Menurut mantan ketua Dewan Kesenian Pelalawan tahun 2005- 2010 ini, rentang waktu dua puluh tahun bukanlah masa yang pendek untuk mengukir prestasi gemilang sebagai kabupaten yang lebih maju dari kabupaten lainnya. Tapi hendaknya pemerintah kabupaten jangan mengejar prestasi dalam bentuk raihan piala atau penghargaan saja, sebab yang diperlukan adalah program yang betul-betul dapat menyentuh lapisan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang jauh dan belum mendapat infrastruktur yang layak, daerah yang sering terdampak bencana banjir, atau yang terisolir.

Beliau menambahkan, konsep pembangunan harus jauh dari sekedar basa-basi. Contohnya dengan mengatakan angka kemiskinan menurun, tapi dalam kenyataannya malah menurun ke anak cucu. Ini yang perlu diperhatikan. Kemiskinan bukan lagi soal pendapatan semata, tapi sisi karakter dan edukasi masyarakatnya juga harus dibentuk dan ditingkatkan. Pembangunan kabupaten itu harus berpijak pada kondisi nyata, bukan rekayasa atas keinginan pribadi penguasa. Harapan beliau kedepannya semoga Pelalawan semakin maju, dipimpin oleh sebenarnya pemimpin yang arif dan bisa merangkul semua elemen masyarakat, sehingga tidak ada perpecahan meskipun ada pertentangan ataupun perbedaan sudut pandang.

H. T. Zuhelmi, M.Si beserta Isteri

Selanjutnya saya bersemuka dengan Fauziah M. Den, seorang perempuan pegiat kuliner tradisional Melayu, yang saya temui disela aktifitasnya mempromosikan produk cemilan khas Melayu di Pelalawan Expo 2019, yang juga pemilik usaha Dapo Mak Uteh ini menyatakan harapannya di hari jadi Pelalawan yang ke 20 tahun ini, “Pelalawan semakin lebih baik dari tahun sebelumnya, lebih berkembang potensi-potensi lokalnya, baik itu pariwisata maupun kuliner tradisinya, sehingga tak hanya dikenal di wilayah Riau saja, tapi di tingkat Nasional juga.”

Fauziah M. Den

Perempuan kelahiran Kuala Kampar ini tengah bergiat mengembangkan dan mempromosikan panganan kampung berupa talamuber atau talam ubi lumer, jande aji atau aji sereban dan melako petani atau melako berendam. Menurutnya sudah seharusnya pemerintah kabupaten memberi perhatian kepada kuliner tradisional yang menjadi ciri khas daerah tersebut dengan menyertakannya sebagai menu utama baik untuk hidangan makan besar maupun hidangan untuk cemilan, saat jamuan acara-acara besar kenegaraan, hari jadi kabupaten, menyambut kedatangan tamu dari pusat maupun luar daerah.

Menurutnya, hal tersebut juga memberdayakan hasil pertanian daerah. Karena bahan baku panganan buatannya seperti ubi kayu, beras pulut dan labu kuning bergantung pada petani lokal. Apalagi untuk jenis makanan lain. Tidak hanya pertanian tapi juga perikanan, karena kita tahu orang Melayu suka makan ikan, karena dari masa leluhur suku Melayu selain berladang, hidup mereka tidak jauh dari sungai dan laut.

Panganan Tradisional Melayu olahan Dapo Mak Uteh; Talamuber, Jande Aji dan Melako Berendam

Kemudian saya berkesempatan juga menghubungi Jalaluddin, tokoh pemuda dan pegiat kegiatan sosial di Kabupaten Pelalawan. Jalal, demikian nama panggilannya merupakan perantau asal Sumatera Barat dan menetap di Pangkalan Kerinci sejak tahun 1990. Harapannya di hari jadi Pelalawan ke-20 sebagai masyarakat, menurutnya sederhana saja, yakni fasilitas atau pun infrastruktur pendidikan menjadi hal utama yg harus menjadi prioritas pemerintah kabupaten selain pembangunan infrastruktur lain.

Jalaluddin (paling kanan) bersama mantan Kapolres Pelalawan beserta relawan penanggulangan bencana Karhutla

Selain itu, Jalal juga menambahkan bahwa pemerintah kabupaten harus lebih serius dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan. Pengalamannya tergabung sebagai relawan pemadam kebakaran bersama petugas pemadam kebakaran daerah dan anggota kepolisian di Pelalawan beberapa waktu lalu, membuatnya prihatin. Korban kebakaran lahan dan hutan tak hanya warga masyarakat yang terdampak kabut asap, tapi juga flora dan fauna yang ada di hutan dan lahan yang terbakar dan seharusnya dilindungi, agar keseimbangan dalam lingkungan hidup tetap terjaga. Sebuah harapan sederhana yang ternyata tak sesederhana itu mewujudkannya, karena di balik kata sederhana itu terselip kemauan yang kuat beserta komitmen yang kokoh.

Jalaluddin

Kemudian saya menemui rekan kerja saya saat di radio pemerintah daerah kabupaten Pelalawan dulu, Fatriani, SH. Aktivitas sehari-harinya selain ASN di Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pelalawan, juga sebagai pewara, penyiar radio Pemerintah Kabupaten Pelalawan dan aktifis kegiatan sosial Jumat Berbagi. Saat dijumpai menjelang pelaksanaan apel peringatan hari jadi Kabupaten Pelalawan ke 20, Sabtu 12 Oktober 2019, tadi pagi, Fatriani mengatakan harapannya dari tahun ke tahun tetap sama. Terutama untuk radio, agar pemerintah kabupaten lebih peduli pada keberadaan radio pemda ini.

Program-program radio yang selama ini diupayakan menjadi corong dan penghubung informasi dari instansi-instansi ke masyarakat, kurang mendapatkan respon. Padahal di era awal Kabupaten Pelalawan berdiri, radio pemda menjadi kanal informasi dan hiburan yang selalu didengarkan warga Kabupaten Pelalawan. Setelah kini berhadapan dengan kecanggihan internet dan media sosial, mestinya juga ada perhatian lebih agar keberadaan dan peranan radio pemerintah lebih dikenal luas.

Baca juga : Ada Pustaka di Taman Kota, Cerita Malming di Bangkinang

Dilanjutkannya, harapan sebagai pemersatu pendengar dan warga dari berbagai daerah juga bisa terwujud, sehingga mendukung terciptanya suasana kondusif dalam mewujudkan Pelalawan EMAS (Ekonomi, Mandiri, Aman dan Sejahtera).

Saya bersama Fatriani, penyiar radio Pemkab Pelalawan

Harapan-harapan yang saya aminkan sepenuh hati agar bisa, cepat atau lambat, tersemogakan. Pelalawan, seperti nyanyi panjang Tombo Bujang Tan Domang, yang juga telah membersamai sejarah panjang perjalanan sebuah puak, lalu berkembang menjadi negeri dan hari ini telah berwujud rupa menjadi sebuah Kabupaten, memang harus lebih baik dari sebelumnya. Tahniah!

Foto : Dokumentasi pribadi
Editor : Herman Attaqi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai