kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Cerpen] Lelaki yang Menerka Gerimis

Author : Ziyad Ahfi

Pada suatu sore yang gerimis, di sebuah lorong gang sempit Ibu Kota, berjalan sendiri dengan kepala sedikit menunduk, seorang lelaki tinggi berbaju koyak dan berambut panjang tak terurus. Wajahnya murung. Tapi ia tetap melangkah. Pelan. Seakan dunia ada di goresan tato tangannya.

Aku urung niat untuk berkomentar apa-apa karena Ia tampak bingung dan menyedihkan. Sekejap aku palingkan wajah sewaktu ia berjalan melewatiku. Kemudian setelah lewat, kulirik kembali. Lelaki itu tiba-tiba hilang. Aku mulai penasaran. Lalu Kedua kaki ini melangkah mencari.

Sekitar limabelas meter berjalan, aku melihatnya berhenti di balik rumah gubuk berwarna cokelat, tepat di bawah flyover, ia duduk termangu sambil mengapit sebatang rokok di sela jari tengah dan telunjuknya. Ia hisap dalam-dalam. Seperti lelaki yang sedang menyimpan kesedihan dari brengseknya dunia. Kemudian matanya terpejam. Entah doa apa yang sedang ia panjatkan. Atau barangkali ia sedang menyiapkan strategi untuk melakukan tindak kejahatan. Dari kejauhan, aku berprasangka kejam.

Baca juga : [Cerpen] Desas-Desus Gadis Y

Duapuluh menit berlalu begitu saja. Aku masih berteduh di bawah halte busway yang tidak jauh dari lelaki misterius itu menundukkan kepala dalam diam. Waktu yang cukup padat untuk memahami syair Chairil Anwar. Lebih-lebih suasana hujan rintik mendukung untuk itu. Namun semacam ada dorongan deterministik dalam kepalaku untuk lebih memilih mengekor manusia yang tidak kukenal. Bahkan menunggu permenungannya yang entah kapan selesai.

Karena pengaruh gerimis, kubakar sebatang rokok sebagai teman menunggu yang setia. Kemudian memasang earphone, menikmati musik playlist yang sudah kususun lama. Dua tiga lagu berselang. Tiba-tiba, aku terhenti pada sepotong lirik lagu Jason Ranti, berjudul “Lagunya Begini Nadanya Begitu”. Aku ikut bersenandung pelan dengan setengah penghayatan: “Barangkali hidup adalah doa yang panjang. Tapi, oh, sayang doanya musti seragam. Karena tak dapat kuungkapkan kata yang paling cinta. Kupasrahkan saja di dalam Dia…..”

Setelah beberapakali kuulang-ulang, intuisiku mengatakan, mungkin lelaki kesepian di ujung sana itu adalah lelaki yang ada di dalam liriknya Jason Ranti. Sebab ia menerka gerimis. Berjalan di sepanjang lorong tanpa nyali. Lelaki yang hatinya tipis bagai selembar daun. Lelaki yang mudah terombang-ambing. Lelaki yang hanya ingin ngopi sederhana bersama murid cantiknya Pak Sapardi.

“Ah. Apakah iya dia seorang penyair?” Gumamku dalam hati. Tampilannya saja tidak meyakinkan. Alas kaki saja ia tak punya. Apalagi alas pikir untuk menulis sebait syair.

Mendadak, lelaki itu membuka mata. Ia gerakkan kepala ke kiri, ke kanan, lalu memutar. Mataku tajam. Seakan-akan fokus bagai bidikan sniper. Ini kesempatan tepat untuk menemuinya. Mumpung keadaan lengang. Juga sekaligus hendak bertanya– untuk menjawab segala tuduhan yang sudah terlanjur kusangkakan. Agar kecurigaan ini tidak berlangsung lama dan tertanam busuk di hati.

Kumatikan rokok. Kuberanikan diri berjalan menghampirinya. Di bawah derai gerimis, lelaki misterius itu tetap tegak berdiri. Sebentar-sebentar ia menggaruk kepala. Sedikit-sedikit ia membuang pandang. Dalam gerimis yang belum berhenti itu, aku ulurkan tangan untuk berjabat sebagai tanda perkenalan. Ia kaget. Tercengang. Aku awali dengan sedikit senyum. Ia tidak menggubris apa-apa. Ia masih melihat heran. Tak lama, genggam tanganku dilepas. Ia membuka mulut, kemudian mengatakan: “Kita abadi. Yang fana itu waktu” cetusnya dengan tatapan serius. Cepat ia berbalik badan. Tahu-tahu, ia sudah berlari, dan meninggalkanku seorang diri, dengan satu kalimat aneh tanpa tafsir.

Jangan-jangan, dugaanku benar. Tidak meleset. Ia adalah lelaki di dalam lirik lagunya Jason Ranti. Terlihat dari raut wajah yang penuh kekecewaan. Kecewa dari brengseknya dunia. Dunia pelik yang tidak menerima keberadaannya. Terbukti ketika ia menatapku dengan tatapan serius, Ia tinggalkan isyarat pesan. “Dunia ini fana” katanya. “Kita abadi.”

Brengsek. Aku terkesima. Aku menemukan maksud lirik pertama yang kudengar di halte tadi. “Barangkali hidup adalah doa yang panjang. Tapi, oh, sayang doanya musti seragam. Karena tak dapat kuungkapkan kata yang paling cinta. Kupasrahkan saja di dalam Dia…..”

Baca juga : [Cerpen] Di Bawah Mega Mendung

Mungkin inilah alasan Ia memilih jalannya sendiri. Ia tidak menyukai keseragaman. Ia menyadari bahwa dunia ini terlalu kejam memaksa orang untuk seragam. Dalam satu doa. Sedangkan Ia punya cara sendiri soal isi hati. Barangkali di bawah gubuk cokelat itu, Ia sedang bercakap-cakap dengan Tuhan, dan Tuhan menyampaikan kepadanya bahwa akan datang seorang brengsek sepertiku, yang akan menganggu doanya di dalam DIA.***

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai