kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Save Kopi Gayo

Reporter : Puan Seruni & Ziyad Ahfi

Beberapa media lokal di Aceh dan Nasional merilis pemberitaan mengenai ditolaknya kopi arabika gayo di pasar Eropa seperti Jerman, Inggris dan Perancis, karena berdasarkan hasil penelitian laboratorium internasional, ditemukan adanya kontaminasi zat kimia jenis glyphosate yang melampaui ambang batas pada kopi arabika gayo, yang berasal dari racun rumput. Sehingga kopi gayo dianggap tidak organik lagi.

Sebagai bagian dari masyarakat penikmat kopi, tentu kami merasa gusar dan prihatin. Terpanggil ingin mengetahui kondisi yang sebenarnya, kami, yang diwakili oleh reporter Puan Seruni, menghubungi Qori Mufti, petani kopi dan pengusaha kopi sekaligus pemilik kedai kopi Telege Kupi di Takengon, Aceh Tengah, Provinsi NAD.

Dengan tegas Qori menyatakan bahwa ini adalah berita hoax dan bertendensi menjatuhkan nilai jual kopi gayo. Karena para petani di daerahnya jarang sekali menggunakan bahan kimia, apalagi jika kopi itu untuk kebutuhan pasar luar negeri, tentu petani masih menggunakan bahan organik. Jadi, lanjut pemuda kelahiran Takengon 21 Januari 1994 ini, seharusnya ada penjelasan lebih lanjut dari pengurus-pengurus koperasi yang diwawancarai dalam berita (yang beredar) tersebut, misalnya biji kopi itu (green bean) varietasnya apa dan dari daerah mana? Karena pada umumnya di Aceh ini para petani kopi menggunakan cara-cara organik dalam mengelola kebun kopinya, seperti penggunaan pupuk kandang dan pembabatan rumput dengan menggunakan mesin. Kalau pun ada yang menggunakan bahan kimia, itu sangat jarang dan tentu pasarannya bukan ekspor.

Baca juga : KPAI Tolong Hentikan Audisi Asap yang Mengeksploitasi Anak-Anak Kami Plizz

Dalam pasar kopi nasional maupun internasional yang kompetitif, lanjut Qori, rentan sekali terjadi persaingan tidak sehat dengan menggunakan isu-isu negatif, apalagi menjelang panen raya.

“Padahal semua orang tahu, kualitas Kopi Dataran Tinggi Gayo (DTG) seperti apa. Kopi nusantara lainnya juga banyak yang memiliki rasa yang khas dan layak jual di pasar ekspor.” Ujar lulusan Fakultas Ekonomi Islam,STAIN Gajah Putih Takengon ini kemudian.

Qori Mufti

Sebagai orang yang sejak kecil sudah berada di tengah-tengah kebun kopi itu sendiri, karena berasal dari keluarga yang turun temurun berprofesi sebagai petani kopi dan, ditambah lagi, sejak berusia 18 tahun atau tepatnya sejak kelas 2 SMA sudah bergelut di bidang pertanian kopi, Qori memang sangat memahami seluk beluk perkebunan kopi sampai soal intrik pemasaran yang terjadi di dalamnya.

“Orang tua saya memberi sepetak tanah kebun untuk saya kembangkan dan ditanami kopi, Mbak. Bisa dikatakan ini milik sendirilah” ujar Qori. Kemudian Ia melanjutkan, “luas kebun saya saat ini kurang lebih hampir 2 hektar. Lokasinya berada di ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Gunung Suku, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Di kebun itu, jenis kopi yang saya tanam bervariasi; ada ateng super, long berry, dan katimor. Dalam sekali panen, Alhamdulillah, bisa menghasilkan 2 ton biji kopi.” Urainya kemudian.

Dari jenis kopi yang ditanam itu, jenis yang paling disukai pelanggannya adalah kopi jenis katimor. Kopinya bahkan sudah menjangkau pelanggan di Papua. Untuk skala ekspor, Ia sudah memulai di bulan Mei tahun 2017 dengan mengekspor ke Thailand dan Filipina, masing-masing seberat 1 ton. Qori juga menjelaskan baru-baru ini ada peminat dari Korea Selatan yang meminta sampel kopinya.

Ketika ditanyakan mengenai hal yang paling sering dikeluhkan sebagai pedagang kopi, Qori menjawab panjangnya rantai distribusi yang selama ini membuat harga jual kopi di tingkat petani menjadi rendah. Menurutnya harga kopi satu bambu (satu bambu setara dengan 1,3 kilogram) saat ini dihargai toke hanya 26 ribu. Untuk itu Ia bersama petani kopi lainnya sedang fokus mendirikan koperasi bagi petani kopi yang berada di desanya. Jadi dengan adanya koperasi itu nantinya, mereka akan menjual langsung dengan pemilik perusahaan pengolah kopi. Sehingga bisa memutus rantai yang panjang antara petani dengan konsumen sekaligus produsen kopi. Terlebih lagi agar dapat memudahkan mengetahui fluktuasi harga kopi di pasaran domestik maupun mancanegara.

Festival Panen Kopi Gayo dan Harapan untuk Terus Berkembang

Reporter kami Ziyad Ahfi dari Yogyakarta mewawancarai Hardiansyah Ay, mahasiswa S2 asal Aceh yang tengah menuntut ilmu di ISI Yogyakarta jurusan Penciptaan Musik. Hardi, demikian Ia biasa dipanggil, ketika ditanyakan pendapatnya berkenaan dengan temuan glyphosate di dalam kopi arabika gayo mengatakan bahwa berita itu memang benar, tapi tidak seluruhnya benar, sebab itu hanya diungkapkan oleh satu pemilik koperasi kopi di Gayo yang selama ini sering melakukan ekspor saja. Jadi tidak seluruhnya benar juga, karena penolakan itu hanya untuk kopi yang mereka kirim. Eksportir kopi yang lain tidak terjadi hal demikian, ujarnya.

Hardi melanjutkan bahwa info yang Ia dapat malah sampel kopi yang ditolak tersebut merupakan kopi konvensional (tanpa sertifikat). Tentu berita itu cukup meresahkan juga. Akibat satu koperasi jadi seolah-olah seluruh kopi gayo terjadi hal yang sama, keluhnya.

Sebelum berita ini mencuat, lanjut Hardi, semua baik-baik saja, namun setelah ada pemberitaan demikian ternyata beberapa teman produsen dan eksportir merasakan dampaknya dengan berkurangnya angka penjualan mereka. Semoga ini tidak berlarut-larut, karena sebenarnya kopi gayo baik-baik saja.

Dengan spirit optimisme untuk pengembangan prospek kopi gayo agar semakin mendunia, Hardi bersama kawan-kawannya pada tanggal 2-3 November 2019 ini berencana mengadakan Festival Panen Kopi Gayo, sebuah festival berbasis masyarakat yang tujuannya untuk mengembangkan potensi masyarakat, dalam bidang pariwisata, budaya, serta peningkatan potensi ekonomi melalui komoditas favorit, yakni kopi.

Hardy mengatakan, selain kopi, Gayo juga memiliki potensi pariwisata dan budaya yang cukup potensial. Maka kita berharap melalui kopinya yang sudah mendunia, Gayo bisa men-trigger potensi di bidang yang lain juga.

Hardiansyah Ay

Poin penting dari kegiatan yang mereka usung, lanjut Hardi, dengan festival ini terjadi proses pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Dan ini adalah hal yang paling pokok. Sebab kesadaran dan pergerakan masyarakat yang sadar akan potensi mereka, akan sangat menentukan bagaimana nasib Gayo ke depannya. Melalui Festival Panen Kopi Gayo ini, diharapkan mampu menjadi salah satu cara untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut.

Eksistensi Kopi Gayo di Panggung Dunia

Mengapa orang Amerika dan Eropa amat menggemari cita rasa kopi gayo? Semua orang yang pernah mencicipinya pasti sepakat bahwa kopi gayo memiliki karakter rasa pada struktur dan aroma yang kuat. Tingkat keasamannya rendah dengan sedikit rasa rempah (spice). Ditambah lagi dengan karakter yang clean membuatnya laris manis sebagai campuran house blend.

Sebagai salah satu unggulan kopi nusantara, kopi gayo telah dari dahulu menapak di panggung kopi dunia. Sebut saja dalam ajang Coffee Expo terbesar di dunia, Specialty Coffee Association (SCA) di Seattle, Amerika Serikat pada medio April 2018 yang lalu, kopi gayo turut hadir sebagai salah satu kopi yang dipromosikan dan mendapatkan pujian dunia. Hingga terpilih sebagai sasaran Trade and Private Sector Assistance (TPSA) Project karena dianggap memiliki potensi yang besar untuk diekspor ke pasar Kanada.

Baca juga : Dunia Anak dan Kesederhanaan yang Perlu

Terlepas dari kontroversi terjadinya persaingan dagang yang tidak fair terhadap kopi gayo, kami sepakat dengan Hardi, pemuda yang berasal dari Kabupaten Aceh Tengah itu ketika ditanyakan apakah pemberitaan yang menyudutkan secara sepihak kopi gayo ini karena terjadinya perang dagang antara Eropa dan Amerika, Ia mengatakan jika analisa itu terlalu berlebihan, karena faktanya Eropa dan Amerika justru sangat welcome dengan kopi gayo. Meskipun ada terjadi perang dagang, seharusnya semua pihak tetap menjaga image kopi gayo, sebab semua, toh, mengkonsumsi kopi gayo juga.

Seandainya pun terjadi perang dagang yang merugikan citra kopi gayo di dunia internasional, tentu pemerintah mesti bertanggungjawab memproteksi dan memulihkan eksistensi kopi gayo seperti semula. Kita berharap aroma kopi gayo tetap menebar semerbak sebagai kebanggaan Indonesia.**

Reporter/Author :
Puan Seruni & Ziyad Ahfi
Narasumber :
Qori Mufti & Hardiansyah Ay
Editor : Herman Attaqi
Foto : Dokumen Pribadi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai