Author : Ziyad Ahfi
Di sebuah dunia yang sudah hampir gila, di tepian hiruk-pikuk kota Jakarta, segelintir manusia masih sanggup bertahan dari getirnya persoalan. Mengadu nasib di atas terik panas-dinginnya Ibukota. Dan di antara semua itu, kerasnya dunia hanya memberi dua pilihan kejam kepada mereka: tetap berjuang atau tunduk pada kekalahan.
Begitulah kehidupan mengisyaratkan takdir. Kita tidak pernah memesannya, kita hanya dipaksa menikmatinya. Seperti peperangan, tergantung bagaimana cara kita menghadapinya. Maju bertarung atau mundur tanpa perlawanan.
Tepat di samping rel, berjalan seorang perempuan paruh baya, sambil menggendong seorang anak kecil kira-kira berumur satu sampai dengan dua tahun di tangan kiri, dan membawa tumpukan koran di genggaman tangan kanan. Perempuan itu menjajal dari satu perempatan ke perempatan lain. Dari satu jalan ke jalan lain. Bilik-bilik gang kecil sampai ke gedung-gedung besar. Demi keberlangsungan hidup yang tak kunjung selesai. Hidup yang harus bertahan di atas segalanya, kata Lord Hemingway. Hidup yang hanya untuk menunda kekalahan, walau pada akhirnya kita akan menyerah pada kematian, kata Opung Chairil. Hidup yang mesti diperjuangkan, kata perempuan penuh keringat itu.
Baca juga : [Cerpen] Desas-Desus Gadis Y
“Sejak pertama kali membuka mata, perempuan seperti tidak diharapkan kehadirannya di dunia ini,” jawabnya sewaktu kudapati Ia sedang rehat untuk memakan sepotong roti.
“Kenapa begitu?” tanyaku penasaran.
“Sebab dunia ini sudah dikuasai sepenuhnya oleh bahasa laki-laki. Sehingga kaum perempuan hanya dianggap manusia pelengkap semata. Manusia yang diteror oleh ketakutan perbudakan. Ringkasnya, manusia yang di seluruh tubuhnya melekat seluruh unsur ketidakadilan!” balasnya kembali, dengan mata memerah serius.
Kemudian Ia pergi. Tergopoh-gopoh. Tanpa alas kaki. Ia menangis, dan air matanya menetes sehingga mengenai wajah polos anaknya. Serta meninggalkan pesan misterius di ujung pembicaraan. Membuatku harap-harap cemas dengan keadaan mereka.
Keesokan harinya, aku melanjutkan perkelanaan, menempuh lorong-lorong kehidupan lain–yang jarang diperhitungkan keberadaannya oleh orang-orang. Apalagi oleh gedung-gedung kekuasaan-tempat di mana jas-jas mahal, sepatu-sepatu bermerek, dan pakaian branded saling berbagi kue.
Apalah daya mereka—orang-orang pinggiran yang namanya dipinjam ketika kampanye, lalu dilupakan setelah pidato-pidato omong kosong selesai.
Harapanku, ketika menyusuri sisi lain kota ini, adalah untuk menatap wajah-wajah kehidupan lain dari apa yang sekadar kulihat di televisi. Tipu muslihat politisi, oligarki, koalisi, serta segala mulut-mulut mereka yang cuma berorientasi pada bagi-bagi kursi.
Ketika lama berjalan, kuperhatikan apa yang ada di sekelilingku. Rumah-rumah kumuh, tempat-tempat tak layak. Dalam benakku terpikir, “apakah pejabat yang sering nongol di televisi itu pernah mampir ke sini hanya untuk sekadar belajar kemanusiaan?”
Tiba-tiba, di tengah-tengah perjalanan, aku terhenti pada sebuah rumah kecil. Sebab mataku melirik pada bocah kecil yang sedang bermain di dalam rumah tersebut. Perkiraan lebar-panjangnya sekitar tiga kali empat kurang lebih. Rumah kayu kecil bertutupkan triplek.
Tahu-tahu, nongol dari dalam rumah seorang perempuan yang tak asing di kepalaku. Ternyata, yang kutemui adalah perempuan paruh baya kemarin. Perempuan yang tetap berjuang di saat Prabowo Subianto dan Joko Widodo sedang bertarung memperebuti belas kasih obligasi para oligark.
Ia kaget ketika melihatku lagi. Dari raut wajahnya yang letih, terlihat kewaspadaan yang mendalam. Pelan-pelan kudatangi. Kutawari berjabat tangan kembali, seperti kemarin ketika kami bertemu di pinggiran rel kereta. Kemudian ia menyambutku. Lalu aku dipersilahkan masuk dan duduk di dalam rumah itu.
Ia mulai dengan sedikit berbasa-basi: “Beginilah keadaan kami, Mas. Hanya ada saya dan anak-anak,” sambutnya ditambah sedikit senyuman keruh.
“Bapak kemana, Bu?” tanyaku pelan
“Saya tidak punya suami, Mas” balasnya cepat
Belum selesai aku meminta maaf karena lancang, Ia sudah lebih dulu memotong, “dulu saya dipersunting di luar ikatan perkawinan yang sah. Saya dijanjikan akan dinikahi setelah Ia mengetahui bahwa saya mengandung anak ini. Tapi setelah beberapa lama menunggu, lelaki itu tak kunjung tiba. Bahkan, seluruh keluarga dan warga sekitar tempat tinggalku sudah mengetahui hal ini. Akhirnya, saya diusir dari rumah. Sebab Bapak malu punya anak seperti saya. Apalagi Ia adalah Kyai terpandang di desa kami. Saat itulah Bapak tak lagi memandangku sebagai anaknya. Aku diusir bersama anak di dalam rahim ini tanpa sedikit pun iba.”
“Setelah itu, apa yang Ibu lakukan?”
“Saya menyesal, Mas, terlahir sebagai perempuan. Sejak kecil, saya sudah dikurung di rumah, tidak boleh kemana-mana kecuali hanya untuk urusan sekolah dan ke pasar harus bersama Ibu. Sebab itu adalah perintah Ayah saya. Katanya anak perempuan itu ibarat mutiara yang tersimpan di dasar lautan dalam. Karena pahala perempuan itu suatu hari kelak hanya untuk urusan: kasur, sumur, dapur.”
“Apa jangan-jangan, karena hal itu yang membuat Ibu sampai kenal dengan lelaki brengsek itu?” rasa penasaranku mulai meninggi.
“Kira-kira begitu, Mas. Saya merasa hidup sebagai perempuan sungguh menjengkelkan. Harus berdiam diri di rumah tanpa diperbolehkan bebas bergaul. Sejak usia saya sudah masuk dua puluh tahun, saya mulai merasa jenuh dan memutuskan untuk membangkang dari perintah orang tua. Saya mulai memberanikan diri pergi tanpa izin dari rumah. Dengan alasan bertemu teman-teman.”
“Lalu pertemuan Ibu dengan lelaki itu bagaimana ceritanya?”
Mendadak, perempuan itu terdiam sejenak. Seperti menahan sesuatu. Wajahnya tampak murung. Aku tidak berani melakukan apa-apa. Aku termangu tanpa sepatah kata pun. Suasana hening sebentar. Kemudian Ia melanjutkan..
“Setelah teman sekolah saya dulu mengenalkannya kepada saya, saat itulah saya menyeringkan diri kabur dari rumah. Bertemu lelaki bajingan itu. Cukup beberapa kali pertemuan, kami mulai merasa nyaman. Dan saling menyimpan perasaan. Singkat cerita, karena kami sering bertemu, lelaki itu sudah mulai memberi isyarat akan menseriusi, akhirnya saya pasrahkan segala dunia ini untuknya. Saya ikuti keinginannya. Saya penuhi kebutuhannya. Serta segala yang membututinya,” wanita itu menangis terisak-isak sambil mengenang ingatan buruk nan kejam itu.
Aku sudahi percakapan ini demi menghindari kesedihan yang berlarut-larut. Tangisan seorang perempuan (yang didera pukulan) hebat. Berjuang di pusaran dunia pengkhianatan. Tumbuh besar di tengah-tengah dendam dan kekejaman.
“Begitulah kira-kira, Mas” lanjutnya. “Saya tetap mengharap uluran tangan Tuhan. Walau dunia tak pernah menerima saya, tetapi saya yakin, hidup yang kejam ini mesti diperjuangkan,” ucapan terakhir darinya, sebelum ia menyeka air mata tulus itu dari wajahnya.
Sungguh, aku terkesima oleh keberaniannya. Sisi lain kehidupan yang kucari ternyata benar-benar ada. Tubuhku merinding mendengar kisah ini. Tepat di hadapanku, duduk menangis seorang perempuan hebat tanpa pangkat. Yang hidup dengan cara menggenggam tumpukan koran dari satu simpang ke persimpangan lain. Mengais-ngais sampah dari satu tempat sampah ke tempat sampah lain. Meski kita kemudian menganggapnya manusia pinggiran, bau, jorok, penuh dosa. Padahal kita belum benar-benar mengenal sisi lain dari seorang manusia yang kerap kita anggap demikian.
Baca juga : [Cerpen] Lelaki yang Menerka Gerimis
Aku pamitan pulang dan memberinya sedikit rezeki yang tidak seberapa banyak. Anehnya Ia menolak keras. Ia dorong kembali uluran tanganku. Katanya, “kami tak perlu dikasihani, Mas. Kasihan hanya untuk mereka yang menyerah pada kehidupan. Walau kami berdua tinggal di rumah kecil ini. Tapi saya yakin, tangan saya ini masih mampu untuk memperjuangkan semua ini. Segalanya. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”**
