kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Wawancara Bersama Kak Fau

Target pasar yang sulit ditembus tentu saja kalangan generasi muda, pelajar dan milenial yang lebih menyukai fastfood dan panganan ala barat kekinian.


Oleh Puan Seruni

Kekayaan alam berupa tanah yang subur, perairan yang kaya sumber protein hewani dan hasil pertanian yang beragam, telah mengilhami para leluhur melayu mencipta aneka makanan yang memuja selera. Sebuah ungkapan yang ditujukan bagi sesiapa yang menggemari makanan dari masa ke masa, yang tak lekang oleh zaman.

Masakan melayu memiliki kekhasan pada racikan bumbu dan rempah yang kaya. Bak karya sastra yang indah menawan, olahan bumbu dan rempah khas nusantara itu melahirkan cita rasa yang nikmat, pedas dan gurih. Ditambah lagi dengan tampilan makanan yang mengundang selera, bagai seni ukir yang memantik minat untuk segera mencicipi. Dan juga, tentu saja, deretan kue kampung yang manis dan gurih sebagai cemilan pelengkap untuk menu penutup. Hm, maknyus!

Baca juga : Dirgahayu Kabupaten Pelalawan

Adalah Fauziah M. Den, perempuan pegiat PKK Kec. Pangkalan Kerinci, Kab. Pelalawan, Riau yang sekaligus pemilik usaha Dapo Mak Oteh, yang menjadi inspirasi bagi kita karena kreasi dan dedikasinya atas usaha melestarikan dan memajukan kebudayaan melayu, khususnya di bidang kuliner.

“Semuanya berawal dari hobi saya memasak yang diturunkan dari ibu saya,” kata perempuan yang lahir di Penyalai, Kuala Kampar ini mengawali pembicaraan.

Setelah menikah, Ia pun aktif di PKK Kecamatan Kuala Kampar. Kak Fau, demikian saya biasa memanggilnya, selalu menjadi bagian dari tim penggerak PKK sejak masih di Kecamatan Kuala Kampar.

“Dulu, sebelum ada istilah Pelalawan Expo, masih berupa Pameran Pembangunan, setahun setelah Kabupaten Pelalawan terbentuk, saya bersama tim PKK dari Penyalai sudah ikut. Kami mengisi stand Kecamatan Kuala Kampar dengan berbagai produk rumah tangga dan juga kuliner tradisional. Waktu itu Pelalawan masih terdiri dari empat kecamatan. Semua tampilan di pameran masih sederhana sekali,” kenang Ibu dua anak ini.

Aktifitasnya di bidang kuliner tak pantang surut, meskipun harus pindah ke kota Pangkalan Kerinci mengikuti suami yang juga seorang ASN, justru bakat dan minatnya pada masakan tradisional semakin terasah. Kepiawaiannya memasak dan mengolah resep tradisional, serta dukungan penuh dari Camat Pangkalan Kerinci, Doddi Asma Saputra, S.STP, beserta istri, Ny. Andini Mutiara Sari, turut pula mengantarkan PKK Kec. Pangkalan Kerinci beberapa kali mengikuti berbagai lomba cipta menu sampai ke tingkat nasional mewakili Kabupaten Pelalawan dan Provinsi Riau.

“Saya juga tak bisa melupakan peran Bapak Camat dan Ketua TP PKK Kecamatan Pangkalan Kerinci sebelumnya, seperti Ibu Zainah Khairunnas, Ibu Heldawati Dahnil, dan Ibu Seri Hayati Fahrurozi, karena berkat kepercayaan dan kesempatan yang mereka berikan itu, saya bisa menimba ilmu dan menambah pengalaman hingga bisa terus berkarya sampai sejauh ini,” lanjutnya kemudian.

Kak Fau senantiasa berazzam untuk terus membawa masakan asli melayu dari Pelalawan ini ke berbagai ajang pameran dan perlombaan. “Ada rasa bangga bagi saya sebagai orang melayu, setiap kali dipercaya memperkenalkan kuliner melayu ini kepada banyak orang,” ucapnya.

Untuk lebih menegaskan komitmennya mengangkat kuliner melayu ini, sejak setahun yang lalu Ia pun mendirikan Dapo Mak Oteh yang beralamat di Perumahan Bumi Lago Permai Blok B3 no. 42, Pangkalan Kerinci, Kab. Pelalawan. Sebuah outlet kuliner berisi makanan khas daerah yang selama ini dipraktekkan dan diikutkan dalam perlombaan dan pameran. Ketersediaan bahan baku yang dengan murah dan mudah didapatkan menjadi salah satu faktor pendukungnya. Untuk jenis panganan khas melayu yang diproduksi, Ia hanya fokus pada tiga jenis saja yaitu talam ubi lumer, jando aji atau aji sereban dan melake berendam atau melako petani.

“Saya melakukan uji coba resep beberapa kali agar kue talam ubi ini bisa dinikmati semua kalangan, termasuk para lansia yang sudah tidak memiliki gigi. Maka jadilah talamuber ini, singkatan dari talam ubi lumer,” jelasnya kemudian.

Talamuber; cup besar 15 ribu, cup sedang 10 ribu dan cup kecil 5 ribu

Kemudian ada jando aji atau aji sereban, kue beraroma wangi ini berbahan dasar beras pulut atau ketan, santan, telur dan daun pandan.

“Kue ini salah satu panganan khas Penyalai, Kec. Kuala Kampar. Awal mula dinamai jando aji atau aji sereban, karena dulu orang menunaikan ibadah haji membutuhkan waktu yang lama, sampai berbulan-bulan perjalanan. Nah, istri yang suaminya berangkat haji ini memanfaatkan waktu luangnya membuat kue ini dan menjualnya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari selama ditinggal suami ke tanah suci. Karena enak dan laris, orang yang tidak tahu nama panganan tersebut menamai kue si jando aji atau si aji sereban (sorban),” jelas Kak Fau kemudian.

Jando aji/aji sereban; cup 5 ribu dan box 20 ribu

Selanjutnya ada melako petani atau melake berendam. Dinamai demikian karena konon berkaitan erat dengan komoditi pertanian yang menjadi andalan pedagang di daerah Malaka dan sekitarnya di masa dahulu. Labu manis, bahan baku panganan ini menjadi primadona dan lambang kejayaan petani kala itu. Sebutan lainnya melake berendam, karena memang panganan yang menyerupai onde-onde kecil ini disuguhkan dalam rendaman santan kental. Cita rasa manis dari labu dan gula berpadu dengan gurihnya santan menjadi ciri khas kue ini.

Melako petani/melake berendam; cup kecil 5 ribu dan box 15 ribu

Saat ditanyakan kendala dalam memasarkan panganan tradisional ini, Kak Fau menuturkan bahwa kendala awal dalam mengenalkannya agak sulit. Minat orang sama makanan tradisional tidak begitu antusias. Apalagi banyaknya pembuat makanan tradisional bercampur pemanis atau pewarna tambahan. Target pasar yang sulit ditembus tentu saja kalangan generasi muda, pelajar dan milenial yang lebih menyukai fastfood dan panganan ala barat kekinian.

Sebagai pegiat kuliner tradisional, Ia berharap adanya perhatian dari pemerintah kabupaten kepada kuliner tradisional yang menjadi ciri khas daerah tersebut dengan menyertakannya sebagai menu utama, baik untuk hidangan makan besar maupun hidangan untuk cemilan saat jamuan acara-acara besar kenegaraan, hari jadi kabupaten, menyambut kedatangan tamu dari pusat maupun luar daerah.

Menurutnya, hal tersebut berdampak positif juga pada pemberdayaan petani dan sektor perikanan daerah. Karena bahan baku panganan buatannya seperti ubi kayu, beras pulut dan labu kuning bergantung pada petani lokal. Apalagi untuk jenis makanan lain. Tidak hanya pertanian tapi juga perikanan, karena kita tahu orang Melayu suka makan ikan, nenek moyang suku Melayu dahulu selain berladang, juga bergantung pada sungai dan laut yang menyediakan banyak ragam lauk untuk santapan.

Saya berharap apa yang sedang dirintis Kak Fau ini bisa menginspirasi kita akan banyak hal; Bagaimana kita bisa memajukan daerah dengan mengangkat khazanah budayanya, salah satunya adalah kuliner. Dari sebuah pameran, berlanjut kepada perlombaan hingga ke tingkat nasional, Kak Fau bahkan telah menegaskan gagasannya dengan mendirikan outlet Dapo Mak Oteh. Ke depannya tentu kita berharap supporting yang lebih besar lagi dari pemerintah, baik berupa memberi ruang yang lebih luas lagi agar kuliner khas daerah ini berkembang, maupun berupa kebijakan yang mendorong sektor UMKM di bidang kuliner tradisional ini bisa maju lebih pesat lagi.

Ada yang juga lebih penting lagi, yakni harus banyak Kak Fau lainnya yang berani terjun dalam usaha-usaha pengembangan kuliner melayu ini, tidak hanya bergerak di lingkup Pelalawan saja, tapi juga merambah ke tingkat nasional bahkan mancanegara.

Kak Fau bersama rekan-rekan pegiat PKK Kec. Pangkalan Kerinci

Baca juga : Wawancara Bersama David Hendra

Bila ini bagian dari subsektor pariwisata, tentu masyarakatnya sendiri yang juga harus proaktif mengenalkan dan menggerakkan usaha-usaha kuliner khas daerah ini. Bisa melalui komunitas atau pun jaringan UMKM. Semoga saja budaya melayu beserta kulinernya terus berkembang melaju, seirama dengan perkembangan kebudayaan kita, kebudayaan melayu yang takkan hilang di bumi. Dan kita sepatutnya berterima kasih kepada Kak Fauziah M. Den.**


Editor : Herman Attaqi
Photos courtesy of : Fauziah M. Den

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai