Apakah manusia sebagai subyek dapat melakukan perubahan?
Oleh Herman Attaqi
Melalui Program Inisiatif Open Future, The Economist, Eric Klinenberg dalam salah satu sesi wawancara menuding media sosial menjadi perkakas utama masifnya kebencia sehingga populisme menyebar seperti virus mematikan yang endemik. Demikian seperti yang ditulis Sabiq Carebesth dan Marlina Sophiana.
Sabiq dan Marlina kemudian mengutip pernyataan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, di mana Zuckerberg pasca pilpres Amerika tahun 2016, menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting, yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa media sosial lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” seperti yang dijanjikan itu.
Situasi yang sebelas duabelas dengan kondisi jagat maya Indonesia pada pilpres 2019 yang walaupun sudah usai, akan tetapi residu perpecahan dan kebencian antara dua kubu capres masih belum juga hilang, meski presiden terpilih (Jokowi) telah dilantik, meski penantangnya (Prabowo) juga telah bergabung dan dilantik sebagai Menteri Pertahanan pada kabinet Presiden Jokowi.
Baca juga : Biola dan Hidup yang Dirayakan
Di antara ontran-ontran itu pun saya suatu kali sambil iseng membuat sebuah pertanyaan dalam postingan Facebook, “apasih yang kita peroleh dari percakapan politik yang keras dan kaku ini?” Sebuah pertanyaan yang seandainya ada pertanyaan ini pada sepuluh tahun yang lalu, niscaya akan saya jawab sendiri dengan menggunakan pisau analisis teori dialektika marxian yang gegap gempita itu. Namun tiba-tiba Iben Nuriska, seorang kawan saya, berkomentar di postingan tersebut, “kata Jacques Lacan, ini adalah bentuk hasrat, sehingga subyek terus mencari kepastiannya. Namun, sebelum itu, Hegel sudah mengingatkan, pengakuan itu harus timbal balik, sepadan — nyatanya tidak.”
Saya terjeda beberapa menit sambil melakukan dua hal; memikirkan komentar Iben dan memikirkan apakah perlu saya harus makan indomie rebus untuk malam ini? Seakan hendak memancing jawaban saya, Iben kemudian menambahkan komentar baru, kali ini dengan sebuah pertanyaan yang retoris, “kemudian, apa yang didapat?” dan dijawabnya sendiri, “paranoia massal.”
Baiklah. Semangkok indomie rebus memang lebih menjanjikan daripada pembahasan filsafat di atas jam 12 malam. Awalnya saya cuma ingin memberi tombol like saja dua kali untuk komentar Iben, satu untuk komentarnya dan satu lagi untuk pancingannya, meski akhirnya saya balas begini, “saya justru melihat histeria massal (saya lebih memilih frasa histeria dibanding paranoia), di mana percakapan politik kita menjadi begitu semu, dangkal dan penuh kebencian, yang justru menyebabkan bangkitnya populisme. Pikiran politik kita cendrung bergerak ke kanan, tapi tidak dalam bentuk neo-chauvinism atau neo-ultra-nasionalism, karena sebagian besar percakapan media sosial kita lebih banyak berisi jargon dan simbolisasi yang memantik histeria itu sendiri. Sebab perkara yang paling mudah memancing kebakaran emosi massa itu adalah dengan menyiram bensin-bensin sentimen etnis dan agama. Pertanyaannya kemudian, kenapa histeria massal ini malah menyuburkan oligarki?
Terlalu naif, memang, jika bacaan atas lanskap politik Indonesia hanya dengan melihat perilaku politik dua orang, Jokowi dan Prabowo. Bahwa segala keputusan politik mereka bukan lagi soal dua orang. Ini juga tentang undangan makan nasi goreng buatan Ibu Megawati, juga tentang Surya Paloh yang mendadak kritis dengan lontaran gagasan oposisi Partai Nasdem jika tak ada lagi partai yang mau jadi oposan, serta manuver elit politik lainnya, baik yang tampak di media maupun yang klandestin. Ada kekuatan yang jauh lebih besar dan kuat dibanding dua orang itu yang dalam istilah politik disebut oligarki.
Novelis, Eka Kurniawan, mengatakan bahwa fenomena ini (menurut saya ada dalam kesamaan situasi crowded di media sosial dan tidak terpusatnya kekuasaan pada satu individu), sudah melampaui dari yang dibayangkan George Orwell dalam novel 1984. Ini situasi yang bisa dibilang pasca-Orwellian.
Dengan kata lain, lanjut Eka, yang kita hadapi bukanlah kekuasaan terpusat yang sangat kuat, tapi kekuasaan yang memencar yang terus menerus mencari perimbangan di dalam dirinya. Sebagian merupakan kelompok-kelompok kuat, baik karena jumlah, uang, maupun teknologi.
Bahkan, saya kira bukan hanya kelompok kuat, akan tetapi juga individu dan kelompok kecil yang sporadis di media sosial juga tak bisa dianggap remeh temeh, karena mereka bisa jadi lebih berisik dan alot, apalagi diperparah dengan lalu lintas informasi hoaks yang tidak terkendali.
Apakah media sosial telah gagal dalam mewujudkan tujuan mulianya agar manusia bisa terhubung dengan mudah tanpa sekat negara, suku, agama, ideologi dan ras? Sepintas kita justru melihat adanya gelombang perpecahan dan kebencian massal, terutama disebabkan oleh aspirasi politik. Lalu, apakah kita mesti mengambil jeda dari dunia maya sembari memikirkan suatu bentuk (meminjam istilah Eric Klinenberg) infrastruktur sosial seperti apa yang bisa menyatukan kita, secara lebih nyata bukan maya?
Ulrich Beck mengatakan bahwa modernitas dengan segala capaian teknologi dan kemajuan cara berpikir manusia telah membawa kita ke dalam apa yang disebutnya dengan risk society, artinya segala aktivitas kita, baik produksi maupun konsumsi membawa resiko. Budaya modern yang serba efektif dan efisien membawa manusia pada gaya hidup yang instan dan pada jangka waktu tertentu malah sangat membahayakan.
Sambil menikmati semangkok indomie rebus, saya ingat dulu ketika memasang story whatsapp dengan gambar semangkok mi rebus entah apa merk-nya saya lupa, kemudian seorang kawan mengirim broadcast message yang intinya menyatakan bahwa makan mi instan bisa merusak pencernaan, memicu kanker, memperlambat metabolisme, menyebabkan kerusakan hati, hingga mengakibatkan obesitas. Dalam hati saya cuma nyengir sambil membalas pesan itu, “jika semua makanan yang dijual di pasar dan toko tak boleh dimakan untuk mencegah kematian, maka mencegah kematian dengan memakan makanan yang dijual di pasar dan toko adalah sehormat-hormatnya hidup.” Tak menunggu lama chat itu langsung dibalas dengan emoticon ketawa miring.
Masuk ke kamar atau naik mobil kita mesti pakai AC, minum dengan air kemasan, menghirup udara di luaran, makanan yang tak terlepas dari zat kimia, bahan pengawet buah-buahan, ikan segar di pasar yang berformalin, dan sebagainya itu adalah produksi dan sekaligus konsumsi dunia modern yang semuanya menyimpan resiko. Bahkan Anthony Giddens menyebutnya dengan high risk. Isu-isu global warming, efek rumah kaca, bahkan udara yang semakin tidak sehat karena polusi atau kebakaran hutan, instrumen pertanian yang menggunakan bahan kimia, semuanya adalah hasil dari laju modernitas yang justru mengancam eksistensi umat manusia.
Inilah yang disebutkan oleh filsuf eksistensialis bahwa manusia telah terjebak ke dalam absurditas dari hasil ciptaannya sendiri (absurditas absurd). Lalu manusia, ujar Erich Fromm, berusaha “lari dari kebebasan tersebut,” karena kehidupan modern yang didambakan ternyata hanya berisi kekecewaan. Jadi tidak heran jika kita melihat ada orang yang dalam dunia nyata sebenarnya terlihat tenang, akan tetapi bisa berubah sangat agresif ketika masuk ke dalam dunia maya atau media sosial. Dan ketika banyak orang dengan kondisi spiritual yang sama keringnya, lalu menemukan komunitas dan kesamaan dukungan emosional, dari sanalah asal muasal “media sosial telah menjadi perkakas utama bagi masifnya kebencian dan populisme.”
Apakah situasi ini bisa diubah? Apakah manusia sebagai subyek dapat melakukan perubahan? Saya coba mengurai benang kusut modernitas ini dari sudut pemikiran Jacques Lacan yang dicetuskan Iben Nuriska pada komentar status Facebook saya tadi. Dalam triad lacanian-nya, Lacan membagi tiga tahapan yang bisa dilakukan oleh subyek; Pertama, tahapan imajiner, di mana subyek mengidentifikasi lingkungan sekitar, baik perilaku maupun peristiwa yang terjadi. Kedua, tahapan simbolik, subyek mengaktualisasikan hasil identifikasi dan memainkan peran di lingkungan sosialnya. Ketiga, tahapan real, subyek berupaya memberikan kontribusi di ranah sosialnya, akan tetapi subyek selalu mengalami kegagalan dalam mencapai fungsi dan tujuan dirinya.

konsep triad lacanian
Di saat Jacques Lacan dan pemikir sosial kontemporer lainnya menganggap subyek telah mati (maksudnya bahwa subyek itu adalah hasil dari pabrikasi sosial), Slavoj Zizek memiliki pandangan yang berbeda dengan melihat subyek dapat dihidupkan kembali untuk menciptakan substansi. Subyek adalah entitas yang mampu mempengaruhi struktur sosial di sekitarnya dalam membentuk substansi. Inilah yang disebut dengan redefenisi subyek ala Zizek.
Dua orang penumpang laki-laki di dalam sebuah kereta listrik, yang pertama memegang sebuah ukulele, sedang kawannya yang lain tiba-tiba berpidato di hadapan para penumpang yang sibuk dengan gadget dan pikirannya masing-masing. Pada awalnya tidak ada yang terlalu mempedulikan lelaki itu, hingga akhirnya Ia beserta lelaki dengan ukulele mulai menyanyikan “Somewhere Over the Rainbow” sambil membagi-bagikan secarik kertas yang isinya lirik lagu, sembari mengajak para penumpang sama-sama bernyanyi. Apa yang terjadi kemudian? Ya. Hampir semua penumpang ikut bernyanyi dan bahkan ada yang menari. Tiba-tiba suasana menjadi begitu cair dan hangat.
Video yang diunggah oleh kanal youtube The Liberators International itu, menjadi contoh yang nyata bagaimana redefenisi subyek ala Zizek bekerja. Dua laki-laki itu, sebagai subyek otonom, berupaya mengisi ruang kosong dari relasi sosial yang acuh menuju kepada relasi yang real. Apakah yang real itu? Ialah interaksi sosial yang humanis, yang membangun dunia yang lebih bahagia dan menyenangkan.
Baca juga : Di Atas Segalanya, Orang Mesti Bertahan
Setidaknya ada dua pelajaran penting, yakni bagaimana individu, sebagai subyek yang otonom, bisa melakukan perubahan pada lingkungan sekitarnya dengan membangun relasi dan interaksi yang nyata, akrab dan menyenangkan, serta bagaimana infrastruktur sosial, seperti kereta listrik, bisa dijadikan ajang interaksi nyata (bukan maya), yang akan membangun dunia yang jauh lebih kohesif dan humanis. Tentu hal ini juga bisa dilakukan pada infrastruktur sosial lainnya, seperti di taman kota, perpustakaan publik, pasar, kedai kopi dan banyak tempat.
Seperti nyanyian Somewhere Over the Rainbow, saya dan kita semua pastinya berharap sebagaimana kepingan sebagian lirik lagunya berikut ini; di suatu tempat di atas pelangi/ langit berwarna biru/ dan mimpi-mimpi yang berani kau impikan/ sungguh menjadi kenyataan, bahwa akan ada dunia yang jauh lebih menyenangkan, bila kita tetap bersetia pada hal-hal baik dalam membangun bumi manusia yang manusiawi, di dunia yang nyata, bukan dunia maya, tanpa kebencian serta saling menghargai, di suatu tempat di atas pelangi.***
