Manusia memang sudah terbukti sebagai makhluk yang lemah dan rapuh.
Oleh Pandu Birowo
Dalam jajaran makhluk hidup, manusia termasuk salah satu hewan yang ringkih. Posturnya relatif sedang-sedang saja jika tidak malah lebih kecil jika dibandingkan dengan banyak hewan lainnya. Akan tetapi, dalam satu lompatan penting di masa lalu, makhluk bernama manusia ini berubah sedemikian besar. Para ahli paleoantropologi menyebutnya sebagai fase revolusi kognitif dan dimulainya budaya. Melalui (pewarisan) budaya kita menitipkan intelegensi dan keterampilan itu kepada teman kita, saudara kita, anak-cucu kita, dan keturunan kita di generasi-generasi berikutnya. Budaya, dengan demikian, adalah suatu akumulasi intelegensi dan keterampilan manusia.
Revolusi kognitif juga membuat manusia memiliki kegelisahan perihal hidupnya. Sejak saat itu pula manusia ditakdirkan memiliki penyakit pusing dan pening. Makhluk ini memiliki kekhawatiran atas berbagai ancaman, bencana, dan kecukupan akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Faktor itulah yang membuat manusia mencipta alat dan peralatan; dari kapak genggam hingga lembing dan tombak yang bisa dilempar; dari alat penyamak hingga kandang hewan domestikasi.
Baca juga : Melampaui Cebong – Kampret
Pada masa selanjutnya, manusia juga bisa membuat perahu, senapan, dan alat-alat yang melebihi bobot dan ukurannya. Selain mencipta alat-alat teknis, manusia juga mencipta berbagai alat dan peralatan-sistemik seperti bahasa, narasi, keyakinan, agama, politik, negara, dan lain sebagainya. Manusia memang sudah terbukti sebagai makhluk yang lemah dan rapuh, tapi, di samping itu dan karenanya, manusia juga adalah makhluk yang paling rajin membuat peralatan guna membantunya menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya.
Jika kita merenung sejenak, maka kita akan mendapati bahwa di sekitar kita duduk saja terdapat begitu banyak alat dan peralatan. Semuanya memiliki tujuan yang sangat sederhana namun kompleks, yakni memudahkan hidup manusia dan melayani pemenuhan akan rasa dan hasrat bahagia. Ya, tak ada satu pun alat dan peralatan itu yang diciptakan manusia demi alat itu sendiri. Bahkan, kalau Anda belajar filsafat seni dan estetika, kredo Immanuel Kant yang terkenal itu, “karya seni adalah karya yang tanpa pamrih; yakni karya yang tidak memiliki tujuan selain di dalam dirinya”, akan menguap dan tak masuk akal. Tujuannya jelas: melayani kebutuhan dan hasrat manusia akan pengalaman rasa indah. Hal itu, dan dengannya, membuat seni dan kesenian tak ubahnya seperti alat-alat manusia lainnya.
Alat-sistemik seperti politik dan negara juga memiliki fungsi yang kurang lebih sama. Keduanya dicipta manusia untuk mengatur kehidupan mereka dan relasi-relasi dengan sesamanya menjadi lebih mudah dan baik. Ada cita-cita yang mulia di dalam proses penciptaan kedua alat sistemik itu meski kemudian malah menjadi pemicu masalah baru yang tak sedikit pula buat manusia penciptanya.
Alat lain bernama agama juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Meski ada banyak orang yang menggunakannya dengan baik dan menjadi baik karenanya, namun tak sedikit pula yang menjadikannya sebagai alat yang merusak dan mematikan buat sesamanya. Perang antar dan atas nama agama dalam sejarah manusia membuktikan hal itu. Hal itu tak berbeda dengan seorang pembuat senapan yang memiliki masalah perihal di mana dia harus menyimpan senapannya itu agar tak dijangkau anak-anak dan menjadi alat yang mematikan buat keluarga mereka.
Pemahaman atas hal itu –bahwa entitas ciptaan manusia adalah alat– tentu memiliki konsekuensi bahwa manusia juga mesti memahami cara kerja alat-alat itu dan bagaimana cara mempergunakannya: itulah teknik. Sementara bidang yang menangani soal pengetahuan atas cara-cara dan penggunaan alat-alat biasanya dinamai “teknologi”. Itulah ilmu atas teknik, yakni “pengetahuan atas cara menggunakan alat”. Program studi “Teknologi pertanian” misalnya, maka program itu berkaitan dengan pengetahuan atas cara-cara dan alat-alat dalam menangani (produksi) pertanian. Atau, contoh yang lain, “Teknologi Industri”, adalah program yang berkaitan dengan pengetahuan atas cara-cara dan alat-alat dalam mengelola industri.
Baca juga : Bapak
Akan lebih baik kiranya jika di masa depan akan ada bidang-bidang keilmuan yang khusus mempelajari dan meningkatkan pengetahuan manusia atas segala alat dan peralatan sistemiknya itu. Itu sebabnya bukan tak mungkin jika di masa depan akan ada program-program studi seperti “Teknologi Politik”, “Teknologi Agama”, “Teknologi Budaya”, “Teknologi Negara”, dan seterusnya. Ya, karena semuanya itu adalah “alat”, maka dibutuhkan pengetahuan (“logos”) atas cara-cara dalam menggunakan dan mengelola alat-alat itu dengan lebih baik dalam melayani dan memudahkan kehidupan manusia.
Anda berminat untuk menjadi mahasiswanya? Jika iya, berdoalah agar tak ada dukun atau buzzer yang mengajar di program-program studi itu.***
