kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Bertemu George Orwell

Mendengar cerita Orwell dalam pertemuan itu membuat saya juga tersentak.


Oleh Iben Nuriska

Suatu kali, tengah berjalan-jalan di antara buku-buku di perpustakaan pribadi, saya bertemu George Orwell tengah bercerita tentang hukuman gantung yang ia saksikan sendiri saat bertugas sebagai polisi imperial Inggris di Burma. George Orwell adalah seorang penulis, jurnalis, dan esais asal Inggris. Dan ia lebih dikenal lewat novel-novelnya, seperti 1984 dan Animal Farm. George Orwell pernah hidup dari tahun 1903 hingga 1950.

Di dalam Hukuman Gantung – esai pembuka Bagaimana si Miskin Mati – George Orwell menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pengamat handal. Kematian yang menjadi latar peristiwa dari esai George Orwell ini bukanlah kematian biasa. Ia adalah kematian yang dipaksakan oleh sistem yang berlaku saat itu kepada para pelanggarnya. Orwell memulai ceritanya tepat saat si calon mati diciduk dari sel penjaranya.

Baca juga : [Cerpen] Di Bawah Mega Mendung

Pada saat si terpidana mati ini digiring ke tiang gantungan, terjadi peristiwa yang cukup janggal. Seekor anjing muncul di halaman penjara. Anjing itu menyalak dengan amat lantang, melompat-lompat sambil menggoyang-goyangkan seluruh badannya, dan merasa gembira karena menemukan manusia banyak sedang berkumpul. Sebelum ada yang menghentikan tingkah anjing itu, ia berlari menuju terpidana mati dan berdiri dengan dua kaki karena ingin menjilati wajah si terpidana. Sedang si terpidana mati sama sekali tidak tampak heran, seolah itu semua adalah bagian dari susunan acara jelang kematiannya. Dan akhirnya, karena pengelola penjara merasa terganggu anjing itu ditangkap.

Perjalanan menuju kematian itu berlanjut. Di sinilah Orwell menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pengamat handal. Dalam perjalanan yang cukup menegangkan itu, Orwell masih sempat-sempatnya melihat si terpidana mati yang dikawal ketat oleh dua orang sipir membelokkan jalannya untuk menghindari genangan air di depannya. Orwell tersentak. Saat itu ia menyadari bahwa sebentar lagi ia akan menghancurkan seseorang yang masih sehat dan sadar.

George Orwell berkata, “ketika saya menyaksikan si tahanan melangkah ke samping untuk menghindari genangan air itu, saya menyaksikan betapa salah dan tidak adilnya memenggal satu kehidupan yang masih berkibar dan berjaya.”

“Pria ini tidak sedang sekarat, ia masih hidup, sebagaimana kita semua masih hidup,” kata Orwel melanjutkan. “Otaknya masih mengingat, mengira-ngira, dan berpikir – bahkan berpikir tentang genangan air yang menghalangi langkahnya.”

Lihat bagaimana cermatnya Orwell mencatat peristiwa itu. Sebuah peristiwa yang tentunya biasa-biasa saja ketika seseorang berjalan di jalanan becek maka kakinya akan dengan reflek mengindari genangan air itu. Tetapi, bagi seorang yang tengah berjalan menuju tiang gantungan, untuk menerima kematiannya, apa untungnya menghindari genangan air tersebut? Toh, ia juga akan mati.

Mendengar cerita Orwell dalam pertemuan itu membuat saya juga tersentak. Betapa banyak peristiwa biasa di dalam kehidupan ini yang sedang ingin menampakkan sebuah pemaknaan yang mendalam dan menyadarkan saya betapa saya juga bukan orang yang adil. Betapa banyak saya menyaksikan orang-orang dengan penderitaan yang melampaui kesulitan yang saya hadapi, tetapi saya biarkan meski saya punya kesempatan dan kemampuan untuk menolong – dengan beralasan bahwa saya juga bermasalah. Betapa taiknya pikiran seperti itu.

Ya, betapa taiknya pikiran yang menolak melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain dengan pembenaran bahwa kita juga sedang bermasalah. Seperti perkataan seorang kawan, setelah saya menyatakan kekaguman terhadap mahasiswa yang saban petang Ramadhan berbagi takjil dengan anak jalanan, di masa saya masih menjadi anak kost. “Kita tak punya uang lebih, maka itu keharusan bersedekah belumlah sampai pada kita.” Taik!

Seperti Orwell yang sadar bahwa memenggal kehidupan di sebuah tiang gantung – yang sudah sering ia saksikan tentunya – sangat tidak adil begitu ia melihat kesadaran total yang masih dimiliki oleh si terpidana mati ketika reflek kakinya menunjukkan bahwa pria itu tidak sedang sekarat, ia masih hidup sebagaimana kita masih hidup dengan semua anggota badannya yang masih berfungsi.

Meski tidak bisa berbuat apa-apa, namun, kesadaran itu melahirkan suara yang didengungkan Orwell yang masih terdengar hingga kini, betapa biadabnya kolonialisme.
Lihat bagaimana kemudian Orwell membandingkan anjing yang tadi tiba-tiba muncul sebelum eksekusi mati itu dengan dirinya (wakil dari kolonialisme), para sipir dan pengelola penjara. “Si terpidana mati telah lenyap … anjing itu meluncur ke belakang tiang gantungan; tapi ketika sampai di sana ia berhenti, menggonggong, dan kemudian beranjak ke pojok pelataran … menatap kami dengan takut.”

Sedangkan pengelola penjara itu diceritakan Orwell dengan, “Si pengelola penjara mengulurkan tongkatnya dan menyodok mayat itu; mayat itu sedikit terombang-ambing. ‘Beres,’ kata si pengelola penjara … bernafas dalam-dalam.

Baca juga : Puisi-Puisi Iben Nuriska

Tiba-tiba, kemurungan meninggalkan wajahnya.” Kontradiktif sekali apa yang dialami anjing itu saat melihat sebuah kematian yang dipaksa dengan orang-orang yang menunaikan tugas untuk memutus kehidupan seseorang yang masih berkibar dan berjaya.

Dan lihat ke dalam diri kita. Apakah di sana ada seekor anjing yang geram melihat ketidak-adilan, atau malah mendekam para eksekutor hukuman gantung yang tenang setelah memutus hidup orang-orang yang selayaknya masih bisa berkibar dan berjaya.***

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai