kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Berak dan Arah Modernitas

Menjadikan soal berak sebagai pendapat politik saja, saya kira, alam diskusi politik kita akan lebih maju selangkah.


Oleh Herman Attaqi

Perkara berak atau aktivitas ejan-mengejan bukan perkara sepele di India. Perdana Menteri Narendra Modi sampai menginstruksikan kepada negara bagian untuk menamai toilet-toilet yang didirikan dengan istilah Izzat Ghar atau “ruang bermartabat”. Ia mengatakan bahwa ini praktik yang baik untuk menanamkan rasa bermartabat dan kebanggaan seluruh keluarga terhadap toilet mereka. Dampaknya juga positif untuk penggunaan (toilet).

Terbukti dengan mengubah pola berak dari yang biasanya di tempat terbuka seperti sungai, ladang dan hutan, yang mengejutkan adalah salah satu dampak positif dari kebijakan tersebut, terjadi penurunan angka korban perkosaan. Sebab, di India, sejumlah kasus perkosaan terjadi pada saat perempuan membuang hajat. Bukan main biadabnya para lelaki pemilik batang kelamin predator itu, hingga memaksa negara harus merumuskan kebijakan modernisasi buang hajat untuk menumbuhkan perasaan bermartabat.

Bagi Perdana Menteri dan aparatusnya, bahkan juga kita semua pewaris sah dunia modern, budaya berak di tempat terbuka sama purbanya dengan menhir, dolmen, kebudayaan basco hoa binh, sa huyn kalanay, atau a bris sous roche (lukisan goa). Artinya, sebagaimana yang dikatakan Alvin Toffler dalam teori gelombangnya, jika kita tak berubah, niscaya akan terjadi krisis yang semakin rumit.

Baca juga : Di Suatu Tempat Di Atas Pelangi

Bila soal tinja dianggap sesuatu yang heroik dan patriotik, seperti yang dilakukan PM Modi, maka tak ada artinya kemerdekaan sebuah bangsa yang rakyatnya masih berak di sembarang tempat. Padahal di negara-negara sebelah utara sana, orangnya sibuk membangun toilet yang jauh lebih nyaman sebagai kamar tidur keluarga dibanding rumah-rumah kardus negara dunia ketiga.

Sebagai negara yang menurut catatan World Health Organization (WHO) pada tahun 2012, India menempati peringkat pertama dunia dalam jumlah populasi berak di tempat terbuka. Dari 1,3 milyar jumlah penduduknya, tercatat 626 juta orang India yang berak di semak, padang rumput dan sungai. Sebuah angka yang fantastis dan wajar saja founding father India, Mahatma Gandhi, pernah berkata sebagaimana yang ditulis dalam National Geographic, “sanitasi lebih penting daripada kemerdekaan.”

Di Australia bahkan soal format toilet ini merembet pada kegaduhan di ruang parlemen, saat senator Pauline Hanson yang memprotes keras kebijakan kantor pajak yang akan membangun toilet jongkok di kantor baru di Melbourne. Seperti yang dikutip oleh Tirto.id dari Herald Sun, Kepala Kantor Pajak Justin Untersteiner berpendapat bahwa membangun toilet jongkok adalah bentuk komitmen mereka atas kebijakan yang inklusif di tempat kerja, karena lebih 20 persen karyawan kantor pajak berasal dari Asia, Timur Tengah dan Afrika. Namun Pauline bergeming dengan mengatakan bahwa justru hal ini bisa menyebabkan terkikisnya kebudayaan Australia. Hebat sekali. Parahnya, perdebatan tentang berak ‘duduk’ atau ‘jongkok’ ini malah menjadi kian runyam ketika Jeff Lapidos, Sekretaris Kantor Pajak Australia, menjelaskan banyaknya keluhan tentang toilet duduk yang kerap disalahgunakan oleh orang yang tetap eek dengan berjongkok, sehingga menyebabkan taik bisa berceceran di sekitar toilet tersebut. “Ini tentu merepotkan,” ujarnya.

Saya kira, sebagaimana kaum miskin kota, para petani yang dirampas lahannya oleh perusahaan besar dengan backingan dari tentara, atau seperti buruh dan kaum lumpen proletariat lainnya, semua sama halnya dengan output mengejan ini, bahwa semua harus diorganisir dengan baik. Karena jika tak terkendali, tentu berak akan menyebabkan munculnya berbagai penyakit. Lingkungan yang tercemari oleh buangan berak, dapat menyebabkan timbulnya berbagai jenis penyakit, di antaranya diare, kolera, disentri, penyakit cacing, penyakit kulit, hepatitis A dan E, hingga malnutrisi serta berbagai penyakit lainnya.

Dengan membaca daftar penyakit di atas, wajar sekiranya banyak pemimpin dunia khawatir. Dan saya (sepintas) membaca berbagai jenis penyakit yang diakibatkan oleh berak sembarangan itu dan betapa seriusnya negara, katakanlah India dan Australisa, mengurusi soal manajemen kakus buat rakyatnya, seolah-olah sama seriusnya dengan pemerintah Indonesia ketika mengurusi soal-soal radikalisme, ekstremisme, komunisme, anarko, intoleransi, khilafah, persekusi, indomie kuah atau goreng, tim bubur diaduk apa bukan, ketimbang melihat bahwa di antara laporan WHO yang mencatat India sebagai negara yang penduduknya paling banyak buang hajat sembarangan, ternyata yang berada di urutan nomor dua adalah Indonesia. Pada tahun 2015, WHO melaporkan ada sekitar 32 juta orang Indonesia yang berak di sungai, rumput, empang, ladang dan jangan lupa juga toilet terbang.

Lantas, apakah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia?

Ketika iseng saya googling dengan menggunakan kata: pemerintah-indonesia-tinja-berak-sembarangan, yang keluar adalah sebuah utas berita liputan6.com (19/11/2014) yang memuat sebuah wawancara bersama dr. Aidan Cronin, ketua program WASH UNICEF Indonesia saat peluncuran Program Tinju Tinja, sebuah program yang digagas UNICEF untuk meminimalisir tingginya angka penduduk yang buang hajat di tempat terbuka. Kalian pernah dengar tentang tinju tinja ini? Saya pernah baca, persis ketika googling untuk kepentingan esai ini. Ketika dr. Aidan ditanya bagaimana caranya masyarakat bisa dengan mudah mengetahui tentang program ini? Beliau menjawab, “silahkan akses http://www.tinjutinja.com sebab di sana banyak gambar seru dan menyenangkan.” Tentu saya urung mengakses situs tersebut dengan alasan sepele, yakni sayang sekali kopi yang baru diseduh ini harus berhadapan dengan gambar tinja, meskipun seru dan menyenangkan.

Sampai di sini saya masih berpikir, jika di beberapa negara, soal buang hajat ini adalah permasalahan yang teramat serius, mengapa justru di Indonesia yang oleh WHO dinobatkan sebagai runner up untuk urusan ini, belum pernah sekalipun terdengar viral pemberitaan tentang perdebatan politisi, umpamanya tentang bagaimana membangun infrastruktur buang hajat yang massal. Bahkan pileg dan pilpres 2019 yang baru saja usai, sama sekali diksi: politisi-berak-pemilu-2019 tak saya jumpai di mesin pencarian google.

Apakah kita malu mengakui bahwa kita adalah bangsa yang terbesar nomor dua di dunia dalam perkara berak ini? Apakah kita jijik dengan soal ini? Dan seolah-olah tak mau t̶a̶h̶i̶ tahu ada persoalan sanitasi, budaya hidup bersih dan modernisasi kakus yang menghinggapi kehidupan sosial kita. Barangkali tak perlu se-heroik India, bahkan se-revolusioner pemerintah Tibet dan China yang mencetus kebijakan “Revolusi Toilet” dengan memberikan anggaran yang besar untuk membangun toilet yang layak untuk rumah-rumah warga dan fasilitas umum. Menjadikan soal berak sebagai pendapat politik saja, saya kira, alam diskusi politik kita akan lebih maju selangkah dari perdebatan cebong-kampret yang tak usai-usai ini.

Oya, saya ingat, sewaktu Ahok menjabat Gubernur Jakarta, ia pernah mempopulerkan diksi “taik”. Dalam sebuah wawancara televisi terkait konflik yang terjadi antara dirinya dengan DPRD DKI, Ahok dengan lancar berteriak, “lu buktiin, taik, bangsat, goblok, nenek bego!” Sayangnya kata ‘taik’ di situ hanya untuk umpatan kemarahan belaka, bukan dalam soal bagaimana mengelola 4,9 ribu ton tinja warga Jakarta setiap harinya.

Kemarahan dengan energi yang sama saya temukan, dulu ketika pasukan Mataram menyerang Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1629. Dikisahkan dalam situs Historia.id, kala itu benteng Belanda di Batavia dipimpin oleh Hans Madelijn sudah kehabisan amunisi. Dan untuk mempertahankan diri dari serangan pasukan Mataram, Hans punya gagasan sinting, yakni melemparkan benda apa saja termasuk isi tangki kakus. Sejarawan Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta mencatat, “saat mereka diserang oleh peluru jenis baru ini, orang-orang Jawa itu langsung melarikan diri sambil berteriak jengkel, “o, seytang orang Hollanda de bakkalay samma tay.” (Oh, Belanda setan, kalian berkelahi pakai taik).

Eka Kurniawan barangkali salah satu dari sedikit penulis Indonesia yang mengambil tema toilet dalam tulisannya. Adalah cerpen Corat Coret di Toilet yang pertama kali terbit di Media Indonesia sebelum dibukukan dalam kumpulan cerpen dengan judul yang sama oleh Aksara Indonesia, menggambarkan setting toilet kampus yang dipakai untuk berak dan kencing oleh mahasiswa dan mahasiswi. Eka menceritakan bagaimana toilet juga berfungsi sebagai media melampiaskan uneg-uneg mahasiswa dengan coretan di dinding toilet. Toilet yang awalnya bersih setelah usai dicat, mulai ditulis oleh pengunjung perdana dengan sebuah spidol, “Reformasi gagal total, Kawan! Mari tuntaskan dengan revolusi demokratik!” Dan pengunjung berikutnya, dan berikutnya mulai menulis berbagai hal apa saja dengan spidol, ujung pena, lipstik, bara puntung rokok, darah dan apapun bahan asal bisa dituliskan. Demikianlah toilet kemudian berfungsi sebagai sesuatu yang melebihi dari sekedar wahana buang hajat. Hingga toilet kembali dibersihkan dengan cat. Namun ditulis kembali, dicoret kembali sampai tak bersisa ruang kosong sedikitpun di dinding toilet tersebut.

Senior saya, bang Hendri Reonjys, suatu kali pernah berkata, “perbincangan soal berak, secara filosofis, adalah proses bagaimana kita mengurai ampas dengan saripati.” Persis dalam pola sinikal yang sama, Slavoj Zizek, seorang filsuf asal Slovenia, mengatakan bahwa ideologi negara-negara pembentuk Eropa, yakni Perancis, Jerman dan Anglo Saxon teridentifikasi dari bagaimana model kakusnya. Kakus Perancis yang lubangnya berada di belakang menunjukkan semangat Perancis untuk melakukan revolusi. Kakus Inggris yang berada di tengah dan dikelilingi air, mencerminkan semangat orang Inggris sebagai pelayar yang tangguh. Dan kakus Jerman yang lubangnya di depan, menunjukkan etika berpikir, semangat investigatif dan observasif orang Jerman. Saya kira, Zizek belum tahu tentang “toilet terbang” orang Indonesia dan bang Hendri lupa menyadari bahwa soal berak dalam konteks Indonesia adalah diskursus yang sangat sepi, sama halnya dengan dialektika pemikiran Karl Marx yang dicap “berbahaya” dan “menjijikkan”.

Baca juga : Biola dan Hidup yang Dirayakan

Namun, ada satu benang merah yang saya tarik dari dua filsuf “berak” di atas, yakni modernisasi bukan perkara mengutak-atik bentuk atau sekadar mencari utilitas dari benda yang dimanfaatkan manusia, akan tetapi lebih dari itu, ia adalah proses berpikir. Jika tidak demikian adanya, mau senasionalis apapun jargon yang dibangun sebagai alas pikiran dalam politik pembangunan jamban ini, umpamanya, tetap saja “nasionalisme itu nasi,” kata penyair Wiji Thukul, “dimakan jadi tahi.”

Berak ataupun juga proses berpikir yang melahirkan modernitas itu, akan bermuara pada satu hal, perasaan yang plong. Suatu ketika Annelies Mellema berkata kepada Minke, dalam novel Bumi Manusia, “Mas, kita pernah bahagia. Ingat yang itu saja, jangan yang lain.” Iya. Saya pernah merasakan bahagia, plong, sehabis berak. Ada baiknya saya mengingat yang itu saja.


Foto: Dok. Pribadi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai