Bahwa kehidupan ini juga bisa bergerak dari satu kesadaran ke kesadaran yang lebih baru.
Oleh Herman Attaqi
Apa yang ada di dalam imajinasi kita jika disebutkan kata “telur ayam kampung”? Barangkali ada yang secara otomatis memvisualisasikan bentuk telur ayam kampung yang ukurannya lebih kecil dari telur ayam ras atau telur bebek. Mungkin saja ada yang teringat dengan teh telur, minuman khas orang Sumatera yang biasanya menggunakan kuning telur ayam kampung yang dikocok. Atau pun juga gambaran-gambaran lainnya yang secara subyektif disesuaikan dengan pengetahuan dan pengalaman setiap individu atas telur ayam kampung.
Bagi saya, setiapkali saya membayangkan telur ayam kampung, yang selalu teringat adalah sosok mendiang Omak. Omak, demikian saya memanggil Ibunda, yang saya ingat dulu ketika masih kanak-kanak, memelihara ayam kampung di pekarangan belakang rumah. Ada juga beberapa batang ubi, pohon pepaya, pokok kelapa, bahkan sempat juga beternak ikan dan bebek. Tapi, jangan bayangkan sebuah pekarangan rumah yang luas, sebab itu hanya memanfaatkan sisa tanah yang ada saja.
Saya kemudian berangsur paham, jika semua yang dilakukan Omak itu adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami di rumah. Gaji PNS ayah dengan tanggungan tujuh orang anak, tentu tak akan cukup. Waktu itu abang dan kakak saya kuliah di Padang, lalu disusul satu lagi abang yang sekolah di Padang. Dan sisanya kami semua sekolah di Bangkinang.
Baca juga : Di Suatu Tempat Di Atas Pelangi
Sering saya melihat Omak menyiapkan telur ayam kampung, lalu dibawa ke Pasar Inpres Bangkinang untuk dijual dan kemudian dengan uang hasil penjualan itu lah, Omak membeli kebutuhan sehari-hari di rumah. Momen Omak pulang dari pasar sebagai momen yang selalu saya nanti. Tak pernah Omak lupa membeli panganan pasar buat kami, seperti es cendol, kue clorot (saya menyebutnya “kue unciang” karena bentuknya yang runcing seperti kerucut), sate, lopek atau yang lainnya. Omak selalu berusaha memberikan “hal-hal sederhana” itu untuk menjemput kebahagiaan anak-anaknya. Barangkali karena masih ingusan, saya tak begitu mengerti tentang kesusahan keuangan, bahkan mungkin juga kesusahan hati Omak kala itu.
Zen Rahmat Sugito menulis, “kita bisa mengendalikan ingatan. Makanya kita kenal dengan proses menghapal. Tapi kenangan sebaliknya: justru kenangan yang mengendalikan kita. Makanya ada istilah ‘lupa ingatan’, tapi tak pernah ada istilah ‘lupa kenangan’. Sebab kenangan itu melampaui lupa.” Saya mengalami bagaimana kenangan itu bisa mengendalikan kita. Dari sebutir telur ayam kampung, segala kenangan muncul melampaui waktu yang lampau. Kenangan saya tentang Omak muncul secara spontan, bahkan bersama emosi yang menyertainya. Saya masih mengingat jelas wajah Omak, bahkan suaranya masih terasa mengalun di telinga.
Zen Rahmat Sugito, penulis novel Jalan Lain ke Tulehu, kemudian mengatakan secara puitik, ingatan dan kenangan seringkali dilukiskan sebagai sesuatu yang liar: kemunculannya tidak bisa ditebak-tebak. Ingatan dan kenangan bukan lah soal yang sederhana. Seringkali ia — utamanya yang pedih dan menyakitkan — muncul pada titimangsa yang tak pernah kita inginkan dan harapkan. Seringkali pula, ingatan dan kenangan — yang demikian itu — berhasil membuat kita melupakan ke-kini-an dan ke-di sini-an, alih-alih bernyali besar untuk menghadapi masa depan. Sebagaimana yang diklasifikasi oleh Zen, ingatan itu berbentuk file yang sewaktu-waktu bisa kita buka, seperti mengingat hapalan. Berbeda dengan kenangan yang bisa muncul melampaui ingatan. Melihat telur ayam, warna hijau, taplak meja, sebuah buku, secangkir kopi, atau apa saja bisa memicu munculnya kenangan secara tak terduga.
Otak, kata Carl Sagan, adalah tempat yang sangat besar dalam ruang yang sangat kecil. Pusat pikiran manusia di dalamnya mengandung kemampuan untuk dibombardir dengan jutaan ragam informasi sehari-hari dan mengkonversikannya ke dalam pemikiran yang cerdas. Ini dilakukan dengan evaluasi, penyortiran, memutuskan dan memutus ulang pada urutan dan saling hubungan, menolak yang tidak relevan, mengisi yang kosong dengan informasi dari data dan arsip gambar yang baru untuk digunakan. Saya kira, saya menemukan kata kunci dari penjelasan Carl Sagan ini, yakni evaluasi. Proses evaluasi itu lah yang membuat otak saya bekerja memilih satu fragmen pengalaman masa lalu — katakan lah saat bersama Omak — lalu memunculkannya ke luar, sembari membenamkan pengalaman lainnya ke dalam, hingga menjadi semacam lintasan kenangan. Hal ini bisa bekerja dalam proses yang spontan dan sementara atau bisa jadi dalam jangka waktu yang lama, bahkan permanen.
Saat Ayah telah pensiun dan saya telah berkuliah di Yogyakarta, Omak memutuskan hijrah dari Bangkinang ke kampung halamannya di Dalu-Dalu, Rokan Hulu, Riau. Ia memutuskan membuka ladang di sana dengan menanam padi (tadah hujan) dan palawija. Sekali waktu, saat libur kuliah, saya sempatkan menemani Omak berladang. Refleksi saya atas benda-benda yang mengingatkan saya kepada Omak semakin bertambah. Tajak, periuk, dan pepaya adalah kata yang saya ingat saat bersama Omak di tengah ladang. Dengan tajak itu saya dan Omak membersihkan rumput yang tumbuh di sekitar tanaman di ladang Omak. Selepas matahari pagi menaik menjelang tengah hari, saya lihat Omak menanak nasi di dalam periuk dengan menggunakan kayu bakar. Adapun pepaya yang ditanam Omak di ladang, kelak saya mengenangnya sebagai pepaya paling manis dan nikmat yang pernah saya makan saat berdua bersama Omak di atas rumah ladang, di pinggir hutan kampung kala itu.
Demikianlah sekiranya proses evaluasi, yang dimaksudkan oleh Carl Sagan, bekerja. Ia memijah satu-dua titik kenang dari rangkaian pengalaman masa yang silam. Saya pun menyadari bahwa ingatan dan kenangan bukanlah perkara sesederhana ketika kita hendak menoleh ke masa lalu saja. Ada hal-hal yang masih saya ingat dengan sangat jelas, ada juga yang samar-samar dan tentu saja ada banyak kejadian bersama Omak yang saya lupa. Namun sejauh apa saya berjarak dengan semua ingatan dan kenangan itu? Bagaimana saya bisa mengukurnya? Sepenting apa saya harus mengetahui posisi ingatan dan kenangan itu?
Science Digest pada edisi November 1983 menuliskan bahwa para ilmuwan memperkirakan, kita hanya mengingat satu dari seratus informasi yang kita terima. Seandainya kita mengingat semua informasi yang kita terima, niscaya akan menyebabkan kelumpuhan pada memori kita. Pada titik ini saya memahami bahwa proses evaluasi dengan semua instrumen dan mekanisme pembagian ingatan/kenangan itu bekerja secara subyektif pada masing-masing individu. Dari tujuh orang anaknya yang tumbuh bersama kasih sayang Omak, tentu masing-masing kami memiliki pilihan subyektif atas kenangan yang paling berkesan. Memori kolektif kami sebagai anak kepada Omak, tidak akan serta merta menyamakan memori individual kami. Bahkan dengan ingatan dan kenangan itu pula, seandainya saya punya teori untuk mengukurnya, kita bisa melihat derajat jarak antara kita dengan obyek kenangan tersebut. Atau barangkali memahami itu bukanlah perkara eksistensial yang perlu. Sebab, sebagaimana Zen Rahmat Sugito mengatakan, kehidupan ini bukan berjalan dari waktu ke waktu, tapi dari suasana ke suasana.
Sekali waktu, saat pulang liburan kuliah dari Yogyakarta, rambut saya telah gondrong. Saya memang membiarkannya panjang, seperti para senior aktivis mahasiswa yang saya kagumi saat mereka berorasi dalam aksi protes jalanan melawan rezim Soeharto. Waktu itu, pada semester awal kuliah, saya terpesona dengan sensasi yang serba aktivis dan berbau pemberontakan. Mulai dari potongan rambut, fashion yang urak-urakan, hingga buku-buku filsafat dan politik yang tak pernah saya temukan saat masih sekolah di Bangkinang. Lalu, dengan segala sensasi itu saya pulang. Dan sebagaimana yang pernah saya tulis di kesempatan lain, Omak menyelutuk, “perasaan anak Omak dulu perginya laki-laki, kenapa baliknya jadi perempuan?” Bukan bermaksud untuk berpikir seksis, tapi sejujurnya kata-kata Omak itu berhasil meruntuhkan segala sensasi “aktivis pemberontak ala seorang Che Guevara”. Namun hari-hari kemudian, saya mengenang kejadian ini sebagai kenangan yang menyenangkan. Apakah ini yang dimaksud dengan “suasana” kenangan?
Kemudian saya menemukan hal yang berbeda. Ketika kata “kapitalisme” diucapkan, ini juga mengingatkan saya dengan Omak. Ada masa yang persis sama waktunya saat saya belajar tentang filsafat materialisme, hingga Materialisme, Dialektika, dan Historis-nya Karl Marx yang merupakan anti-thesis atas kapitalisme. Pada masa itu, saat jauh dari Omak yang sedang berada di kampung, sedang saya masih menimba ilmu di rantau orang, saya mengingat dengan cukup kuat tentang tragedi penyerangan paramiliter kapitalis PT. Torganda kepada masyarakat Dalu-Dalu, hingga Omak terpaksa lari mengungsi ke dalam hutan untuk menghindari peperangan bersenjata antara setan kapitalis PT. Torganda dengan rakyat Dalu-Dalu. Kenangan saya tentang itu memunculkan kebencian yang akut pada kapitalisme (kaum pemilik modal). Saya membayangkan wajah Omak yang ketakutan, yang kemudian membawa saya pada satu kesadaran filosofis, sekaligus dendam. Kejadian belasan tahun itu, tiba-tiba cuma berjarak beberapa saat saja dalam kenangan saya. Seorang “anak Omak yang pergi laki-laki, tapi baliknya sudah macam perempuan” itu pun melampaui kata-kata Zen tentang hidup yang bergerak dari suasana ke suasana. Bahwa kehidupan ini juga bisa bergerak dari satu kesadaran ke kesadaran yang lebih baru.
Sebagai pembaca pemikiran Sigmund Freud, meskipun kontroversial secara akademik, saya merasa perlu menuangkan salah satu pemikirannya yang berkaitan dengan perkara ingatan dan kenangan ini. Freud menggunakan kata kehilangan dan mengurai kondisi kejiwaan seseorang yang kehilangan tersebut sebagai “Mourning and Melancholia”, yakni duka cita dan melankolia. Menurutnya, duka cita adalah sebuah reaksi yang wajar ketika seseorang kehilangan apa yang dicintainya. Pada titik tertentu, seseorang akan kembali merasa normal, sebab ia mulai menemukan kesadarannya bahwa apa yang hilang tak kan mungkin kembali lagi. Contoh yang paling nyata adalah kematian orang yang kita cintai.
Sedangkan melankolia, adalah suatu tindakan di mana seseorang menyimpan obyek kehilangannya itu jauh ke dalam alam bawah sadarnya. Jika duka cita atau perasaan sedih menemukan kesadarannya ketika dilepaskan ke luar dari dirinya, maka melankolia justru menguburkannya ke dalam diri. Sehingga, jelas Freud, orang-orang melankolia pada periode selanjutnya akan membelah egonya ke dalam dua bagian; subyek murni dan subyek yang berkelindan ke dalam obyek yang hilang tersebut. Bagian diri yang berkelindan dengan obyek yang hilang itu lah yang kemudian pada kondisi tertentu menemukan dan mengutuk segala kelemahan dan kekurangan dirinya. Sebut saja momentum itu sebagai momen penghakiman diri sendiri, yakni ketika individu merasa sedih, bersalah, kerdil, gagal, egois, keras kepala dan lain sebagainya. Akan tetapi, Freud mengatakan bahwa melankolia tak sepenuhnya buruk. Justru ketika seseorang mulai mengutuk segala kekurangan dirinya, pada saat tertentu, boleh jadi, ia malah menemukan kesadaran baru tentang dirinya. Dengan hal itu ia melakukan intropeksi diri. Menjadi tolak ukur untuk memperbaiki kualitas dirinya. Bukankah sering kita saksikan ada orang yang mesti dihempaskan oleh kegagalan dan kekalahan yang paling telak terlebih dahulu, baru ia menemukan kebenaran dan kesadaran subyektif?
Pemikiran Freud tentang melankolia subyektif ini; telah membantah apa yang ditulis oleh Zen Rahmat Sugito, “seperti siulan dan gumaman kala bernyanyi di kamar mandi, yang kadangkala tak ada faedahnya, barangkali ingatan dan kenangan tak selalu harus bermanfaat dan berguna bagi kehidupan kita.” Justru bila kita bersandar pada pemikiran Freud, secara progresif, ingatan dan kenangan yang memunculkan melankolia subyektif amat bisa menimbulkan kesadaran kritis pada diri seseorang. Seseorang, yang berawal dari ingatan dan kenangannya, dimungkinkan untuk berubah menjadi individu yang lebih baik lagi.
Setelah Omak meninggal dunia, saya pernah menulis dalam kerinduan yang dalam, “hal yang paling saya takutkan bukanlah kekalahan, tapi kehilangan.” Bertahun-tahun kemudian saya mencari ramuan bagaimana menghadapi kecemasan akan kehilangan. Akan tetapi, alih-alih menemukan obat mujarab, kehilangan justru datang bertubi-tubi buat saya, tidak hanya Omak, kemudian disusul Ayah, lalu semua. Semua yang paling berharga dalam diri saya lenyap. Kehidupan begitu mampat dan kelam. Bertahun setelah itu saya hidup seperti umat Islam yang selalu hidup di bawah bayang-bayang kejayaannya semasa dinaungi imperium kekhalifahan yang maju, tapi faktanya saat ini hanya berisi kemunduran demi kemunduran. Atau bagai penganut marxisme klasik yang masih menganggap keberhasilan revolusi bolshevik 1917 sebagai momentum paling revolusioner, tapi nyatanya, saat ini ia hanya berisi gagasan yang dogmatis bagi sebagian orang, bila tak mau beranjak pada pemikiran yang lebih segar seperti yang dilakukan filsuf kontemporer, seperti Slavoj Zizek dan yang lainnya.
Justru titik balik hidup saya dimulai ketika menemukan kesadaran kritis tentang melankolia subyektif. Perasaan rendah, kalah, guyah dan lemah itu mengajari saya; tentang daya tahan; tentang bertahan dalam kondisi yang tak punya apa-apa, saya belajar untuk tak berharap apa-apa; serta mendorong saya untuk melihat kehidupan secara terbalik, bahwa apa yang sedang saya alami dengan segala kekalahan dan kehilangan ini bukanlah akhir dari segalanya, justru ia adalah awal bagi kesuksesan yang sebenarnya. Meski kadang saya sadari jika pikiran itu bisa menyesatkan, namun saya kemudian membantahnya sendiri, bahwa hanya dengan cara demikianlah saya berhenti menghakimi diri, mengutuk kehilangan sebagai penyakit yang tak tersembuhkan.
Sedari pagi karib kerabat satu persatu datang dan berkumpul di rumah salah seorang abang saya. Sudah beberapa bulan Omak dan Ayah tinggal di sana. Namun pagi itu adalah pagi yang lain. Semua yang datang ke sana membawa kemurungannya sendiri-sendiri. Saya melihat awan hitam menggantung di pelupuk mata saya sendiri. Saya pun menduga pada masing-masing orang di rumah itu juga melihat awan hitam itu menggantung di pelupuk mata mereka masing-masing. Entahlah. Hari itu mata saya hanya saya hadapkan ke wajah Omak. Saya duduk di samping kepalanya, sembari membisikinya laa ilaha illallah, berulang-ulang, tak henti-henti. Saya tak mengerti sepenuhnya, tapi saya percaya bahwa Omak akan membutuhkan kalimat itu. Barangkali dengan kalimat itu, Omak akan mengingat sesuatu yang paling penting dan yang paling ia perlukan saat itu. Bukankah di awal tulisan ini saya membutuhkan telur ayam kampung, untuk kemudian memunculkan satu fragmen kenangan saya dengan Omak?
Sampai menjelang waktu sholat zhuhur, Omak masih saja bergeming, sesekali ia menggerakkan bibir, saya merasa Omak mengikuti kalimat yang saya ulang-ulang tiada henti itu. Karib kerabat semakin ramai, namun saya tak sempat memperhatikan mereka satu persatu. Setelah sholat zhuhur, saya ulangi kembali membisiki Omak dengan kalimat laa ilaha illallah. Hingga satu-satunya hal gaib yang pernah saya lihat — lalu saya kira jika sesuatu itu bisa dilihat, seperti juga diraba, ia bukan lagi perkara gaib, tapi sesuatu yang nyata — adalah saya melihat Omak keluar melalui mulutnya dan terbang melayang secara cepat hingga saya menyadari bahwa saya telah berpisah dengan Omak.
Mulai hari itu lah kenangan bekerja sebagai medium komunikasi antara saya dengan Omak. Kelak, setelah duka cita, saya menemukan kesadaran melankolia subyektif, sebuah kesadaran kritis bahwa saya dan Omak bukanlah berpisah, akan tetapi baru saja memulai perjalanan baru dengan pola hubungan yang harus saya pahami dengan lebih jernih lagi. Tak pernah ada kekalahan, hingga seseorang memutuskan untuk menyerah. Tak akan ada kehilangan, selagi seseorang tak berhenti mengenang.
Baca juga : Biola dan Hidup yang Dirayakan

Jejak Kasih
Hari ini
Omak berhenti di sini
Jalan setapak menuju ladang
Tinggal jejak, tinggal gagang
Hari ini
Omak berhenti di sini
Di antara aroma getah pokok karet
Kuciumi segala jejak, pada siluet
Omak berhenti di hati
Dalam istirahat ladang-ladang
Tajak, periuk nasi, dan batang pepaya mati
Kudekap alun nadi, di pilu berdentang
/2019
