kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Rohana Kudus, Perempuan Pelopor dari Ranah Minang

Seri pertama dari dua tulisan.


Oleh Puan Seruni

“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang baik. Wanita harus senantiasa sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.”

Roehana Koeddoes (1884-1972)

Jum’at, tanggal 8 November 2019, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam orang tokoh yang semasa hidupnya dianggap berjasa dalam perjuangan di berbagai bidang untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam acara penganugerahan 6 Pahlawan Nasional yang digelar di Istana Negara, Jakarta, dihadiri oleh para ahli waris dari ke enam tokoh tersebut.

Salah seorang penerima anugerah pahlawan adalah Rohana Kudus, tokoh pergerakan perempuan dan jurnalis wanita pertama di Indonesia asal ranah Minang, Sumatera Barat.

Baca juga : Wawancara Bersama Kak Fau

Siapa dan bagaimana kiprah Rohana Kudus ini? Saya menuliskannya di sini dari berbagai referensi.

Rohana Kudus lahir dengan nama Sitti Roehana, di Koto Gadang Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam, pada tanggal 20 Desember 1884. Rohana merupakan anak pasangan Mohammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Nama Kuddus, diambil dari suaminya, Abdul Kuddus. Rohana merupakan kakak seayah dari Sutan Syahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama. Ayahnya menikah dengan Ibunda Sutan Syahrir setelah ibu kandungnya meninggal. Rohana juga Mak Tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar, dan juga sepupu H. Agus Salim, karena kakek Rohana dan Agus Salim bersaudara kandung.

Memiliki silsilah kekerabatan dengan para tokoh hebat dan lingkungan keluarga terpelajar, membuat Rohana kecil yang akrab disapa dengan panggilan “One” oleh ayah dan adik-adiknya, sudah menunjukkan minat yang besar untuk belajar. Meskipun nasibnya sama seperti anak perempuan Minang lainnya masa itu yang tidak bisa memperoleh pendidikan formal, Rohana beruntung mendapatkan pendidikan dari keluarga dan kerabatnya.

Ayahnya yang bekerja sebagai juru tulis, kemudian meningkat menjadi Hoofd Jaksa pada Pemerintahan Belanda, selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor. Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya.

Di usia yang masih sangat belia, yakni 8 tahun, Rohana sudah bisa menulis, membaca, dan berbahasa Belanda. Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin dan Arab-Melayu. Kepandaian menulis dan membaca yang kala itu masih sangat langka mendorong Rohana untuk mengajar beberapa anak tetangga yang tertarik ingin bisa membaca sepertinya. Itu dilakukan di sela bermain. Ayahnya mendukung dengan membelikan alat-alat tulis. Kegiatan bermain sambil belajar itu dilakukan di kediaman baru mereka di Simpang Tonang Talu, Kabupaten Pasaman. Saat libur ayahnya sesekali juga ikut mengajar anak-anak kampung itu. Ibunya juga seringkali mendampinginya mengajar.

Saat ayahnya ditugaskan di Alahan Panjang, Rohana bertetangga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu Rohana belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang merupakan keahlian yang hanya dimiliki perempuan Belanda pada masa itu. Di sini ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa yang sangat digemari Rohana.

Pemikirannya pun berkembang, dan mulai belajar menulis hasil pemikirannya di sela-sela aktifitas menyulam dan menjahit. Rohana mulai meyakini bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya, Rohana bertekad melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Rohana kemudian menikah di usia 24 tahun dengan Abdul Kudus, keponakan ayahnya. Abdul Kudus seorang lelaki yang berpikiran maju kala itu. Ia, disamping sebagai seorang aktifis dan notaris, juga kerap menulis kritik terhadap pemerintah Belanda di koran-koran lokal. Dia sangat mendukung cita-cita Rohana untuk memajukan kaum perempuan Minangkabau. Tentu sebuah usaha yang tak mudah pada saat itu.

Bermula dari rumahnya, Rohana menggunakan kamar-kamar sebagai ruang kelas hingga akhirnya mengajak kaum ibu Koto Gadang mendirikan sekolah. Maka pada tanggal 11 Februari 1911, Rohana mendirikan sekolah dan usaha “Kerajinan Amai Setia” (KAS). Sekolah keterampilan untuk perempuan agar bisa baca-tulis, menjahit, menyulam. Di sana diajarkan pula pengetahuan umum dan pengetahuan agama.

Rohana kemudian mendapat izin membuat Lotere (pengumpulan dana publik melalui undian) dari Pemerintah Kolonial Belanda. Acara Lotere yang pertama diizinkan untuk pribumi ini berhasil mendapatkan dana besar untuk pembangunan gedung sekolah dan kerajinan pada 1915. Gedung itu masih berdiri sampai sekarang dan masih beraktifitas.

Tak terhitung rintangan yang dihadapi Rohana dalam memperjuangkan nasib kaum perempuan melalui sekolah tersebut. Seringkali terjadi benturan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang, bahkan sampai menjurus fitnah. Namun gejolak sosial yang dihadapinya justru semakin menjadikan Rohana tegar dan semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya.

Selain sebagai pendidikan non-formal baca-tulis, budi pekerti, dan wawasan keperempuanan, KAS juga berkembang sebagai usaha kecil kerajinan sulaman bordir. Sebenarnya inilah pelopor Unit Usaha Kecil Menengah (UKM) pertama di Indonesia. KAS pernah membeli benang melalui pesanan ke toko Perancis Au Bon Marche, Maison Artiside dengan modal pinjaman melalui Bank pada 17 Juni 1912.

Rohana juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda karena ia sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya. Di samping itu juga Rohana menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan muridnya ke Eropa yang memang memenuhi syarat ekspor. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang semua anggotanya adalah kaum perempuan.

Banyak petinggi Belanda di masa itu yang kagum dengan kemampuan dan kiprah Rohana. Selain menghasilkan berbagai kerajinan, Rohana juga rutin menulis puisi dan artikel serta fasih berbahasa Belanda. Tutur katanya setara dengan orang yang berpendidikan tinggi, wawasannya juga luas. Kiprah Rohana kemudian menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.

Baca juga : Save Kopi Gayo

Rohana juga pernah diundang membawa hasil kerajinannya ke Tentoostelling, sebuah pameran internasional hasil kerajinan rakyat tahunan di Belanda. Undangan itu membuat heboh karena tidak pernah zaman itu seorang perempuan berpergian ke Jawa sekalipun, apalagi ke Belanda. Ia batal pergi, namun produk kerajinan KAS dikirim dan dipamerkan di sana.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai