kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Monolog Para Pahlawan

Peduli apa kami dengan ancaman sampah kalian?


Oleh Nanda Nadya

Selama berabad-abad ditindas oleh kekuasaan asing dengan segala keserakahan dan kekejamannya,
17 Agustus 1945 menjadi tonggak kemenangan kami, Indonesia.

Tapi setelah itu tetap saja, merdeka hanyalah sebuah kata yang kerap saja tak bermakna. Pengimplementasian kemerdekaan dari mana?

Kilas balik mengingatkan, 10 November 1945 masih saja pertumpahan darah di Surabaya terjadi.

Terjadi karena dendam tak terbendung, sebab Mallaby tewas dengan tembusan timah panas pada dirinya. kokohnya Internatio-pun jadi saksi bisu.

Who killed Brigadier Mallaby?

Mereka menggeram. Mengancam. Berkehendak ingin membungkam.

Layaknya sang hakim, Mansergh menuntut seluruh penghuni Surabaya untuk menyerahkan perkakas perang, lalu mengibarkan bendera putih: MENYERAH LALU MENJELMA MENJADI PENGECUT!

Tidakkah kalian sadar? Beratus tahun kolonial ingin di-Tuhankan, apakah kami menyerah dan berpasrah pada semua kesialan itu?

Kami menyeru, “TIDAK AKAN!”

Lalu, dengan kedatangan kalian kembali yang sekejap, peduli apa kami dengan ancaman sampah kalian?
Camkan, takkan semua itu membuat kami gentar. Takkan kami biarkan kami terus terkungkung dalam keserakahan.

“MERDEKA ATAU MATI!” Bung Tomo seakan memberikan kekuatan, memberikan energi yang takkan kami dapatkan dari motivator ulung dunia sekalipun.

Dia pun menyeru, “Kita tunjukkan bahwa kita benar-benar orang yang ingin merdeka. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka!”

KAMI SEMUA PANTAS UNTUK MENJADI SERDADU, KAMI SIAP BERADU.

Kami menyeru, “Lawan! Lawan! Lawan!”

Tua, muda, siapapun akan terus melawan.
Ridha, ikhlas seluruh nyawa ini untuk seluruh yang kami namai keadilan.
Untuk seluruh yang dinamai kemakmuran bersama.
Untuk MERDEKA yang didambakan!

Lagi, “Merdeka atau Mati!”

Penyerangan demi penyerangan,
dengan senjata kami yang apa adanya,
dengan juta pengharapan, Tuhan akan menurunkan balatentaranya untuk kami.

Darah pun ‘tlah tumpah ruah, nyawa menghilang dengan mudahnya. Namun, darma bakti bagi negara tetap menjadi tujuan.
Bukan untuk dikatakan hebat sebagai pahlawan,
tapi kami yakin Tuhan membalas jasa kami sekalian.


Nanda Nadya, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab Dan Humaniora, Angkatan 2019.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai