Masih bersempena dengan semangat hari pahlawan, kali ini saya mewawancarai Muhammad Arif atau yang lebih akrab disapa Ocu Arif.
Semua orang barangkali amat mudah menyampaikan simpati dan duka cita kepada para korban bencana. Namun tak banyak yang bisa bersimpati, lalu memutuskan terjun langsung ke lokasi bencana, berbilang hari bahkan bulan meninggalkan keluarga untuk membantu sesama.
Esensi dari jiwa pahlawan adalah kerelaan berkorban. Ocu Arif, sebagai seorang relawan kemanusiaan, mengajarkan kita akan hal itu, tidak dengan kata-kata tapi perbuatan. Karena, tentu saja, ukuran suatu pengorbanan terletak pada perbuatannya.
Mari kita simak wawancara Herman Attaqi bersama Muhammad Arif a.k.a Ocu Arif, lelaki bersahaja dengan kemuliaan hati seluas samudera.

Assalamualaikum, Ocu Arif. Apa kabar?
Waalaikumsalam. Alhamdulillah sehat.
Sejak kapan Ocu memutuskan untuk menjadi seorang relawan kemanusiaan? Bisa cerita sedikit?
Pertama kali terjun secara serius sebagai relawan sejak Tsunami di Aceh tahun 2004. Waktu itu saya bawa logistik bantuan warga Kampar dari Bangkinang menuju Pekanbaru. Dari Pekanbaru kami bergabung dengan relawan di sana dan total bawa logistik sebanyak empat truk. Saya dipercaya memimpin relawan tersebut.
Apa kendala yang dihadapi waktu itu?
Dalam perjalanan sampai perbatasan Aceh kami tak ada kendala, karena mendapatkan pengawalan oleh polisi sampai ke perbatasan Medan. Dari Medan hingga ke perbatasan Aceh kami dikawal Polisi Militer. Setelah masuk wilayah Aceh tak ada pengawalan lagi dan di tengah perjalanan itu kami sempat dihadang warga. Mereka minta logistik yang kami bawa untuk diturunkan.
Apa yang Ocu lakukan?
Sebagai ketua tim saya komunikasikan dengan pihak terkait, akhirnya masyarakat mengerti dan kami diperbolehkan melanjutkan perjalanan menuju Aceh Besar. Di sana kami buka posko umum; menyalurkan bantuan logistik, evakuasi mayat, membersihkan rumah sakit yang tertimbun material tsunami dan lain-lain. Dari Aceh Besar saya diutus ke Meulaboh lewat jalan darat dari Medan, sebab pada waktu itu Meulaboh masih sangat minim bantuan dari relawan.
Selain di Aceh, di daerah mana lagi Ocu terlibat sebagai relawan?
Saya turun di Sumatera Barat sewaktu gempa di Pariaman tahun 2009. Yang terbaru awal agustus 2018 di Lombok, NTB. Selama 24 hari di sana, kami mendirikan posko bencana, dapur umum dan pembangunan rumah layak huni semi permanen. Tak sampai sebulan dari Lombok, saya turun lagi ke Palu, Sulawesi Tengah karena terjadi gempa dan tsunami yang cukup parah. Kami buka posko dapur umum yang setiap hari menyiapkan 1200 – 1400 bungkus nasi untuk para pengungsi. Saya berada di sana dalam gelombang pertama itu selama 22 hari.

Gelombang keduanya Ocu turun lagi?
Iya. Dalam gelombang kedua ini hanya saya sendiri relawan dari Riau. Kami waktu itu fokus mendirikan rumah kembang dengan anggaran 15 juta sampai 25 juta. Dalam waktu satu bulan selesai lima unit rumah. Dan, setelah tsunami Aceh, tsunami Palu menjadi tahun baru yang ke dua saya berada di “perantauan”.
Ada lagi gelombang ketiga?
Ada. Tapi bukan di Palu. Belum sampai seminggu dari Palu, saya buka posko selama dua minggu di Lampung karena bencana tsunami yang terjadi di Selat Sunda.
Luar biasa. Nah, itu kan di luar Riau semuanya. Kalau di Riau sendiri gimana? Sewaktu bencana kabut asap yang lalu, apa yang Ocu lakukan?
Saya bersama kawan-kawan relawan di Kampar membuka posko bencana kabut asap, kebakaran hutan dan lahan selama bencana itu terjadi.
Apa yang memotivasi Ocu Arif untuk menjadi relawan ini?
Pertama, panggilan kemanusiaan. Kedua, ini ladang amal dan sekaligus penyebaran pemahaman keislaman buat saya pribadi dan orang lain. Ketiga, saya juga numpang menyebarkan bahasa Ocu Kampar ke masyarakat, terutama saat bercengkrama di pengungsian warga. Hehe..
Apa reaksi mereka saat diajarkan Bahasa Ocu?
Mereka semangat. Banyak yang manggil Abang Ocu atau Pak Ocu setelah itu.
Apa respon Isteri dan anak-anak yang sering ditinggal dalam waktu lama selama turun ke lokasi bencana?
Istri saya sejak taaruf hendak menikah dulu sudah dijelaskan tentang resiko aktifitas saya sebagai relawan. Sedangkan anak-anak, saya dan isteri memberikan pemahaman jika tugas ini untuk membantu sesama.

Saya jadi penasaran apa cita-cita Ocu waktu kecil?
Jadi seorang guru.
Akhirnya bisa jadi guru ‘terbang’ bahasa Ocu.
Alhamdulillah.
Apa pendidikan terakhir, kalau boleh tahu?
Paket C selesai tahun 2008
Siapa tokoh yang paling menginspirasi?
Tidak lain, selain Muhammad Rasulullah.
Shollu ‘alan Nabi.. Apa motto hidup seorang Ocu Arif?
Selalu berbuat yang terbaik. Sekali layar terkembang surut kita berpantang.
Ocu Arif dikenal sebagai seorang kader yang aktif di Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tapi uniknya yang tampak menonjol justru kegiatan kemanusiaan dibanding kegiatan politik praktis. Seperti apa partai menurut Ocu?
Partai itu seperti kotak nasi. Isinya kemanusiaan, partai adalah kotaknya.
Terakhir, apa makna pahlawan?
Pahlawan, menurut saya, adalah setiap orang yang telah melakukan kebaikan dan memberi manfaat bagi sesama.
Sekian.

Author : Herman Attaqi
Photos : Courtesy of Muhammad Arif
