… yakni sebuah ufuk yang membatasi antara masa lalunya dan bentangan cakrawala yang akan dijalaninya kelak.
Oleh Puan Seruni
Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Langit memarkir motornya dengan tergesa dan dengan setengah berlari menuju toilet wanita. Beberapa orang panitia berpapasan dengannya di teras samping gedung.
“Pagi, Langit…” sapa Pak Darman petugas cleaning service.
“Pagi juga Pak..” Langit menjawab tanpa menoleh.
Di meja wastafel, ia letakkan tas dan perangkat kosmetik dan mulai membuka jilbabnya. Bekas kemerahan dan luka yang belum kering di sudut bibirnya terlihat jelas. Ia membasuh wajahnya, sambil menahan perih. Tissue kering perlahan ia usapkan mengeringkan wajahnya. Ia mulai mengusapkan wajahnya dengan milk cleanser. Sesekali ia merintih saat kapas pembersih mengenai bagian luka. Begitu pula saat face tonic disapukan ke kulit wajahnya. Ia melanjutkan memberi pelembab, concealer, bedak padat dan beberapa jenis shading.
Baca juga : [Cerpen] Di Bawah Mega Mendung
Menutupi bagian matanya yang bengkak, ia gunakan eye cream yang kemudian dilapis dengan shading dan eye shadow warna cerah dan untuk bagian mata Langit membingkainya dengan eye liner hitam. Pipinya yang masih terasa perih itu, ia berikan perona warna soft pink. Rambut alisnya yang jarang ia bentuk dan arsir dengan rapi. Bibirnya yang pecah dan berdarah tadi, ia oleskan sedikit minyak zaitun dan melapisinya dengan lipstik warna rose pink.
Sambil menahan sakit kemudian, perlahan ia melepas celana jeans yang ia kenakan untuk diganti dengan rok span panjang. Bagi Langit mengenakan celana jeans saat berkendara jauh lebih aman dan nyaman. Lecet dan memar itu masih tampak jelas di lutut dan bagian tulang keringnya. Langit mengoleskan minyak gosok dan menunggu sesaat. Air matanya nyaris tumpah. Tapi ia tahan dengan menekan-nekan tissue di sudut matanya secara perlahan.
Selanjutnya ia melapisi blusnya dengan mengenakan blazer hitam ukuran body fit. Dan mengenakan jilbab coklat muda bercorak bunga sakura kecil. Sebagai sentuhan terakhir ia memulas maskara tipis-tipis pada helai bulu matanya.
Langit kembali mematut diri. Ia puas dengan hasil dandanannya. Inilah penampilan terbaik yang selalu ia upayakan sebagai seorang pewara. Apapun yang terjadi, ia selalu memenuhi panggilan dengan tampil rapi, anggun dan elegan. Arloji sudah menunjukkan pukul 07.45. Acara menurut jadwal yang diserahkan panitia akan dimulai pukul 8.30 WIB. Langit mulai mengemasi perangkat kosmetik dan pakaiannya. Tas berisi perlengkapannya itu kemudian ditentengnya masuk ke dalam gedung pertemuan.
Senyum hangatnya mengembang saat berjumpa beberapa orang panitia, pejabat dan juga operator sound system. Selanjutnya ia disibukkan dengan suaranya pada microphone, mengumumkan beberapa pemberitahuan dan berkoordinasi dengan panitia sebelum acara dimulai. Kehadiran Langit dalam acara seperti cuaca pada hari itu, membuat hangat suasana.
Di awal pagi Langit terbangun seperti biasa. Menyiapkan pekerjaan di dapur sampai azan subuh bergema. Ia membangunkan Alina untuk bisa solat subuh bersama.
Usai memandikan dan menyiapkan perlengkapan putri semata wayang yang baru berusia empat tahun itu, Langit menyiapkan sarapan buat suaminya yang masih tertidur pulas, setelah pulang dini hari dalam keadaan mabuk. Saat Langit dan Alina bersiap pergi. Bayu terbangun. Mendapati lemon tea untuknya mulai dingin, Bayu tak terima. Ia marah sambil melempar gelas berisi lemon tea ke wajah Langit dan mengenai sudut bibirnya. Gelas jatuh dan pecah.
Makian keluar dari mulutnya, sambil memukul Langit tak hanya dengan tangan tapi juga tangkai sapu dan kembali melempar apa pun yang bisa diraihnya. Langit berteriak memohon ampun, sampai pekik tangis Alina menghentikan kekasaran Bayu. Langit tertatih bangun membersihkan pecahan kaca dan menggendong Alina yang menangis tersedu.
Bayu Rahadi di mata Langit kini sudah berubah. Perilaku yang tidak pernah disangkanya dulu saat mereka baru menikah. Bayu kini menjadi laki-laki yang kasar dan tidak mau tahu kebutuhan keluarga. Tanggung jawab finansial rumah tangga sepenuhnya dari pendapatan Langit yang bekerja hanya sebagai pegawai honor daerah. Gaji Bayu yang lumayan besar itu tidak jelas peruntukannya ke mana. Langit tak pernah tahu. Setiap kali Langit bertanya, mengeluh atau meminta bantuannya membeli susu Alina, selalu berakhir dengan makian dan kekerasan. Langit terus menerus menerima tamparan, pukulan bahkan tendangan. Tubuh dan wajahnya selalu memar dan lebam. Tak jarang Langit harus mengenakan masker agar bekas hidungnya yang berdarah dihajar Bayu tidak tampak oleh rekan sekantornya. Matanya yang bengkak ia samarkan dengan mengenakan kaca mata hitam. Yang susah tentu pada saat ia harus bertugas memandu acara. Ia harus mengompres dan mengenakan concealer yang tebal agar memar dan lebam di wajahnya tidak terlihat.
Sejak perusahaannya memutuskan untuk PHK sebagian besar karyawan karena turunnya harga minyak dunia, Bayu semakin beringas. Kebiasaan Bayu kini minum-minuman keras setiap malam, pulang dalam kondisi sempoyongan menjelang subuh.
Rutinitas Langit selain bekerja kantoran ia juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai pewara atau MC. Hampir seluruh instansi mempercayakan setiap gelaran acara padanya untuk dipandu. Dari situlah ia mendapat tambahan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Tak jarang uang yang dimilikinya itu pun juga diminta paksa oleh Bayu untuk membeli minuman keras.
“Mamaaaaaaaa” teriakan Alina menyadarkan Langit yang menunggu di parkiran. Lamunan Langit entah kemana selama menunggu Alina keluar kelas palu group dan penitipan anak itu.
Alina mengusap lembut wajah Langit.
“Muka mama masih bedarah?” tanya Alina polos.
Langit menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Mau mau ajak Alina jalan-jalan dan makan es krim sekarang.”
Mata Alina berbinar dan mulut mungilnya bersorak bahagia. Dada Langit seketika merasa sejuk. Matanya berkaca-kaca. Ada rasa iba yang menyengat hatinya, mengingat Alina yang selalu melihat dirinya dianiaya. Rasa iba dan kesabaran yang dirasanya cukup itu kemudian membelokkan arah sepeda motornya.
“Kita mau ke mana, Ma?” tanya Alina.
“Mama mau beli obat dulu. Alina jangan rewel ya sayang. Pulang dari sini kita beli es krim.”
“Bagaimana Langit? Coba kamu pertimbangkan dengan matang. Bagaimana dengan nasib anakmu nanti, sudah kamu pikirkan itu?”
Langit tak menjawab. Ini entah yang sudah kesekian kalinya Pak Johan memintanya mempertimbangkan ulang untuk rencana besar dalam hidupnya.
Langit hanya mengeluarkan kertas hasil visumnya kemarin dari Rumah Sakit. Pak Johan terperangah pada hasil visum dan bukti foto di tangannya. Ia kemudian menandatangani surat yang diajukan Langit tanpa banyak bertanya lagi.
Baca juga : [Cerpen] Lelaki yang Menerka Gerimis
Seminggu setelah Bayu dilaporkan dan ditahan pihak kepolisian atas pengenaan pasal KDRT yang dilakukannya, permohonan gugatan perceraian atas nama Langit Cakrawati pun diajukan ke Pengadilan Agama. Keluarga Bayu memohon agar Langit menempuh jalan damai saja dan meminta mediasi. Tapi Langit bergeming. Bayu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ini secara hukum. Ia tak peduli apapun yang akan dikatakan orang dengan status barunya nanti. Langit hanya ingin hidupnya kini lebih tenang dan lepas dari segala ketakutan saat ia pulang ke rumah. Tak ada lagi jerit tangis Alina melihatnya dihajar hingga babak belur.
Langit telah menemukan tepinya, yakni sebuah ufuk yang membatasi antara masa lalunya dan bentangan cakrawala yang akan dijalaninya kelak. Meski ia tak tahu akan seperti apa, tapi setidaknya ia melihat ada cahaya yang hangat, sehangat bulir air yang jatuh dari sudut matanya dan berhenti di garis senyum bibirnya.**
