Rohana berpandangan, sistem matriakat secara warisan mungkin baik, tapi dari segi kasih sayang hendaknya tidak boleh ada diskriminasi.
Oleh Puan Seruni
(Seri kedua dari dua tulisan)

Sebagai seorang perempuan yang rutin menulis, Rohana kemudian menyadari bahwa ia membutuhkan media agar tulisannya tersebut bisa dibaca dan menginspirasi perempuan lainnya. Rohana pernah mengirimkan tulisan bahkan menjadi kontributor di surat kabar Putri Hindia, yang terbit di Batavia sejak tahun 1908. Surat kabar perempuan yang didirikan oleh Tirto Adhi Suryo itu kemudian dibredel oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Setelah sebelumnya di tahun 1903, Tirto juga menerbitkan koran Sunda Berita, yang memuat halaman khusus bagi perempuan. Halaman tersebut berisikan rubrik masak-memasak, sulam-menyulam, jahit-menjahit, serta keterampilan lainnya. Selain temanya yang dikhususkan bagi kaum perempuan, tulisan-tulisan yang termuat juga dihasilkan oleh kalangan mereka sendiri.
Setelah meminta saran dari suami dan ayahnya, maka diputuskanlah untuk menulis surat kepada Datuk Sutan Maharaja, pemimpin redaksi koran Utusan Melayu. Isinya berupa permohonan agar ia diberikan ruang untuk menulis bagi perempuan. Dalam suratnya yang panjang itu Rohana menjelaskan dengan kalimat yang santun dan menggugah, mengenai gagasannya dan keinginannya untuk kemajuan perempuan. Ia berharap agar perempuan bisa mendapat pendidikan yang layak seperti laki-laki, mendapat perhatian dari orang tua, niniak mamak, dan juga ulama. Hal yang muskil terjadi di Minangkabau pada saat itu.
Sutan Maharaja adalah seorang yang berpikiran maju dan moderat. Ia mengagumi cara berpikir Rohana dalam surat tersebut, sehingga memutuskan langsung menemuinya di Koto Gadang.
“Keinginanku sebenarnya bukanlah sekadar meminta ruangan kain ibu dalam surat kabar Oetoesan Melajoe yang Bapak pimpin, tetapi kalau boleh ya penerbitan surat kabar yang istimewa untuk kaum perempuan.” Petikan dialog itu dimuat dalam buku “Roehana Koeddoes: Perempuan Sumatera Barat” (2001) terbitan Yayasan Jurnal Perempuan yang ditulis Fitriyanti.
Setelah melalui diskusi yang panjang, akhirnya Sutan Maharaja pun menyetujui untuk mendanai sekaligus memfasilitasi penerbitan koran baru khusus perempuan, seperti yang diinginkan Rohana. Koran tersebut kemudian diberi nama Sunting Melayu. Yang artinya perempuan Melayu.
Rohana mengajukan syarat dia harus tetap tinggal di Koto Gadang, dan menyanggupi tugas sebagai pemimpin redaksi. Tugasnya itu dibantu oleh Ratna Juwita, anak perempuan Sutan Maharaja yang tinggal di Padang. Akhirnya pada tanggal 10 Juli 1912, koran Sunting Melayu pertama kali diterbitkan, dan tercatat sebagai koran pertama khusus perempuan di Sumatera Barat. Koran ini terbit seminggu sekali dan dicetak sebanyak empat halaman.
Rohana mengirimkan artikel buah pemikirannya yang ditulis dengan tangan itu ke Padang, sedang Ratna yang membantu mengetikkan. Sebelum tulisan dikirim, suami Rohana membantu mengkoreksi, membetulkan kalimat-kalimat yang dianggap kurang tepat. Dalam seminggu dia membuat dua tulisan.
Pembaca Sunting Melayu tak hanya menjangkau wilayah Koto Gadang dan daerah Minangkabau lainnya, tapi juga menembus wilayah provinsi lain di Sumatera, kemudian Pulau Jawa, Malaka dan bahkan Singapura, karena diedarkan bersama koran Utusan Melayu.
Tulisan yang dimuat pun sangat beragam. Selain artikel berisi pandangan dan gagasan Rohana untuk menginspirasi perempuan, juga ada ulasan berita terjemahan dari bahasa Belanda dan juga karya sastra yang dibuat Rohana, kemudian artikel sejarah, tulisan para kontributor dan juga puisi.
Sebagai perempuan yang terlahir dari kungkungan adat yang masih kaku, Rohana berpikir terbuka, tidak primordial dan cukup kritis. Dia menyinggung soal sistem matriakat di Minangkabau. Rohana berpandangan, sistem matriakat secara warisan mungkin baik, tapi dari segi kasih sayang hendaknya tidak boleh ada diskriminasi. Ia juga menolak poligami karena akan merugikan perempuan dan keluarga. Dengan wawasannya yang luas ia juga menulis tentang nasib perempuan di Jawa bahkan dibelahan negara lain seperti di India dan negara yang tergolong miskin.
Koran Sunting Melayu terbit selama sembilan tahun. Masa yang boleh dikatakan lumayan lama untuk mempengaruhi pembaca dan memberikan dampak besar dalam masyarakat, terutama di era kolonial.
Tentu saja tidak sedikit pro-kontra yang terjadi atas pergerakan Rohana tersebut. Pemikirannya dianggap menyesatkan kaum perempuan Minangkabau kala itu. Ia juga dimusuhi oleh kaum tetua dan tokoh adat. Tapi kepiawaiannya dalam mendidik perempuan untuk menyulam dan menjahit, yang mampu menghasilkan uang tambahan, bahkan hasil kerajinan mereka diikutkan dalam pameran di Belanda mampu membuktikan bahwa apa yang dilakukannya sangat membantu perekonomian keluarga dan warga di Koto Gadang.
Pada tahun 1916, ia difitnah oleh muridnya telah menggelapkan dana lotere pendirian sekolah Kerajinan Amai Setia. Tuduhan yang bermaksud melengserkan dirinya dari jabatan sebagai pimpinan sekolah itu, ternyata tidak terbukti dalam persidangan. Cobaan lain yang harus dihadapinya adalah fitnah perselingkuhan dengan pejabat Belanda tempat Rohana berkonsultasi selama ini. Tuduhan yang kembali tidak terbukti tapi cukup membuat Rohana mengambil sikap, menolak memimpin kembali sekolah KAS dan memilih pindah ke Bukittinggi bersama suaminya dan mendirikan sekolah yang dinamai Roehana School. Kali ini Rohana juga mengajar murid laki-laki. Kurikulum yang diajarkan tak jauh beda dengan KAS.
Kepindahannya ke Bukittinggi tak membuat Rohana berhenti menulis untuk Sunting Melayu. Pada tahun 1919, Rohana dan suaminya pindah ke Lubuk Pakam, Sumatera Timur. Ia juga memenuhi permintaan ayahnya untuk mengajar di sekolah cabang Dharma Putra. Tahun 1920, bersamaan dengan kepindahannya ke Medan, Rohana juga mengajar di sekolah Dharma Putra pusat. Dan tahun 1921, menjadi akhir peredaran Sunting Melayu.
Rohana kemudian bekerja sama dengan Satiman Parada Harahap untuk memimpin redaksi koran Perempuan Bergerak. Tulisan-tulisan Rohana dalam koran itu kebanyakan berisi ajakan pada kaum perempuan agar tidak tertindas dan mulai memikirkan pendidikan serta meningkatkan keterampilan. Ia juga mengkritik praktik pergundikan yang dilakukan orang-orang Belanda kepada perempuan Indonesia, perlakuan pekerja yang tidak manusiawi di Perkebunan Deli, dan permainan para mandor yang menjebak buruh-buruh perempuan dalam prostitusi.
Tiga tahun kemudian ia kembali ke Koto Gadang, tetapi enggan terlibat lagi dengan sekolah KAS yang didirikannya dulu. Ia memilih mengajar di Vereninging Studiesfonds sambil menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan oleh Cinta Melayu, perkumpulan Tionghoa – Melayu di Padang dan redaktur koran Cahaya Sumatera yang juga terbit di Padang.
“Aku ingin berbuat lebih banyak lagi untuk menolong kaum perempuan.” Jawab Rohana ketika ditanya kenapa dirinya masih terus menulis saat itu.
Rohana telah banyak memberikan pencerahan untuk kemajuan kaum perempuan melalui kisah-kisah maju kaum perempuan Eropa. Tak hanya mendorong perempuan Minangkabau melalui pendidikan dan keterampilan, ia juga mendorong laki-laki untuk menyokong pendidikan untuk anak-anak perempuan mereka agar sejajar dengan laki-laki. Sehingga perempuan mengerti apa yang bisa dilakukan untuk bangsanya yang saat itu masih berada di bawah pemerintahan penjajah Belanda.
Rohana menjalani hari tua dengan mengikuti anak tunggalnya, Jasma Yuni berpindah-pindah kota. Rohana Kudus kemudian wafat pada tanggal 17 Agustus 1972 di Jakarta dan di makamkan di TPU Karet, Jakarta.
Rohana dengan segala sepak terjangnya telah sangat menginspirasi dan memberikan dampak yang besar bagi perkembangan pemikiran dan kemajuan wanita Minangkabau pada khususnya. Sebuah jasa besar yang kemudian membutuhkan perjuangan berpuluh tahun untuk mencantumkan namanya sebagai penerima anugerah pahlawan Nasional Indonesia sebagai tokoh pergerakan perempuan dan jurnalis wanita pertama di Indonesia.
Rohana Kudus pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat sebagai wartawati pertama. Kemudian pada tahun 1987, Dewan Pertimbangan Persatuan Wartawan Indonesia memberinya gelar penghargaan perintis pers.
Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama. Rohana Kudus telah tiada, namun namanya abadi sebagai Pahlawan Indonesia.**
Baca juga : Rohana Kudus, Perempuan Pelopor dari Ranah Minang
Editor : Herman Attaqi
Foto : Sumber pencarian google
