Ndak ado kayu jonjang dikopiang.
Oleh Iben Nuriska
Gelombang protes warga semakin membesar, bergulungan menghempas ketenangan hari-hari Kepala Desa Sukomandi, Amin Rahmat, yang masa jabatannya habis setahun lagi – setelah dua periode menjabat hampir tanpa riak ketidakpuasan rakyat yang dipimpinnya selama sebelas tahun.
Selalu tersedia cara baginya untuk mendiamkan warganya selama ini; siapa butuh makan beri beras, siapa butuh nasehat beri wejangan, siapa butuh ilmu, tunggu dulu, pikir-pikir dulu sebelum sekolah tinggi, biayanya mahal sekali, lebih baik bekerja sebagai tenaga honorer di kantor-kantor pemerintah, bila beruntung bisa jadi Pegawai Negeri Sipil, dan Amin Rahmat akan mengusahakan itu melalui kolega dan keluarganya yang berpangkat; prinsip yang dengan teguh dijalankannya.
Maka rasa dahaga warga pada keadilan terpuaskan sudah. Tak pernah ada warga yang pulang dengan hati hampa bila datang mengadu padanya. Segala keperluan surat menyurat disegerakan. Aspirasi warga diapresiasi, seminim-minimnya didengarkan baik-baik. Bila ada kesulitan uang – masalah yang paling sering dikeluhkan warga – akan diupayakan. “Ndak ado kayu jonjang dikopiang.1 Ndak ponuo ka ate ponuo ka bawa,”2 katanya pada siapa saja warga yang mengharap uluran tangannya. Bila ia tak mampu memberi saat itu juga, maka sehari dua akan datanglah utusannya mengantarkan bantuan itu kepada penghajat.
Sebulan sudah Surat Keputusan Kepala Desa dikeluarkan. Tentang nama-nama penerima rumah bantuan dari Pemerintah Kabupaten. Sebuah program pemerintah bagi masyarakat kurang mampu untuk memiliki rumah layak huni yang pengerjaannya langsung dilaksanakan oleh pemerintahan desa melalui Organisasi Masyarakat Setempat dan diawasi oleh fasilitator dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten. Dan seperti yang sering masyarakat Sukomandi lihat dalam tayangan tivi, bila ada kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak, maka berkumpullah untuk mengajukan protes.
Bak jamur di musim hujan, bertumbuhanlah Organisasi Kemasyarakatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat di Desa Sukomandi menentang keputusan itu. Ada yang mengatas-namakan Gerakan Pemuda Sukomandi (GPS), Masyarakat Peduli Rakyat Sengsara (MPRS), Aliansi Demokrasi untuk Sukomandi (ADuS), dan banyak lagi organisasi dan lembaga semacamnya. Setiap hari mereka mendatangi kantor dan rumah Amin Rahmat untuk menyuarakan hak-hak masyarakat. Orang-orang bicara atas nama kepentingan rakyat miskin dan penyelamatan aset desa yang dinilai telah disalah gunakan oleh Amin Rahmat.
Bukan Amin Rahmat namanya bila resah menghadapi gelombang massa. Mantan aktifis gerakan mahasiswa itu sedikit pun tak gentar menghadapi masyarakatnya yang tiba-tiba menjadi demokratis, nampak cerdas dan berani bersuara. Ia yang telah khatam seluk beluk pergerakan dan tahu betul batas kemampuan para demonstran. Ia juga sangat mahfum akan keinginan para pemimpin gelombang massa yang gencar mengibaskipaskan isu.
“Sapu lidi bisa kita gunakan secara baik dan leluasa bila pengebatnya kokoh. Bila ada yang tercabut dan patah sapu itu sendiri yang ‘kan menyepai,” seru Amin Rahmat pada para aparatur desa dalam sebuah rapat koordinasi menghadapi tuntutan rakyat yang kian bergolak dan disambut dengan anggukan dan sesungging senyum dari seluruh pembantunya.
Desa Sukomandi membentang di pinggir Sungai Kampar. Hampir separuh penduduknya berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil dan pegawai honorer di kantor-kantor pemerintah dan separuhnya lagi menjadi petani dan sebagian kecilnya pedagang. Rata-rata tingkat pendidikan masyarakatnya hanya lulusan Sekolah Menengah Atas. Sedikit sekali warga yang bergelar sarjana di Desa Sukomandi. Dari yang sedikit itu banyak yang menjadi pejabat esselon di lingkungan pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi. Dan mereka semua masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Amin Rahmat. Apa saja kebijakan Amin Rahmat selalu mendapat dukungan dari mereka. Jadilah selama sebelas tahun Amin Rahmat melenggang di puncak kekuasaan tanpa tergoyahkan.
Meski ada riak selama berjalannya kekuasaan Amin Rahmat, namun tak pernah menggelombang seperti sekarang. Biasanya, bila ada yang dirasa kurang berkenan, warga Sukomandi lebih memilih diam. Amin Rahmat dan keluarganya sudah sangat berjasa dalam membangun desa yang sebelumnya belum pernah tersentuh pembangunan.
“Sangatlah tidak etis melawan pemimpin, bertolak belakang dengan adat kebiasaan kita yang santun,” petuah tetua adat Sukomandi.
Sekarang ini, bila musim hujan tiba seluruh jalan desa tak pernah lagi becek. Jalan utama desa telah diaspal dan jalan-jalan masuk ke pelosok kampung telah pula mengalami semenisasi. Lampu-lampu jalan pun telah bergelantungan menerangi warga di setiap pojok kampung. Berbagai kegiatan keagamaan didorong untuk ditingkatkan. Berbagai kejuaran olah raga rutin diselenggarakan pada setiap perayaan hari besar. Dan banyak pula warga yang tidak pernah memimpikan bekerja di kantor pemerintah telah berseragam pegawai negeri. Semua itu karena kepedulian Amin Rahmat pada masyarakat dan desa kelahirannya, begitulah pujian warga yang dilayangkan padanya.
Entah siapa yang memulainya. Hampir setiap hari, di warung-warung kopi, di tempat-tempat pemandian di pinggir sungai, di mesjid dan mushollah, setelah sebulan lebih kelompok-kelompok penentang kebijakan Amin Rahmat sibuk memprovokasi, orang-orang mulai mengingat-ingat jasa-jasa Amin Rahmat. Mereka membicarakan kemajuan yang telah mereka rasakan selama Amin Rahmat menjabat. Tak elok ada cacat disandangkan padanya.
“Tak ada gading yang tak retak,” kata mereka.
“Sudut pandang kitalah yang salah,” kata yang lain.
“Kita melihat keputusan itu dari sisi celanya, bukan sisi baik,” sambung yang lain lagi.
“Kemajuan yang kita rasakan sekarang tak mungkin ada tanpa kebaikan Pak Amin Rahmat.”
“Tidak! Kemajuan yang kita rasakan karena adanya Rahmat Allah,” bantah Abdul Aziz tegas – satu-satunya lelaki berjanggut lebat dan panjang di Sukomandi, tak pernah lumpang sholat berjama’ah di mesjid, tak punya pakaian model lain melainkan gamis panjang hingga betis serta surban yang senantiasa melingkari kepalanya – di mana saja ia mendengar pujian yang ditujukan pada Amin Rahmat.
“Rahmat Allah, amiiiiin,” seloroh orang-orang menanggapi Abdul Azis.
“Saya serius ini,” sergah Abdul Azis. “Segala puji hanya milik Allah. Tak ada yang bisa dilakukan Amin Rahmat tanpa adanya Izin Allah. Tak ada sesuatu pun yang layak disetarakan denganNya. Jangan sekali-sekali menganggap kenikmatan yang kita rasakan karena perbuatan tangan manusia. Manusia sungguh lemah tanpa pertolongan Allah. Ketauhidan kalian harus diluruskan,” geramnya beristighfar kemudian berlalu.
Kemarahan Abdul Azis bukanlah penghalang bagi Amin Rahmat untuk mempertahankan keputusan yang sudah dibuatnya. Abdul Azis hanya seorang diri. Tak beraliansi dengan siapa pun. Ia sengaja mengalienasi diri. Ia juga tidak mempermasalahkan kebijakan Amin Rahmat. Ia hanya tidak suka mendengar pujian warga desanya pada Amin Rahmat yang dirasanya berlebihan dan mengarah pada kemusyrikan.
Abdul Azis sendiri mendukung keputusan Amin Rahmat menghibahkan setengah hektar tanah desa untuk dibangun rumah layak huni bagi Kapten Umar.
“Baru kali ini kebijakan anda benar-benar bijak dan tak memijak,” kata Abdul Azis pada Amin Rahmat saat menyatakan dukungannya.
Merah padam muka Amin Rahmat mendengarnya. Tapi ia berusaha tenang. Abdul Azis bukanlah tipe orang bermuka dua; baik di depan namun buruk bila membelakang. Dia suka bicara apa adanya dan lebih suka bicara terus terang langsung kepada sasaran. Sekeras apa pun perkataannya, akan habis saat itu juga dan tak akan diulangi apalagi sampai menceritakannya pada orang lain.
“Adalah pemakan bangkai bagi orang yang senang berghibah,” jelasnya.
Sejak ramai orang membicarakan kebaikan Amin Rahmat gelombang protes mulai surut. Tinggal riak-riak kecil yang tak perlu dianggap dan ditanggap. Mereka adalah segelintir warga yang dulunya hanya ikut-ikutan terorganisir dan akhirnya tergelincir ditinggalkan pemimpin-pemimpin mereka yang tanpa ada alasan yang jelas telah berbalik mendukung Amin Rahmat. Dan riak-riak kecil itu memilih menyingkir sebelum orang banyak memelintir kepala mereka karena berani menggonggongi keputusan kepala desa tercinta.
“Sepatutnya kita berterima kasih pada Kapten Umar. Tiga puluh tahun yang lalu Kapten Umar datang ke Sukomandi menjadi guru ngaji. Bukankah kita bisa bersembahyang, berdoa, mengaji dan merasakan terangnya cahaya agama atas jasa Kapten Umar?”
“Iya, Pak,” serempak warga mendengarkan penjelasan Amin Rahmat di Balai Desa Sukomandi.
Baru kali ini Amin Rahmat berlapang diri menyampaikan seluk beluk jalan keputusan yang dibuatnya agar warga desanya mengerti dan menerima. Itu juga karena diawali maraknya demonstrasi.
“Kapten Umar telah banyak berjasa. Walau kita tak tahu asal-usul beliau karena beliau enggan mengutarakan ihwal sejarah hidupnya, bukanlah halangan bagi kita membalas segala kebaikannya. Satu-satunya mesjid yang berdiri di kampung kita lebih dari dua puluh tahun tidak akan pernah ada tanpa perjuangan Kapten Umar. Dengan gigih beliau mengumpulkan sumbangan dari orang-orang di luar kampung kita yang sama sekali tidak kita kenal. Mungkin saja sumbangan itu datang dari keluarganya sendiri yang entah di mana. Kita tidak tahu. Kita hanya tahu mesjid itu telah berdiri dengan megah.”
Warga yang memadati balai desa manggut-manggut dan mengangguk. Saling berbisik menyetujui.
“Kapten Umar sendiri bukanlah tipe orang yang mengharap balas budi. Tak sekali pun ia mengeluh pada kita. Untuk kebutuhannya pribadi ia usahakan dari keringatnya sendiri. Mengambil upah di ladang orang. Mencari ikan di sungai. Sedang gaji sebagai guru ngaji tak pernah diambilnya. Sedekah yang kita berikan padanya ia sumbangkan kembali untuk membenahi bagian-bagian mesjid yang rusak.
“Adakah alasan bagi kita untuk tidak memberi pondok kecil untuk bernaung di usia senjanya? Di usianya yang kian renta, adalah keterlaluan bila kita tetap membiarkan beliau mendiami ruangan kecil di sudut mesjid? Bila ada tamu-tamu Allah yang hendak menginap di mesjid itu, jadilah beliau harus berbagi di ruang sempit itu. Karena itulah saya berinisiatif menghibahkan setengah hektar tanah desa kita untuk dibangun rumah layak huni yang akan kita serahkan kepada Kapten Umar.
“Saudara-saudara mungkin bertanya, bila Kapten Umar meninggal, sedang ia tak punya waris karena tak pernah menikah, siapa yang akan mewarisi rumah dan tanah itu? Dalam surat hibah itu saya tuangkan bahwa tanah itu akan kembali menjadi milik desa kita dan rumah itu digunakan sebaik-baiknya untuk keperluan masyarakat.”
“Ooo, jadi begitu,” terdengar bisik-bisik warga.
“Kita salah mencurigai Pak Amin mau menguasai tanah itu,” bisik sebuah suara.
“Bisa saja Pak Amin bohong, surat itu kan tak pernah dilihatkan pada kita,” curiga warga yang lain.
“Saudara-saudara bisa datang ke rumah saya untuk membaca isi surat hibah itu. Sayang sekali saya lupa membawanya. Tadi siang surat itu juga sudah saya tunjukkan pada Kapten Umar. Saudara-saudara bisa bertanya pada beliau. Kebetulan malam ini beliau tak bisa hadir ke balai desa karena ada urusan mendadak ke luar desa,” jelas Amin Rahmat mendengar bisik-bisik warga.
Abdul Azis tersenyum mendengarnya. Ia yakin tak bakal ada warga yang berani menyelidiki terlalu jauh sampai mendatangi rumah Amin Rahmat. Tindakan itu bisa dituduh subversif dan melangkahi kewibawaan sang Kepala Desa. Namun ia diam saja. Dalam hatinya berbisik untuk selalu berprasangka baik pada siapa pun.
“Dua hari lagi, peletakan batu pertama pembangunan rumah layak huni di desa kita akan dilakukan oleh bapak bupati. Saya harap kita semua menghadirinya dan tidak menampakkan di muka bapak bupati terhormat bahwa kita pernah berselisih faham tentang penerima rumah bantuan itu,” lanjut Amin Rahmat.
“Hanya orang baik-baik yang ikhlas membalas kebaikan orang lain. Dan kalau bukan karena saya berani mengambil keputusan yang begini sulit dan rumit, tak mungkin Kapten Rahmat yang baik memiliki rumah sendiri. Betuuul?” tanya Amin Rahmat setengah berteriak.
“Betuuul,” kompak warga, kecuali Abdul Azis yang hendak berdiri membantah namun tenggelam oleh gelombang warga yang kemudian berdiri dengan suara menggemuruh, “hidup Pak Amin!” “Hidup Amin Rahmat!”
Tanah Desa Sukomandi yang terletak di ujung desa seluas tiga hektar – memanjang dari jalan utama desa sepanjang tujuh ratus lima puluh meter hingga ke pinggir sungai dengan lebar seratus dua puluh meter berbatasan dengan tanah milik keluarga Amin Rahmat – dipagari kawat berduri. Tanah itu masih kosong kecuali rerumputan dan alang-alang yang tumbuh subur.
Pagi-pagi sekali sudah nampak kesibukan panitia melakukan persiapan upacara peletakan batu pertama rumah layak huni, di tanah desa di tepi jalan utama. Terutama ibu-ibu PKK yang sibuk dengan segala macam masakannya. Acara peletakan batu pertama itu akan diakhiri dengan makan bersama warga Desa Sukomandi dengan pimpinan kecamatan dan kabupaten. Seekor kerbau jantan telah pula tumbang dijadikan santapan utama — kalio dan rendang kerbau.
Aparat kepolisian yang ditugaskan untuk menjaga keamanan para undangan dan menjaga ketertiban acara mulai berseliweran. Begitu juga dengan pegawai protokoler Sekretariat Daerah Kabupaten yang dipimpin langsung oleh kepala bagiannya melakukan cek dan ricek segala kesiapan perlengkapan, peralatan dan perangkat acara.
Mendekati pukul sepuluh pagi yang direncanakan dimulainya acara, warga Desa Sukomandi telah berdatangan; tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda. Mereka memenuhi kursi-kursi di bawah tenda yang telah disediakan. Ada juga kelompok-kelompok kecil warga yang masih berdiri mengamati.
Angin pagi tak kalah sibuk mengibarkan umbul-umbul yang berdiri di pagar kawat berduri, juga bendera merah putih yang dipasang di pintu gerbang dari bambu yang sengaja dibuat sehari sebelumnya untuk menyambut kedatangan para tamu kehormatan. Di mulut gerbang itu tampak beberapa orang panitia dari pegawai di kantor kepala desa panik hilir-mudik sambil berbisik, “Kapten Umar di mana?”
“Saya sudah ke mesjid. Beliau tak ada.”
“Sudah dua hari ini tak ada yang melihat Kapten Umar.”
“Kita harus mencari ganti penerima kunci rumah yang akan diserahkan bapak bupati secara simbolis.”
“Tanya Pak Amin, siapa gantinya.”
“Kamu saja, aku takut Pak Amin marah.”
Amin Rahmat berdiri bangga di podium tempat nanti ia menyampaikan pidato penyambutan. Selembar kertas di tangannya ia buka, baca dan lipat berulang-ulang. Senyumnya mengembang. Dadanya membesar. Lubang hidungnya melebar. Laporan tentang menghilangnya Kapten Umar ditanggapinya secara wajar.
“Tak apa-apa. Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.”
Dan panitia yang datang melaporkan bingung melihat ketenangan Amin Rahmat.
Rombongan tamu kehormatan pun tiba. Acara dimulai dengan tari persembahan dan pembacaan ayat suci Al-quran. Bupati menyatakan kebanggaannya pada Amin Rahmat melihat banyaknya massa yang memadati lokasi acara sembari mendengarkan lantunan ayat-ayat suci.
“Warga Sukomandi ini pendukung setia Pak Bupati. Karenanya mereka rela meninggalkan pekerjaan hanya untuk bertemu bapak,” jelas Amin Rahmat pada bupati.
Acara yang semula berjalan khidmat berubah agak riuh ketika penyerahan kunci rumah bantuan secara simbolis dari bupati kepada salah seorang penerima rumah bantuan. Bukan Kapten Umar yang maju ke panggung utama. Adalah Munin Tengkak bersama istrinya mewakili sepuluh kepala keluarga penerima rumah bantuan itu. Sedangkan di dalam Surat Keputusan Kepala Desa tentang nama-nama penerima rumah bantuan itu, nama Munin Tengkak tidak tertera.
Munin Tengkak adalah saudara tiri Amin Rahmat – satu ayah lain ibu. Tujuh tahun yang lalu melarikan diri dari Sukomandi karena terlibat perampokan. Tak ada yang tahu rimba persembunyiannya. Dan hari ini untuk pertama kalinya ia menampakkan diri. Telah pula beristri.
Warga yang terheran-heran dengan keanehan yang mereka saksikan hanya berbisik-bisik, riuh rendah. Mereka sudah diperingatkan oleh Amin Rahmat agar menjaga diri saat berlangsungnya acara. Demikian juga dengan para pemimpin demonstrasi yang telah berbalik mendukung Amin Rahmat, telah pula berada di tengah kerumunan warga agar tak seorang pun menyulut masalah.
“Jangan bikin malu desa kita di depan bupati,” seru mereka.
“Bila ada yang tak suka nanti dibicarakan di kantor.”
“Ada polisi di sini. Yang berani membangkang bisa ditangkap.”
“Jangan anarkis.”
“Sayang sekali kalio dan rendang itu tak termakan karena kita sibuk mengurusi sesuatu yang bukan urusan kita.”
Mendengar kalio dan rendang disebut warga kembali dapat ditenangkan. Mayoritas pengunjung dari kaum tani yang jarang sekali menikmati renyahnya daging kerbau – biasanya cuma makan daging sapi, itu juga setahun sekali pada hari raya Idul Adha – tak rela hidangan yang sangat mereka nantikan akan tersia-sia. Apa lagi aroma kari yang wangi itu senantiasa ditarikan angin menggelitiki lubang hidung mereka.
Sementara itu di pinggir sungai di ujung tanah desa.
“Pak Ustadz tak ikut acara?”
“Saya tak suka keramaian.”
“Kenapa disini?”
“Ini kampung saya. Anda sendiri?”
“Oh. Saya Tukak, Manajer Operasional PT. Langgeng Kuasa Tirani. Dan mereka itu anak buah saya. Pak Ustadz sendiri?”
“Oh. Saya Abdul Azis, bukan ustadz.”
“Oh. Saya kira. Pakaiannya Pak Abdul…”
“Aneh?”
“Bukan. Seperti ustadz saja.”
“Oh. Anak buah anda sedang mengukur apa?”
“Memastikan saja berapa luas tanah ini.”
“Oh. Mau dibuat apa?”
“Water Park sama Resort. Cocok sekali bila dibangun di sini. Ada aliran sungainya. Perkampungan yang asri. Sangat diminati para eksekutif. Terutama yang berasal dari luar negeri.”
“Oh. Butuh berapa hektar?”
“Sembilan hektar. Seluruh tanah Pak Amin Rahmat ini cukup.”
“Tanah Pak Amin kan yang sebelah sana. Cuma enam hektar.”
“Bukannya sembilan?”
“Sisanya tiga hektar itu tanah desa. Sudah dihibahkan setengah hektarnya.”
“Oh. Begitu?
“Iya. Itu acara penyerahan surat hibahnya sedang jalan.”
“Oh.”
“Terus?
“Apa?”
“Mau ngambil tanah desa juga?”
“Ah, Pak Abdul ini.”
“Kenapa?”
“Nanti saja kita bicarakan di kantor saya. Kebetulan sekali perusahaan kami sedang mencari guru agama untuk bimbingan rohani. Tahun ini kami ada program umroh bagi karyawan yang telah berjasa membesarkan perusahaan. Pak Abdul bisa jadi pendamping mereka yang akan diberangkatkan untuk mempersiapkan batin mereka biar umrohnya mabrur. Pak Abdul sendiri bisa saya rekomendasikan untuk ikut umroh pada bos besar.”
“Bos besar?”
“Baik, Pak Abdul. Sepertinya anak buah saya sudah selesai. Kami harus pamit dulu. Nanti siang saya tunggu di kantor.”**
- Rumahkata Batubelah, 050312 –
Iben Nuriska, Founder Ihwal.co
- Selalu berusaha untuk menolong dengan segala daya yang ada.
-
Memberikan bantuan sesuai dengan kesanggupan.
Baca juga :
