kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Internet Vicit, Internet Victus Est

“Manusia menciptakan internet sebagai senjata (tetapi) manusia dikalahkan oleh ambisi-ambisinya sendiri.”


Oleh Herman Attaqi

Seneca, filsuf Roma (4 SM – 65 M), suatu ketika pernah menyindir Alexander Agung dengan mengatakan, “Armis vicit, vitiis victus est”, yang bila diterjemahkan kira-kira berbunyi “Dia menang dengan senjata (tetapi) dia dikalahkan oleh kejahatan-kejahatannya sendiri”. Armis, berdasarkan google translator, artinya senjata. Dan kemajuan peradaban pada waktu itu selalu ditakar dari kemajuan teknologi persenjataannya. Tak heran bila di akhir ajalnya, Alexander Agung, mampu membentangkan wilayah kekuasaannya di atas tiga benua, yakni Eropa, Asia dan Afrika. Salah satu faktor dominannya adalah memiliki pasukan perang yang kuat dengan persenjataan modern, serta ditambah lagi dengan “Phalanx Makedonia”, sebuah sistem perang ciptaan Raja Philip, Ayahnya.

Kehebatan, bila disandingkan dengan masa lalu, seringkali bisa dipakai sebagai candu. Kadangkala ia menjadi mitos dan ditaruh di bawah bantal, seperti Alexander muda yang menenteng kemana pergi kitab Iliad karya Homerus pemberian Aristoteles, sang Maha Guru. Alexander selalu percaya suatu hari nanti akan menjadi seperti Archiles. Mereka adalah bangsa dengan kepercayaan diri bak seekor anjing yang suka menggonggongi bangsa-bangsa lain: “Tidak ada yang lebih memalukan daripada seseorang yang bangga dengan kerendahan hatinya”.

Di belahan bumi dan waktu yang lain, kaum muda mudi berteriak dengan lantang, “Revolusi atau Mati!”, maka dunia berubah semakin cepat. Anak-anak muda pula yang dulu mengepalkan tinju revolusi, hari ini menikmati perubahan zaman di dalam genggaman tangan mereka. Armis milik Alexander Agung berubah menjadi internet. Dan orang-orang tak perlu lagi membayangkan diri mereka menggotong alat pelantak setinggi 1000 kaki atau membangun menara pengintai setinggi 150 kaki yang dilengkapi dengan jembatan penyeberangan dan seperti rombongan sirkus keliling mesti bergerak terus sepanjang laut Ionia hingga pegunungan Himalaya. Namun internet membuat mereka bisa menertawai itu semua sembari rebahan dan bermain Clash of Clan.

Baca juga : Kenangan yang Menguatkan

Yuval Noah Hariri, dalam buku 21 Lessons mengatakan bahwa di masa lalu, kita para manusia telah belajar mengendalikan dunia di luar kita, tetapi kita memiliki sangat sedikit kendali atas dunia di dalam kita. Kita tahu bagaimana membangun bendungan dan menghentikan aliran sungai, tetapi kita tidak tahu bagaimana menghentikan tubuh dari penuaan. Kita tahu bagaimana merancang sistem irigasi, tetapi kita tidak tahu bagaimana merancang otak. Jika nyamuk berdengung di telinga kita dan mengganggu tidur kita, kita tahu cara membunuh nyamuk itu; tetapi jika suatu pikiran berdengung di dalam otak kita dan membuat kita terjaga di malam hari, kebanyakan dari kita tidak tahu cara membunuh pikiran itu.

Revolusi Internet yang kemudian hari menetaskan revolusi bidang lainnya, terutama informasi dan teknologi (infotek) dan biologi dan teknologi (biotek) memungkinkan kita merekayasa dan memproduksi bentuk-bentuk kehidupan baru. “Kehidupan baru” itu terdengar seperti masa depan yang sedang melintas di depan kita yang sedang duduk menikmati secangkir kopi. Sama seperti kata-kata aneh yang biasa didengar dan tonton di televisi, ketika para pakar menyebut perubahan zaman yang semakin high-tech, blockchain, rekayasa genetika, kecerdasan artifisial, pembelajaran mesin, analisa bigdata—- dan remahan rempeyek seperti kita barangkali berpikir, “mungkin mereka sedang tidak membicarakan kita” atau “apakah kita sudah semakin tidak relevan lagi berada di dunia ini?”

Berhari-hari saya merenungi perkara internet ini. Tentang apakah sesungguhnya yang paling mencemaskan kita atas perubahan dunia yang cepat yang disebabkan oleh kehadiran internet? Saya pastikan bahwa yang terbayang di benak saya adalah anak-anak saya. Seperti apa mereka kelak di masa depan? Apa yang akan mereka kerjakan untuk mempertahankan kehidupannya? Apakah mereka akan menjadi pilot? Teknologi pesawat tanpa awak diyakini akan semakin sempurna, sehingga profesi pilot akan digantikan oleh otomatisasi. Apakah mereka akan jadi ahli pemasaran, pekerja kreatif, bankir, guru, psikolog atau pengacara? Apakah semua profesi itu akan terbebas dari otomatisasi akibat laju perkembangan internet yang kemudian menggerus banyak peluang manusia berperan di situ?

Tunggu dulu. Ini bisa jadi akan jadi diskusi yang rumit. Saya sempat berpikir untuk berhenti menulis tentang perkara ini dan mengganti saja dengan tulisan misteri kue putu yang semakin langka. Namun kecemasan sudah semestinya tak boleh mengalahkan harapan. Bahwa kehidupan dari masa ke masa tentu dihantui oleh kecemasan dan harapan. Toh, kehidupan kita hingga detik ini tetap berjalan dengan kemajuan di banyak sisi dan kepelikan di ujung lainnya.

Sejak dimulainya era revolusi industri, banyak pekerjaan yang membutuhkan tenaga kasar (fisik) manusia, telah digantikan oleh mesin. Faktanya, pada tiap pekerjaan yang ‘hilang’ itu telah tercipta pula pekerjaan baru. Seorang buruh tani diberhentikan dari pekerjaannya karena tersingkir oleh mekanisasi pertanian, tapi ia bisa memasuki lowongan pekerjaan baru sebagai buruh di pabrik yang memproduksi traktor atau menjadi teknisi mesin traktor. Pada era perkembangan teknologi berikutnya, seorang buruh pabrik bisa jadi akan dirumahkan, karena teknologi yang makin canggih di prabrik traktor hingga tenaganya telah tergantikan oleh otomatisasi. Namun buruh pabrik masih bisa bekerja sebagai kasir supermarket yang juga berkembang seiring perkembangan industrialisasi. Pada banyak kasus, pergeseran bentuk pekerjaan itu malah meningkatkan standar pendapatan dan hidup layak. Pergeseran pekerjaan dari pertanian ke industri hingga sektor jasa seperti itu menjadi sangat dimungkinkan dengan hanya membutuhkan pelatihan pengenalan ruang lingkup pekerjaan yang mudah belaka. Masa lalu yang demikian agaknya bukanlah sesuatu yang patut dicemaskan.

Namun, sebagaimana Hariri dalam bukunya mengatakan, “ada alasan yang bagus untuk berpikir bahwa kali ini berbeda, dan pembelajaran mesin (machine learning) akan menjadi pengubah permainan yang nyata.”

Dilanjutkan, masih oleh Hariri; manusia memiliki dua jenis kemampuan — fisik dan kognitif. Di masa lalu, mesin bersaing dengan manusia terutama dalam kemampuan fisik kasar, sementara manusia mempertahankan keunggulan besar atas mesin dalam hal kognisi. Oleh karena itu, ketika pekerjaan manual di bidang pertanian dan industri dilakukan secara otomatis, pekerjaan baru muncul di bidang jasa yang membutuhkan jenis keterampilan kognitif yang hanya dimiliki manusia: belajar, menganalisis, berkomunikasi dan terutama memahami emosi manusia. Namun, kecerdasan buatan (artificial intelligent) sekarang mulai mengungguli manusia dalam lebih banyak keterampilan ini, termasuk dalam pemahaman emosi manusia. Dan kita tidak mengetahui adanya sesuatu semacam bidang aktivitas ketiga — di luar fisik dan kognitif — di mana manusia akan selalu mempertahankan tepian aman.

Sampai di sini bisa jadi masih sulit dipahami, bagaimana mungkin kecerdasan buatan bisa mengungguli manusia termasuk dalam hal pemahaman emosi sekalipun? Faktanya, meski masih dalam lingkup terbatas dan jauh dari jangkauan kita, para pakar telah mampu menciptakan kecerdasan buatan yang mengungguli manusia terutama di bidang penerbangan, khususnya simulasi penerbangan tempur; dalam bidang perencanaan keuangan, manajemen portofolio, analisis data kompleks dalam sistem medis dan produksi diagnosis dan pengobatan, dan lain sebagainya.

Meskipun teknologi itu masih terasa jauh dari kita, tapi ‘kelak’ ia pasti akan sampai ke halaman rumah bahkan masuk ke dalam bilik pribadi kita. ‘Kelak’ dalam bahasa perkembangan teknologi itu bisa saja memiki arti ‘segera’. Ketika kanak-kanak di tahun 80-an, saya melihat banyak adegan di film kartun semacam transformers, voltron, flash gordon atau satria baja hitam hanya sebuah fantasi belaka. Nasib baik kemudian membawa saya pada realitas menyenangkan, di mana internet membawa saya bisa melakukan video call layaknya adegan-adegan dalam film kartun masa kanak-kanak dahulu. Begitulah sesuatu yang jauh, oleh internet kemudian didekatkan. Sesuatu yang khayali dijadikannya nyata.

Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) adalah lembaga di bawah Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon, yang berada di balik layar sejumlah inovasi paling canggih di dalam dunia militer: mobil tempur terbang, robot perang, hingga prototipe jet yang bisa meluncurkan satelit ke orbit. Bahkan sejumlah temuan mereka juga telah menyeberang ke ruang teknologi sipil, semacam robot canggih, global positioning system (GPS) dan tentu saja internet.

Pada 2015, para ilmuwan DARPA memproduksi sebuah video berjudul “Forward to the Future” yang berisi prediksi ilmiah tentang seperti apa masa depan umat manusia 30 tahun yang akan datang. Manusia akan melakukan capaian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, akibat kemajuan-kemajuan di bidang infotek dan biotek. Dr. Justin Sanchez, ahli neurologi sekaligus direktur Biological Technologies Office DARPA meyakini bahwa kita akan sampai ke satu titik di mana manusia bisa mengendalikan banyak hal dengan menggunakan pikiran. Untuk mewujudkan itu, DARPA sedang melakukan berbagai hal terkait neuroteknologi.

Saya kira, 30 tahun yang akan datang, seorang kasir akan digantikan oleh mesin. Begitupun banyak buruh pabrik akan kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi. Namun sayangnya, —– tidak seperti masa lalu, ketika seorang buruh tani bisa beralih pekerjaan menjadi buruh pabrik, lalu menjadi kasir supermarket,—– agak sulit membayangkan mereka akan dengan mudah mengisi pos-pos yang tercipta akibat kecerdasan buatan, seperti peneliti kanker di laboratorium kesehatan, tenaga analis perbankan atau teknisi pesawat tanpa awak. Akan ada peralihan pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan kemampuan fisik dan kognisi, akan tetapi membutuhkan sesuatu yang belum bisa terprediksi dengan jelas, yang pastinya melampaui aspek fisik dan kognisi. Apakah kelak, justru kita menyaksikan ada banyak varian pekerjaan baru yang muncul, namun banyak pula tercipta kelas sosial baru yang tidak terserap (baca: tidak berguna)? Sebagai sebuah harapan, kita akan menjawab tidak.

Yuval Noah Hariri, yang meraih gelar PhD bidang Sejarah dari Oxford University ini mengatakan bahwa tidak ada yang bisa tahu pasti apa jenis dampak dari pembelajaran mesin (machine learning) dan otomatisasi yang akan terjadi pada profesi yang berbeda di masa depan, dan sangat sulit untuk memperkirakan jadwal perkembangan yang relevan, terutama karena mereka bergantung pada faktor keputusan politik dan tradisi budaya sebanyak faktor murni terobosan teknologi.

Jadi meskipun banyak mesin yang bisa menggantikan pekerjaan manusia secara lebih efektif dan akurat, politisi dan konsumen sendiri barangkali akan memblokir arah perubahan itu untuk beberapa lama, mungkin saja tahunan atau dekade. Tentu hal tersebut dimungkinkan untuk memberi jeda, disamping menahan diri dari guncangan sosial yang ditimbulkan, juga memberi waktu untuk memahami bentuk-bentuk disrupsi ataupun turbulensi yang terjadi. Yang patut disadari adalah sebagaimana kemampuan manusia dalam memanipulasi banyak persoalan dalam hidupnya, manusia harus juga menyadari kelemahan-kelemahannya akan resiko yang timbul akibat inovasi atas temuan baru dari teknologi tersebut. Kita sudah merasakan bagaimana eksploitasi alam yang berlebihan dalam rangka memanipulasi bangunan kemajuan peradaban kita, tapi kita abai melihat faktor resiko kerusakan ekosistem yang hari ini kita alami, seperti bencana alam tahunan, dan tidak menutup kemungkinan akan sampai kepada titik kulminasi bencana yang lebih besar. Sekali lagi, pastinya, sebagai sebuah harapan kita akan berkata semoga pola yang sama tidak akan terjadi akibat upaya kita dalam memanipulasi atau merekayasa teknologi internet.

Sejauh ini, menyitir sindiran Seneca kepada Alexander Agung setidaknya memberi kita semacam sistem peringatan dini, “manusia menciptakan internet sebagai senjata (tetapi) manusia dikalahkan oleh ambisi-ambisinya sendiri”.

Baca juga : Berak dan Arah Modernitas

Potensi kekalahan manusia itu mungkin belum menjadi hantu yang menakutkan, tapi jika dibiarkan, ia akan menjadi sebentuk pola kaskade yang pada akhirnya akan mencemaskan juga. Meski tindakan apa yang mungkin dilakukan tidaklah sekonyol yang dilakukan oleh Ned Ludd, seorang pemuda Inggris yang menghancurkan dua mesin penenun pada tahun 1779. Aksi yang memantik pergolakan yang lebih besar oleh para pekerja tekstil (Luddite) di Inggris abad ke-19 (terutama di tahun 1811 – 1816), yang menentang penggunaan teknologi yang mengurangi penggunaan tenaga kerja manusia, karena mesin penenun yang diperkenalkan pada masa revolusi industri mengancam lapangan kerja mereka. Pemberontakan yang kemudian dikenal sebagai Histeria Luddite ini sejatinya adalah bentuk kecemasan akan kemajuan teknologi. Sebentuk ketakutan manusia akan kekalahan — yang ironisnya — diakibatkan oleh ciptaannya sendiri.

Saya sadari jika tulisan ini tidak memberikan sekardus indomie bagi Anda untuk segera bisa disirami air panas. Tidak juga seperangkat pakaian hangat di tengah musim banjir hari-hari belakangan ini. Saya hanya ingin menawarkan sebuah diskusi yang membawa kita menemukan relevansi diri kita sebagai sapiens di tengah dunia yang menggelinding begitu cepat, tak terduga, sembari melihat kemungkinan sesuatu yang baik dan memberi kejelasan di antara kecemasan dan harapan itu.

Sebab dari internet, sejauh ini, kita telah memperoleh harapan akan dua hal; Pertama, ia akan memberikan Anda banyak kemudahan-kemudahan. Kedua, Anda bisa dengan mudah mengakses situs-situs yang menyediakan informasi lowongan pekerjaan. Tetapi benarkah kita akan menyerahkan sepenuhnya masa depan kita kepada internet? Sebagai satu dari milyaran produk kebudayaan manusia yang bisa jadi mengulang kesalahan-kesalahan manusia di masa lalu, yang dikalahkan oleh kejahatan-kejahatannya sendiri?

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai