“Besok kalo dateng lagi ke saya, dakwahnya yang konsisten, ya, Stad.”
Oleh Ziyad Ahfi
Suatu waktu, seorang teman pernah memberiku nasehat tentang dunia ideal. Katanya, “Negara kita ini butuh pondasi kuat,” sambil mengepalkan tangan, “yaitu negara berdasar satu tafsir agama, yakni tafsir agama kebenaran!” terusnya tanpa sedikit pun keraguan.
Teman penghapal kitab suci ini seringkali, tiap bertemu teman-temannya dulu (teman sekolah), selalu menggaungkan bahwa dunia ideal adalah dunia yang dipimpin oleh satu ajaran agama. “Apa yang agamaku jelaskan” menjadi kalimat yang sering keluar dari ceramahnya, alih-alih kami (audiens) yang pernah membuka kuping untuk ucapannya, selalu hikmat mendengar tanpa interupsi secuil pun.
Di balik kelihaiannya berpidato dan menarasikan segala ilmu pengetahuan mengenai agama, pernah sewaktu-waktu terjadi hal yang menarik.
Baca juga : Politik Label Celana Cingkrang
Sebut saja namanya Blehe. Salah satu siswa santuy pecinta slank garis terlampau keras ini didatangi oleh si kawan tadi (yang suka ceramah).
Lalu kemudian apa yang terjadi?
Menyadari kedatangannya, dari kejauhan Blehe memberi tawa kecil.
Sewaktu tiba di depan Blehe, si Kawan ujug-ujug langsung mengeluarkan dalil “dilarang merokok!”
“Siap, Ustad!” balas Blehe sambil tetap menghembuskan asap rokoknya.
“Emangnya koe gak ngerti apa yang tadi ana bilang? Itu perintah agama, loh.”
“Ngerti, Stad. Tapi saya gak setuju. Gimana dong?”
“Lah, wong jelas-jelas udah ada larangannya, kok, ngeyel?”
“Di Undang-undang mana, Stad?”
“Bukan undang-undang, undang-undang itu produk kafir. Ini perintah agama.”
“Iya, Stad. Tapi saya tetep nggak setuju. Trus, gimana dong?”
“Kalo koe nggak setuju, lebih baik baca sendiri aja dalilnya.”
“Kan tadi udah dibacain sampean, kok, malah nyuruh saya baca ulang?”
“Ana lihat ente gak ngedengerin apa yang ana bilangin.”
“Bukan begitu, Stad. Kan tadi sampean bilang, kalau undang-undang kita itu produk kafir karena tidak memuat pelarangan merokok. Nah, apakah dengan begitu negara ini auto kafir?”
“Ya nggak juga. Maksud ana, merokok itu nggak baik bagi kesehatan, makanya agama melarang, bahkan ada fatwa yang mengharamkan,” sambut si Kawan yang sedang berhati-hati menyampaikan kebenaran yang diyakininya tersebut.
“Oalah begitu, toh. Kalau merokok yang menyehatkan halal gak?” tanya Blehe ditambah sebatang kretek lagi.
“Yo nggak juga. Mana ada merokok itu sehat? Jelas-jelas banyak yang mati sebab merokok, kok.”
“Tapi banyak juga berita yang bilang kalau makan indomie itu juga bisa menyebabkan kematian karena usus buntu. Kok, Indomie gak diharamkan juga, Stad? Bahkan diberi label halal cap MUI.”
“Beda dong. Gini aja deh. Misal harga sebungkus rokok untuk sehari Rp. 20.000, coba dikalikan untuk sebulan (hitungan umum 30 hari) 20×30 = Rp. 600.000. Coba bayangin kalo misalnya untuk setahun, 20×365 (menurut jumlah asli setahun) = Rp. 7.300.000.
Nah, uangmu Tujuh juta tiga ratus ribu habis cuma buat rokok. Rugi besar koe, Bleh.”
“Kalo gitu, coba bayangin juga, misal harga ngemil roti, susu indomilk beserta ciki-cikimu Rp. 20.000 sehari, kalikan setahun 20×365 = Rp. 7.300.000. Nah, sama aja, Stad? Gimana dong?”
“Pokoknya rokok itu haram. Titik. Jelas-jelas merokok itu perilaku yang menyimpang.”
“Satu lagi, Stad. Informasi aja nih, saya kan selain sekolah juga sambilan kerja. Kerjaan saya ini sehari digaji Rp. 300.000. Tapi kerjaan saya ini nggak lancar kalo nggak pake rokok. Karena rokok inilah salah satu yang ngebantu kerjaan saya.”
“Emangnya kerjaan koe apa, Bleh?”
“Saya ini kerja jualan rokok pak Ustad. Kan nggak enak sambil nunggu pembeli diem-diem bae. Ya, sambilan ngerokok. Kalo nggak pake rokok, saya males jaga. Pasti bete.”
Karena jiwa santuy sudah melekat erat pada diri seorang Blehe, Ia tak segan-segan menolak mesti itu ucapan temannya yang “dianggap” paling ngerti agama sekali pun.
Usaha belum membuahkan hasil, dakwah tetap berjalan, si Kawan tetap berikhtiar demi mewujudkan dunia ideal yang diidam-idamkannya itu.
“Gini aja deh, Bleh. Terserah koe mau percaya apa nggak. Yang jelas ana udah ngingetin. Tapi kalo koe tetep gak mau terima, ya, dosanya tanggung sendiri, ya.”
“Oke, Stad.” Sambut Blehe santai tanpa menghiraukan si kawan.
Baca juga : Dunia Anak dan Kesederhanaan yang Perlu
“Tapi, Stad, tunggu sebentar,” sela Blehe sebelum Si kawan beranjak pergi. “Anda ini kalo dakwah yang konsisten dong. Masa dateng-dateng langsung keluarin dalil. Salam dulu atau tanya kabar dulu gitu. Ini malah ujug-ujug nantang debat saya. Udah gitu logikanya berantakan lagi. Kalau memang mau berdebat soal kerugian ekonomi, ayok. Kalo debat soal resiko kesehatan, saya siap. Jangan pindah-pindah. Seolah-olah Anda ini gak serius kalo dakwah. Besok kalo dateng lagi ke saya, dakwahnya yang konsisten, ya, Stad. Biar pulang-pulang saya kasi rokok se-slop buat ngopi di teras rumah,” lanjut Blehe sambil senyam-senyum.
Pada akhirnya si Kawan terdiam. Blehe membungkuskannya rokok satu slop untuk dibawa pulang. Dan Ia membawanya sembari kebingungan kenapa Ia menerima rokok itu. Ternyata di atas bungkus rokok tersebut tertulis selembar kertas: “Stad. Ini buat Anda. Rokok dari saya. Mohon diterima. Seperti yang Anda pernah bilang, “Orang yang menolak rezeki adalah orang yang merugi,” (ditambah emoticon senyum).
