kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Hari Ibu dan Perjuangan Perempuan Indonesia

“Peran Ibu memang sangat universal, namun sering diabaikan terutama dalam membentuk generasi.”


Oleh Puan Seruni

Sampai saat ini, setiap peringatan hari Ibu di bulan Desember, yang terngiang di benak saya adalah mengenang hari besar di mana perempuan-perempuan cerdas Indonesia zaman pergerakan dulu berkumpul dalam Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta tahun 1928, membicarakan dan berusaha membuat terobosan agar perempuan mendapatkan hak-hak yang lebih baik sebagai manusia. Informasi dari TVRI dan majalah Kartini yang saya dapat kala itu begitu melekat dalam ingatan. Saya membayangkan perempuan yang ada di perkumpulan itu adalah perempuan-perempuan yang isi kepalanya melampaui zaman di mana mereka hidup. Dalam sistem dan kondisi zaman yang sulit di masa penjajahan dan kebodohan masih menyelimuti bangsa kita, mereka sudah kritis membicarakan hal-hal yang masih sangat tabu saat itu.

Perlahan entah dengan alasan apa, kemudian peringatan hari Ibu lebih dibuat praktis, hanya mengarah pada sosok dan jasa Ibu semata. Tak banyak lagi orang menilik sejarah lahirnya hari Ibu. Tak ada lagi semangat memaknai hari Ibu dengan upaya serius meningkatkan kesejahteraan kaum Ibu dari kemiskinan, rendahnya pendidikan, gizi buruk, ancaman kematian Ibu dan bayi serta hal lain yang masih mengenaskan untuk diterima di zaman yang semakin modern ini.

Belum lagi kemudian bermunculan semacam komentar kontra dan pelarangan, terutama dari kalangan pemuka agama. Beberapa di antaranya bahkan mengharamkan mengucapkan Selamat Hari Ibu, dengan alasan tidak ada diajarkan dalam agama. Saya hanya bisa merasakan keterenyuhan yang mendalam saat mendengarkan. Sedemikian kerdilnya kah arti ucapan dimaknai dibandingkan upaya mengenang bahkan membantu melanjutkan perjuangan pergerakan perempuan Indonesia di masa itu? Lantas kalau pun diharamkan, atau bahkan diganti, apa selanjutnya bisa merubah fakta yang ada, bahwa setelah Kongres Perempuan Pertama itu, perempuan Indonesia terus berjuang melakukan progresnya, mewujudkan pencapaian kesamaan hak dalam segala bidang?

Terlepas dari adanya upaya pemelintiran oleh rezim tertentu dalam catatan sejarah bangsa, hendaknya tidak diikuti dengan keengganan menilas kembali jejak sejarah yang ada dari setiap peringatan hari besar bangsa ini.
Memang, peringatan hari Ibu di masa saya masih sekolah tentu belumlah segembar-gembor saat ini. Tak ada ritual pemberian bunga atau pembuatan puisi kepada sosok ibu. Meski tanpa itu pun Ibu sudah menjelma menjadi puisi abadi. Tak ada upacara atau acara khusus yang digelar. Hari Ibu adalah hari biasa, seperti halnya kehadiran Ibu dalam hidup kita. Setiap hari selalu ada. Peran Ibu memang sangat universal, namun sering diabaikan terutama dalam membentuk generasi.

Saat memutuskan menikah, seorang perempuan sudah memiliki tanggung jawab sebagai calon pembentuk generasi bangsa. Tingkat kualitas generasi yang diharapkan tentu tidak akan tercapai jika tingkat pendidikan, asupan gizi, kematangan usia dan wawasan calon Ibu tersebut tidak memadai. Sayangnya, hal itulah yang masih kita hadapi saat ini. Bahkan sering kita tutupi sebagai permasalahan pelik di bawah alasan syariat agama, atau aturan adat istiadat yang mengikat.

Itu sebabnya perjuangan mewujudkan kesetaraan hak perempuan di segala bidang dalam lingkup bermasyarakat masih terus berlanjut. Dulu kaum Ibu melakukan pergerakan karena ingin mempersatukan seluruh suku bangsa di Nusantara, untuk perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia.

Tercatat dalam sejarah, di mulai sejak 1912, yang terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan Indonesia di abad ke-19, di antaranya: RA. Kartini, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, dan Nyai Ahmad Dahlan, Kongres Perempuan Indonesia pertama tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta pun di adakan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan. Selain itu, mereka juga ingin menjunjung eksistensi perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, hingga penghapusan pernikahan anak perempuan dan lain sebagainya.

Adapun yang bertindak sebagai inisiator kongres tercatat 7 organisasi perempuan yaitu: Wanita Utomo, Wanita Taman Siswa, Putri Indonesia, Aisjiah, Jong Islameten Bond bagian Wanita, Wanita Katolik dan Jong Java bagian Wanita.

Tujuan dari diadakannya Kongres Perempuan tersebut adalah :

  1. Menjadi pertalian antar organisasi perempuan Indonesia.

  2. Membicarakan kewajiban, kepentingan dan kemajuaan perempuan Indonesia.

Acara pembukaan Kongres Perempuan Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928 malam dihadiri oleh 1000 orang, yang terdiri dari perwakilan 30 organisasi perempuan, 21 organisasi laki-laki, utusan-utusan pemerintah dan pers.

Tercatat hasil Kongres Perempuan Indonesia yang pertama ini antara lain :

  1. Mendirikan badan permufakatan bernama “Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI)”

  2. Menggalang studiefonds (beasiswa) bagi anak-anak perempuan yang kesulitan menanggung biaya sekolah.

  3. Memperkuat pendidikan Kepanduan Putri

  4. Mencegah perkawinan anak dengan membuat propaganda tentang buruknya perkawinan anak serta mekakukan lobi kepada Pamong Praja.

  5. Mengirimkan mosi kepada pemerintah agar fonds bagi janda dan anak yatim segera diputuskan, agar onderstand tidak dicabut dan agar sekolah perempuan diperbanyak.

  6. Mengirimkan mosi kepada raad agama agar memperketat aturan perceraian.

(Bahan tulisan bersumber dari Museum Pergerakan Wanita Indonesia dan Buku Peringatan 30 Tahun Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia 22 Des 1928 – 22 Des 1958)

Kemudian Kongres Perempuan II digelar pada Juli 1935. Sepuluh tahun setelah kongres pertama diadakan. Dalam kongres ini dibentuk Badan Pemberantasan Buta Huruf (BPBH) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh perempuan di perusahaan batik. Lalu, melalui kongres kedua ini pula dicetuskan usulan peringatan hari Ibu dan pada tahun 1959, Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden No. 316 menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Poin-poin yang diperjuangkan kaum Ibu pada masa itu masih sangat relevan adanya dengan perkembangan saat ini. Meskipun sangat disyukuri sejumlah hal yang diperjuangkan sudah sedemikian dinikmati oleh banyak kaum Ibu dan perempuan sekarang. Namun perjuangan belum selesai, tantangan yang dihadapi semakin besar seiring dinamika perkembangan zaman dan kemajuan sains, informasi dan teknologi.

Mengutip tulisan Musdah Mulia, Ia mengatakan, karena rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan literasi yang dihadapkan dengan tantangan semakin canggihnya teknologi digital melahirkan situasi di mana kaum Ibu mudah terpapar ideologi fundamentalisme agama dan informasi yang menyesatkan dalam bentuk hoax dan fitnah. Kondisi politik yang menonjolkan aspek SARA juga berimbas bagi perpecahan kaum Ibu. Selain itu, menguatnya radikalisme agama di Indonesia berimbas pada munculnya perda-perda yang berujung pada diskriminasi perempuan dengan alasan agama, maraknya praktik pernikahan anak perempuan, perdagangan perempuan dan anak dengan berbagai alasan, praktik sunat perempuan, poligami dan berbagai upaya domestifikasi perempuan. Belum lagi persoalan perempuan sebagai buruh dan pekerja migran yang rentan terhadap eksploitasi karena minimnya payung hukum untuk mereka.

Terakhir, tapi tidak kurang pentingnya adalah belum membaiknya kondisi kesehatan reproduksi dengan melihat Angka Kematian Ibu yang masih mencemaskan, program KB yang masih tertatih-tatih, kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang tak kunjung berkurang, hingga persoalan lingkungan dan ancaman kesehatan akibat kerusakan alam yang semakin mengkhawatirkan, semakin menamah derita kaum Ibu dan anak.

Semoga dengan adanya perayaan hari Ibu dari tahun ke tahun, bangsa ini semakin memperhatikan kaum Perempuan dan Ibu sebagai kunci utama pembangunan peradaban dan kemanusiaan.

Selamat Hari Ibu, terkhusus bagi seluruh Perempuan Indonesia.**


Baca juga serial tulisan tentang Rohana Kudus;

Rohana Kudus, Perempuan Pelopor dari Ranah Minang

Rohana Kudus, Perempuan Pelopor Jurnalisme dari Ranah Minang

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai