kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Kabar Buruk itu Bernama Keadilan

“Apa-apa yang di luar kendalimu selalu memberi sesuatu yang sulit diduga.”


Oleh Ziyad Ahfi

Siang ini langit Jogja mendung, selang beberapa lama kemudian gerombolan hujan datang menyerang. Padahal tepat sekitar lima atau enam menit yang lalu, panas masih terasa menyengat sampai ke ubun-ubun kepala, bahkan emak-emak samping rumah, baru saja menggoreng ikan di atas pengggorengan tanpa kompor. Coba bayangkan, sepanas apa siang tadi sebelum hujan turun sampai-sampai emak-emak kelewat konyol menggoreng ikan asin di halaman rumah?

Namun apa boleh buat, alam berkehendak lain, dalam keadaan apapun, kita harus bersiap menerima segala maksud yang berada di luar kendali makhluk. Mungkin itu yang disebut sebagian orang sebagai hukum alam, kehendak Tuhan dan segala penyebutan keyakinan lainnya.

Baca juga : Cerita Blehe dan Pak Ustad

Kunyalakan sebatang rokok. Kusiapkan secangkir minuman hangat, lalu duduk santai di depan balkon rumah sembari memandangi hujan yang masih membasahi seantero kolong langit. Membayangkannya masuk ke sela-sela terdalam pepohonan, barangkali dalam pikiran pohon: “Aku sangat menikmati ini, terasa seperti es jeruk. Terima kasih, ya, Tuhan.”

Sungguh aneh bila kusebut pohon mampu bicara. Apalagi mengigau tentang air hujan rasa es jeruk. Itu hanya imajinasiku saja. Jangan dilebih-lebihkan. Tumbuhan tak mungkin berkomunikasi melalui kata-kata (kecuali di film-film kartun Indosiar minggu pagi), seperti manusia, yang memiliki realita fiksi sehingga membuatnya mampu mengkomunikasikan segala yang ia bayangkan ke sesamanya secara fleksibel.

Tapi tunggu dulu. Sebentar. Bagaimana mungkin manusia sebegitu arogannya menganggap pohon tak butuh minum? Sedang manusia, tak seorang pun, yang mampu menahan keringnya tenggorokan selama kehidupan berlangsung? Mungkin hanya manusia yang tak pernah memelihara tumbuhan saja yang membiarkan bunga-bunga di teras rumahnya menguning layu tanpa pernah bertanya mengapa ia tak tumbuh hijau abadi.

BMKG boleh menakar mengenai ramalan cuaca, bertindak seperti dukun alam, tapi mereka takkan pernah sanggup memastikan apa pun, bahwa peristiwa alam benar-benar mampu mereka kendalikan. Tentu, mereka bukan avatar pengendali seluruh elemen jagad raya. Apalagi memelihara hewan gendut terbang dengan tanda panah biru di kepala. Kecuali mereka dilahirkan dari sentuhan sayap malaikat. Atau titisan Sun-Go-Kong yang berkelana untuk mencari kitab suci dari gua para dewa.

Lalu apa yang adil bagi manusia?

Saat hujan turun, hewan-hewan berhenti beraktifitas. Anjing-anjing pensiun menggonggong. Kucing mencari tempat yang aman. Burung-burung singgah ke reranting yang teduh. Seluruh makhluk, termasuk manusia, berhenti berharap lain selain menunggu tibanya sentuhan hangat matahari.

Seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Permenungan demi permenungan kulalui. Mencari apa yang sebenarnya dianggap adil bagi orang-orang, wabilkhusus bagi diriku sendiri.

Dulu aku masih terlampau egois dalam berpikir dan berharap. Saat panas menyengat, aku selalu mengeluh menginginkan hujan segera tiba. Bahkan, secara memaksa, aku meminta Tuhan harus menengok dan wajib mengabulkan permintaan hambaNya yang sedang terzolimi oleh suasana yang panas-gerah ini.

Begitu pun sebaliknya. Saat langit menggelap. Lebih-lebih di luar sana ada kepentingan yang ingin kukerjakan, deras hujan menyerbu tanpa pamit. Lengkap sudah penderitaan.

Akhirnya kusalahkan keadaan, hampir tiap peristiwa yang di luar kendaliku, secara spontan kuanggap sebagai tragedi yang melahirkan bencana baru.

Di tengah situasi yang dilematis itu, muncul pertanyaan dalam benak kecilku: “Apakah aku sudah benar-benar adil sejak dalam pikiran?”

Setelah kusadari, segala yang kuharapkan, panjatkan, inginkan, dengan terlampau egois sehingga kelewat pongah sampai melupakan kepentingan sesamaku (makhluk hidup). Aku mungkin akan bahagia dan secara sepihak merasa alam membelaku dengan menjatuhkan hujan agar kebutuhan akan suasana sejuk terpenuhi. Tapi apakah di sisi lain, semua makhluk, terkhusus manusia, juga sama-sama menginginkan hujan?

Bagaimana dengan pedagang kaki lima? Orang-orang yang sedang dikejar kepentingan kerja? Penjaja cangcimen (kacang kuaci permen)? Tukang becak? Mereka yang menggendong anak sambil menawarkan koran di persimpangan jalan? Mereka yang mencari sesuap nasi dari genjrengan gitar?

Mengapa pikiranku sesempit Aqua gelas? Hingga melupakan saudaraku di luar sana yang tidak mengharap demikian hanya karena ke-egoisanku sendiri?

Apakah aku sudah benar-benar adil dalam berkeinginan?

Sebaliknya. Kendati hujan mereda, dan kemauanku terpenuhi, apakah cukup sampai di situ?

Ternyata tidak. Perkara tidak semudah senja menghilang berganti magrib. Bagaimana nasib mereka yang mencari seribu-duaribu dari pengharapan ojek payung? Petani yang sawahnya kekeringan sehingga tidak bisa digarap untuk menanam padi? Mereka yang berpuisi di Instastory?

Ah, serba salah. Pikiranku kemana-mana. Hatiku guncang. Lalu apa yang seharusnya kulakukan dari segala peristiwa yang di luar kendaliku ini?

Begitulah ritme hidup berjalan. Apa-apa yang di luar kendalimu selalu memberi sesuatu yang sulit diduga. Dan kita, terpaksa menerima segala kemungkinan itu. Walau menerima kenyataan tak seindah mulut penyair merangkai kisah, tapi ia musti dihadapi. Dan doaku? Apakah didengar?

Baca juga : [Cerpen] Lelaki yang Menerka Gerimis

Sesuatu yang didengar, dimengerti, tidak mesti harus disetujui. Dan aku, terlampau songong sampai menganggap apa-apa yang baik hanya datang dari diriku seorang. Siapa tahu, apa yang kuanggap baik, belum tentu juga baik untuk sesama. Dan apa-apa yang kuanggap buruk, belum tentu juga buruk buat semua.

Di tengah situasi seperti itu, aku terpaksa tunduk dan merendah pada segala yang berada di luar kendaliku. Dan kabar buruknya, itulah keadilan. Kita telah dipaksa untuk terpaksa menikmatinya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai