“Bila sumber bahagia kamu adalah penilaian orang lain, bahagiamu rapuh.”
Oleh Taqiya Herman
Angin sepoi di jembatan Pyeongchang sore ini bertiup syahdu. Disertai dedaunan pohon maple yang dengan semangat berguguran menandakan musim gugur telah tiba. Anak rambut yang berterbangan membuatku kesusahan mencari siluet tubuh orang yang berjanji akan kutemui setelah tour konsernya yang tak sempat kudatangi dua hari yang lalu.
“Sudah lama menunggu?”
Aku menoleh. Tampaklah Suho berdiri dengan tubuh berbalut topi ubur-ubur dan mantel raksasa. Cukup untuk menghangatkan tubuh jangkung seorang Kim Jun-myeon. Ah, mengapa jadi mantelnya yang dibahas?
“Aku memintamu kemari karena tak melihatmu duduk di tempat yang disediakan kemarin, kemana saja kau?” tanyanya sambil mengerutkan dahi.
“Mianhaee, Oppa. Kurasai belakangan ini tubuhku sering sakit dan terasa lemah. Itu kambuh kembali di hari ketika konsermu digelar,” jawabku.
Memang akhir-akhir ini kesehatanku menurun. Rambutku banyak yang rontok dan kurasai tubuhku sulit mencerna makanan. Mungkin ini efek diet ketat yang kulakukan setengah tahun terakhir.
Lalu ditatapnya aku dengan pandangan seksama. “Aniaya apa yang ditimpakan kepadamu hingga kau kurus begini? Apa yang kau lakukan dengan tubuhmu?” selidik Suho.
Aku merengut. Tersinggung. Seburuk apa aku hingga ditanyai seperti itu?
“Jangan berlebihan begitu. Aku hanya sedikit melakukan perubahan agar menjadi cantik,” jawabku sekenanya.
Suho tertawa. Kali ini mendekati ejekan. “Apa yang kau maksudkan dengan cantik?” tudingnya. “Apa dengan badan yang begini kurus, mata yang sayu, dan disertai dengan tubuh yang sakit sakitan?”
“Diamlah. Berhenti mengataiku,” protesku. “Kau berkata seperti itu karena tak tahu rasanya dikatai gendut.”
“Bila sumber bahagia kamu adalah penilaian orang lain, bahagiamu rapuh.” Ia menatapku sengit. “Kalau bukan kau yang mencintai dirimu sendiri lalu siapa?” tanyanya lagi.
Aku mengerjap bodoh. Mencoba mencerna apa yang dikatakan pria tampan yang telah kuanggap seperti Abang sendiri itu. Kemudian dengan tangannya, ditariknya aku agar mendekat kepelukannya. Seketika hawa hangat menjalari tubuh kurusku yang hampir beku karena kedinginan.
“Maafkan sekiranya ucapanku agak kasar. Namun kau tahu? Sungguh tak ada sesuatu kekurangan pun yang kulihat dalam dirimu,” suaranya mulai terdengar lunak.
“Kau tahu?” Ia kembali mengulang pertanyaan yang sama. “Kenyataannya cantik dan keanggunan wajah seseorang juga pada akhirnya akan pudar. Maka tak ada manfaat kau menyiksa diri dengan keras begitu. Makanlah apa yang ingin kau makan. Dan hiduplah dengan bahagia. Gadis paling cantik adalah mereka yang melihat dan mencintai dirinya dengan apa adanya…”
Aku menangis. Tersadarkan akan kebodohan sendiri.
“Heh, jangan menangis. Aku tak suka melihat kau lemah begini!” Suho menepuk pundakku. Memintaku diam.
“Dan, kau tahu?” Ia lagi-lagi mengajukan pertanyaan yang sama. “Salah satu kehindahan yang bisa kulihat adalah sorot matamu yang bersinar saat menatap ke arahku.”

