kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Secangkir Kopi untuk Hidup yang Terburu-buru

“Waktu seakan menekan punggung kita di dalam ruang yang semakin menyempit.”


Oleh Ardi Masti

Jika saya tak lagi menyeruput kopi sampai nanti malam, ini lah segelas kopi penutup untuk tahun ini. Siang ini ada perasaan yang tidak enak pada teman atau abang, atau teman ngopi di dunia maya, yang sering saya panggil suhu atau guru, meski ia selalu menolak untuk dipanggil demikian.

Disebut atau tidak, diangkat atau tidak, saya berupaya menempatkan diri sebagai murid dan menjadikan semua adalah sekolah tempat belajar semua hal.

Saya punya utang kepada guru ini, yaitu setoran tulisan. Tentu suatu kegembiraan bagi saya ketika saya diminta untuk menyetor tulisan. Bersamaan dengan itu nyali saya langsung ciut. Apa yang harus saya tulis untuk disetorkan?

Seminggu yang lalu. Setoran saya tersebut hampir tertunaikan jika saja saya tidak iseng membuka whatsapp ketika jam tidur mulai terbentang. Baru mau membuka laptop, tiba-tiba ada undangan ngopi dari seorang sahabat di padepokannya. Pulang pun hampir subuh. Setoran tertunggak lagi.

Saya segera meminta maaf kepada guru tadi. Bahwa saya belum bisa menuntaskan janji karena sebuah godaan s̶e̶t̶a̶n̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶t̶e̶r̶k̶u̶t̶u̶k̶ undangan ngopi. Guru memaafkan dengan berkata, “tidak perlu buru-buru dalam menulis.” Nah, kata-kata itu malah membuat saya lengah lagi. Sampai suatu ketika saya ditagih lagi di kolom komentar status facebooknya.

Saya katakan, menjelang akhir tahun naskah tulisan akan saya setor. Guru mengatakan, “akan saya tunggu.”

Siang ini, cuaca terik, selera makan hilang. Saya mulai menyeduh kopi. Sambil mencari ide apa yang mesti saya tulis. Tiba-tiba, prajurit kecil yang sedang liburan ini menggoda saya untuk makan mi instan. Siapa yang sanggup menolak panggilan mi instan?

Usai makan mi, kopi yang semakin nikmat tinggal separuh. Ide belum jua muncul. Namun janji harus ditunaikan.

Saya mulai ambil posisi di meja tempat saya menyibukkan diri menjelang akhir tahun ini, membuat program-program penjualan bisnis pulsa saya di Sakti Network. Lalu membuka jendela agar udara dari luar dapat menambah sejuk suasana. Laptop pun mulai saya nyalakan. Untuk sementara tidak akan membuka file rencana penjualan yang belum rampung.

Saya kembali berpikir. Apa yang mesti saya tulis? Tiba-tiba saya teringat cerpen Sirajatunda yang ditulis Nukila Amal. Saya baca lagi cerpen itu. Mana tahu saya mendapat ide atau minimal menemukan sebab-sebab saya selalu menunda untuk menyetorkan tulisan yang diminta.

Belum setengah jalan, cuaca terik mulai meredup, mulai digantikan rintik lalu hujan lebat. Saya menutup jendela untuk menghalangi tempias yang masuk. Saya lihat gelas kopi, menyisakan beberapa kali teguk lagi. Alamakkk…

Saya berusaha tidak akan menambah kopi sampai catatan ini saya selesaikan. Dengan segala maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin ini lah yang bisa saya setor. Seringkali komitmen itu malah menjadi beban yang teramat berat untuk dipenuhi. Waktu seakan menekan punggung kita di dalam ruang yang semakin menyempit. Meskipun hanya menghasilkan tulisan yang tak berisi, dan menyisakan ampas bersamaan dengan tegukan terakhir pada secangkir kopi di penghujung tahun 2019 ini. Barangkali demikianlah hidup, bila dihadapkan dengan tugas-tugas kita sebagai manusia, ia seolah-olah saling berkejar-kejaran di dalam ruang dan lintasan waktu, yang celakanya selalu saja kita dapati sebagai sebentuk keterburu-buruan yang tak usai-usai.

Dari Ujung Batu, Rokan Hulu, Provinsi Riau, saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2020 untuk segala hal baik.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai