kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Tahun Baru yang (Tak) Ajaib

“Ada dua cara untuk menjalani hidup Anda. Satu adalah seolah-olah tidak ada keajaiban. Yang lain seolah-olah semuanya adalah keajaiban.” — Albert Einstein.


Oleh Puan Seruni

Sebagai kanak-kanak yang polos, saya dulu suka berfantasi bahwa setiap menyambut momen tahun baru, berarti ada perubahan ajaib yang akan terjadi untuk dijalani di tahun berikutnya. Ajaib itu dalam benak saya seperti berada di negeri dongeng. Selain bermimpi akan merasakan hujan salju, saya juga berharap bisa mencecap manisnya permen yang berjatuhan dari langit. Saya bisa melihat peri atau bidadari, diajak terbang dan main perosotan di lengkungan pelangi. Tidak harus ke sekolah tiap hari dan tidak dimarahi bila waktu mandi atau makan tiba, karena saya tetap memilih bermain.

Tapi, setelah melihat keramaian perayaan malam tahun baru di televisi, tepuk tangan dan sorak sorai, hitung mundur serta indahnya kembang api, dan kemudian terbangun di tanggal 1 Januari dengan kondisi yang sama, saya mendapati kenyataan bahwa ternyata hanya tahun saja yang berganti. Hari-hari tetap sama. Waktu tetap berjalan 24 jam. Hujan yang turun tetap air biasa. Saya tak jua berjumpa peri atau bidadari. Saya masih harus sekolah dan mengerjakan PR. Tetap kena marah juga. Lucunya setiap jelang tahun baru, impian saya kala itu tidak berubah. Selalu berharap setelah jam 12 malam ada keajaiban yang datang, seperti sihir ibu peri kepada Cinderella.

Hingga bertahun kemudian saya sampai di titik menganggap pergantian tahun seperti pergantian hari biasa. Meskipun terkadang keluarga dan teman mengadakan acara semacam barbeque. Saya hanya sekadar datang menghadiri untuk makan-makan saja, tanpa menghabiskan waktu sampai larut malam. Kebahagiaan menyambut tahun baru hanya kesenangan kecil dan pendek. Apalagi kemudian Bapak saya berpulang tepat di 1 Januari 2012. Momen pergantian tahun baru tak lebih menjadi mengenang kepergian Bapak.

Dunia Fantasi vs Dunia Nyinyir

Namun sejak beberapa tahun belakangan ada banyak peristiwa yang tak biasa, kemudian menjadi ritual yang biasa, yang kemudian menjadi menarik diamati setiap momen tahun baru tiba. Yaitu luapan nyinyir yang bersahut-sahutan. Baik itu di dunia nyata, maupun di jagad maya, di berbagai ranah media sosial dan grup-grup chatting. Semuanya saling beradu kenyinyiran. Entah dengan postingan sendiri, maupun dibagikan dari postingan orang lain. Tulisan ini pun sebenarnya nyinyir juga. Meskipun dalam KBBI arti “nyinyir” itu sebenarnya adalah mengulang-ulang perintah atau cerewet. Saya memilih mengabaikan pengertian tersebut dan menggunakan pengertian yang kaprah saja.

Ritual nyinyir ini, saya amati siklusnya selalu berulang. Seperti pada setiap hari besar keagamaan atau peringatan hari besar nasional yang terdaftar di kalender Masehi. Maka di “kalender bacot” orang Indonesia pun demikian pula.

Dimulai dari bulan Januari, ada perdebatan soal perayaan tahun baru yang itu-itu saja. Disusul pada saat perayaan Imlek. Pada bulan Februari ada hari Valentine. Kemudian di bulan April ada April Mop dan Hari Kartini (bacotin soal kiprah dan penolakan pengkultusan RA Kartini dengan jasa-jasanya serta membandingkan pencapaian yang diraih dengan pahlawan wanita lain pada masanya).

Lanjut di bulan Mei ada MayDay. Sepanjang Juli sampai Agustus sepertinya menunggu momen insidental, seperti kabut asap, isu ekologis dan upaya penanganan karhutla. Lanjut di bulan September ramai-ramai membahas soal PKI, paham komunis, aliran kiri, sesat, pengkhianat, segala macam intrik sejarah. Sampai pada bulan Oktober di hari kesaktian Pancasila. November dengan rain-nya, ada banjir yang mengancam.

Dan memasuki Desember, selain persoalan hujan, banjir dan kondisi cuaca yang ekstrim, juga ada momen hari Ibu yang dianggap haram. Lanjut ke persoalan pengucapan Selamat Natal yang tidak ada habis-habisnya diperdebatkan. Menjalar ke perayaan Tahun Baru sampai menyoal kalender Masehi ataukah Hijriyah yang layak digunakan. Bahkan sampai mempermasalahkan perihal resolusi.

Soal resolusi ini, lucunya pihak yang suka membicarakan dan membuat resolusi, menulis banyak hal tentang resolusi di postingan mereka. Tidak hanya mengatakan pentingnya memiliki arah dan tujuan hidup, tapi mulai menyindir pihak yang tidak sepaham atau sebodo amat dengan resolusi.

Di pihak yang sebodo amat dan tidak suka membuat resolusi, juga tak mau kalah. Posting tulisan bahkan disertai dalil menjalani hidup dengan ikhtiar, ikhlas dan nrimo, kemudian balas menyindir orang-orang yang sibuk membuat resolusi, tapi tidak ada yang tercapai, sambil memamerkan hasil atau pencapaian mereka tanpa sibuk resolusi-resolusian di media sosial.

Duh, kalian ini menambah daftar even nyinyir saja. Mbok ya kalo ribut itu yang berkelas dikit napah? Soal harta warisan, kek. Rebutan kekuasaan, kek. Ini malah ribut soal resolusi. Lagian dulu tahun baru tanpa membicarakan resolusi juga hal yang biasa saja. Kenapa tidak memilih bersyukur saja sebanyak-banyaknya?

Karena bisa mengalami pergantian tahun yang ke sekian dalam kondisi sehat, mau pake kalender Masehi atau Hijriyah, pada hakikatnya kita masih dikasih kesempatan untuk hidup oleh Tuhan. Dan perbanyaklah refleksi diri. Jangan melulu ribut membicarakan kekurangan orang lain. Tuh, kan malah saya yang nyinyir.

Saya seringkali bertanya-tanya, “apakah kehidupan ini sudah semakin tidak relevan lagi?” Harus dengan standar yang bagaimanakah agar kita semua bisa bertemu pada satu titik untuk bersama-sama bisa menikmati hidup ini dengan ceria, meskipun itu dijalani dengan perbedaan-perbedaan?

Monggo dipilih. Dengan pilihan sudut pandang dan jalan hidup model apapun, tetaplah berbahagia. Silahkan berbeda pendapat, tapi jangan memaksa orang untuk sependapat. Boleh berdebat, namun harus tahu titik di mana harus “sepakat untuk tidak bersepakat”. “Intinya,” seperti kata Dai Sejuta Umat, Alm. KH Zainuddin MZ, “adalah pengendalian diri.”

Semoga di tahun yang baru ini semua doa dan segala harapan baik diberikan kelapangan dan kemudahan jalan untuk mewujudkannya, baik dengan cara yang ajaib ataupun tidak.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai