Mantra
Bermula kata yang memantul pulang,
Jari jemari mulai mengidung mantra
Saling menjabat bersama angin dan sepi
Desaulah kendaraan penghantar
Embusnya menggelitik hati
Ada yang bergeming ditingkap sepi di bawah kerlip gemintang
“Mampus kau dikoyak-koyak sepi” (*Chairil Anwar)
Racau penyair yang mati muda itu menikam jiwa
Ada yang hilang!
Turut desau angin
Ada yang kembali!
Membebat dada jiwa
Jangan jatuh
Sekali terkapar hati menggelepar
Jangan buta
Bila membuta, arah tuju tak lagi nyata
Sesatlah jiwa-jiwa
Biar jemari, mulut dan hati merapal mantra
: pengasih, pengingat dan penenang
Ingatlah!
Perpisahan dan jarak tak ‘kan membunuh
Sepi dan rindulah pemati jiwa
Ly, Tangerang 23 Februari 2017
Aku, Kau dan Sepi
Kutemukan senja di pelupuk mata
berhias noktah abu-abu
yang semula biru
Siapa itu?
Kaukah lagi?
Mengintip di balik rinai setajam duri
Dari mana kau datang?
Malam yang ganjil atau retakan cermin?
Siapa yang berkunjung tadi siang?
Hatimukah?
Atau rindu dendam yang terpendam
Biarkan aku
aku hanya sedang bercengkrama dengan sepi
tidak dengan mati
aku hanya seperti sedang mati
Biarkan aku
biarkan jiwa bersembunyi dan
berkarib dengan sepi
Ly, Tangerang 2011
Puisi di Secangkir Kopi
Antara hening dan malam,
senyap menggaduh di nadi
paling alir
Secangkir kopi yang ada
tak mampu disesap
dicecap
Hanya mampu menghidu
aroma yang mengepul
lesap
Di bibir yang menampung sedu
urung membuka celah
kelu
Hening, malam dan denyut nadi
puisi tak pernah
mati
Ly, Tangerang 09 Juni 2019
Hening yang Sembunyi
Merunduk, ia
dalam ruang paling dalam
dalam sejarah paling kelam
menutup diri
Asyik mematut hati, berlari
meresapi sepi paling senyap
dan kehilangan kata-kata
terpenjara noktah
bermain-main dengan kenang dan genangan
Apa yang dicari?
jangan lagi sembunyi
tak perlu lagi berlari
cukupkanlah segala lara
kemas rapat dalam dada
Sebab hidup akan mati
akan kembali
tak ‘kan abadi
Ly, The Last Ramadhan 04 Juni 2019
Kita: Fana
Seperti jarum detik yang patah
dan kehilangan detak
terbengkalai
terlupakan
menjadi
bangkai
Pun kita, para makhluk fana. Nanti
pada masanya, di mana
kehilangan
adalah
niscaya
Zahir diri serupa cangkang
yang ditinggalkan isi,
melompong
kosong
Sunyilah
kawan sejati dalam dada bumi
kita lelap, dalam himpitan dan gelap
ataukah, dalam kelapangan dan terang
Entahlah!
Jejak-jejak
pembasuh diri di fana
adakah, menjadi cahaya terang atau pelama hisab?
Ly, Tangerang 2018
___________

Puisi-puisi ini terdapat dalam buku Kumpulan Puisi Sha Ly Dekap 2910. Sha Ly yang bernama lengkap Foe Sha Ly alias Selly Handayani Prawira adalah seorang penyair yang lahir dan tinggal di Tangerang. Buku puisi Dekap 2910 juga bisa dipesan di toko buku online Filokopi 5758 CP. Puan Seruni
