“Di tengah situasi sulit sekali pun, orang akan mempertaruhkan prinsip demi mempertahankan kehidupan.”
Oleh Ziyad Ahfi
Saya mau mengajak klean-klean semua pesimis menjalani hidup yang perlu berak ini dengan sedikit mengangkat jari tengah sambil berandai-andai tentang dunia esok yang penuh fuck you.
Ukuran jari tengah klean tak lebih dari setebal titit lumba-lumba di tepian sungai Amazon yang ukuran dan kerasnya kurang lebih hampir-hampir mirip sebongkah isi kepala Donal Trump kalau lagi ngambek.

Dunia tempat berbagai keanehan ini, sayangnya, hanya disinggahi sekali saja oleh seekor hewan, sebatang pohon dan seorang manusia, lalu mati di bagian dunia yang entah di sudut mana dan tak meninggalkan apa-apa selain kenangan yang tak bisa disentuh kuntilanak sekalipun.
Mungkin ada yang berharap mati dalam kondisi sujud, namun keadaan memaksanya mesti mati dalam posisi salto. Ada yang berharap hari esok dapat memenangkan giveaway tunangan bersama Anya Geraldin, namun realitas menuntunnya menikahi seorang gadis yang jauh dari gelar selebgram.
Lalu mengapa harapan kadang tak seindah senja saus tomat anak indie merangkai kalimat?
Sebab memahami dunia tak semudah tafsir-tafsir senja berganti magrib, pagi menjelang siang, cinta beralih benci, benci menjelma rindu. Ada suatu cara konyol yang mungkin kurang diminati oleh motivator-motivator perusahaan atau guru-guru dadakan (senior ngibul) di sebuah organisasi yang pura-pura militan, yaitu apa yang disebut Dea Anugrah sebagai: “Pesimisme”.
Tentu penggemar garis terlampau keras Soekarno (Soekarnois) akan berorasi dan mendadak menjadi haters tulisan ini dengan mengawali ketikannya berupa kalimat: “Bermimpilah setinggi langit. Sehingga ketika kau jatuh, kau akan terjatuh di antara bintang-bintang”. Kemudian disuguhi metafor pemanis seperti: “Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia. Berikan aku sepuluh orang tua, maka akan kucabut Semeru dari akarnya”.
Kalau membaca kalimat barusan, bisa-bisa bulu jembut seekor simpanse dibuat merinding tujuh musim oleh getaran fiksinya. Namun apa boleh buat, harapan mesti digantungkan pada hal-hal utopis. Ia mesti abstrak. Berserak di atas senyum bocah cilik bermain menimbun rumahan-rumahan pasir di pinggir pantai. Dan keyakinan, menjadi semacam tempat bersandar dari bayang-bayang ketidakmungkinan itu. Supaya manusia benar-benar jernih dalam membuka mata di tengah dunia yang suka sia-sia menghamburkan uang untuk membeli rudal ketimbang mensedekahinya kepada manusia yang tidur beralas kardus indomie, yang kebutuhan seharinya saja mungkin tak senilai bila dibanding dengan harga sepatu kudanya Lord Prabowo.
Lalu apa itu pesimisme yang dimaksud Dea? Mengapa tawaran hidup pesimistis lebih indah ketimbang optimistis ala senior ngibul?
Dalam sebuah wawancaranya bersama Kumparan, Dea Anugrah, seorang manusia setengah dukun berkebangsaan Jin sekaligus juga merupakan penyihir yang datang dari lubang hitam (black hole) alam semesta, memaknai pesimisme itu dengan “bukan berarti kita membayangkan masa depan yang serba gelap” (pada intinya sangat berbeda dengan terjemahan KBBI). Artinya, justru mengajak kita lebih siap ketika apa-apa yang kita bayangkan mengenai yang “ideal” itu tidak terwujud.
Misal, bayangan tentang perang dunia ketiga yang sedang heboh diperhelatan dunia media sosial (apakah di dunia tuyul juga begitu? Coba tanyakan langsung ke yang bersangkutan). Potensi terjadinya perang telah mencemaskan sebagian kepala orang dewasa atas keberlangsungan perikehidupan. Bayang-bayang Harta, Tahta, Keluarga, semua berkumpul di kantong kepala seukuran plastik indomaret itu.
Tapi, bila hidup ini dimaknai sampai ke titik radikal, maka kita sebetulnya memerlukan hidup yang pesimistis. Mengapa?
Di tengah situasi sulit sekali pun, orang akan mempertaruhkan prinsip demi mempertahankan kehidupan. Sewaktu-waktu prinsip ditekan oleh situasi mencekam, di mana optimisme diuji sedemikian kuat hingga akhirnya pilihan jatuh pada ketidakberdayaan. Sejak itulah pesimisme masuk. Merenggangkan kembali naluri hidup. Macam orang-orang galau didera gejala patah hati namun pulih kembali akibat menyadari bahwa hidup akan sia-sia bila menggantungkan harapan sebesar-besarnya pada hal yang bersifat sementara. Seperti apa yang dikatakan Boril dalam salah satu lagunya “Tak ada yang abadi…. Tak ada yang abadi…. Tak ada yang abadi….” (Ikutan nyanyi).
“Perang dunia akan meledak beberapa waktu lagi,” kata temanmu di sebuah Burjo sewaktu kalian menghibur diri setelah mendengar kabar kematian Jendral Qasem Solemaini.
Tapi, karena kau seorang penganut pesimistis, kau akan menjawab, “Hahahahaha. Ternyata hidupku yang cuma numpang berak ini bisa sampai 20 tahun juga, ya, sebelum bang Donal Trumpet menghancurkan segalanya.”
Saat saya membayangkan hari esok masih dapat duduk di pelataran kedai kopi serta mendengar musik-musik klasik tahun 90-an, tahu-tahu isi dompet tidak menunjukkan selembar kertas pun. Tapi, karena saya bersikap pesimistik, cendol depan gang pun ibarat sekumpulan air sorga yang sengaja dijatuhkan secara cuma-cuma oleh Tuhan. Dan hidup tetap begitu indah, walau hanya cendol yang kau punya.
Sebagaimana Tuan Chairil Anwar panjatkan dalam suatu syair-nya jikalau “Hidup hanya menunda kekalahan”. Sebab pada akhirnya kita akan menyerah pada kematian. Dan hidup pesimistis, adalah hidup yang realistis. Menyadari apa yang mampu kau kendalikan dan apa yang tidak mampu kau kendalikan. Sehingga kau benar-benar menjalani segalanya sebagaimana ikan yang dilempar ke kolam, kemudian dipancing kembali secara tiba-tiba. Tanpa kau sadari. Tanpa kau ketahui. Kecuali sungguh-sungguh kau selidiki.
Sekian. Jangan lupa ngibul hari ini.
Note: Judul di atas adalah plesetan dari judul esai Dea Anugrah “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya”.
