“Orang yang menonton dengan orang yang turun langsung itu pasti berbeda.”
Sekitar setengah dari 50 ribu ekor koala yang bebas penyakit di Pulau Kanguru, Australia, diperkirakan mati akibat kebakaran hutan dan lahan. Demikian menurut berita yang saya baca seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia yang bisa kalian baca di sini.
Ih, kasihan yaa gaess. Hewan lucu itu mati. Dasar manusia! Gak bisa menjaga habitat mereka. 😭😭

Begini, nih, orang jika hanya mementingkan individunya saja, tapi enggak mau mementingkan sekitarnya. Padahal menjaga alam itu juga menjaga keberlangsungan hidup manusia juga. Aneh.
Masih menurut berita di CNN, “Sekitar 50 persen (populasi) mati. Sebagian ada yang luka. Habitat mereka hangus terbakar, dan kemungkinan koala itu menghadapi kelaparan dalam beberapa pekan,” kata perwakilan Taman Margasatwa Pulau Kanguru, Sam Mitchell, seperti dilansir AFP, selasa (7/1).
Oke, baru-baru ini kita mendengar adanya tindakan yang sangat terpuji karena ada sebagian masyarakat yang berjuang untuk menolong koala itu dari kematian akibat kebakaran hutan dan lahan. Dan sebaliknya ada banyak juga yang hanya mengkritik, tapi tidak melakukan apa-apa selain duduk-diam-bacot sambil menonton televisi saja.
Ibanya hati kita. Rasa iba itu membuat kita tergerak pengen menolong makhluk hidup yang lucu itu. Tapi bagaimana caranya? Apakah justru dengan kehadiran kita malah menjadi masalah baru? Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu selain hanya sekedar iba? Orang yang menonton dengan orang yang turun langsung itu pasti berbeda. Atau minimal kita bisa melakukan sesuatu?
Untuk saat ini, saya minimal berusaha menuliskan penderitaan koala tersebut di sini agar kita semua menyadari bahaya besar yang tengah menimpa koala dan habitat lainnya karena ulah manusia.
“Kebakaran ini membuat populasi koala terancam,” kata peneliti Universitas Adelaide, Jessica Fabijan. Menurut Fabijan, kebakaran lahan di New South Wales dan daerah Gippsland, Victoria yang juga menjadi habitat koala diperkirakan menewaskan banyak satwa tersebut.
Apalagi para dokter hewan dilarang memindahkan koala di Pulau Kanguru untuk diselamatkan atau diobati karena mereka masih bebas dari wabah chlamydia, dan diwajibkan membantunya di lokasi.
Duh. Sedih sekali.. 😭😭
Menonton dan membaca semua peristiwa itu hanya membuat kita “menikmati” gregetnya, akan tetapi yang ditonton itu (para relawan yang berjuang) mendapatkan sensasi dan rasa empati yang luar biasa gimana rasanya bertarung di tengah situasi tersebut.
Dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari kita apa?
Gini, Gaess…
Kita jangan pernah menghina dan menjatuhkan orang yang sedang mencoba, mau berusaha, sebab mereka sudah berjuang, terlepas dari apapun hasilnya. Daripada hanya berdiam diri tapi tidak melakukan apa-apa. Coba lihat diri kita. Ngobrol dan berdebat tentang sebuah pemberitaan boleh-boleh saja, tapi coba ambil sesuatu di dalamnya yang membuat kita bisa berargumen di berita itu dan juga menumbuhkan rasa empati atas setiap peristiwa tersebut. Syukur-syukur bisa membantu secara nyata. Sekian.
#savekoala #saveourplanet #prayforaustralia ✊✊✊
Rizki Maulana Ramadhan adalah mahasiswa Universitas Islam Indonesia, jurusan PAI, semester II. Berasal dari Tanjung Uban, Kepulauan Riau.
