kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Banyak yang Cinta Damai, Tapi Perang Semakin Ramai

“Yang kutahu, dunia tak akan pernah bersatu. Tapi, aku tetap percaya orang baik masih tersisa.”


Oleh Ziyad Ahfi

Ketika terjaga siang tadi, saya bergegas menuju balkon, lalu duduk di atas kursi. Diam sebentar. Lalu memikirkan tentang rentetan peristiwa yang barusan saja terjadi.

Sejujurnya, saya tidak begitu percaya tafsir mimpi Sigmund Freud. Tapi, untuk kali ini saya ingin sekali percaya. Setidaknya untuk memahami, apakah benar mimpi itu adalah keinginan yang terpendam?

Setelah dipikir-pikir lagi, dari semua mimpi yang pernah saya alami, hanya segelintir saja mimpi yang benar-benar terekam jelas setelah saya terbangun. Dan itu pun tidak berlangsung lama. Hanya beberapa hari saja. Kemudian hilang ditelan kenangan.

Dalam mimpi barusan ada satu percakapan menarik antara saya dan seorang ibu-ibu (seorang perempuan yang belum pernah saya temui sebelumnya). Seingat saya, pertemuan itu berada di pinggir sungai yang mengalir tenang di sebuah negara bernama New Zealand.

Percakapan kami tidak begitu panjang. Kami hanya saling berbagi kisah yang patut dikenang. Dan untuk dibawa pulang.

Di pertemuan yang singkat tadi, pembicaraan didominasi oleh ibu itu. Sedang saya mendengar dan bertanya hikmat sembari berusaha memahami dengan bijak. Sebab tiap yang keluar dari mulutnya, tidak sekadar masuk di telinga, melainkan menancap berkali-kali di ulu hati. Bagai palu yang menghantam paku sampai ke titik terdalam kayu. Begitu lengah, kau bisa patah, terbelah.

“Nak, berapa umurmu?” tanyanya.

“20 tahun, Bu,” jawabku.

“Ooh baru 20 tahun di dunia, ya. Apa yang sudah kau dapat dan kau beri untuk kehidupan yang penuh sandiwara ini?”

Saya sedikit bingung. Kalimat “baru 20 tahun di dunia” ini membuat saya hampir terkejut. Seolah-olah 20 tahun adalah angka yang tidak berarti apa-apa bagi sekelas ibu-ibu aneh paruh baya ini.

Kemudian saya menjawab:

“Tidak ada, Bu. Saya cuma menjalani apa-apa yang sudah ada. Saya ikuti sesuai perintah orang tua. Perintah guru. Perintah orang yang saya anggap benar.”

Ibu itu tersenyum sambil menahan diri. Saya berupaya menyesuaikan. Pura-pura ikut tersenyum supaya susana tidak tampak tegang dan mengambang.

“Kau percaya dunia ini bisa dipersatukan oleh sesuatu? Atau apakah kau percaya, dari kepala kecilmu itu ada suatu ide besar yang mengantarkan dunia ke depan pintu gerbang perdamaian?” lanjutnya lagi.

“Aku pernah berpikir seperti itu. Tapi kurasa pikiran itu tak mungkin dapat tercapai. Terlebih kita semua tahu, belum ada seorang manusia pun yang mampu bertindak demikian.”

“Tapi, kemarin anakku, James, sewaktu kami sedang bermain bersama, Ia menceritakan kepadaku tentang dunia yang dihuni oleh sekelompok penjahat. Dan penjahat itu berusaha melakukan penyerangan besar-besaran di muka bumi. Mengguncang sebagian besar kota secara sistematis menggunakan peralatan canggih yang dirancang sendiri oleh kelompok mereka.”

“Penyerangan karena alasan apa itu?” tanyaku serius.

“Penyerangan karena kepercayaan mereka bahwa bumi ini bisa bersatu bila kelompok mereka yang mengendalikan semuanya.”

“Menarik! Coba lanjutkan cerita anakmu.”

“Katanya (kata anakku), tiba-tiba, di tengah situasi yang gawat itu, seorang manusia super berkekuatan dua kali lipat gunung Everest datang menghadang rencana jahat mereka.”

“Tunggu sebentar. Bukannya sekelompok penjahat itu ingin menguasai bumi atas dasar percaya kalau mereka yang mengendalikan bumi maka dunia ini bisa bersatu? Bukannya itu adalah itikad baik? Bukan itikad buruk?”

“Iya, benar. Itu semacam itikad baik, tapi tampak luarnya saja, kata anakku. Aku juga menanyai hal yang sama sepertimu, waktu itu (waktu sedang mendengar anakku berkisah).”

Kisah semakin menegangkan. Ibu itu menyuruhku meminum segelas teh yang sudah hampir dingin di depan kami. Lalu kami meminumnya pelan dan meneruskan kembali kisah yang masih penuh tanda tanya ini.

“Lalu, bagaimana kelanjutannya?” terusku menyuruhnya (sambil memaksa) melanjutkan, “siapa manusia super yang disebut anakmu itu?”

“Manusia super itu bernama Ibu, katanya (kata anakku).”

“Mengapa anakmu mengatakan Ibu?”

“Sebab, katanya, belum ada manusia di muka bumi ini, yang benar-benar mencintaiku di atas cintanya Ibu kepadaku.”

“Apakah kau goyah? Setelah mendengar ungkapan bocah itu?”

“Belum. Ia masih melanjutkan cerita. Katanya lagi, di luar sana, orang-orang tidak begitu tulus. Semuanya nampak bersandar pada keraguan. Untuk berbagi saja, mereka mesti membawa kepentingan dulu sebelum bagi-membagi direncanakan.”

“Seperti apa itu?”

“Seperti lapangan bola. Dulu anakku memiliki lapangan tempat bermain bersama teman-temannya. Lapangan itu tepat berjarak sekitar 40 meter dari rumah kami. Tiap menjelang petang, biasanya mereka bermain sepak bola. Mengayuh sepeda. Berlarian. Mengatur strategi tembak-tembakan. Tapi, setelah Ia dan teman-temannya melihat lapangan itu didatangi oleh sekelompok orang pembawa alat berat, mereka mencurigai kegiatan tersebut.”

“Kemudian apa yang mereka bayangkan?”

“Mereka bertanya kepadaku, untuk apa alat berat itu ada di sana? Secara terpaksa kujawab, alat berat itu untuk membangun gedung-gedung besar, yang nantinya akan ditinggali oleh saudara-saudaramu yang dulu pernah kita temui di persimpangan jalan yang tertidur beralas kardus lantaran tidak memiliki rumah layak. Apakah kau bersedia James? Tempat bermainmu diberi kepada saudaramu yang membutuhkan? Tanyaku padanya saat tak ada lagi alasan yang bisa kukatakan.”

Dan James, meng-iyakan perkataan Ibunya. Itulah kebohongan terberat seorang Ibu. Walau anaknya tahu kalau Ia sedang berbohong.

Kisah selesai. Ditutup di atas khayalan seorang bocah yang baru hidup sejengkal nafas kuda jalanan Malioboro. Ibu itu tersenyum sekaligus bersedih sembari bercerita mengenai keadaan dunia yang semakin ke sini semakin menjajah kehidupan anak-anaknya.

“Dunia sudah tak lagi membicarkan bumi bulat atau datar, melainkan berlomba-lomba menciptakan rudal, senjata perang, alat berat, teknologi penghancur, walau mereka sudah sama-sama sepakat bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Lagi-lagi, semua diciptakan bermula atas nama kehendak baik. Dan di hadapan teknologi canggih itu, ada sebagian makhluk yang sedang terancam perikehidupannya. Dan sudah benar-benar terjadi. Di depan mata kita,” ucap Ibu itu menasehati.

“Apakah dengan begitu dunia tidak akan pernah bersatu, Bu? Apakah modernitas memang sengaja dibangun untuk mengakhiri semua ini? Apakah hanya perang satu-satunya jalan?” tanyaku.

“Entahlah. Yang kutahu, dunia tak akan pernah bersatu. Tapi, aku tetap percaya orang baik masih tersisa. Entah tersisa berapa bagian. Di ujung dunia mana. Dan perang, perang hanya menyisakan luka, di pelupuk mata anak-anak, yang tidak pernah tahu, kongsi-kongsi di bawah kolong meja, jual-beli senjata pembunuh, ancam-mengancam kedaulatan. Sedang mereka hanyalah sekumpulan korban yang tidak pernah ingin terlibat perihal orang dewasa, selain hanya ingin mengerti bagaimana caranya melipat origami, menerbangkan pesawat kertas, bermain di antara ayunan dan hewan, serta berlari di taman hijau bersama kepalanya sendiri.”

Di akhir percakapan, yang saya ingat, kami saling berbagi kue dingin. Kemudian melempar tawa ke arah mana saja. Dan saya terjaga. Kasur tetap baik-baik saja. Pintu kamar tetap berbentuk kayu. Lantai masih sejuk seperti biasa. Saya berjalan ke depan balkon. Duduk, sembari merasakan bahwa dunia benar-benar ada. Dan tetap dengan segala lelucon konyolnya.


Foto: Arquivo

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai