kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Tiga Alasan Bung Karno adalah Sosok Pemimpin yang Ideal (yang Ketiga Bikin Kaget!)

“Ia memerintahkan untuk disiapkan sate 50 tusuk.”


Oleh A. S. Kartik Salokatama

Maha Besar Tuhan yang menciptakan kakus sebagai tempat bertukar antara emas di bokong dengan yang di kepala. Saya berpesan kepada pembaca untuk tidak membaca tulisan ini dengan nada yang terlalu serius. Nanti tidak asyique.

Jika kita berbicara tentang dunia, nampaknya kian hari kian banyak nyawa di dalamnya. Sayangnya tidak terpantau oleh kita calon pemimpin dari penduduk-penduduk baru ini dengan sama banyaknya. Kata ideal juga nampaknya semakin tabu dan kosong bila diucapkan. “Sudahlah, toh, dia pintar/kaya/kuat untuk menjadi presiden.” Kata-kata kepasrahan semacam itu yang akhirnya sering terlontar dari mulut kita yang penuh dengan ketidakberdayaan. Ingat! Ketidakberdayaan bukan berarti kepasrahan. Saya nggak ingin bahas, nanti melebar ke mana-mana.

Di tengah fenomena menangnya seorang bandar bokep dalam pemilihan presiden Amerika, lambat laun manusia itu memang terlihat ideal menjadi pemimpinnya negeri Paman Sam. Kata ideal di sini bukan lagi berarti kesempurnaan, tapi kecocokan. Trump dinilai pantas memimpin negaranya lantaran Amerika memang terkesan sombong, sok berkuasa dan sok ikut campur. Cocok kan presidennya berbentuk seperti itu?

Nampaknya orang Indonesia lupa kalau pernah ada seorang pemimpin yang paling dekat dengan deskripsi ratu adil yang membawa rakyatnya bebas dari tawanan kekuatan bule-bule yang bukannya bersantai di pantai, tapi malah malakin moyang-moyang kita sampai pada mati kelaparan. Bung Karno. Seenggaknya saya sudah mengumpulkan tiga alasan mengapa Bung Karno adalah sosok yang paling ideal sejauh ini untuk memimpin Indonesia.

Bung Karno

Pertama, Bung Karno terlahir dan hidup sejak kecil sebagai pemimpin. Kalau dilihat tulisan ini berbau pengkultusan berlebih terhadap Paduka Jang Mulia. Tapi, kita sering mendengar perdebatan tentang “pemimpin dilahirkan atau dibentuk”. Menurut saya, keduanya menjadi faktor dan alasan kelahiran tidak dapat dikesampingkan bukan? Sering kita dengar bahwa kelahiran Ratu Adil ditandai dengan gunung meletus. Anggap saja kebetulan bahwa Bung Besar lahir tak lama sejak meletusnya gunung Kelud. “Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus. Orang yang percaya kepada tahayul meramalkan, ini adalah penyambutan terhadap bayi Sukarno,” tutur Bung Karno.

Selain itu Bung Karno kecil juga terbiasa menjadi seorang kepala genk. Hal ini membuktikan bahwa ia sudah terbiasa menjadi pemimpin sejak dini. Maka ada baiknya jangan kita diskreditkan kepala-kepala genk bocah kampung, genk motor atau genk-genk lainnya yang berseliweran di lingkungan kita. Tolong jangan! Bisa jadi salah satu di antara mereka adalah calon presiden.

Kedua, Bung Besar mencintai rakyatnya. Berbeda dengan “cinta” yang digaungkan presiden-presiden kebanyakan. Bung Karno mencintai rakyatnya dengan penafsiran kata cinta model apapun. Yang paling ekstrem, bukannya nyaman dan ongkang-ongkang kaki di Istana, beliau malah mengaku tidak kerasan hidup di sana lantaran tidak dapat berinteraksi dengan rakyatnya secara langsung dan mudah.

“Tapi, kan Bung Karno itu antek Soviet? Antek komunis liberalis atheis?!” Menurut saya tidak juga. Mari kita lihat satu persatu. Di dalam negeri, Paduka dengan gagah berani menggaungkan persatuan kaum Nasionalis, Agamis, Komunis (Nasakom). Terlihat tidak masuk akal. Namun bila kita berbalik dan memposisikan diri ke masa itu, tindakan Bung Besar adalah upaya mempersatukan Indonesia dalam satu ideologi demi menyongsong misinya yang masyhur: “Revolusi Belum Selesai”. Walaupun tetap saja terdengar aneh, namun itu tidak lain dan tidak bukan adalah upaya sang Paduka untuk mengademkan situasi politik hari itu (walaupun tidak berjalan sebagaimana mestinya).

Di luar negeri, kemesraan Kusno Sosrodihardjo aka Bung Karno dengan dedengkot-dedengkot komunis macam Nikita (bukan Mirzani) dan Che Guevara tidak ubahnya merupakan hubungan yang dibangun untuk menjaga eksistensi dan kebesaran Indonesia sebagai bangsa dan negara yang berdaulat. Terbukti ketika Soviet enggan memberi bantuan senjata dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia, Bung Besar tak segan untuk berbelok ke Tiongkok. Hal ini memperjelas bahwa Bung Karno adalah sosok yang murni. Cintanya betul-betul cinta dan Indonesianya betul-betul Indonesia.

Ketiga, Bung Besar sebagai manusia yang telah berdamai dengan dirinya plus pemikir, orator dan pengemban amanah yang mantap. Mari kita bahas poinnya satu persatu. Bung Karno terbukti lurus dari segi pikiran, perkataan dan perbuatannya. Garis lurus ini yang membuktikan bahwa beliau merupakan manusia yang telah mengenal dirinya. Hal ini yang membuatnya mudah dikenali. Dikenali bukan diketahui betul.

Tentu mudah untuk menelanjangi pemikiran beliau. Namun untuk membedahnya nampaknya membutuhkan waktu dan sudut pandang yang tidak sedikit. Mengapa? Sebab di balik telanjangnya sosok Putra Sang Fajar, ia juga merupakan seorang yang mantap di setiap sisi kehidupannya.

Pemikirannya tidak main-main. Ia mencetuskan Marhaenisme di kala muda dan konsisten menggaungkan buah pemikirannya hingga akhir kiprahnya. Apakah mudah merawat keutuhan pemikiran di kala muda dan menjalankannya secara konsisten selamanya? Tentu tidak. Berapa banyak aktivis-aktivis di kala muda yang berubah 180 derajat tingkah dan idealismenya kala sudah jadi orang? Belum lagi mahakarya abadinya, yakni Pancasila, yang ia temukan di bawah naungan pohon sukun. Walaupun yang kita temukan di buku-buku pelajaran bahwa Muhammad Yamin lah yang menemukannya, namun semua orang pasti akan teringat Bung Besar saat mendengar kata pancasila. Hal ini membuktikan bahwa pemikirannya tidak lekang dihantaman ombak penyelewengan dan waktu.

Ucapannya. Ucapan Bung Karno yang berapi-api di atas podium betul-betul matang dan mematangkan. Berapa banyak rakyat yang berkobar-kobar semangat kebangsaannya saat disulut api dari lidah sang Proklamator? Beliau khatam dan menguasai betul pemikirannya sehingga dapat ia tuangkan dengan mudah menjadi tulisan dan ucapan secara gamblang.

Selain itu beliau juga ahlinya bicara. Bagaimana tidak? Ia mengkritik cara berbicara gurunya Haji Oemar Said yang menurutnya kaku dan tidak bernyawa. Ia juga tidak pernah memberikan narasi-narasi pembelaan kampungan model “Jakarta tidak banjir, hanya tergenang”. Ia malah dengan gagah berani menyuarakan “Amerika kita setrika! Inggris kita linggis! Ganyang Malaysia!” Bahasa mudahnya, jika ia bicara A maka artinya A bukannya Z.

Tindakannya. Tindakan Bung Karno juga selalu mencirikannya sebagai pemimpin yang khas. Saat pertama dilantik sebagai presiden, perintah pertamanya bukan meminta investasi Cina untuk pembangunan ibukota atau lain sebagainya. Ia memerintahkan untuk disiapkan sate 50 tusuk. Indonesia sekali bukan? Belum lagi laku lampah politiknya yang mempersatukan bangsa-bangsa Asia-Afrika, perhelatan GANEFO dan langkah beraninya untuk keluar dari PBB. Hal ini yang membuat saya terkagum-kagum dengan kemerdekaan laku lampah beliau. Merdeka bukan berarti suka-suka, tapi bertanggung jawab dengan pilihannya sekecil apapun.

Mungkin ini sedikit yang saya pikirkan tentang Bung Karno. Bagaimanapun, Bung Karno jelas bukan antek asing, aseng, acong, atong dan andi lau. Ia juga jelas merupakan salah satu kekayaan terbesar yang pernah Indonesia miliki. Kekaguman saya terhadap beliau boleh jadi karena kurangnya minat saya membaca pemikiran Sjahrir atau Gie. Tapi, saya yakin beliau-beliau ini tak ubahnya sosok-sosok Bung Karno di saat muda yang penuh dengan daya kritis dan keberanian.

Terakhir, izinkan saya menutup tulisan yang maha kurang ini dengan sebuah pantun.

Ada titik, ada koma
Jangan menulis di atas batu
Saya Kartik Salokatama
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.


Kartik Salokatama adalah Mahasiswa UIN Jakarta jurusan Tarjamah. Abang Buku Jakarta Selatan tahun 2019.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai