kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Wawancara Bersama Sha Ly

Ruang Kongkow kali ini memuat catatan wawancara Puan Seruni dengan Sha Ly, penyair asal Tangerang.

Sehari Bersama Sha Ly

Sha Ly

Satu dari beberapa orang yang ingin saya, Puan Seruni, jumpai untuk bersemuka saat plesiran ke Jakarta adalah Mbak Sha Ly. Perempuan penyair yang bermastautin di Tangerang ini, tidak begitu lama saya kenal namanya. Berawal dari grup haiku lucu-lucuan, Haiki Lituli yang dibuat beberapa rekan sastrawan di Facebook, kami pun saling mengenal melalui tulisan-tulisan.

Ternyata saya kembali menemukan tulisan-tulisan beliau dalam bentuk puisi dan foto di ruang Instagram. Setelah mengikuti akun beliau. Gayung pun bersambut dengan obrolan. Kemudian berlanjut berteman di Facebook beberapa hari kemudian. Saya juga baru tahu beliau sudah berteman lebih dulu dengan Founder Kopi Travel Blog, Herman Attaqi dan juga beberapa teman penjual buku dan penyair lainnya.

Kami memutuskan berjumpa di Taman Ismail Marzuki. Pertemuan yang menyenangkan itu pun terjadi meski kemudian bingung mencari tempat yang nyaman buat ngobrol. Akhirnya kami memutuskan menepi sejenak di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Di situ obrolan mulai mengalir meski tanpa kopi.

Beliau memiliki nama asli Foe Sha Ly, akan tetapi di akta tertulis Selly Handayani Prawira.

“Zaman dulu orang Tionghoa harus memiliki dua nama. Katanya agar memudahkan untuk mengurus surat-surat apalah gitu.” Jelas Mba Sha Ly terkait namanya yang dua versi ini.

Banyak hal yang dituturkan mengenai pengalamannya. Bagaimana kisah ketertarikan pada sastra dan proses kreativitasnya, pencarian keyakinan hidup hingga menemukan hidayah dan memutuskan memeluk agama Islam sebagai keyakinan hidup.

“Semua berawal dari hobi saya membaca” kata perempuan kelahiran Tangerang tanggal 29 Oktober ini.

Hobi membaca segala jenis bacaan membuat ruang imajiner dan wawasan manusia menjadi luas dan berkembang. Setidaknya hal itulah yang dirasakan Mbak Shelly, demikian saya lebih senang memanggilnya.

“Saya orangnya suka menyendiri dan buku adalah teman terbaik saya.” Ujarnya.

Kebiasaan membaca di atas genteng, kemudian menulis di buku harian pada akhirnya membawanya ke arah kreativitas baru, yaitu menulis puisi. Hobi yang kemudian membuatnya tercatat sebagai penyair perempuan dan aktif di berbagai kegiatan literasi dan sastra di wilayah Tangerang, Banten dan DKI Jakarta.

Bersama Sutardji Calzoum Bachri

Ia pun sering tampil membacakan puisi dalam even sastra, termasuk di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Saya menilai perempuan ini keren. Tak hanya menjalankan perannya dengan baik sebagai ibu rumah tangga, menjadi sahabat bagi suami dan anak-anaknya, serta mendapatkan dukungan penuh untuk hobi dan kiprahnya dalam memberikan manfaat atas ilmunya pada kegiatan literasi dan sastra. Berkumpul dengan para sastrawan memberi banyak nilai lebih dari sekedar silaturahim, ujarnya lagi.

Baca juga: Puisi-Puisi Sha Ly

Masa Muda dan Pencarian Diri

Ketika berbicara mengenai masa muda dan proses menemukan jati diri dan keyakinan, Mbak Sha Ly menuturkan bahwa prosesnya seperti menempuh jalan sunyi. Ia tidak tahu akan berbicara kepada siapa untuk menuturkan kegelisahannya waktu itu.

Ia lahir dan menjalani masa kecil di keluarga Tionghoa. Ia ingat bagaimana masa kecilnya beribadah ke gereja. Proses pencarian itu dimulai saat masa menjelang remaja. Ia pun beralih mencoba rutin ke Vihara. Hingga sampai di titik ia hampir seperti seorang yang “Atheis”, tak ada semangat untuk beribadah meski di hatinya tetap meyakini adanya Tuhan.

“Pada masa-masa itulah sebagian besar waktu saya habiskan di atas genteng dan di toko buku. Sampai akhirnya saya menemukan buku Buya Hamka di sebuah rak buku. Dan bukunya tentang Islam itu seakan mampu menjawab dan meyakinkan saya untuk mengakhiri pencarian keyakinan selama ini.”

Tulisan Buya Hamka dalam buku tersebut dirasakan Mbak Sha Ly begitu mudah dipahami, sehingga pembahasan tentang Islam jadi begitu mudah diserap. Setelah melewati proses yang panjang, akhirnya Mbak Sha Ly memantapkan bersyahadat di pesantren Darul Ulum Tangerang pada Oktober 2000.

“Sebagai anak perempuan satu-satunya, apa tidak mendapat tentangan dari orangtua Mbak?” Tanya saya kemudian.

Mbak Sha Ly bersyukur kedua orangtuanya memberikan dukungan dengan catatan Ia harus bertanggung jawab terhadap konsekwensi pilihan keyakinannya itu. Sikap tegas dan disiplin khas orang Tionghoa yang diajarkan orangtua semakin meneguhkan langkahnya untuk menjadi seorang muslimah.

Sha Ly dan pencarian diri

Hubungan, terutama, dengan Ibunda tetap dekat dan akrab. Apalagi sebagai anak perempuan satu-satunya. Hubungan baik itu tetap berlangsung sampai Ibunda dan Ayahanda tercinta berpulang.

Last but not least..

Tak terasa seharian saya dan Mbak Sha Ly menghabiskan waktu bersama, mengunjungi beberapa tempat, sampai kemudian berpisah tepat di depan Gedung Arsip dan Perpustakaan yang keliru kami datangi, kami saling mendoakan agar suatu hari nanti bisa bertemu kembali. Tak lupa juga terimakasih saya atas hadiah buku-bukunya, terutama kumpulan puisi Dekap 2910 yang semakin saya pahami maknanya lebih dalam setelah mengetahui perjalanan spiritual yang telah ditempuh oleh Mba Sha Ly sebagai penulisnya.

Bagian akhir ini so suit banget lucunya kalo dikenang. Tapi biarlah hanya saya, Mbak Sha Ly dan Tuhan yang tahu. Eh, dan security juga.

Sha Ly dan Puan Seruni

Author : Puan Seruni
Photos : Courtesy of Sha Ly

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai