kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Keraton Agung Sejagat, Bersatulah!

“Percakapan antar warga negara tidak dibatasi oleh sentimen, melainkan argumen.”


Oleh Ziyad Ahfi

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat (KAS) ditangkap? Ada apa? Mengapa mereka ditangkap? Bagaimana seorang Raja dan Ratu bisa ditangkap? Bahkan ditangkap polisi? Bukannya mereka adalah kerajaan terkuat sejagat raya? yang menguasai seru sekalian alam? Penguasa United Nation? Pemilik sah Pentagon? Dan seluruh kekuasaan di langit dan di bumi ada dalam kuasa mereka?

Imperium Suci Purworejo

Setelah mengetahui berita akhir-akhir ini, sedikitpun tidak membuat berak saya tersendat. Kentut saya malas keluar. Pipis saya ngambek. Alhamdulillah, masih lancar-lancar saja. Sebab kerajaan yang mengaku sebagai penguasa sah jagat raya ini ternyata belum sekuat Republik milik saya, yaitu Republik Rebahan.

Belakangan, setelah saya ketahui, menurut info dari Menteri Luar Negri Republik Rebahan, Saudara Rizki Dwiki atau yang akrab disapa Menlu Pice, katanya: “Sebelum mereka ingin membentangkan kekuasaan, mereka terlebih dahulu mendeklarasikan kemerdekaan, kemudian baru akan memikirkan rapat penentuan struktur pemerintahan, besar wilayah, dan menghitung jumlah rakyat. Apabila semuanya sudah rampung, negara pertama yang akan mereka mintai dukungan dan pengakuan adalah Negara Kesatuan Republik Rebahan.”

Tentu, saya sebagai penguasa Republik Rebahan, bersama Presiden Avatar dan Wakil Presiden Ultraman, tidak ujug-ujug memberikan dukungan diplomatik. Kami perlu mencari tahu lebih dulu motif kerajaan sejagat ini apa, bagaimana cara mereka berkembang sehingga memiliki pengikut sampai sekitar 150-an orang. Apa faktor sejarahnya? Apa efek sosialnya? Dan apa bukti-buktinya?

Setelah menelusuri lebih dalam dengan mengumpulkan berbagai ahli sejarah, politik, ekonomi terkemuka di negara kami, dan setelah mengkaji secara radikal, melalui permenungan yang panjang dan mendalam, kami menemukan satu titik kunci ke-halu-an Kerajaan Agung Sejagat yang belum pernah klean sadari sebelum-sebelumnya.

Dengan melakukan riset akademis yang kuat, tinjauan pustaka yang bertingkat-tingkat, hingga disiplin ilmu yang ketat, kami berkesimpulan bahwa: Kerajaan ini bukan kerajaan kaleng-kaleng. Mengapa?

Sinuhun Totok in Action

Pertama, mereka mengaku sebagai kerajaan yang muncul untuk mewujudkan perjanjian 500 tahun lalu, yang dibuat melalui sebuah perjanjian bersejarah, yaitu antara Kerajaan Majapahit dan Portugis. Perjanjian itu, katanya, dibuat di masa runtuhnya masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada tahun 1518. Padahal, berdasarkan catatan sejarah, Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478. Kaleng-Kaleng, bukan?

Kedua, menurut asumsi mereka, berakhirnya perjanjian 500 tahun lalu itu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai dengan 2018. Dan dengan berakhirnya perjanjian tersebut, berakhir pula dominasi kekuasaan Barat untuk mengontrol dunia yang sekarang didominasi oleh Amerika Serikat. Maka dari itu, mereka menginginkan kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemilik asalnya, yaitu Keraton Agung Sejagat selaku penerus Trah Besar Kerajaan Majapahit. WAW. Ngeri-ngeri sedap.

Kalau Lord Donal Trumpet mengetahui ini, mungkin Bang Donal cuma cengar-cengir sambil nyantai di teras gedung putih dan mengintruksikan menteri pertahanannya meluncurkan satu rudal penghancur untuk mengoyak-ngoyak celana dalem sang Raja. Dan untungnya lagi, Bro Kim Jong Un belum mengetahui ini. Kalau tahu, mungkin ada dua rudal yang meluncur di atas genteng istana kerajaan mereka yang masih berumur sepanjang rambut Bro Kim.

Tapi yang lebih menarik dari itu semua, kok ada yang mau jadi pengikutnya? Bahkan sampai 150-an orang. Apakah ini yang dinamakan halu berjamaah?

El Commandante Pasukan Elit KAS

Saya tidak habis pikir. Kecenderungan mempercayai sesuatu tanpa ditimbang-timbang ini masih membudaya di era yang sudah mulai menemukan bukti-bukti ilmiah dari kebingungan alam raya yang selama berabad-abad belum terjawab. Bahkan di Tiongkok, mereka sedang menggarap suatu penemuan baru, yaitu bulan buatan, yang mampu menerangi sampai sepanjang 80 km. Memiliki cahaya delapan kali lebih terang dari bulan asli. Beberapa negara sedang mempersiapkan kehidupan di planet lain. Tapi, tidak dengan Endonesia, perdebatan celana cingkrang dan jenggot masih seksi untuk dibahas. Apalagi mobil Esemka. Ah, sudahlah. Mending rebahan saja.

Apakah kawan-kawan sekalian masih ingat dengan Lia Eden? Mantan perangkai bunga asal Jakarta? Yang mengaku bahwa ia telah bertemu sosok Jibril dan mengangkatnya sebagai reinkarnasi Bunda Maria, yang kemudian mempunyai misi untuk menyelamatkan orang di Hari Kiamat? Lucunya, ia mempunyai 100-an pengikut setia. Dan yang paling buat saya geleng-geleng kepala, ia pernah mengirim surat kepada Presiden Jokowi untuk memberikan izin pendaratan UFO di Monas.

Setelah membaca berita ini, saya langsung spontan dalam hati bergumam, “Semoga yang nerima surat itu Bang Ali Ngabalin, bukan Pak Presiden.”

Apakah kawan-kawan juga teringat dengan sosok Sensen Komara? Yang punya 4 ribu pengikut? Setelah pengakuannya mendapat wahyu dari Tuhan lewat mimpi? Lalu, dalam ajarannya tersebut, ia mengubah syahadat dengan mengganti nama Nabi Muhammad dengan namanya sendiri?

Sungguh lelucon yang menggelikan. Empat ribu pengikut? Itu bukan jumlah yang sedikit. Setidaknya jumlah sebanyak itu sudah bisa memenangkan Pilkades. Setidak-tidaknya kursi ketua RT nggak kemana.

Ada juga Ahmad Musadeq. Yang mengaku sebagai nabi baru sekaligus pendiri Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Ia memiliki jumlah pengikut lebih dari 55.000 orang. Dan karena hal itu, menjadikannya sebagai salah satu nabi paling populer di Indonesia. Udah cocok jadi cover majalah Forbes belum? Kira-kira nanti judulnya begini: “10 Nabi Terpopuler di Dunia”. Udah geli belum? Kalo Mas Anang, sih, YES.

Nahasnya, di antara semua raja-ratu, nabi-nabi serta malaikat-malaikat itu, semuanya berakhir di tangan kepolisian. Coba bayangkan, Cuma di Indonesia seorang raja bisa diinterogasi polisi. Cuma di Indonesia nabi bisa ditangkap polisi. Bahkan Cuma di Indonesia malaikat bisa dipenjara. Dan kerennya, didakwa dengan pasal penipuan. Bukan kaleng-kaleng, kan? Bikin merinding bulu ketek gorilla aja, nih.

Menurut Profesor Al Makin dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dari negara tetangga kami, yaitu Endonesia, beliau mengatakan kepada ABC Indonesia, bahwa kemunculan orang-orang yang mengaku nabi seringkali terjadi saat situasi politik dan ekonomi di Indonesia tidak menentu. Dan bila dilihat dari sejarahnya, sudah ada sekitar 600 orang di Indonesia yang mengaku mendapat wahyu sejak zaman penjajahan Belanda. Sebagaimana yang dilansir dari detik dalam artikel Mengapa Selalu Saja Ada Orang yang Mengaku Nabi di Indonesia?

Kalau menurut Profesor Al-Kartik Salokatama dari UIN Planet Mars, salah satu ahli segala bidang ilmu dari negara kami, Negara Republik Rebahan, fenomena ini terjadi akibat dari keadaan negara yang tidak mampu mendistribusikan keadilan, kesejahteraan, serta keamanan bagi warga negaranya. Sehingga masyarakat pergi mencari tempat baru yang mereka anggap mampu memberikan tawaran-tawaran yang tidak negara berikan itu.

Dan beliau juga menyinggung soal tokoh agama yang cenderung terlalu fanatik terhadap suatu dogma, sehingga tidak memberikan peluang berpikir bagi tiap individu. Sebab sedikit-sedikit diberi label radikal-radikul, liberal-liberul, sekular-sekulur. Sebentar-sebentar kafiran-kafirun, syirikan-syirikun. Bangsatan-bangsitun. Goblogan-gobligun.

Seharusnya, di era yang semakin berkembang pesat ini, kita harus terbuka kepada semua nilai dan pemikiran yang ada. Membuka ruang berpikir. Critical Thinking. Percakapan antar warga negara tidak dibatasi oleh sentimen, melainkan argumen. Tidak selesai hanya oleh surga-neraka, pahala-dosa, melainkan oleh pesan-pesan yang argumentatif dan memiliki dampak terhadap suatu kebijakan. Dan negara, harus menyediakan itu. Bukan malah menjadi aktor yang ikut melempar batu lalu pergi sembunyi tangan.

Jika sudah begini, siapa yang mau bertanggung jawab? Negara? Tentu tidak. Negara justru ikut menghakimi. Setidaknya negara mau sadar diri, kalau kemunculan fenomena semacam ini juga adalah buntut dari ketidakmampuan mereka memberikan rasa keadilan, rasa nyaman dan aman.

Memang kemunculan mitos-mitos tidak selamanya buruk. Ada mitos yang berpretensi baik buat menghalau sifat terkeji manusia, yaitu homo homini lupus; manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Namun, bila mitos ini terus-terusan dihayati, individu tidak lagi bercakap-cakap menggunakan akal-budi. Sedangkan, percakapan politik, ekonomi, keadilan, mesti diucapkan dalam bahasa rasional.

Taik emang semua.


Maklumat: Bagi sesiapa saja yang mau bergabung ke Republik Rebahan, sila mendaftar ke saudara Pice Guavara ( @pzuthsman ) dan Kartik Ucon Musollini ( @kartiktama ).

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai