kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Seri 1] Kisah Tragis Pangeran Chrono

“Alice selama ini diam-diam mempelajari ilmu penyegelan.”


Oleh Muhammad Firzan

Pagi yang cerah meliputi sebagian dari planet ini. Semua orang terbangun dari tidurnya dan mulai melakukan aktivitasnya.

Di sebuah kerajaan hiduplah seorang pangeran. Pangeran itu sangat bersemangat karena pagi telah menyambutnya. Ia langsung melangkahkan kaki kecilnya ke dapur kerajaan dan bertanya kepada chef menu apa hari ini? Dengan wajah gembira sang chef menjawab, “hari ini kami memasak pie apple kesukaan Anda yang mulia.”

Seketika wajah sang pangeran langsung menunjukkan ekspresi gembira, lalu ia pergi mengelilingi seluruh kastil dan menyapa semua orang. Semua orang tersenyum bahagia di saat sang pangeran berlari kesenangan bersorak ke sana ke mari. Lalu setelah lelah ia pun pergi ke ruang tahta, tempat raja dan ratu, dan mengatakan kepada Ayah dan Ibunya, “aku akan menjadi raja yang hebat suatu saat nanti.”

Sang Ayah dan Ibundanya dengan bangga mengatakan, “kau benar-benar anak yang hiperaktif, huh?!” Sang Raja memandangnya dengan senyum sambil mengacak-acak rambutnya.

Dua bulan kemudian…

Sang Ratu terkena penyakit langka,dan hanya bisa terbaring di tempat tidurnya. “Ibu…. Ibu kenapa?” tangis pangeran.

Dengan suara yang rintih, Ibunya menjawab, “Ibu baik-baik saja, kok,” sambil mengelus kepala anak semata wayangnya itu.

Sang Raja memeluk mereka berdua, “aku pasti akan menemukan cara mengobatimu dan akan kukembalikan keluarga kita menjadi bahagia lagi.”

Setelah itu, Yang Mulia mulai menyuruh dan mencari secara langsung obat penawar untuk istri tercintanya. Dan sampailah Sang Raja di sebuah desa Astropologi, di mana banyak orang mengatakan di sana memiliki orang-orang yang ahli dalam meramalkan masa depan dan obat-obatan. Sang Raja pun meminta kepada Kepala Desa untuk meramalkan masa depan kerajaannya serta di mana ia bisa mendapatkan obat-obatan. Namun Astropologer itu marah dan menyuruh Raja itu pergi, karena Astropologer itu telah melihat dalam ramalannya bahwa Raja itu adalah orang yang arogan dan dari dia lah awal kehancuran dunia ini.

Raja itu pulang dengan kemarahan yang amat besar. Ia memerintahkan kepada semua pasukannya untuk menghacurkan desa Astropologi tersebut tanpa sepengetahuan istrinya. Tapi di saat itu sang pangeran kecil sudah curiga kepada Ayahnya yang sikapnya tidak seperti biasa. Ia pun diam-diam membuntuti Ayahnya dan pasukannya.

Sesaat setelah itu, pangeran melihat kobaran api dan teriakan di mana-mana. Dengan berani ia menembus kobaran api itu dengan teknik pedangnya dan menebas api itu sehingga terbukalah celah baginya untuk langsung menerobos api itu dengan menunggangi Chariot, kuda kesayangannya.

Sang Pangeran yang masih tidak percaya akan apa yang telah dilakukan oleh Raja yang merupakan ayahandanya sendiri, seorang yang membesarkannya dengan penuh cinta, yang mengajarkannya dengan penuh sabar, untuk memikirkan bahwa Ayahnya akan membantai semua orang di desa itu.

Pangeran itu terus berlari dengan kudanya. Di saat itu dia melihat sebuah tembok dari salah satu rumah akan roboh dan ada seseorang berada di dekat tembok rumah tersebut, ia langsung meloncat dari kudanya dan menggunakan teknik pedangnya yang secepat kilat itu, ia membelah tembok batu itu menjadi berkeping-keping. Seorang gadis yang kaget itu langsung menatap Sang Pangeran dengan wajah yang datar setelah ia melihat siapa yang menyelamatkannya.

Bagaikan seorang pahlawan, pangeran pun langsung mengulurkan tangannya dan bertanya kepada gadis itu, “apakah kau baik-baik saja?”

Gadis tadi langung kaget setelah Sang Pangeran mengulurkan tangannya. Dan ia memintanya untuk ikut bersamanya ke kerajaan, tapi gadis itu tahu bahwa yang menyelamatkannya saat ini adalah musuh dan dalam hatinya ia berkata, “suatu saat akan kubalaskan dendamku.”

Tak lama berselang, Sang Pangeran dan gadis itu sampai di kerajaanya dan langsung menatap benci kepada Ayahnya dan dengan tegas ia mengatakan dalam hatinya, “jika saja Ibu tahu tentang hal ini.”

Gadis tadi itu pun tumbuh bersama Sang Pangeran. Tak lama berselang mereka semakin akrab satu sama lain. Gadis biasa itu diangkat menjadi seorang bangsawan oleh Raja dan perasaan benci tadi perlahan mulai menghilang.

Tiga tahun telah berlalu…

Sang Pangeran remaja tadi sudah berusia 21 tahun. Ia semakin gagah dan tampan. Sang Ratu sudah beristirahat dengan tenang. Dan Raja, seperti biasa memerintah kerajaannya. Dendam sang gadis tiga tahun yang lalu mulai bangkit lagi setelah mendengar kabar bahwa Raja kembali menghancurkan sebuah desa hanya karena tidak membayar pajak. Kenangan buruk di hari di mana desanya dihancurkan mulai terngiang kembali di kepala sang gadis. Ia pun memulai rencananya diam-diam. Gadis itu sudah banyak mempelajari dan memahami berbagai macam sihir dan sudah banyak yang ia kuasai.

Malam sebelum pelantikan Pangeran Chrono…

“Emm, Chrono… Apakah aku baik-baik saja jika aku menjadi ratu…?”

“Tidak apa-apa kok Alice. Aku yakin kau pasti bisa.” Jawab pangeran dengan senyum lebar di pipinya.

Malam itu kamar mereka penuh dengan cinta dan bunga. Sang Pangeran memeluk Alice yang tertidur di sebelahnya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya mengusap rambut Alice dengan lembut dan berbisik ke telinganya, “kuharap kebahagiaan kita ini terus berlanjut.”

Hari itu penuh dengan sorak gembira. Akan tetapi tiba-tiba semua orang dan rakyat yang ada saat itu berubah menjadi mencekam dikarenakan situasi yang sangat tidak masuk akal.

Satu jam yang lalu…

[Pemindahan kekuasaan dari Raja Adrus von d Reinhart kepada Putra Mahkota Chrono von d Reinhart]

Semua agenda di mulai, setelah pelantikan selesai dan Chrono pun resmi menjadi Raja baru pengganti Ayahnya. Namun….

Di saat pelantikan Ratu, Alice, ia mengangkat gaunnya dan mengeluarkan pisau dari dalam gaunnya itu dan langsung menusukkan pisau itu tepat di leher Ayah mertuanya sendiri dan di hadapan suaminya sendiri.

Seketika suasana mencekam. Orang-orang mulai panik dan berteriak. Dan perlahan mulai keluar dari ruangan itu. Saat ini hanya tersisa Chrono, Alice isterinya dan Ayahnya yang sudah terkapar tidak berdaya di lantai itu, yang awalnya berwarna hitam, kini berubah menjadi merah darah.

Chrono yang saat itu hanya terdiam dan dengan tenang dan langsung bertanya kepada istrinya, “kenapa kau lakukan ini Alice?”

Dia hanya terdiam dan tidak menjawab apa-apa. Seketika suasana mulai hening. Tak lama setelah itu Alice mulai bicara, “aku sudah lama menahan ini. Sudah empat tahun aku menahan perasaan ini. Aku yakin tanpa bertanya lagi pun kau sudah paham maksudku kan?”

Chrono pun membalas perkataannya dengan mengatakan, “meskipun begitu, ayo hentikan ini ya, Alice.” Chrono mengulurkan tangannya ke Alice.

Alice menjawab dengan nada meremehkan. Sudah kuduga kau itu orang yang baik. Atau bisa kubilang sangat naif. Chrono tidak menggubris perkataan Alice sedikitpun. Dan ia mengatakan hal yang sama sekali lagi, “kumohon Alice…”

Setelah itu Alice memegang tangan Chrono, lalu menggenggamnya dengan erat dan mulai merafalkan mantra penyegel (Alice selama ini diam-diam mempelajari ilmu penyegelan).

Seketika tubuh Chrono merasakan kesakitan. Dan rantai berwarna merah pun mulai melilit tubuhnya dan menyerapnya kedalam sebuah peti batu. Sekuat tenaga Chrono menahan supaya tidak tertarik oleh rantai itu, “hentikan ini Alice… kumohon… hentikan…” dengan suara merintih kesakitan Sang Raja muda yang malang.

Meskipun ia sedang menahan kesakitan yang luar biasa, tapi ia masih mempedulikan dan memikirkan tentang orang yang ia cintai dan juga rakyatnya.

Alice memperkuat mantranya dan rantai tadi mulai melilit kaki Raja Chrono dan mulutnya, dengan nafas yang terengah-engah ia masih menahannya.

Alice meneriakkan mantra pamungkasnya, “segel!” Ucapnya. Seketika tubuh Chrono sudah tidak kuat lagi menahannya dan masuk ke dalam peti batu itu.

Sebelum peti batu itu menutup sepenuhnya, Chrono mengucapkan, “A… L… I… C… E…” Dan… Bummmm!×*? Suara peti batu menutup dan Sang Raja muda itu pun tidur di dalam segel itu.


Muhammad Firzan adalah siswa kelas 1 Aliyah di Pondok Pesantren Daarun Nahdhoh Thawalib, Bangkinang, Riau.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai