“Segala dasar perbuatan harus disertakan keikhlasan agar dapat berguna bagi diri sendiri dan orang lain.”
Oleh Zidny Maulidio
Alarm menunjukkan pukul 4 pagi, tandanya kami harus memulai hari untuk mengabdi kepada masyarakat desa Pauh Terenja, Muko-Muko, Bengkulu, dalam rangka Praktik Pengabdian Masyarakat.
Praktik Pengabdian Masyarakat atau biasa disingkat PPM ini semacam Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bedanya, kalau PPM dilaksanakan oleh santri kelas 6 (kelas 3 SMA) di pesantren kami, Pondok Pesantren Darunnajah. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa anak-anak pesantren punya pengalaman tahan banting. Jadi, ketika nanti di dunia perkuliahan, kami sudah tidak perlu kaget dengan yang namanya KKN, tugas pengabdian kepada masyarakat, yang katanya tugas penting dari seorang mahasiswa, yakni poin ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kegiatan ini sudah berjalan lama, setiap tahun pasti ada satu daerah tujuan tempat para santri kelas akhir mengimplementasikan nilai-nilai keislamannya. Nilai-nilai yang kami pelajari di pesantren lalu kemudian lebih dipertajam melalui kegiatan ini. Dan di sanalah, kemandirian kami diuji.
Kira-kira, pengabdian kami di sana selama hampir 2 minggu. Walau waktu yang sebentar, namun banyak hal besar yang kami dapatkan.
Apa saja kegiatan kami?
Apa saja nilai yang patut dikenang?
Dan mengapa pengabdian itu sangat diperlukan?
Oke, baik. Saya tidak mau berlarut-larut, saya mau bercerita sedikit mengenai beberapa rentetan peristiwa yang saya alami langsung ketika berada di sana. Banyak hal yang terjadi, sedih, senang, konyol, semuanya bercampur dalam dua rasa, yaitu: kerinduan dan kesetiaan.
Ketika terjaga pukul 4 dini hari, ayam mulai berkokok, saya dan delapan rekan santri yang lain, serta satu guru pembimbing, bersiap kemudian bergegas menuju masjid untuk menegakkan sembahyang subuh. Jarak tempuh kurang lebih 500 meter dari ruko tempat kami tinggal. Kami menempuhnya dengan berjalan kaki sembari merasakan nikmat syahdu embun di pagi hari.
Di awal-awal kami menapakkan kaki di masjid desa, keadaan masjid masih sepi-sepinya. Hanya ada kami, beberapa orang tua, serta angin subuh, yang menunaikan sholat. Apalagi di waktu subuh. Mungkin hanya kami dan Jin yang tegak berdiri di atas karpet masjid itu. Namun hal itu tak menyurutkan perjuangan kami, perlahan satu persatu jamaah berdatangan setelah adanya ajakan dari kami untuk bersama membangun kegiatan peribadatan serta membangun kegiatan-kegiatan sosial. Dan menariknya, setelah saya ketahui, alasan mengapa orang-orang mulai meramaikan masjid kembali adalah: Kalau ada yang memulai.
Ini poin pentingnya. Seperti perkataan di suatu sudut tembok pesantren saya: Seribu langkah dimulai dari satu langkah pertama. Dan perkataan ini benar-benar terwujud. Dari metode sowan ke kepala desa, pemuda, anak-anak, tokoh masyarakat, dan tokoh agama, kami mendapat respon positif. Berawal dari pendekatan yang dalam, setelah itulah masjid kembali ramai sebagai tempat membangun peradaban seperti yang diimpi-impikan.
Setelah subuh hari selesai, biasanya pagi sekitar pukul 7, saya dan rekan-rekan bergegas sambil berbagi tugas untuk mengajar di beberapa balai pendidikan, seperti: PAUD, TK dan SD.

Kebetulan, saya biasa mengajar di SD. Syukur alhamdulillah, warga desa dan guru-guru di sana sangat senang dengan kehadiran kami. Karena kehadiran kami, ada warna baru yang mereka dapat, terlebih pengetahuan di bidang agama. Di kelas itu kami menjalin kedekatan, tiada jarak di antara kami, sebab bagi kami, belajar itu adalah kebahagiaan. Dan suasana kelas harus dibangun atas dasar kebahagiaan. Bahkan saking dekatnya kami dengan murid-murid di sana, kerap kali saya diminta anak-anak itu untuk menemani sekalian mengantarnya pulang ke rumah.
Kemudian, saat jam makan siang tiba, kami berangsur pergi menuju rumah Pak Herman (tuan rumah yang menyediakan kami tempat tinggal). Kami pun makan, lalu berbincang sejenak membicarakan program yang akan dijalankan sambil menyeruput kopi dan beberapa gorengan buat melepas penat. Selanjutnya diteruskan Ishoma (istirahat-sholat-makan).
Tak jauh dari rumah Pak Herman, kami menyediakan taman bacaan. Tempat yang kami buat sendiri agar dapat lebih dekat dengan warga, terkhusus anak-anak. Dari sana (pondok) kami sudah menyiapkan beberapa buku untuk dibawa ke desa. Karena kami tahu, buku adalah jendela dunia. Dan kami, bersama masyarakat, ingin melihat dunia itu dengan hati gembira. Syukurnya, hal itu tercapai, taman baca kami ramai oleh anak-anak. Tak sedikit juga anak muda dan orang dewasa. Di sana kami saling berbagi pengetahuan. Dari berdongeng, belajar menulis, menggambar, serta hal-hal lain yang menyenangkan.
Siang berganti sore, kami lanjut mengajar TPA di masjid. Hampir sama seperti biasanya, kami bertemu anak-anak. Dari sore sampai menjelang magrib. Kalau di TPA, biasanya kami lebih fokuskan kepada pelajaran keagamaan. Karena kesadaran akan pondasi kehidupan. Sebagaimana agama adalah tiang kehidupan.
Semakin hari, semenjak kehadiran kami, anak-anak pun turut berdatangan, dari belajar mengaji iqro, tajwid, bahasa arab, bersolawat, berwudu, solat, azan, dan lain-lain. Sungguh membahagiakan sekali melihat mereka tersenyum.
Setelah itu, saat maghrib tiba, kami bersiap menegakkan sembahyang. Saya yang biasanya bertugas sebagai muazin. Jujur, kalau di pondok, saya belum pernah mencoba menjadi muazin, tapi karena santri itu harus siap dipimpin dan siap memimpin, mau tidak mau saya mesti mencoba.
Dan kagetnya, tiba-tiba, setelah melantunkan azan yang nggak keren-keren amat itu, seorang bapak-bapak di sebelah saya membisiki sesuatu di kuping saya, katanya: “Dik, azanmu udah kayak di Metro-TV aja, hehe.”
Spontan saya pun ikut tertawa. Muka saya memerah. Dan sesekali saya bergumam dalam hati, “Alhamdulillah, jangan-jangan, ini salah dua alasan mengapa masyarakat jadi sering ke
Masjid.” Hahahaha, becanda.
Seperti yang kita semua ketahui, biasanya di kampung-kampung, yang bertugas sebagai muazin pastinya kakek-kakek, mungkin menjadi hal yang tidak biasa bila ada anak muda sebagai muazin. Itulah mengapa bapak tadi merasa tersanjung ada anak muda yang mau.
Magrib berganti isya, isya berlarut malam. Kadang-kadang kegiatan malam kami bersantai bersama tuan rumah, sesekali bersama pemuda desa, tetangga, atau evaluasi sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan kelompok. Tanpa solidaritas, tentu kami bukan apa-apa.
Dan kegiatan terus berlalu sebagaimana mestinya. Hubungan kami dengan warga tidak berjarak. Malahan mereka semakin sering berkunjung ke tempat rehat kami. Kehidupan masjid berangsur ramai. Kajian-kajian keagamaan semakin seru, terlebih dengan kehadiran emak-emak. TPA mulai mendapat suasana kebahagiaan. Begitulah kira-kira perjalanan kami dari awal sampai menuju waktu pengabdian ini berakhir.
Nilai penting yang kami dapat: Kekeluargaan. Kesederhanaan. Kesetiaan. Kemandirian. Itulah yang kami temukan selama berada di sini. Warga desa memang kurang dipandang dan diperhatikan oleh pusat Ibukota, ter-subordinasikan oleh kepentingan kemewahan kota. Tapi, kalau boleh menilai, saya lebih memilih kebahagiaan itu adanya di pedesaan. Kenapa? Sebab di balik kesederhanaan, ada kesetiaan dan kekeluargaan yang mereka punya. Dan hal ini yang sulit ditemukan di perkotaan.
Lalu, hari-hari berjalan sebagaimana mestinya hingga tak terasa sampai pula kami di hari akhir pengabdian yang singkat ini. Sebelum pulang, kami sengaja berkeliling desa untuk menyapa warga sekaligus berbagi salam. Beberapa wajah terlihat haru, menahan sedih lantaran kami hendak pergi angkat kaki dari desa. Beberapa anak-anak, ada yang menangis tersedu-sedan. Bapak-bapak memeluk erat, ibu-ibu mengusap kepala kami.
Dan tibalah saat perpisahan itu, mobil bak Pak Pantoni datang (yang menyediakan kami tumpangan pulang), kepala desa, ibu-ibu, pemuda desa, anak-anak pun turut membantu persiapan kepulangan kami, sambil membantu mengangkut barang-barang.
Dan tibalah masa di mana kami harus mengucapkan “Sampai Jumpa”. Kami pun naik ke mobil dan memegang spanduk “Terima Kasih, Pauh Terenja!”
Lambaian tangan dan isak tangis tak tertahankan dari warga desa. Dan saat itulah kami kembali ke aktivitas masing-masing. Mereka yang mengajar tanpa kami dampingi lagi. Dan kami, yang harus kembali sibuk belajar di pesantren.
Segala dasar perbuatan harus disertakan keikhlasan agar dapat berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Saya pribadi dan kawan-kawan sekalian sangat beruntung dan senang atas pengalaman yang mengesankan ini. Semoga kita dapat selalu memberi dan mengasihi. Salam Perdamaian!

Sampai Jumpa Desa Terenja!
Sampai Bertemu Kembali!
Kalian adalah guru bagi kami!
Zidny Maulidio adalah Santri Pondok Pesantren Darun Najah, Jakarta.
