kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Di Sinilah Kecewa Tumbuh

“Tapi, die belajar langsung ke tempat belajar yang tadak pernah bilang salah dan benar.”


Oleh Muhammad Iqbal

Beberapa waktu lalu, saya diajak oleh seorang senior untuk pergi berkunjung ke Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat untuk melakukan survey mengenai keadaan sosial, ekonomi dan politik yang ada di sana.

Sebenarnya saya agak jengah untuk meng-iyakan apa yang senior saya tawarkan itu. Akan tetapi, karena waktu senggang cukup luas dan keadaan perkuliahan juga masih libur, akhirnya saya iya-kan tawaran tersebut.

Bila dipikir-pikir lagi, ada baiknya juga buat mengisi waktu luang. Dari pada planga-plongo macam si Juki.

Sebagaimana kegiatan survey pada umumnya, kami dibagi atas berberapa lokasi. Dan saya mendapat amanat ditempatkan di Desa Malo Jelayan. Nama yang masih asing betul di telinga saya. Namun apa boleh buat, mau diapakan juga toh ini harus dijalani. Dan mesti seikhlas-ikhlasnya. Agar tiada dusta di antara kita.

Saat hari keberangkatan tiba, saya berboncengan bersama seorang senior. Berangkat menggunakan motor. Menempuh jauhnya perjalanan sambil menikmati syahdunya suasana.

Setelah beberapa lama menempuh perjalanan, akhirnya tibalah kami di pintu desa tersebut, sebagaimana yang saya bayangkan sebelumnya: pasti kami disambut dengan jalan yang menanjak, hancur, dan berliku. Mengingat Kabupaten Bengkayang berada di area perbukitan.

Sesampainya di sana, kami langsung sigap bersemuka dengan penduduk sekitar, membaur. Setelah melewati tahap-tahap pra-wawancara, kami langsung mewawancarai penduduk terpilih sebanyak 10 orang sebagai responden. Ya, hanya 10 orang. Satu per-satu kuesioner kami selesaikan. Rata-rata hanya jawaban sederhana yang kami terima. Antara bagus atau jelek, iya atau tidak, sebagian besar mereka seperti tidak begitu peduli dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Lalu, tibalah kami di rumah salah seorang penduduk, yang usianya masih terbilang muda, kira-kira berusia 30-an. Setelah selesai kami wawancarai, beliau mengajak kami kongkow ngopi-ngopi sembari menikmati sore ala anak desa. Kemudian beliau memulai percakapan: “Sebenarnya kami terlalu muak dengan pemerintah, kami selalu mendapatkan janji tentang desa kami akan dibangun, jalan akan diperbaiki. Akan tetapi hasilnya nol besar saja semua. Saya tetap petani yang begini-begini saja, anak saya masih kesulitan untuk mendapat pendidikan yang layak, bahkan untuk ke jenjang pendidikan tinggi saja, kami masih sangat kurang akses.”

Di tengah percakapan itu, saya mencoba mendengarkan saja dengan hikmat, mengangguk tipis-tipis, dan diam seribu bahasa.

Kemudian beliau melanjutkan lagi percakapannya: “Beruntunglah kalian bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Suka tidak suka, pendidikan sangat penting. Saya begitu menyadarinya, tapi apalah daya kami, uang tak ada, akses apalagi. Saat mereka (pemerintah) datang, mereka cuma berpura-pura bertanya: “Bapak itu anaknya kenapa tidak sekolah? Oi, mereka bukan tidak sekolah, tapi di sini mana ada SMA? Hahaha..”

“Kau sekolah di mana, Dik?” Tanyanya pada saya.

“Saya di UNTAN, Pak.”

“Oh, bagus itu!” serunya kemudian, “saya harap juga banyak pemuda desa yang melanjutkan ke jenjang perguruaan tinggi. Kau tahu Dik, sebenarnya kekayaan kampung kami tidak terletak pada banyaknya lahan sawit, apalagi lahan itu bukan punya kami. Hahaha.. Bukan tentang banyaknya pohon karet, atau berapa ekor babi yang kami pelihara ataupun sawah yang kami miliki. Menurutku, kekayaan terbesar kampung ini adalah anak-anak sepantaran kau, Dik. Merekalah sejatinya kekayaan terbesar yang kami miliki. Harapan untuk kampung kami. Merekalah kekayaan sejati kami, Dik. Hahaha.. Besok lusa pada merekalah perubahan kampung kami serahkan. Benar-benar pada mereka. Lihat kami, Dik. Kesempatan kami telah pupus. Sampai kapanpun kami tetap bertani. Sekolah SD-pun saya tak tamat. Oi, membacapun kami kadang kesusahan. Hahaha.. Tapi anak kami bisa melakukan apa yang tidak bisa kami lakukan. Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang lebih layak dari kami. Mereka berhak menjadi lebih baik. Sungguh.”

Mendengar kegelisahan yang diucapkan dengan ‘kegembiraan’ itu, membuat saya tertegun dengan segala keikhlasan, kesederhanaan, serta ketabahan seorang warga desa yang tidak pernah meminta hal lain-lain kecuali jaminan atas masa depan anak-anaknya. Itu pun jika pemerintah benar-benar serius. Tapi, fakta menunjukkan kalau mereka (pemerintah) sudah banyak menebar janji tanpa bukti. Yang akhirnya membuat mereka (rakyat) kecewa dan kehilangan kepercayaan. Saya melihatnya dari tertawa bapak itu yang justru menimbulkan kesan yang dalam. Teramat dalam, malah.

Saya hanya, sekali lagi, mengangguk tipis-tipis, sembari tersenyum getir melihat betapa besar harapan mereka terhadap anak-anak mereka. Harapan serta kekayaan sejati yang mereka miliki.

Keesokan paginya, kami pamit untuk kembali pulang dan mengucapkan terima kasih telah mengizinkan kami tinggal bermalam. Beliau tersenyum, lantas mengucapkan salam dan saran agar berhati-hati di jalan. Kami pamit.

Kegiatan survey dengan salah seorang penduduk

Di perjalanan pulang, saya dan senior hanya saling terdiam sembari menikmati pemandangan perbukitan di desa ini. Lalu, di pertengahan jalan kami singgah di warung kopi. Kami masih saja diam, sibuk dengan kopi, dan dengan pemandangan yang ada.

Di tengah keheningan yang sunyi di antara kami itu, senior saya tiba-tiba berkata: “Bal, kau tahu ndak, bapak tadi memang tadak sekolah macam kite ni, tapi die belajar langsung ke tempat belajar yang tadak pernah bilang salah dan benar. Die belajar langsung pada alam. Tumbuh dengan kebijaksanaan alam. Dididik langsung oleh kesederhanaan kampung. Aku rase itu yang tadak pernah kite dapat.”

Saya lantas tersenyum dan kembali menyeruput kopi, lalu berkata, “semoga kebijaksanaan dan kesederhanaan itu melekat pada kita. Hahaha..”


Muhammad Iqbal adalah mahasiswa Manajemen, Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai