kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Menjadi Aktor Protagonis, Merebut Opini dan Menangkan Pilkada

“Anything said aloud and heard by anyone.”


Oleh Herman Attaqi

Di zaman kiwari ini, kita dihadapkan pada realitas politik yang lebih mengutamakan citra (image) dibandingkan isi (content). Publik sepertinya tidak peduli lagi tentang seberapa cerdas Anda dalam memahami persoalan-persoalan mereka, tetapi seberapa ‘menarik’ Anda untuk menjadi idola bagi mereka. Kontestasi politik pun kemudian berubah menjadi sebuah show ajang pencarian bibit unggul semacam Liga Dangdut Indosiar, sehingga para politisi secara simbolik tampil menjadi layaknya para selebritas.

Apa yang menjadi realitas politik ini sesungguhnya adalah imbas dari liberalisasi politik, lalu dipengaruhi pula oleh liberalisasi ekonomi, sosial dan budaya. Dari sisi kebudayaan, seluruh rangkaian proses liberalisasi ini melahirkan “budaya massa”. Para filosof menyebutnya sebagai era post-modernisme. Para politisi harus menerima kenyataan bahwa publik semakin bosan dengan bahasa politik yang berat dan terkesan basi. Sementara di sisi lain budaya massa yang berkembang lebih menyukai pada sesuatu yang berformat dangkal, instan dan sesaat, namun heboh.

Memenangkan sebuah pemilihan (election) tentu membutuhkan kesiapan perencanaan yang mencakup strategi dan taktik yang tepat agar keseluruhan proses kerja sang calon dan tim bisa efektif meraup sebanyak mungkin dukungan suara dan meraih kemenangan. Hal yang tidak boleh dilupakan oleh tim adalah performance kandidat. Karena pilihan performance sangat menentukan posisi seperti apa yang akan diambil oleh sang calon dalam kompetisi ini. Performance mencakup keseluruhan isi dari penampilan, karakter yang hendak ditonjolkan, identitas, gaya pakaian dan simbol-simbol yang lainnya.

Sebagai sebuah produk budaya massa, tentu publik ingin melihat kandidat pemimpinnya berlaku layaknya tokoh-tokoh yang sering mereka tonton di sinetron-sinetron di televisi. Jadi jangan heran jika pemilu ataupun pemilukada tidak ubahnya seperti sebuah pentas pertunjukan teater kolosal di mana setiap calon berusaha menjadi pemeran protagonis yang disukai, penuh puja-puji dan mendapat simpati dari publik walaupun mendapat tekanan dan serangan dari lawan main.

Jika pemilihan itu ibarat teater atau sinetron, tentu setiap kandidat berupaya memposisikan dirinya menjadi seorang aktor protagonis (pemeran utama). Tetapi persoalannya kita baru akan mengetahui siapa yang menjadi aktor protagonis justru setelah hasil pemilihan ditetapkan atau siapa yang menjadi aktor pilihan publik. Artinya, pada saat sebelum pencontrengan adalah medan pertarungan yang sesungguhnya bagi setiap kandidat untuk merebut posisi menjadi seorang aktor protagonis.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh masing-masing kandidat untuk menjadi aktor protagonis, di antaranya: Karakter yang harus ditonjolkan; Respon emosi; Simbol atau mitos yang dibangun.

Karakter yang harus ditonjolkan

Seorang kandidat harus merumuskan secara tepat tentang karakter kepribadiannya, sehingga dia dianggap layak untuk menjadi pemimpin. Untuk merumuskan karakter ini diperlukan diskusi yang dalam dan matang oleh tim bahkan jika memungkinkan menggunakan jasa konsultan, karena pemimpin seperti apa sebenarnya kita bisa diwakilkan dengan beberapa buah kata. Tim harus mampu melihat dari banyak perspektif bahwa karakter yang ditonjolkan itu mesti bisa diterima oleh semua pihak. Contoh kasus pada pilpres tahun 2004, salah satu karakter yang ditonjolkan oleh Amien Rais (capres) adalah Cerdas, akan tetapi setelah Pilpres, Amien Rais mengatakan, “ternyata bagi masyarakat umum, karakter Cerdas itu hanya untuk golongan tertentu saja, sehingga masyarakat umum atau orang kebanyakan tidak mau memilih.” Contoh yang lebih dekat pada Pilpres 2019 yang lalu, di mana pilihan karakter Jokowi yang Sederhana, mampu meruntuhkan bangunan karakter Prabowo yang Tegas.

Karakter yang dipilih juga harus mewakili seluruh kepribadian dan pengalaman sang calon, karena jika salah ataupun bertentangan tentu akan menjadi blunder. Contoh, jika Anda belum pernah berkecimpung di dunia birokrasi, lalu menggunakan karakter Berpengalaman, tentu ini akan menjadi bahan tertawaan atau jika Anda bukan orang yang tinggi ilmu agamanya atau level ibadahnya masih rata-rata air, jangan sekali-sekali menggunakan pilihan karakter calon pemimpin yang Agamis, karena kelak Anda pasti akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil kampanye.

Karakter itu adalah personal branding atau pencitraan sang calon. Ia tidak hanya kata-kata penghias baliho. Bahkan Ia bukanlah benda mati. Akan tetapi, pesan yang terus berkomunikasi dengan publik tentang diri sang calon.

Respon emosi

Seorang aktor protagonis tentu menjadi target serangan lawan. Apapun yang dilakukan pasti menjadi pantauan lawan untuk diserang sisi kelemahannya. Yang menjadi masalah sebenarnya bukanlah pada “serangan” itu sendiri, tetapi bagaimana respon sang aktor terhadap serangan itu. Sebagai kandidat, Anda wajib merespon setiap serangan lawan dan yang harus tetap diperhatikan adalah apapun respon yang akan dilakukan harus dalam rangka meraih simpati dan dukungan publik sebanyak mungkin. Ada ungkapan bijak yang mengatakan: “Anda wajib membalas serangan lawan, tetapi jauh lebih baik jika Anda memaafkan mereka.”

Konteks memaafkan itu, sekali lagi, harus dalam upaya meraih simpati dan dukungan. Sehingga apapun serangan lawan bisa kita lihat secara positif untuk diolah sedemikian rupa menjadi amunisi untuk menguatkan posisi pencitraan sang calon. Bahkan jika perlu tim bisa menciptakan skenario penyerangan terhadap kandidatnya sekaligus dengan skenario pembalasan. Mirip-mirip dengan acting Anda kalau diputusin mantan, yakni playing victim. Karena pemilihan ini diibaratkan sebuah sinetron, maka skenario apapun yang dibuat sah-sah saja sepanjang tidak melanggar aturan yang berlaku.

Menjadi aktor protagonis tidak melulu isinya cerita diserang oleh pihak lawan semata, tetapi juga ada saatnya Anda menyerang lawan, namun harus pada momentum yang tepat sehingga publik mendukung sikap sang aktor. Sehingga ketika Anda menyerang dengan alur serangan yang sudah direncanakan secara matang, penonton akan bertepuk tangan mendukung upaya Anda, dan percayalah bahwa pada saat itu kunci kemenangan telah berada di tangan Anda.

Simbol atau mitos yang dibangun

Kandidat dan Tim harus mampu menjawab pertanyaan tentang; Apa yang membuat publik sangat antusias dengan sang calon? Mengapa publik harus mengelu-elukannya? Apakah kandidat sudah menjadi bagian dari harapan publik?

Tampil di setiap tempat dan memunculkan antusiasme publik bukanlah perkara mudah. Inilah puncak dari kerja keras tim, bagaimana men-create kandidat menjadi aktor hebat yang dinanti oleh penggemar dan dijerit-jeriti kemunculannya. Memberikan harapan yang sesuai dengan harapan publik, seperti Obama yang membangun harapan publik Amerika dengan selalu berpidato tentang “American Dreams”. Atau seperti SBY dengan tagline “Bersama Kita Bisa”. Atau Anies Baswedan dengan “Maju Kotanya, Bahagia Warganya”.

Tim juga harus memahami kondisi sosio-budaya masing-masing daerah kampanye. Karena hanya dengan demikian kita bisa merebut hati publik. Simbol budaya adalah tentang keseharian kehidupan publik. Simbol budaya adalah kehidupan ril publik, bahkan juga identitas dan kebanggaan mereka. Kalau kita cermati bagaimana Surya Paloh saat awal-awal kemunculan Nasdem, tampil di setiap acara-acara Nasdem di daerah-daerah, beliau selalu menggunakan simbol-simbol budaya tempatan. Ini adalah bagian dari strategi merebut hati publik yang kelak menjadi trend bagi para politisi pusat dalam menyambangi daerah-daerah, ataupun sebagai atribut bagi politisi daerah untuk memperlihatkan identitas kedaerahannya.

Menjadi pemimpin adalah menjadikan diri kita sebagai personifikasi (harapan) akan masa depan yang lebih baik tentang daerah yang akan kita pimpin. Bahkan pemimpin itu haruslah menjadi simbol dari kehidupan masyarakat. Sejarah telah mengajarkan kepada kita bagaimana pemimpin bangsa ini meninggalkan simbol dan mitos yang selalu kita kenang. Sukarno menjadi simbol Perlawanan Nekolim. Suharto menjadi simbol Pembangunan. Habibie menjadi simbol Intelektualitas. Gus Dur menjadi simbol Toleransi. Megawati menjadi simbol Perlawanan terhadap rezim Orba. SBY menjadi simbol Kecerdasan. Jokowi menjadi simbol Kesederhanaan. Lalu Anda menyimbolkan apa?

Pertarungan, salah satunya dalam pemilukada, sebenarnya adalah pertarungan opini. Amerika boleh menyerang negara mana saja yang dia sukai, tetapi tanpa menyiapkan perangkat opini yang canggih, apa ia bisa memenangkan pertarungan tersebut? Apalagi di dalam kontestasi politik, yang kita rebut itu bukan fisik orang, tapi hati dan pikirannya.

Makanya ada istilah “anything said aloud and heard by anyone”, siapapun akan mendengar pernyataan yang nyaring dan keras. Ungkapkan apa yang akan Anda lakukan, sembari kuatkan karakter sebagai simbol diri Anda. Apalagi sebagian besar publik itu lebih suka menunggu apa yang Anda ucapkan dan apakah selaras dengan perbuatan Anda ketika memimpin. Kita mengetahui istilah silent majority, atau mayoritas yang diam. Mereka bukan tak (mau) tahu, tapi menunggu.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan kesimpulan Robert P. Abelson yang merumuskan molekul opini itu terdiri dari tiga unsur pembentuknya, yakni: belief (kepercayaan tentang sesuatu), attitude (apa yang sebenarnya dirasakan oleh seseorang), dan perception (persepsi). Dan opini itu dibentuk oleh gabungan ketiga unsur itu yang melekat di dalam diri Anda sebagai calon pemimpin, tapi juga harus berterima dan berkesesuaian dengan harapan publik atas ketiga unsur tersebut. Sulit memang. Tapi satu hal, politik itu bukan ilmu perdukunan, bahwa Anda tidak bisa melakukan langkah-langkah seorang pesulap, tapi politik itu ilmiah, semua bisa dikalkulasi secara sistematis dan terukur, itu makanya ada fakultas ilmu sosial dan ilmu politik.

Terakhir, semua ini hanyalah cara bagaimana kita memenangkan pemilihan dan meraih kekuasaan. Akan tetapi, perlu kita garis bawahi bahwa politik bukan hanya soal nalar untuk berkuasa atau mistifikasi terhadap realitas serta justifikasi terhadap sebuah kemenangan belaka. Lebih dari itu, politik adalah suatu bangunan nilai (value), keutamaan (virtue), serta etika (ethic) sebagai perkakas yang diperlukan untuk memajukan harkat dan martabat manusia. Di sinilah dibutuhkan konsistensi antara kata dan perbuatan. Konsistensi antara kampanye (sebelum dipilih) dan kebijakan (setelah dipilih) dari seorang pemimpin. Semoga Anda yang berniat maju dalam pemilukada bisa menjadi aktor protagonis sejati. Selamat ngopi.


Herman Attaqi adalah Founder Sindikat Ngopi.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai