“Ia melihat kehidupan dan kematian dengan tidak diskriminatif.”
Oleh Herman Attaqi
Pada Februari 1971, stasiun televisi ABC menayangkan serial berjudul “Longstreet”, yang dibintangi oleh James Franciscus sebagai Michael Longstreet. Ia adalah seorang penyelidik yang baru pulih dari sebuah serangan yang membutakan matanya, juga membunuh isterinya, dan bertekad untuk mencari pelaku kriminal atas dirinya tersebut.
Sementara Bruce Lee bermain dalam empat episode di serial itu. Ia berperan sebagai Li Tsung, seorang instruktur bela diri yang melatih Michael Longstreet.
Suatu ketika, Li Tsung memberi nasehat kepada Longstreet, muridnya. “Jadilah kau seperti air,” lalu Li Tsung menambahkan, “jika kau memahami makna dari ungkapan ini, maka akan ada hari esok buatmu.”
Apa makna dari ungkapan Bruce Lee (Li Tsung) tersebut?
Bersandar pada filosofi “The Art of Dying” (Seni Sekarat), saya hendak menggali makna yang lebih dalam lagi tentang pandangan filosofis Bruce Lee tersebut dan hubungannya dengan pandangan para penulis filsafat yang juga membahas tema yang sama.
Dalam bukunya yang diterbitkan setelah kematiannya, The Tao of Jeet Kune Do, yang terbit tahun 1975, Lee mengatakan bahwa gaya bela dirinya ia namai dengan “Jeet Kune Do”, yakni gabungan dari seni bela diri dan pemahaman spiritualitas.
“Spirit atau roh, tidak diragukan lagi, adalah motor pengendali bagi eksistensi manusia. Pusat yang tak terlihat ini mengendalikan semua pergerakan dari setiap pengaruh situasi eksternal yang muncul.”
Filosofi “Seni Sekarat” atau The Art of Dying, yang disajikan di dalam serial “Longstreet” itu adalah sebuah metafora. “Sekarat” di sini bukanlah bermakna harfiah sebagaimana seseorang yang sedang dijemput ajal. Ia lebih bermakna sebagai upaya untuk membunuh ego yang ada di dalam diri manusia.
Theo Fischer di dalam Wu Wei: The Art of Living the Tao mengatakan bahwa ego adalah keseluruhan pengalaman, akumulasi, analisa dan memori yang membentuk cara pandang kita. Ego berisi prasangka, distorsi dan segala sesuatu yang terbentuk oleh pikiran kita yang terbatas dan tidak utuh atas realitas, yang mencegah kita dari melihat hal tersebut sebagai suatu realitas yang ril.
Fischer juga mengatakan bahwa pengikut Tao percaya jika kematian itu bukanlah proses berpisahnya roh dari jasad. Kematian bermakna terkikisnya ego, sebagai proses tertinggi bagi seorang pengikut ajaran Tao. Ketika eksistensi “Saya” lebur di dalam “Kita”, maka sejatinya “Kita” akan bisa hidup melampaui “Saya” itu sendiri. Itulah hakikat hidup, yang merupakan hasil dari suatu dimensi yang tak lagi tergantung oleh waktu.
Fischer melanjutkan bahwa ego itu amatlah berbahaya bagi manusia, karena ia bisa membawa manusia dalam kondisi tertekan akibat keinginannya dan harapannya sendiri. Bila ego sudah berhasil dimusnahkan, setidaknya hal itu akan berimplikasi pada dua hal; Menjadikan manusia lebih terbuka dalam menerima kritik, dan; Memudahkan manusia untuk melepaskan ide-ide nostalgik ataupun ambisi yang mengungkung pikirannya.
Ego jugalah yang menolak semua hal yang datang dari luar diri kita, dan karena kekakuan ego ini pula kita tidak bisa menerima semua hal begitu saja.
Dari buku The Tao of Jeet Kune Do, kita bisa memetakan ide “Seni Sekarat” (The Art of Dying) itu ke dalam tiga poin: Sekaratlah dari Ambisi Ingin Menang; Sekaratkan diri dari Perhitungan Teknik dan Pengetahuan; Sekaratlah dari Pikiran Masa Lalu dan Harapan Masa Depan.
Sekaratlah dari Ambisi Ingin Menang
Kesalahan terbesar dari seorang petarung, tegas Lee, terletak dari kesalahan cara pandangnya, yakni terlalu berorientasi ingin menang.
“Jangan berorientasi pada kemenangan ataupun kekalahan, jangan pikirkan tentang bagaimana meraih kebanggaan atau rasa sakit yang akan diterima. Kesalahan terbesar seorang petarung itu terletak pada cara pandangnya yang terlalu berorientasi pada hasil. Anda seharusnya, pada saat bertarung, tak usah memikirkan tentang menang atau kalah. Biarkan saja semuanya bergerak alamiah. Bila itu telah dilakukan, kelak kemampuanmu akan keluar pada waktunya,” jelas Bruce Lee.
Lee menekankan bahwa di dalam sebuah pertarungan, penting sekali bagi setiap petarung untuk tidak berekspektasi terhadap hasil yang akan diperoleh. Namun pada saat yang sama, ia mesti meningkatkan kemampuannya dan memaksimalkan kecerdasan yang dimilikinya. Ego yang terkikis itu seperti boneka kayu: ia tak memiliki ego, ia tidak memikirkan apa-apa, ia tidak menyandarkan keinginan apa-apa pada sesuatu ataupun seseorang.
“Tak perlu membebani diri dengan perkara yang memberatkan. Lebih baik bebaskan saja dirimu dengan menganggap bahwa sesuatu itu tidak ada, maka kau akan jadi lebih tenang dan jernih. Mereka yang (terlalu berorientasi) menang, (pasti) akan kalah. Tak usah mengantisipasi gerak orang, ikuti saja arahnya,” tulis Lee.
Oleh karena itu, kita mesti membebaskan diri dari pikiran yang ambisius. Jalani hidup ini sesantai mungkin dengan tanpa perlu merisaukan perkara menang-kalah. Lagipula, jika kita bertarung karena soal menang-kalah semata, itu akan menjadi sesuatu yang buruk bagi pikiran kita, ujar Lee. Dalam makna yang hampir mirip, melepaskan ego itu sama dengan berupaya melepaskan hasrat protagonisme di dalam setiap tindakan kita. Dan yang lebih penting lagi adalah fokus untuk membangun kesadaran (realizing), bukan sekadar bagaimana mendapatkan hasil semata (realizations). Lee berkata, “bukan aktornya, tapi aksinya. Bukan siapa yang beruji coba, tapi uji cobanya.”
Bruce Lee mengklasifikasi enam penyakit yang biasa dimiliki oleh seorang petarung. Penyakit yang pertama adalah faktor utama yang menyebabkan penyakit lainnya:
Enam Penyakit Seorang Petarung:
1. Keinginan untuk terlalu berorientasi menang
2. Keinginan untuk menggunakan cara-cara curang
3. Keinginan untuk mempertontonkan semua kemampuan yang dimiliki
4. Keinginan untuk menakut-nakuti lawan
5. Keinginan untuk menjadi pasif
6. Keinginan untuk membasmi setan-setan yang mengganggu
Faktanya, tidak hanya keinginan untuk meraih kemenangan saja yang menjadi penyakit para petarung. Akan tetapi, ujar Lee, keinginan itu sendiripun sejatinya adalah sebuah masalah juga.
Sekaratkan Diri dari Perhitungan Teknik dan Pengetahuan
Seni bela diri, bagi Lee, adalah seni yang membebaskan diri kita dari semua pengetahuan yang telah kita pelajari. Pengetahuan itu kita peroleh dari masa lalu, dan membebaskan diri darinya akan membawa seorang petarung ke dalam kondisi kebebasan itu sendiri.
“Cobalah kosongkan pikiran kita dari semua teknik dan pengetahuan yang telah dipelajari dan dimiliki itu, maka ia tidak lagi menjadi penghalang bagi pikiran. Belajar itu penting, tapi jangan sampai kita diperbudak oleh apa yang kita pelajari. (…) Teknik, seberapa berharganya ia, bisa menjadi penyakit bila pikiran kita justru menjadi terlalu obsesif olehnya,” ujar Lee.
Ada banyak literatur ajaran filsafat Taoisme yang menjelaskan pentingnya pemahaman terhadap alam bawah sadar (unconsciousness) melalui intuisi. Dan di dalam “Jeet Kune Do”, Bruce Lee juga menjabarkan hal yang sama. Ketika seorang petarung telah memiliki teknik dan pengetahuan, ia tidak boleh bergantung dan membebaskan dirinya dari hal tersebut.
Lee menjelaskan, “dalam Jeet Kune Do, semua teknik harus dilupakan dan semua hal dikendalikan oleh alam bawah sadar. Biarkan teknik itu muncul dengan sendirinya, secara otomatis dan spontan. Bergerak secara total, bukan hanya dengan keseluruhan teknik, tapi (lebih) melampaui itu.”
Mengikis ego, dalam hal ini, lebih berorientasi kepada kemampuan untuk melupakan masa lalu, dan mengosongkan pikiran, hingga melahirkan satu kesadaran baru.
Sekaratlah dari Pikiran Masa Lalu dan Harapan Masa Depan
Seseorang dengan egonya itu seperti sesuatu yang ditempeli sebuah gambar yang terdistorsi di masa lalu dan ke masa depan. Jadi, mengikis ego itu bermakna menghapus memori masa lalu dan membersihkan pikiran dari beban ekspektasi akan masa depan. Tujuannya agar manusia bisa menjalani kehidupan ini dengan lebih bebas dan mengalir.
Masa lalu dan masa depan adalah gagasan yang lahir dari pikiran, yang karenanya pula, ia sesuatu yang artifisial. Masa lalu itu terbentuk dari rangkaian-rangkaian memori. Sedang masa depan dibentuk oleh kecemasan. Hanya “saat ini”-lah waktu yang secara temporer yang bisa kita alami. Masa lalu itu sesuatu yang terbatas (dan telah lewat), masa depan masih berupa penantian, jadi hanya “saat ini” semata yang bisa membentuk kesadaran kita. Lagipula, semua waktu itu terkonsentrasi di “saat ini”. “Kemarin telah berlalu, sedang esok masih menunggu,” kata Osho.
Jiddu Krishnamurti, salah seorang rujukan utama bagi siapa saja yang ingin menggali tentang Bruce Lee, mencoba menjelaskan ungkapan Lee di dalam serial Longstreet ketika mengatakan tentang James Franciscus, bahwa ia “harus melepaskan pikiran ambisiusnya.”
Menurut Krishnamurti, “ambisi, dalam bentuknya, adalah aksi yang masih tertangguhkan. Keinginan, selalu berorientasi ke masa depan. “Keinginan untuk menjadi sesuatu” bermakna belum adanya tindakan apa-apa yang dilakukan. Makanya “sekarang” jauh lebih penting dari “esok”. Waktu, sejatinya adalah “saat ini”, dan untuk memahami “saat ini”, kita harus membebaskan diri dari waktu. Konsep “Becoming” (menjadi) adalah waktu yang masih berlanjut. Berbeda dengan konsep “Being” (menjadi) yang berada di dalam waktu “saat ini”. Jadi “Being” merupakan bentuk transformasi tertinggi, sedang “Becoming” hanya sebentuk modifikasi dari kontinyuitas.”
Jeet Kune Do, dalam pandangan Bruce Lee, mengajarkan kita untuk tidak lagi melihat ke belakang, setelah kita menetapkan sebuah tujuan. Ia melihat kehidupan dan kematian dengan tidak diskriminatif. Untuk mengekspresikan dirimu secara bebas, kata Lee, kamu harus melupakan hari kemarin.
Ini semua merupakan pandangan filosofis Bruce Lee yang telah dituangkannya ke dalam banyak film, buku ataupun serial televisi, yang selama ini jarang dieksplorasi oleh banyak orang.
Bruce Lee yang merupakan tamatan Filsafat dari University of Washington pada tahun 1960 ini banyak berjasa dalam memperkenalkan dan mempopulerkan Filsafat Timur, khususnya Buddhisme dan Taoisme ke dunia barat dan memadukannya ke dalam seni bela diri.
Ilmu bela diri, dan olahraga secara umum adalah metafora yang bagus bagi kehidupan kita. Bila bidang ini dikaji secara lebih serius, tentu banyak hal berharga yang bisa dimanfaatkan untuk menjalani kehidupan yang semakin kompleks ini.
Dialihbahasakan oleh Herman Attaqi dari esai karya Nicolas Rufino dos Santos yang berjudul The Art of Dying: A Valuable Message from Bruce Lee about Our Ego. Sumber asli bisa dibaca di sini.
Catatan: Pengalihbahasaan ini murni untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk tujuan komersil.
