kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Bukan Seberapa Lama, Tapi Seberapa Berarti

“Di atas puncak gunung, kupejamkan mata.”


Oleh Rizki Maulana Ramadhan

“Bukan seberapa lama hidup ini yang dihitung, tapi seberapa berarti kita menghabiskannya.”

Fiersa Besari


14 Januari 2020, pukul 22.00 WIB

Mataku sepertinya sudah tak bisa diajak berkompromi. Sedari tadi tubuh ini sudah mengirimkan sinyal lewat mulut yang berulangkali menguap, mata yang sedikit berair, seolah-olah pengen bernegosiasi agar aku menghentikan dulu membaca buku 11:11 Bung Fiersa Besari. Baiklah. Mari kita deal-kan saja. Lalu, kuselipkan pembatas buku di pertengahan halaman 139.


Tiba-tiba notifikasi hape berbunyi. Bunyi yang tidak biasa, kurasa. Pasti ini bukan dari si Dia hehe.. [Anda telah bergabung dalam grup MENDADAK MUNCAK]. Nah, kan bener. Ternyata aku diajak untuk muncak. Tunggu? Muncak? Ha? Berarti mendaki gunung, dong? Kan, tinggi? Pasti di atas dingin sekali. Bagaimana kalo nanti aku terkena hipotermia? Bagaimana kalo nanti di puncak gunung terjadi hujan badai? Bagaimana jika nanti gunung itu meletus?

Pikiranku yang tidak karuan ini, membuat jari jemari berkecamuk ingin mengetik, “aku tidak ikut, yaa..”

Tapi aku penasaran dengan alam yang diciptakan Tuhan, yang biasa kusaksikan sebatas di timeline media sosial itu. Apakah keindahannya hanya filter editan camera saja atau emang indah dari sananya? Di balik penasaranku ini, ada rasa ingin tahu yang mengganjal, “apa sih yang membuat seseorang itu terobsesi untuk mendaki gunung?” Padahal enakan di kosan. Menikmati fasilitas wifi, menyeduh kopi dan memintas senja di teras kosan. Ah sudahlah, ntar saja, yang terpenting ikut saja, jawab batinku yang lain..

16 Januari 2020, pukul 15.30 WIB

Rasanya baru sebentar tadi aku menutup mata dan melamun, serta bertengkar batin. Nyatanya sekarang ini aku sedang memakai tas carrier kapasitas 60 liter. Ya, aku sedang bersiap-siap memulai sebuah petualangan baru, pengalaman pertama dalam hidupku, yakni mendaki Gunung Kembang di Wonosobo, Jawa Tengah.



Di tengah perjalanan, aku terus kepikiran, apakah aku masih bisa bernafas sampai esok hari? Semoga saja masih.

Di Basecamp, terlihat orang-orang yang sudah sangat akrab sekali dengan yang namanya gunung. Peralatan mendakinya lengkap; carrier, jaket gunung, sepatu gunung, dome, sleeping bag, gaiters, hingga trekking pole dan sepertinya tidak ada kekhawatiran sedikitpun dari raut wajah mereka. Mereka terlihat sangat menikmati pengalaman mendakinya.

Baru beberapa tapak jejak yang aku tinggalkan dari Basecamp, aku sudah kehausan dan minta break. Pos pertama pun belum terlewati. Apakah ini cobaan untuk melihat keindahan gunung? Tiba-tiba aku melihat dari kejauhan, inilah yang menarik dari gunung, ia selalu tampak cantik dari kejauhan.

Tapi, aku belum puas begitu saja. Apakah hanya dari kejauhan saja aku bisa melihatnya? Tidak. Emang rintangan untuk melihat wajah cantiknya gunung sangat menyebalkan. Dan, duh, melelahkan. Tapi aku gak akan menyerah. Jari telunjuk kuarahkan ke puncak gunung setinggi 2340 mdpl itu, “hey, puncak gunung, untuk waktu sekarang ini, kaulah cita-citaku. Jangan remehkan tekadku untuk menggapaimu!”

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan ini!” Teriakku sembari mengalahkan rasa letih.

Berjalan. Mendaki. Jatuh. Bangkit lagi. Sudah hampir sampe, rasanya aku tidak kuat lagi. Kaki ini rasanya seperti terkilir. Berat sekali untuk dilangkahkan. Lintasan gunung ini begitu terjal dan ampun sulit sekali kurasakan. Belum lagi di mana-mana terlihat babi hutan. Rasanya aku sudah di ambang menyerah.

Salah seorang temenku berkata, “mana tekad lu tadi? Sampe di sini sajakah? Pucuk sebentar lagi. Yang tadi kita lihat dari kejauhan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keindahan yang akan kita lihat dari puncak gunung. Percayalah.”

Diulurkan tangannya padaku. Aku berusaha kembali bangkit, dan akhirnya…

17 Januari 2020, pukul 01.24 WIB

Hai, Kaum Rebahan sedunia, yang hanya menikmati senja dari kejauhan khayali, aku benerkan perkataaanku di awal tadi, “apa sih yang membuat seseorang itu ingin sekali ke puncak gunung?” Semua pertanyaan hanya bisa kita jawab apabila kita mengerti tentang yang ditanyakan. Begitu pula dengan pertanyaanku sebelum mendaki gunung ini, baru bisa terjawab setelah aku sampai di puncak gunung.

17 Januari 2020, pukul 04.30 WIB

Di atas puncak gunung, kupejamkan mata. Aku merasakan kedamaian di antara ketenangan alam yang diciptakan Tuhan ini menyelusup masuk ke relung dada. Betapa Tuhan menciptakan keindahan ini semua dengan cara-Nya yang indah.



Aku teringat kata-kata Bung Fiersa Besari di bukunya, tepat di halaman 139 yang kutandai sebelum mendaki tiga hari yang lalu, “Bukan seberapa lama hidup ini yang dihitung, tapi seberapa berarti kita menghabiskannya.”

Akhirnya ada sedikit waktu yang kuhabiskan dengan bertadabur dengan alam, yaitu mendaki gunung, mendaki pengetahuan tentang ciptaan Tuhan, mendaki ke puncak cinta-Nya.


Photos : Courtesy of Rizki Maulana Ramadhan
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai