kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Bagaimana Mengalahkan Petahana?

“Kerja-kerja politik pemenangan adalah kerja-kerja yang terukur, sistematis dan ilmiah.”


Oleh Herman Attaqi

Salah satu karakter demokrasi adalah selalu mensyaratkan adanya kontestasi. Dan biasanya kontestasi yang sehat melahirkan kematangan demokrasi baik sebagai sebuah sistem maupun kultur. Namun, akhir-akhir ini banyak yang menggugat bahwa pemilihan langsung untuk memilih pemimpin nasional maupun daerah hanya hura-hura dan lebih banyak menghasilkan huru-hara. Sebenarnya kelompok ini ingin mengatakan bahwa kontestasi itu tidak penting. Pertanyaannya kemudian adalah mekanisme yang seperti apakah yang paling efektif untuk menggantikan mekanisme pemilihan langsung?

Sayapun mengajukan pertanyaan lebih dalam, apakah gugatan orang terhadap mekanisme pemilihan langsung itu lebih disebabkan oleh pemimpin yang terpilih sering melupakan janji-janji politiknya? Artinya, apakah gugatan itu lebih karena faktor kecewa para pemilih? Jawaban dari pertanyaan itu justru ada pada mekanisme itu sendiri. Maksudnya mekanisme pemilihan langsung (pemilukada) secara teori akan memaksa seorang calon untuk berjanji dan memenuhi janjinya. Jika tidak, konstituen akan ‘menghukum’ sang calon pada pemilihan berikutnya. Jadi, kontestasi (pemilukada) justru akan melahirkan pemimpin yang dipaksa oleh sistem, setidak-tidaknya, untuk menepati janji.

Bertarung di pemilukada sebagai petahana (incumbent) tentu memiliki banyak keuntungan, terutama nama yang sudah dikenal luas (awareness) dan kemampuan mendapatkan sumber dana. Akan tetapi, mengalahkan petahana juga bukan perkara yang tidak mungkin. Apalagi jika petahana tersebut memiliki banyak kelemahan selama masa kepemimpinannya. Para pemilih pasti akan memberikan ‘hukuman’ kepada petahana yang tidak berprestasi.

Sebenarnya sudah banyak pengalaman penantang yang bisa mengalahkan petahana di dalam pemilukada. Yang paling fenomenal adalah kemenangan ‘tak terduga’ Anies Baswedan – Sandiaga Uno yang mengalahkan Ahok – Jarot dalam pemilihan Gubernur Jakarta.

Jika Anda ingin maju di pemilukada sebagai penantang, maka setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan, di antaranya: Mulailah Lebih Awal; Defenisikan Lawan; Bangun Perbedaan; Formulasikan Agenda/Isu.

Mulailah Lebih Awal

Biasanya setelah memenangkan pemilukada, petahana langsung memulai perencanaan untuk memenangkan pemilihan berikutnya. Banyak para penantang membuat kesalahan dengan menunggu datangnya masa kampanye berikutnya. Cara-cara tradisional ini adalah kesalahan fatal, karena sepanjang masa kepemimpinannya, petahana sebenarnya juga sedang melakukan tahapan-tahapan kampanye. Jika Anda ingin maju di pemilukada sebagai penantang sang petahana, tentu yang harus anda lakukan adalah memulai tahapan ‘kampanye’ sedini mungkin. Meskipun para pemilih belum memikirkan tentang pemilukada, Anda sudah mesti memulai ‘kampanye’.

Tahapan ‘kampanye’ yang dilakukan tidak hanya sebatas membuat perencanaan ataupun survey. Anda juga bisa melakukan tahapan berikutnya, terutama menghadiri pertemuan atau acara-acara masyarakat serta membangun organisasi pemenangan, dan lain-lain.

Petahana tentunya sudah membangun personal brandingnya-nya tidak hanya sebatas opini di surat kabar, tetapi juga di pikiran pemilih. Dan, Anda pun harus melakukan hal yang sama, bahkan lebih.

Defenisikan Lawan

Seandainya Anda berminat melawan petahana, hal yang harus dilakukan adalah secepat mungkin mendefinisikan lawan, sebelum lawan berhasil mendefenisikan dirinya. Pertajam data dan dengan analisis yang akurat tentang track record petahana selama masa kepemimpinannya. Kemudian sampaikanlah pesan yang ingin Anda sampaikan tentang lawan Anda lebih awal. Seranglah lawan lewat kelemahan visi pembangunan yang dijalankan di masa kepemimpinannya.

Pada tahap ini, Anda perlu merekrut personil yang efektif sebagai motor di dalam Tim Data dan Analisis. Tugasnya mengumpulkan data sebanyak-banyaknya tentang petahana, terutama berkenaan dengan kebijakan yang telah dibuatnya selama menjabat. Dan juga sangat diperlukan adalah respon atau persepsi publik atas kebijakan tersebut.

Metode yang bisa dilakukan di dalam tahap ini adalah dengan mengumpulkan dokumen resmi negara yang menjadi domain publik, tracking media, bahkan jika dimungkinkan melaksanakan survey persepsi publik untuk mengukur dan memetakan tingkat kepuasan publik atas kinerja petahana.

Setelah semua data, primer dan sekunder terkumpul, dibutuhkan analisa yang akurat dan tajam untuk melihat beberapa hal, di antaranya dengan menggunakan metode analisa SWOT dan metode saintifik lainnya yang lebih detil agar hasil analisis yang dibuat bisa lebih presisi. Ingat! kesalahan pada tahap analisis ini bisa berakibat fatal pada rancangan strategi dan taktik yang keliru dan bisa jadi malah menjadi bumerang yang merugikan kandidat Anda.

Bangun Perbedaan

Setelah mendefenisikan lawan dengan data dan analisis yang tepat, yang harus dilakukan adalah membangun perbedaan antara Anda dengan sang petahana. Ingat! Cuma ada satu alasan mengapa pemilih memilih seseorang, yakni karena mereka menemukan seorang yang lebih baik! 

Anda harus memperlihatkan dan meyakinkan pemilih bahwa Anda-lah alternatif pilihan terbaik mereka dibandingkan petahana. Perlihatkan kepada para pemilih mengapa Anda berbeda dengan petahana dan mengapa perbedaan-perbedaan itu membuat Anda adalah pilihan terbaik mereka.

Pada tahapan ini, sangat direkomendasikan untuk merekrut personil yang paham tentang seluk beluk media dan broadcasting, marketing, personal branding, dan juga yang punya pengalaman EO (event organizer). Mereka inilah, Tim Media, yang paling bertanggung jawab memastikan posisi Anda semakin kuat dan bisa terlihat sebagai penantang yang paling serius bagi petahana.

Kerja-kerja Tim Media ini akan dievaluasi secara berkala oleh Tim Data dan Analisis. Mengukur indeks awareness, hingga elektabilitas dari calon Anda, sembari juga mengukur efektifitas kualitas dan kuantitas kerja dari Tim Media.

Formulasikan Agenda/Isu

Tahapan ini sangat terkait erat kaitannya dengan bagaimana Anda secara jitu bisa mendefenisikan lawan. Lawan pun pasti akan mengeksploitasi kelebihan yang dimilikinya dan mengurai kelemahan Anda. Jika sang petahana kuat di isu pertanian, ia akan mendorong wacana pemilukada tentang bagaimana ia akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan membangun sentra-sentra pertanian baru, membangun infrastruktur dan memperlancar dan memperluas jalur distribusi hasil-hasil pertanian, hingga membuka pasar baru yang potensial. Dan tugas Anda adalah mengalahkan petahana dengan isu-isu yang lebih mengena.

Setelah mengumpulkan dan menganalisis data tentang isu-isu penting yang diharapkan pemilih serta kelemahan-kelemahan petahana, maka tugas selanjutnya adalah memformulasikan secara tepat agenda atau isu yang akan dimainkan. Misalnya, isu Anda adalah masalah pendidikan. Dorong wacana pemilih tentang harapan mereka untuk mendapatkan akses pendidikan murah dan berkualitas, menghilangkan pungutan liar (pungli) di sekolah, soal infrastruktur pendidikan, serta peningkatan kesejahteraan guru. Paksa petahana berbicara tentang masalah ini. Maka Anda telah memainkan isu Anda.

Personil yang bertugas untuk menjalankan agenda ini adalah Tim Agitasi dan Propaganda (Agitpro). Tim ini bisa berada di bawah Tim Media atau menjadi Sub-Divisinya, tapi saya sengaja menempatkannya secara terpisah untuk memperjelas perbedaan tugas antara Tim Media dan Tim Agitpro. Jadi orientasi tim itu adalah deskripsi kerja yang jelas dan detil.

Untuk lebih jelasnya, perbedaan tugas Tim Media dengan Tim Agitpro ini secara umum adalah: Tim Media bekerja dalam operasi-operasi udara untuk menguatkan citra kandidat, terutama melalui Media Lini Atas (Above the Line) dan juga beberapa bagian dari Media Lini Bawah (Below the Line) sesuai dengan kondisi obyektif di lapangan yang tentunya bisa berbeda-beda di setiap tempat.

Sedangkan Tim Agitpro bertugas untuk melakukan serangan udara di media yang bisa diakses oleh publik dengan tingkat interaksi yang tinggi, yakni media sosial. Yang lebih penting lagi adalah kerja dan membentuk organisasi kerja melalui serangan darat. Pada tahapan ini, Tim Agitpro-lah yang bersentuhan langsung dengan publik di seluruh tempat tanpa terkecuali. Mereka adalah ujung tombak yang mengeksekusi program kerja pemenangan yang telah disusun.

Hasil dari pekerjaan Tim Agitpro juga harus dievaluasi secara berkala oleh Tim Data dan Analisa untuk melihat dan memantau posisi kandidat penantang di hadapan petahana.

Terakhir, mengalahkan petahana bisa saja kita lakukan, asal kita mau membuat persiapan dengan sempurna dan bekerja keras, bahkan (harus) lebih keras dari sang petahana. Dan, jangan lupa, kerja-kerja politik pemenangan adalah kerja-kerja yang terukur, sistematis dan ilmiah, sehingga setiap konsekwensi penganggarannya bisa lebih akuntabel dan transparan.


Herman Attaqi adalah founder Sindikat Ngopi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai