“Sehingga coffee shop masih bisa terus eksis sebagai tempat yang komunalistik.”
Oleh Ziyad Ahfi
Belakangan ini tempat ngopi bermunculan di mana-mana. Bahkan, bila kita ikuti tren akhir-akhir ini, kemasan dan model pemasarannya pun sudah semakin modern. Sekarang untuk mencari suasana ngopi tak perlu jauh-jauh pergi ke Afrika (tempat asal-usul kopi warga dunia). Bila melintas di kota-kota besar, belum sampai sekilo kendaraanmu lewat saja, warung kopi sudah menantimu di tepian mata memandang.
Namun ada yang menarik dari kemunculan fenomena ngopi ini. Ada semacam perkembangan budaya ngopi yang disadari atau tidak oleh kawan-kawan sekalian, yaitu budaya kedai kopi atau coffee shop. Secara bahasa, mungkin terlihat sama. Namun dalam pengertian kebudayaan boleh jadi berbeda.
Perbedannya begini, kedai kopi identik dengan kesederhanaan dan romantisme anak-anak kosan akhir bulan. Kalau coffee shop, sudah jelas, antara dua alasan: pertama, memang karena yang datang benar-benar orang berduit, anak sultan, serta netizen gaoel ala-ala. Kedua, memang karena si kawan terpaksa malak duit emak (biar gak kalah gengsi), biar keliatan kapitalis, serta alasan terburuknya: hanya untuk menghiasi instastory.
Sudah bisa dipahami, kan? Perbedaan ini berasal dari pemangatan, hadah, pengamatan penulis selama dua tahun belakangan ini, setelah berkecimpung langsung di dalam atmosfer pertongkrongan ngopi santuy ala-ala.
Perkembangan peradaban kopi semakin pesat di negara yang masih memperdebatkan celana cingkrang sunnah atau tidak ini. Dari segi bentuk dan isi terlihat sudah semangkin canggih menawarkan kreatifitas serta kualitas yang aduhay. Kalau tidak percaya, coba saja sesekali searching di media sosial, atau iseng-iseng lihat di menu go-food. Ada yang murni kopi, ada juga kopi campur susu, kopi campur gula aren, kopi campur duren, KOPI CAMPUR CENDOL, kopi campur rindu made in anak indie.
Sungguh, sangat multikultural.
Ternyata, selain kemajemukan dalam soal agama, etnis, serta identitas lainnya, Endonesia juga majemuk soal ngopi. Apa buktinya? Coba saja bayangkan, betapa tolerannya si kopi mau berbagi rasa bersama si cendol dalam satu gelas. Mereka diaduk dalam satu ikatan perkawinan yang sah, dipenghului oleh barista, dan disaksikan oleh penikmat senja sakit magh.
Bukankah ini bentuk perpaduan yang sangat toleran?
Jadi, perlu diketahui ya.. toleran bukan soal agama doang.. gausah alay.. malu ama kopi cendol.
Dari segi alat, rata-rata sudah menggunakan berbagai alat canggih yang diimpor langsung dari negara-negara Eropa. (Pokoknya anak angkringan-warkop macam saya gini gak ngerti-ngerti amat). Nih, saya sertakan aja macam-macam alat sekaligus perbedannya:
Setidaknya, alat pembuat kopi dibagi menjadi dua tipe, otomatis (elektrik) dan manual. Alat Pembuat Kopi Otomatis (Elektrik): Mesin Espresso Semiotoma, Mesin Espresso Superotomatis, Perkolasi, Filter Coffee Maker. Kalau Alat Pembuat Kopi Manual: Moka Pot, Rok Presso , French Press, Aeropress, V60, Chemex, Vietnam Drip, Syphon. (Untuk lebih jelas lagi bisa dibaca di sumber referensinya di sini).
Wajar kan kalau hari-hari kalian diwarnai oleh instastory temen yang isinya dikit-dikit posting kopi?
Bila dilihat dari sisi radikalnya (buset, segala pake radikal), yang membedakan antara kedai kopi dan coffee shop bisa dilihat dari sisi “keseriusan” dan “suasana”nya.
Serius yang seperti apa? Suasana yang seperti apa?
Saya memaksudkan “keseriusan” di sini bukan dalam arti negatif, namun dalam artian “isi dompet”. Kalau isi dompet menunjukkan kesederhanaan, tentu model usaha yang dibangun juga sederhana. Dibangun atas prinsip kesederhanaan yang paling sederhana.
Jadi begini, kedai kopi biasanya menyediakan kopi sasetan, kopi yang dibuat secepat kilat menggunakan satu alat legendaris yang didatangkan langsung dari langit ke tujuh, yaitu: sendok besi bengkok bekas serpihan palu Thor, yang di ujungnya sudah mulai agak berkarat. Dan metode pembuatannya: tinggal ditambahi gula satu sampai dua sendok, masukkan kopi, tuangkan air panas, kemudian diaduk sesuka hati. Mau cepet, mau lambat, bodo amat, yang penting aduk. Jos!
Tahu kopi ABC Kapal Api? Yang harganya cuma tiga ribu? Tahu cappuccino cokelat, merah, kuning, hijau yang macam lambang reggae? Yang harganya agak sedikit elit, di atas Kapal Api, yaitu empat ribu?
Tentu anak-anak warkop garis keras sangat tahu dan hafal. Tapi apakah dengan begitu usaha kedai kopi sederhana semacam warkop ini sulit mendapat pengunjung setia di era persaingan kopi yang tumbuh pesat ini?
Saya cuma mau bilang: Anda jangan meremehkan! Saya sebagai pelaku per-warkopan hampir tiap hari melakukan observasi ini. Bahasa akademisnya bisa dibilang: ‘tlah melakukan kajian empiris. Mantap gak, tuh?
Siapa lagi pelanggan setianya kalau bukan kaum kos-kosan? Kaum rebahan? Mahasiswa sosialis misqueen? Rombongan STM garis kerad? Anak geng tanpa markas besar? Mereka semualah penjaga pintu gerbang kemerdekaan per-warkop-an nusantara!
Maka dari itu, biar pun peradaban sudah memasuki era post-modern, biar pun Donal Trump semakin m̶i̶r̶i̶p̶ ̶b̶e̶b̶e̶k̶ kaya, Megawati semakin berkuasa, tetap saja istana per-warkop-an beserta pasukan angkringan kaki lima akan berdiri kokoh, walau diterpa badai Satpol PP sekalipun. Sebab, mereka-mereka adalah kaum yang ‘tlah dididik langsung oleh kejamnya dunia. Berkiblat pada Imam Besar Che Guavara dan Subcommandante Marcos. Dan kaum ini, bila dada dan isi kepalanya dibelah, berisi sebuah semboyan: kaum revolusioner!
Coba bayangkan, bila warkop dan angkringan hilang dari radar lini masa? Kepada siapa lagi kaum-kaum rebahan akan mencari sesuap nasi, segelas kopi ABC dan gorengan dingin?
Tentu saja hal itu bisa terwujud jika Kim Jong-Un mau turun tangan langsung menjadi (Yang Mulia) Presiden Endonesia.
Lalu bagaimana dengan Kaum Coffee Shop?
Saya tidak bisa memungkiri kalau saya juga pernah dan akan terus berkunjung ke tempat ini. Bukan karena gaoel ala-ala, tapi supaya kita tetap bersaudara. Sejujurnya begini: sesekali mencari suasana dan rasa baru. Kalau terus-terusan di angkringan bisa flat juga menjalani hidup yang cuma numpang tidur-makan-ngopi-berak ini.
Di luar alasan gengsi serta interpretasi buruk lainnya, wajar menurut saya apabila coffee shop menawarkan harga yang cukup lebih tinggi ketimbang harga di kedai kopi.
Pertama, dari segi kopi. Kopi yang mereka tawarkan bukan kopi kaleng-kaleng. Kopi aseli yang bisa kita lihat langsung bentuk biji utuh yang biasanya terletak di dalam toples yang tertutup rapat di meja barista. Berbagai biji kopi segar setelah diroasting yang akan diseduh menggunakan penghayatan sekaliber meditasi Mahatma Gandhi.
Di sini harus saya katakan sejujur-jujurnya, hasil pergolakan batin yang sudah lama belum saya ungkap ke permukaan. Menurut saya (menurut saya loh yaa), tiap barista yang menikmati pekerjaannya adalah barista yang patut disandingkan dengan yang bergelar seniman. Bahkan kalau boleh radikal, saya tidak segan-segan mengatakan kalau mereka juga adalah seorang filsuf.
Bukan karena lain-lain soal. Karena tiap kali saya memesan kopi di coffee shop yang baristanya interaktif kepada pembeli, saya tidak cuma sekedar pesan kemudian pergi mencari tempat duduk. Saya selalu memperhatikan bagaimana mereka membuat kopi yang awalnya terlihat sederhana bisa menjadi tampak sedemikian rumit. Percis macam filsuf yang mendefiniskan sesuatu dengan bahasa yang terjal dan berliku. Pada intinya tidak sesederhana cintanya Lord Sapardi.
Dari perawatan biji kopi yang cukup ketat. Ukuran biji yang dihaluskan dengan takaran seberapa tebal dan tipis. Ukuran dan berat gelas yang akan dijadikan wadah. Ukuran panas air yang akan dituang. Sampai metode pembuatan yang penuh penghayatan dan kehati-hatian.
Kata rata-rata barista yang pernah ngobrol langsung dengan saya sembari nyeduh kopi: ini ada metode dan filosofinya sendiri, Mas. (Oh, baiqla~)
Biasanya saya pura-pura ngerti aja, biar obrolan yang rumit ini cepat selesai. Setidaknya ada beberapa hal yang nyangkut di kepala saya. Buat pembahasan lagi kalau berkunjung ke coffee shop lain.
Kalau Joko Pinurbo mengibaratkan puisi adalah riset panjang, maka barista mengibaratkan kopi adalah pengabdian panjang dan berliku. Seperti Puthut EA yang ingin mencintai dengan cara yang paling sunyi. Begitupun barista, yang ingin mencintai kopi dengan cara yang paling bisu.
Kedua, soal suasana. Hampir tiap orang yang berkunjung ke sini berani mengeluarkan isi dompet berlebih hanya untuk membeli suasananya. Tidak bisa dipungkiri, coffee shop seringkali lebih mampu menawarkan suasana ketimbang kopinya sendiri. Kalaupun ada kopi yang enak dan diseduh oleh barista yang serius, anggap saja itu bonus.
Orang yang berkunjung ke sini bermacam-macam jenisnya. Tapi, perbedaannya dengan orang yang berkunjung ke kedai kopi cukup terlihat. Seperti yang saya sebut di awal tadi: anak sultan, anak yang malak duit emak, yang cuma ingin memenuhi hasrat instastory. Biasanya sekat individualistik cukup menonjol. Kaum-kaum cendikiawan pekerja keras tugas kuliah cukup ramai menghiasi kursi-kursi di coffee shop. Biasanya di ruangan ber-AC. Dan yang di alam terbuka, buat kaum kongkow asap kebal-kebul. Dan kaum ini, adalah kaum penyelamat, sehingga coffee shop masih bisa terus eksis sebagai tempat yang komunalistik.
Bagaimana? Setidaknya kita bisa menilai di mana letak perbedaaanya (a nya tiga). Kendati demikian, apapun makanannya, di manapun tempatnya, siapapun temannya, minumannya tetap kopi campur senja. Di antara dua hal itu, ada magh yang sedang menanti.
Note: Kepada kawan-kawan pecinta kopi. Maafkan segala ke-sotoy-an saya. Saya hanya masyarakat awam yang suka berkunjung dan memerhati.
