“Dan tubuh astropologer wanita itu seketika serasa dibawa ke masa lalu.”
Oleh Muhammad Firzan
Baca juga : [Seri 1] Kisah Tragis Pangeran Chrono
Di sebuah puing-puing bangunan tua..
Fwoshhh.. (Suara angin berhembus dengan kencang).
Brrr… (Menggigil)
“D… di.. dingin sekali di sini..,” ucap seseorang yang mengenakan pakaian hitam.
“Sssttt.. Diam…. Bodoh!” sahut salah seorang yang mengenakan pakaian hitam lainnya.
“Tapi, yah, tidakkah di sini terlihat megah, meskipun tempat ini telah menjadi puing-puing?” tanya seseorang yang berpakaian putih.
Orang itu mengenakan perlengkapan yang sedikit mewah dibanding dua orang lainnya. Ia lalu melanjutkan, “kurasa kau benar. Ini aneh, meskipun bangunannya telah tua. Hm, berarti rumor soal ada banyak harta peninggalan di sekitar sini itu benar,” sambil menyeringai lebar, ia pun bergumam, “kita akan benar-benar kaya.”
”Si Bodoh ini berpikir bahwa harta yang dimaksud adalah emas dan perak.” (Berguman)
“Hoi, kenapa kau diam saja?” sahut kawan yang berpakaian hitam pertama.
“Sssttt.. Diam semuanya. Kita sampai.”
“Wahhh.. Akhirnya..”
“Apa-apaan dengan reruntuhan ini? Aku pikir sebaiknya kita beristirahat malam ini. Aku merasakan perasaan yang buruk jika kita teruskan ke sana.”
“Baik..,” yang lain menjawab serempak.
“Emm, baiklah. Mari kita dirikan tenda.”
Di dalam tenda..
Tiga orang itu adalah Edward, Ivan dan Riza. Mereka sedang berbincang-bincang sesuatu yang serius tentang peristiwa yang pernah terjadi di lokasi mereka menginap.
“Hei, Ivan. Apa kau tahu cerita tentang runtuhnya kerajaan ini?”
“Ya, bisa dibilang begitu. Setidaknya aku mengetahui beberapa hal. Bukan kah cerita yang kau maksud itu cukup terkenal di benua ini? Bahkan anak kecil pun tahu cerita ini. Ya, kan Riza?”
Seseorang yang bernama Riza kemudian menimpali, “ya, cerita yang sangat menyedihkan atau bisa dibilang kejam. Raja yang dibunuh oleh anak menantunya sendiri. Dan raja muda yang dikhianati oleh satu-satunya wanita yang dia cintai.”
Tiba-tiba Ivan dengan sedikit protes menyanggah ucapan Riza, “ayolah, tidak perlu terlalu berlebihan seperti itu. Itu hanyalah dongeng yang diceritakan untuk menakut-nakuti anak-anak.”
Edward membentak Ivan, “Hoi, jaga ucapanmu. Jangan sombong!”
Dengan marah Ivan balas membentak, “huh!! Apa kau bilang? Beraninya seorang penyihir tingkat tiga sepertimu menghinaku?”
“Sudahlah. Hentikan. Kalian ini bukan anak-anak lagi. Sudah, cukup. Beristirahatlah dengan cukup. Besok sepertinya akan jadi hari yang berat bagi kita,” Riza berupaya mendinginkan suasana.
Edward yang masih kesal tetap menjawab, “huh, hanya karena kau penyihir kesatria tingkat 2 bukan berarti kamu bisa sombong.”
“Sudah. Tidur saja. Berisik kalian!” Bentak Riza.
“Baiklah..”
Keesokan paginya
Mereka telah sampai di reruntuhan itu.
“Wow, tempat ini masih terlihat baru meskipun sudah ratusan tahun tidak dijamah,” ucap Edward.
“Kau benar. Aku heran, dan satu lagi, di sini ada banyak batu sihir. Kita bisa kaya,” jawab Ivan.
“Kalian salah. Tempat ini sepertinya sudah ada yang pernah ke mari, dan kelihatannya seperti baru ditinggal 2-3 bulan yang lalu,” sahut Riza.
“Sepertinya yang diharapkan oleh Riza adalah agar bisa mengetahui hal seperti itu dengan cepat,” serungut Edward.
Tanpa menghiraukan perkataan Edward, Riza kembali melanjutkan ucapannya, “dan lagi, sebelum kita ke sini, aku mendengar rumor bahwa tempat ini sesekali dikunjungi oleh orang-orang dari Menara Astropologi. Sepertinya rumor itu benar. Sial! Sebaiknya sebelum pergi aku minta restu Ibuku dulu.”
Edward dan Ivan sontak terkejut mendengar keterangan dari Riza.
“Apa yang membuatmu yakin tentang itu?” tanya Ivan kepada Riza dengan muka cemas dan mulai terlihat ragu.
“Lihat ke sana!” tunjuk Riza mengarah ke sebuah ruangan.
“Menurutmu, sekte mana lagi yang berani melakukan ini selain Menara Astropologi?”
Ivan mengarahkan perhatiannya ke ruangan yang ditunjuk oleh Riza, “huh!? Astaga!!! apa-apaan ini?” sahutnya.
“Ada apa?” tanya Edward sembari menoleh ke arah ruangan itu. Namun tiba-tiba ia muntah, “Blerg… Blergh… Blergh… Apa-apan ini? Sialann!”
Sebenarnya apa yang mereka lihat, hingga mereka ketakutan seperti itu?
Di ruangan itu terlihat seperti sebuah tempat yang luas dengan marmer yang berwarna putih, tapi yang tidak mengenakkan adalah apa yang ada di lantai ruangan itu. Di sana ada banyak mayat manusia tergelatak, ada juga yang digantung dan sudah membusuk. Mayat-mayat itu terlihat seperti dikurbankan untuk sebuah ritual. Benar-benar pemandangan yang tidak mengenakkan dilihat oleh mata.
Tiba-tiba muncul suara seperti suara gempa dan tanah pun bergetar..
“Woaahhh, apa lagi ini?” teriak Edward.
Kemudian dari dalam tanah itu keluar sebuah peti yang dirantai dengan rantai berwarna merah.
“Apa itu hartanya?!” pekik Ivan dalam kondisi masih panik.
“Sepertinya iya. Itu persis seperti yang dijelaskan oleh client kita,” jawab Riza.
“Bagus. Aku akan mengambilnya dan segera pergi dari tempat menjijikkan ini,” ucap Ivan sambil mengerahkan kemampuannya, ia bergerak dengan cepat untuk sampai ke peti tersebut.
“Ivan, tunggu…!!!” teriak Riza, “itu bisa saja jadi perang…”
“Tenang saja Riza,” potong Ivan kemudian, “aku pasti akan baik-baik saja. Kalian tunggu saja di situ.”
Ivan terus mendekati peti itu sambil sesekali menoleh ke belakang.
“Awas!!! Menghindar Ivan!!!” teriak Riza dan Edward bersamaan.
“Huh? Apa yang kalian teriakkankan?” ujarnya sembari menoleh ke depan. Dan tiba-tiba sebuah tombak besar melayang dari langit-langit ruangan.
“Huh, tombak ini tidak akan bisa menghentikanku, heeeaaahhhh..,” Ivan mengepalkan tangannya dan memukul tombak itu. Seketika tombak itu hancur, dan Ivan terus melangkah mendekati peti yang berada di ujung ruangan itu.
“Ivan, jangan sampai mati. Jika kau mati, aku tidak akan memaafkanmu. Kau sudah berjanji bahwa kau akan menikahiku setelah pekerjaan ini berakhir, kan?” tiba-tiba Riza mengatakan sesuatu yang mengagetkan, setidaknya bagi Edward.
Ivan hanya menyeringai, sembari menghindari tombak-tombak yang datang dari langit itu.
“Tenang saja, aku pasti akan menepatinya. Ini akan selesai.”
Akhirnya Ivan mendekati peti itu.
“Kalian pastikan aku baik-baik saja,” Ia lalu berdiri di sana dengan penuh percaya diri dan tiba tiba terdengar seperti suara rantai yang bergesekan.
“Apa-apaan ini… Petinya bergetar… Apa yang terjadi?”
“Ivan, kemarilah ada yang tidak beres. Cepat menjauh dari sana!” teriak Edward.
“Tapi, kita sudah sampai sejauh ini, setidaknya aku akan membawa batu merah ini,” balas Ivan sambil mengambil batu yang berada di atas peti itu.
Sementara itu, di suatu tempat yang jauh, di Menara Astropologi, tepatnya di bagian puncak..
Blar!!! Petir bergemuruh lantang..
Seorang wanita terengah-engah terbangun dari tidurnya..
Wanita itu merafalkan mantra..
“Ramalan bintang… Cahaya bulan… Berkumpullah… Ramalkan tentang diriku…”
Sang Astropologer wanita itu langsung membaca mantra meramal tentang dirinya sendiri.
Seketika langit berawan tadi mengeluarkan petir berwarna ungu..
Dan tubuh astropologer wanita itu seketika serasa dibawa ke masa lalu. Ya, masa di mana sang astropologer itu masih muda. Ia melihat seorang gadis kecil yang bahagia bermain bersama teman-temannya. Lalu ia dibawa melihat kejadian di mana sang raja yang berdiskusi dengan kepala desa astropologer dan mendengarkan semua dialog mereka.
Adrus: “Wahai Astropoger yang bijak, ramallah tentang kerajaan.”
Kepala Desa: “Apa katamu? Beraninya kau bersikap lancang kepadaku!”
Adrus: “Beraninya kau bersikap sombong di depan seorang raja? Kau akan mendapat balasan dari perbuatanmu ini!”
Kepala Desa: “Cepat pergi dari desa kami ini! Kau hanya akan membawa kehancuran di manapun kau berdiri.”
Adrus: “Dasar orang tua tak tahu diri. Lihat saja, aku akan meratakan tanah ini dan menjadikan kalian sebagai pelajaran bagi desa yang lain yang berani menentangku.”
Kepala Desa: “Kami tidak takut denganmu, meskipun kau menghancurkan desa kami dan membunuh kami. Tapi lihat saja, akan ada seseorang yang akan membalaskan dendam kami kepadamu.”
Di sebuah kesempatan bersama sang cucunya, Kepala Desa berkata, “desa ini akan baik-baik saja. Akan ada yang meneruskan perjuangan kita dan menghancurkan kesombongan Raja itu. Ia mengatakan sembari mengelus kepala cucunya, “kaulah yang akan menjadi pembimbing bagi semua orang suatu saat nanti.”
Cucu Kepala Desa itu adalah Astropologer wanita yang saat ini melihat masa lalunya sendiri. Siapa lagi kalau bukan satu-satunya orang yang selamat dari tragedi berdarah di desanya, Alice.
Seketika Alice dibawa ke tempat penuh kenangan baginya. Ia melihat dirinya sedang bersama dengan seseorang berambut putih, tampan, dengan pakaian armor tipis berwarna putih. Mereka berdua terlihat sangat akrab dan romantis. Sang Pria berjalan menggandengnya dengan gagah. Seketika Alice tersenyum bahagia sambil mengeluarkan air mata. Lalu ia melihat dirinya menyegel pria yang paling dicintainya, Sang Pangeran Chrono. Dan akhirnya ia dibawa melihat ke masa sekarang, di mana tiga orang yang sedang berada di tempat di mana Chrono disegel.
Kembali ke reruntuhan..
Ketika batu tadi tercabut, terlepaslah semua rantai yang ada di sekitar peti tadi. Setelah itu, rantai yang tadi melilit peti itu mulai melilit tubuh salah seorang dari ketiga orang tersebut.
“Arghhh..,” pekik Ivan.
“Apa…!? Bagaimana denganmu??” teriak Edward.
“Lakukan cepat.. Pergi.. Akhh, sialan, lepas!” Ivan berusaha melepaskan lilitan rantai itu.
“Sialan!!” umpat Edward, “baiklah, akan kulakukan. Ayo Riza, kita keluar dari sini,” ajak Edward sambil memegang tangan Riza.
“Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Ivan,” bantah Riza. “Wahai air yang mengalir di bawah bumi, pinjamkan aku kekuatanmu, Water Sword!” Lalu, pedang-pedang air melayang dan mengarah ke arah rantai itu.
“Hentikan Riza. Kehhh.. Arghhh!!!”
“Aku tidak akan meninggalkanmu Ivan. Kumohon tepati janjimu.”
“Pergilah, Riza. Jika tidak aku akan membencimu!”
“Tidak peduli! Meskipun kau membenciku, aku akan tetap mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Edwardd…. Agrh.. Ku…mo..hon to…long bawa Ri… Arggh… Riza pergi dari sini. Gunakan batu teleportasinya. Ini permintaanku seumur hidup kumohon selamatkan orang yang kucintai.”
“Arghhhhhh.. Sial! Sial! Baiklah, Riza. Maafkan aku,” Edward menggenggam tangan Riza dengan erat.
“Tidaakkk!!! Lepaskan…. Lepaskan..,” pekik Riza yang terus berusaha untuk berontak.
Edward bersiap-siap dan Ivan berkata, “teleport rune stone, kembali ke kota, aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbananmu Edward.”
Seketika cahaya mengelilingi Edward dan Riza.
“Terima ka….sih, Ed…ward. Riza, aku akan selalu mencintaimu. Aku tidak akan mungkin bisa membencimu, dasar gadis keras kepala. Mulai hari ini aku minta kau untuk carilah orang yang lebih baik dariku,” ucap Ivan sebagai kata perpisahan darinya.
Seketika cahaya tadi menghilang. Riza dan Edward berhasil kembali dengan selamat.
Setelah Edward dan Riza berhasil selamat melalui teleportasi, peti tadi terbuka dan keluarlah seorang berambut putih dengan tertawa nyaring.
“Kahahahahahahahahaha…..”
Ia lalu berkata, “akhirnya aku berhasil bangkit kembali. Tunggu pembalasanku Aliceku sayang. Tidak peduli di ujung dunia manapun kau bersembunyi, akan kubalaskan dendamku.”
Sang Gadis yang melihat dari kejauhan hanya bisa terdiam dan sudah siap menerima takdirnya.
Kau menuai apa yang kau tanam.
Muhammad Firzan adalah santri aliyah di Ponpes Darun Nahdhoh Tawalib, Bangkinang, Riau.
